
Sisil menghampiri perempuan yang tadi memanggilnya. Tidak salah lagi perempuan itu adalah primadona di sekolahnya, Velena. Ia memiliki paras yang cantik, pandai, orang penting dalam osis, dan juga terkenal. Walau orang tuanya hanya orang biasa.
Sisil
"Ada apa?"
Velena
"Nampaknya primadona sekolah kita akan berganti"
Perkataan Velena membuat Sisil tertegun.
Sisil
"Apa maksudmu?! Aku gak bermaksud bersaing denganmu apalagi menggantikan posisimu"
Velena
"Aku hanya bercanda"
Sisil
"Ah.. astaga"
Velena
"Oh ya kenapa kamu malah berpenampilan seperti itu? penampilan cantikmu lebih diakui banyak orang lho""
Sisil
"Aku tidak terbiasa, itu bukan diriku"
"Apa hanya ini saja yang ingin kamu sampaikan? kalau iya aku mau pulang dulu"
Velena
"Sebenarnya masih ada yang ingin aku bicarakan, tapi sebaiknya kita mencari tempat lain"
Sisil
"Kalau begitu.. bagaimana kalau dirumahku?"
Velena
"Em! oke! kalau begitu ayo pulang bareng!"
Sisil dan primadona sekolah itu memutuskan untuk pulang bersama. Saat mereka menuju gerbang sekolah, mka melihat Victor sedang bersandar didepan gerbang. Victor benar-benar tampan dan sangat menawan dengan matahari sore yang menyinarinya. Victor menyadari kedatangan Sisil dan Velena, tapi ia tidak tahu kalau perempuan disamping Sisil seorang primadona sekolah. Ia hanya menyapa Sisil seperti biasanya.
Victor
"Hai Sisil! dan hai kamu!" sapa Victor seraya melambaikan tangannya ke Sisil dan Velena.
"Ayo pulang bareng!" sambungnya.
Sisil
__ADS_1
"Hai! apa kamu gak lihat? aku mau pulang bareng Velena jadi kamu pulang sendiri ok?"
Victor
"Velena? dia teman mu juga? aku kira temanmu hanya tiga orang"
Sisil
"APA!! aku gak seburuk yang kamu kira ya! oh ya yang disampingku ini Velena primadona sekolah kita"
Victor
"Hahaha iya maaf, Velena ya maaf aku gak tau"
Sisil
"Ehh kamu gak tau?!"
Velena
"Haha gapapa, kamu pasti ketos yang baru ya"
"Bagaimana bisa dia gak tau, walau dia siswa baru tapi aku ini primadona lho" batin Velena
Victor
"Yap! benar sekali! jadi aku boleh pulang bareng kalian kan?"
Velena
Sisil
"Ag.. terserah dah.."
Mereka bertiga pulang menuju rumah Sisil dengan naik bus. Biasanya Sisil dijemput oleh supir rumahnya. Selama perjalanan ke halte dan di dalam bus Victor dan Velena berbincang terus. Sedangkan Sisil hanya memandangi pemandangan dan sesekali memainkan ponselnya. Victor menyadari kalau selama ini ia cuek terhadap Sisil karena terbawa suasana berbincang dengan Velena. Padahal dari awal Victor ingin berdua dengan Sisil seperti satu minggu yang lalu. Victor memandangi Sisil yang hanya diam memandangi pemandangan dari jendela, ia merasa bersalah terhadap Sisil.
Tak lama kemudian mereka bertiga berhenti di halte dekat rumah Sisil. Karena arah selanjutnya rumah Sisil dan Victor berbeda jadi mereka berpisah di halte tersebut.
Victor
"Teman, karena arah rumah kita beda jadi sampai ketemu besok"
Sisil
"Sampai jumpa~"
Velena
"Daaa~"
Victor
"Em Sisil.. maaf"
Sisil tertegun mendengar maaf Victor. Victor memang sudah sering meminta maaf tapi maaf kali ini berbeda dengan sebelumnya. Victor meminta maaf dengan wajah sedih dan bersalah. Seketika Sisil tahu ia meminta maaf karena apa. Sisil memaafkan Victor dengan mengangguk dan tersenyum manis. Victor terpesona melihat Sisil begitu cantik. Dan ia senang karena Sisil memaafkan Victor.
__ADS_1
Sesampai dirumah Sisil, Velena terkejut kalau rumah Sisil ternyata begitu megah. Ia tau kalau orang tua Sisil adalah orang kaya, tapi ia tidak menyangka rumahnya akan begitu megah dan terlihat mewah.
Sisil
"Aku pulang~ aku membawa temanku ke rumah" ucap Sisil seraya melepas sepatunya.
Mama
"Selamat datang sayang~ Oh benarkah? jarang-jarang kamu membawa temanmu kerumah" sambutan mamanya dari dapur.
Sisil
"Yah.. karena suatu alasan mengharuskan aku mengundangnya kemari"
Mama
"Sisil.. perkataan mu kurang sopan, maafkan anak tante ini yaa"
Velena
"Tidak masalah tante, lagi pula yang dikatakan Sisil benar"
Sisil
"Mah kalau begitu aku dan temanku ke kamar dulu ya"
Mereka berdua menuju ke kamar Sisir yang berada di lantai atas. Biasanya Sisil hanya mengajak sampai ruang tamu atau taman dalam rumahnya, tetapi kali ini ia mengajak di kamar karena supaya bisa lebih leluasa berbincang.
Saat itu keadaan kamar Sisil benar-benar buruk, buku-buku berserakan dimana-mana bahkan selimut yang semalam ia pakai belum terlipat. Sisil merasa malu kalau Velena melihat itu semua. Jadi Sisil meminta Velena menunggu di luar kamarnya sebentar, dengan alasan ia ingin mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Sesaat kamar Sisil sudah rapi, ia baru mempersilahkan Velena masuk dan menutup pintu kamarnya. Tak lama kemudian mama Sisil membawakan susu coklat dingin dan cookies ke kamar dimana Sisil dan Velena berada.
Mama
"Sayang~ tolong buka pintunya, mama bawakan susu coklat dingin dan cookies untuk kalian"
Mendengar itu Sisil langsung membuka pintu kamarnya dan berterimakasih kepada mamanya. Velena juga ikut berterimakasih.
Velena
"Terimakasih tante, maaf malah meropatkan"
Mama
"Santai saja, wah~ ternyata kamu begitu cantik bahkan lebih cantik dari anak tante siapa namamu?" puji mama Sisil yang baru sadar akan kecantikan Velena.
Velena
"Nama saya Velena tante, hihi saya tidak lebih cantik dari anak tante kok"
Mama
"Hahah kamu tidak perlu merendahkan dirimu, ohya namamu juga sangat indah"
"Apa-apaan ini, kapan perbincangan serius antara aku dan Velena akan dimulai" batin Sisil yang masih berdiri di dekat pintu.
__ADS_1