
Sisil membaca dengan tenang, tapi tidak pada matanya. Victor yang biasanya dapat membaca tenang, namun sekarang ia kehilangan ketenangannya. Victor ingin sekali berbincang dengan Sisil. Tetapi ia juga tidak mau mengganggu Sisil membaca.
Victor yang tidak bisa fokus membaca, menutup bukunya lalu meletakkan di meja. Victor hanya memandangi Sisil dan menunggu Sisil selesai membaca. "Cantik.." gumam Victor. Sisil mendengar gumaman Victor dan menoleh ke arahnya. "Siapa yang cantik?! apa kamu melihat wanita cantik?!" tanya Sisil penasaran. "Tentu saja itu kamu" jawab Victor seraya mengelus kepala Sisil. Sisil tidak mengerti situasi apaitu, ia memandangi Victor dengan wajah datar. Sisil merasa sering menemui kejadian itu di manga yang ia baca, tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Victor
"S-sisil?"
Sisil
"Ah ya? maaf aku tadi-"
Victor
"A ha ha lupakan saja, oh ya apa kamu ke perpustakaan sendiri?"
Sisil
"Engga, aku kesini bareng papaku"
Victor
"Oh.. ternyata, lalu dimana papamu?"
Sisil
"Ah.. papa ada di lantai dasar, lagi ada urusan, kamu sendiri?"
Victor
"Aku kemari sendiri, akhir-akhir ini aku sering datang ke perpus, rasanya menyenangkan disini"
Sisil
"Wah benar kah?! kalau begitu ayo sering-sering ke perpus bareng!"
Victor
__ADS_1
"Ya! ini kesempatan emas buat aku"
Sisil
"Kesempatan emas apa?"
Victor
"Nothing"
Sisil
"Hmph!"
Beberapa saat kemudian perpustakaan sudah saatnya tutup. Staf perpustakaan meminta para pengunjung untuk segera pulang, begitu juga Sisil dan Victor. Karena Sisil belum selesai membaca, Sisil meminjam beberapa buku itu dari perpustakaan.
Victor menemani Sisil turun ke lantai dasar, sekalian untuk memberi salam ke papanya Sisil. Saat Sisil dan Victor sudah berada di lantai dasar. Mereka tidak menemukan papa Sisil ada disana. Sisil menebak papanya sudah berada di parkiran. Tak tunggu lama, mereka berdua segera menuju parkiran. Dan ternyata tebakan Sisil benar, papa Sisil sudah berada di parkiran. Ia sedang bersandar di mobilnya.
Sisil
"Papaa!"
Papa
"Halo halo, wah ada Victor juga, kalian janjian?"
Victor
"Haha engga om, kebetulan saya juga lagi ada di perpus"
Papa
"Haha oke oke, dimana ayahmu?"
Victor
"Dirumah om, saya kemari sendiri naik bus"
__ADS_1
Papa
"Oh kalau gitu pulangnya sekalian bareng om aja"
Victor
"Makasih om"
Papa
"Ya sama-sama"
Victor dan papa Sisil duduk di kursi depan. Sedangkan Sisil berada di kursi belakangnya. Selama di perjalanan menuju rumah Victor mereka bertiga berbincang tiada henti.
Sesampai di rumah Victor. Victor menawarkan untuk berkunjung di rumahnya. Tetapi papa Sisil menolak karena sudah larut malam, ia merasa tidak pas berkunjung pada larut malam.
Victor
"Terimakasih om sudah mengantar saya, bagaimana kalau om dan Sisil mampir dulu?"
Papa
"Sekarang udah larut malam, laik kali aja om mampir, yaudah om pamit dulu ya"
Victor
"Oke om, hati-hati dijalan"
Sisil
"Daa~ sampai ketemu disekolah!"
Victor
"Daaa"
Sisil dan papanya melanjutkan perjalanan. Saat dijalan Sisil mendapat pesan dari nomor tak dikenal. Nomor itu mengirim sebuah foto tanpa keterangan apapun. Foto itu adalah foto Sisil dan Victor yang diambil saat di perpustakaan tadi. Sisil tidak memahami apa maksud orang yang mengirim foto itu. Sisil berpikir itu hanya ulah orang kurang kerjaan yang ingin mengerjainya.
__ADS_1
Sesampai dirumah, Sisil mengganti pakaiannya dan bergegas untuk tidur. Sisil meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Lalu membaringkan dirinya di kasur. Sisil sudah mulai terlelap. "Ting" suara notifikasi ponsel Sisil. Sisil terbangun dan mengambil ponselnya. Lagi-lagi ia mendapat pesn dari nomor tak dikenal itu. Tetapi kali ini bukan foto, melainkan obrolan. Obrolan itu mengatakan "jauhi Victor atau ku sebar foto itu". Sisil benar-benar tidak mengerti, tapi yang jelas orang yang mengirim pesan itu adalah orang yang menyukai Victor.
"Apaan sih?! sebar ya tinggal sebar! biar sekalian semua orang tau" gumam Sisil kesal. "Lagi pula aku dan Victor kan berteman, bagaimana bisa saling menjauhi" gumam Sisil lagi. Sisil kembali terlelap dan tidur dengan nyenyak.