HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
24. Kenapa harus ke rumah?


__ADS_3

Aku bisa jelaskan Sintia, tolong dengarkan penjelsanku," ujar Panji.


"Sudahlah mas, semuanya sudah jelas. Aku tahu sekarang, semua pasti karena wanita itu," tunjuk Sintia pada wanita yang sedang berdiri di dekat suaminya.


"Tunggu Sintia, maafkan aku. Aku mohon," tukas Panji yang berlutut dihadapan istrinya.


"Aku kecewa mas, aku kira kamu benar-benar mencintaiku. Tapi ternyata kamu tega mengkhianati aku mas," ujar Sintia dengan suara yang bergetar.


"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi Sintia. Tolong maafkan aku," lirih Panji.


"Apa kata-kata kamu bisa dipercaya mas?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.


"Ya Sintia tentu, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Panji sambil memegang tangan Sintia dan meyakinkan Sintia.


Sintia pun akhirnya percaya dengan kata-kata suaminya. Sintia berusaha memaafkan kesalahan suaminya, mungkin benar dia memang khilaf. Semoga saja dia tidak akan mengulangi kesalahannya.


Bukan tanpa sebab Sintia harus memaafkan suaminya, hal itu ia lakukan hanya demi anaknya Zidan. Dia tidak mau jika Zidan yang menjadi korban karena keegoisan orang tuanya.


"Ya sudah kalau begitu aku akan pulang," pamit Sintia.


"Iya sayang hati-hati dijalan ya, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku sedang banyak pekerjaan," ujar Panji.


"Iya mas tidak apa-apa," tukas Sintia yang segera bergegas pergi meninggalkan kantor suaminya.


Perlahan tapi pasti Sintia mulai melangkahkan kakinya. Sintia mencari taksi untuk agar ia tidak kepanasan. Beberapa menit menunggu akhirnya taksi itu melintas di hadapan Sintia.


Saat mobil itu berhenti, Sintia segera masuk ke dalam mobil.


"Ke jalan anggrek pak," ujar Sintia dari kursi belakang.


"Siap bu," jawab supir itu sambil melajukan kendaraannya.


Didalam mobil Sintia mulai memikirkan perbuatan suaminya tadi. Sintia tidak pernah membayangkan jika suaminya akan melakukan hal itu. Sebab yang ia tahu Panji sangat mencintainya.


Sebagai seorang wanita tidak mudah melupakan perbuatan suami yang sudah mengkhianatinya.


"Apa kata-kata mas Panji bisa dipercaya? Apa dia tidak akan mengulangi hal itu lagi? Ah entahlah, kepalaku jadi pusing memikirkan semua ini. Semoga mas Panji memang benar-benar bisa berubah," gumam batin Sintia sambil mengelus dahinya yang merasa pusing.


"Bu, maaf kita sudah sampai," ujar supir itu.


"Oiya pak, maaf saya tidak dengar. Terima kasih banyak pak," tukas Sintia sambil memberikan ongkos taksi itu dan segera turun.


"Tidak apa-apa bu. Iya sama-sama," jawab supir taksi itu yang segera melajukan kendaraannya.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Sintia duduk lemas di atas sofa. Rasanya begitu melelahkan apalagi setelah melihat suaminya bersama wanita lain. Hal itu membuat Sintia menjadi tidak tenang.


Beberapa bulan berlalu, Sintia tidak merasa curiga atau melihat hal aneh pada diri suaminya. Sejak Panji meminta maaf, ia berusaha untuk percaya lagi kepada suaminya.


Akan tetapi saat itu saat suaminya sedang mandi, tiba-tiba ponselnya berdering. Di dalam ponsel itu tidak terlihat nama si penelpon, hanya ada nomor saja.  Sintia pun mengangkat panggilan itu, tapi tidak terdengar suara si penelpon itu. Dan tidak berapa lama panggilan itu terputus.


"Siapa yang menelpon barusan ya?" gumam batin Sintia.


Tidak berapa lama ada pesan yang masuk ke ponsel itu. Merasa penasaran, Sintia pun segera membuka dan membaca isi pesan itu.


'Sayang barusan aku telpon kamu, tapi sepertinya istri kamu yang jawab makanya aku tutup lagi telponnya. Aku sudah datang di tempat biasa ya sayang.'


Deg..


"Pesan dari siapa ini? Apa mas Panji melakukan hal itu lagi?" gumam batin Sintia.


Sintia pun segera meletakan ponsel milik suaminya diatas belas. Ia segera pergi agar suaminya tidak melihatnya. Di ruang tamu, Sintia benar-benar merasa sedih dan kecewa. Firasatnya mengatakan jika suaminya masih berhubungan dengan wanita itu.


Sintia berencana akan mengikuti suaminya dari belakang.


"Aku pergi dulu sayang," pamit Panji yang segera bersiap ke kantor.


"Iya mas, hati-hati," jawab Sintia yang berusaha bersikap tenang di hadapan suaminya.


Setelah suaminya pergi, Sintia membuntuti Panji dari belakang.


Tak berapa lama tibalah Panji disebuah apartemen. Panji turun dari mobil nya dan segera bergegas menuju apartemen seseorang. Sebelum masuk Panji pun melihat ke sisi kiri dan kanan, lalu ia pun segera masuk ke dalam.


"Apartemen siapa ini?" gumam batin Sintia.


Merasa semakin sesak dan penasaran, Sintia pun segera memijit bel apartemen itu.


"Mas Panji, mas Panji," ujar Sintia dari luar.


Tidak berapa lama keluar lah seorang wanita yang sedang merapikan bajunya.


"Siapa say," belum sempat melanjutkan kata-katanya Panji merasa terkejut dengan kedatangan istrinya.


"Jadi begini kelakuan kamu dibelakang aku mas? Kamu memang tidak bisa berubah! Aku menyesal sudah memberikan kesempatan kedua untuk kamu!" pekik Sintia.


Plak..


Tidak berapa lama Sintia melampiaskan amarahnya dengan menampar Panji.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan mas, aku ingin kita berpisah!" pekik Sintia yang segera meninggalkan tempat itu.


"Tapi Sintia tolong dengarkan aku dulu," ujar Panji.


"Maaf mas, untuk kali ini aku sudah tidak sanggup lagi," ujar Sintia yang pura-pura tegar di hadapan Panji.


"Aku akan mengurus perpisahan kita mas," tukas Sintia lagi sambil berlalu meninggalkan Panji.


Dengan berlinangan air mata, Sintia segera bergegas ke rumahnya. Ia membereskan semua bajunya dan juga baju Zidan.


"Kita mau kemana mah?" tanya Zidan.


"Kita akan pergi dari sini," jawab Sintia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi kemana mah?" tanya Zidan lagi yang merasa bingung karena harus pergi dari rumahnya sendiri.


Tanpa banyak bertanya lagi, Zidan hanya mengikuti apa yang dikatakan ibunya. Sintia pergi menuju halte bis yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Flashback Off


"Begitulah Za, aku pergi  karena Panji sudah mengkhianatiku. Padahal aku sudah memberikan kesempatan yang kedua," lirih Sintia.


"Brengsek si Panji," ujar Reza yang mengepalkan tangannya.


"Terus kamu akan pergi kemana?" tanya Reza.


"Entahlah, aku juga bingung," jawab Sintia.


"Ya sudah kamu ke rumahku saja," ujar Reza.


"Tapi, bagaimana dengan istrimu," tanya Sintia.


"Biar aku nanti yang bicara kepadanya," jawab Reza.


Akhirnya Reza memutuskan untuk membawa Sintia dan anaknya ke rumah. Tanpa berfikir panjang Reza segera mengajak mereka, karena merasa kasihan. Beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba dirumah.


Ting.. ting..


"Mas, baru pulang?" Sapa Arin sambil membuka pintu.


"Iya, ada seseorang yang akan menginap dirumah kita," ujar Reza sambil menuntut Zidan dan Sintia disebelah Zidan.


"Mba Sintia?" tanya Arin.

__ADS_1


"Kamu tidak keberatan kan rin?" tanya Reza.


"Tidak kak," jawab Arin singkat. Sebenarnya Arin merasa bingung kenapa mantan istri kak Reza harus dibawa ke rumahnya? Sebenarnya apa yang sudah terjadi.


__ADS_2