
Tak berapa lama akhirnya mereka tiba dirumah Panji. Panji membawa Zidan ke dalam kamar agar Zidan bisa beristirahat. Tak berapa lama saat Zidan akan membaringkan tubuhnya, Zidan seperti mendengar ada yang memanggilnya.
"Zidan, Zidan," teriak Sintia dari luar rumah Panji.
"Itu seperti suara mamah pah," ujar Zidan dari dalam rumah Panji.
"Ah tidak mungkin, mamahmu pasti sibuk bekerja," ujar Panji yang masih belum mendengar teriakan Sintia.
"Panji.. Panji!" pekik Sintia sekali lagi.
Flashback Off
Setelah beberapa kali memanggilnya akhirnya Panji datang juga membukakan pintu.
"Sintia? Kenapa kamu tidak memanggilku," ujar Panji saat membuka pintu untuk Sintia.
"Sudah sejak tadi aku memanggilmu, tapi kamu tidak keluar juga," pekik Sintia yang merasa kesal.
"Maaf Sintia, aku tidak mendengarmu," tukas Panji yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dimana Zidan? Zidan.. Zidan," teriak Sintia saat baru masuk ke dalam rumah.
"Mamah.." teriak Zidan yang langsung memeluk mamanya.
"Sayang, kenapa tidak mengabari mamah jika kamu pergi bareng papah," ujar Sintia yang merasa kecewa dengan Zidan. Padahal ia akan selalu mengabari Sintia jika akan melakukan hal apapun.
"Maafkan aku mah, tapi papah bilang sudah meminta izin pada mamah," lirih Zidan.
"Tapi, Panji tidak mengatakan apa-apa kepadaku," gumam batin Sintia yang tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada Zidan.
"Ya sudah mungkin mamah lupa, kita pulang ya!" ajak Sintia.
"Tapi mah aku ingin menginap disini," ujar Zidan.
"Apa? Tapi itu tidak mungkin sayang," tukas Sintia yang merasa terkejut dengan apa yang dikatakan Zidan.
__ADS_1
"Please mah, aku mohon," lirih Zidan yang mulai berkaca-kaca. Hal itu sontak membuat Sintia tidak tega, akhirnya mau tidak mau ia pun harus memberikan izin kepada Zidan untuk menginap bersama ayahnya.
"Ya sudah jika memang ingin menginap, tapi mamah harus pulang ya. Besok pagi-pagi papah anterin kamu pulang," ujar Sintia sebelum ia pergi.
"Yeay, akhirnya aku mau menginap," sorak Zidan yang merasa sangat senang.
Setelah pembicaraannya dengan Sintia, Zidan pun segera bergegas ke kamar Panji. Selama ini Sintia baru melihat Zidan begitu bahagia. Untuk itu mau tidak mau Sintia harus memberikan izin kepada Zidan.
"Aku titip Zidan, tapi aku mau besok pagi segera antarkan Zidan ke rumah," ujar Sintia sesaat sebelum pulang.
"Oke baiklah, apa kamu tidak akan ikut menginap?" tanya Panji menggoda Sintia.
"Tidak, aku tidak bisa," jawab Sintia yang segera bergegas pergi dari rumah Panji.
Mendengar pernyataan Panji membuat Sintia tidak ingin berlama-lama berada dirumahnya. Meski belum resmi bercerai tapi Sintia tidak ingin tinggal satu atap bersama Panji. Sintia selalu mengingat saat Panji mengkhianatinya.
Sementara Panji hanya tersenyum simpul saat sedang menggoda Sintia. Ia tahu betul jika yang dikatakannya hanyalah sebuah godaan. Panji sengaja ingin membuat Sintia kesal.
Setelah apa yang dilakukannya, Panji merasa begitu menyesal dan merasa begitu bersalah pada Sintia. Jadi saat itu hubungan Panji dan juga selingkuhannya itu hanya sebentar saja. Panji memergoki kekasihnya sedang bersama pria lain. Hal itulah yang membuat Panji akhirnya mengakhiri hubungannya.
Berada dirumahnya membuat Panji merasa senang saat bisa tidur bersama Zidan. Zidan yang sudah terlelap sejak tadi, membuat Panji ingin berlama-lama memandangnya. Panji selalu merasa bersalah pada Zidan sebab selama ini ia sudah menekantarkannya.
"Maafkan papah nak," gumam batin Panji sambil mengusap kepala Zidan.
"Maafkan aku juga Sintia, aku berjanji akan memperbaiki hubungan kita agar bisa kembali seperti semula," gumam batin Panji yang merasa yakin dengan apa yang dilakukannya.
Panji sangat berharap jika Sintia akan menerimanya kembali. Ia ingin semua kembali seperti sedia kala. Dan ia berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan Sintia lagi.
Sementara ditempat lain, Sintia masih belum bisa memejamkan matanya. Padahal segala posisi sudah ia coba. Mulai dari telentang, tengkurap, berbalik ke sisi kiri bahkan berbalik ke sisi kanan pun sudah ia coba.
Namun mata itu sulit untuk terpejam. Selama ini, baru sekarang Sintia tidur terpisah dari anaknya. Berada jauh dari anaknya membuat Sintia gelisah. Sintia merasa ada yang hilang saat Zidan tidak berada disampingnya.
"Padahal mamah tahu kamu sedang berada bersama papah kamu nak. Tapi mamah begitu merindukanmu," gumam batin Sintia.
Malam pun kian larut, tapi Sintia masih belum bisa memejamkan matanya. Namun Sintia tidak boleh egois, walau bagaimanapun Panji adalah ayahnya. Ia juga berhak dekat dengan anaknya.
__ADS_1
Begitupun dengan Zidan, ia pun berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Walau bagaimanapun Panji adalah ayah kandungnya. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
Sintia selalu berusaha berfikiran dewasa. Namun ditengah-tengah lamunannya tiba-tiba Sintia memikirkan hubungannya bersama Panji. Apa yang harus aku lakukan jika dia memintaku kembali?
Sebenarnya diantara Sintia dan Panji belum ada kata-kata perpisahan secara resmi. Saat itu Sintia lah yang keluar dari rumah saat mengetahui suaminya sedang berselingkuh. Sehingga mereka bisa kembali kapanpun mereka mau. Merasa lelah dengan apa yang sudah dipikirkannya akhirnya membuat Sintia terlelap juga.
Keesokan harinya Panji sudah bangun sejak awal untuk menyiapkan sarapan bagi anaknya. Panji sengaja membuat roti bakar isi coklat dan susu coklat karena makanan itu pasti disukai anak-anak.
"Zidan, bangun sayang sudah siang," ujar Panji yang sedikit mengguncangkan tubuh Zidan.
"Sebentar pagi pah, aku masih ngantuk," rengek Zidan sambil mengucek matanya.
"Tapi ini sudah siang nak, nanti mamah marah loh!" ujar Panji lagi agar Zidan segera bangun dari tidurnya.
Mengingat kata-kata mamanya kemarin membuat Zidan seketika terbangun. Ia teringat akan pesan mamanya jika ia harus segera pulang pagi-pagi karena harus sekolah. Zidan pun segera bergegas mandi.
Selesai mandi Zidan pun segera menyantap sarapannya.
"Wah roti bakar, ini wangi banget," ujar Zidan sambil mengendus roti itu sebelum memakannya.
"Iya sayang, habiskan sarapannya ya. Terus susunya juga diminum mumpung masih hangat," titah Panji.
"Pasti pah," timpal Zidan sambil mengunyah makanannya. Zidan merasa sangat senang karena akhirnya ia bisa tidur bersama ayahnya.
"Cepat habiskan makan nya sayang, kita berangkat," ajak Panji.
Setelah menghabiskan makanannya, Panji pun segera bergegas mengantar Zidan ke rumah Sintia. Zidan merasa sangat senang karena papanya bisa megantarnya pulang ke rumahnya.
Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah Sintia.
"Aku pulang," teriak Zidan saat masuk ke dalam rumahnya.
"Hai sayang, mamah tungguin juga dari tadi," ujar Sintia yang kini sudah siap dengan pakaian kantornya.
Sementara Zidan segera mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah.
__ADS_1
"Biar aku yang akan mengantarkan kalian ke sekolah," ujar Panji.