HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
36. Merasa Bersalah


__ADS_3

Zidan, Zidan," teriak Sintia dari luar rumah Panji.


"Itu seperti suara mamah yah," ujar Zidan dari dalam rumah Panji.


"Ah tidak mungkin, mamahmu pasti sibuk bekerja," tukas Panji yang mencoba membohongi Zidan.


"Tapi aku ingin lihat ke luar dulu pah untuk memastikan," timpal Zidan yang memang kuat dengan firasatnya. Ia benar-benar yakin jika yang memanggilnya itu adalah mamanya.


Tok.. tok..


"Panji.. Panji! Aku yakin jika Zidan pasti ada didalam. Cepat buka," pekik Sintia yang sejak tadi mengetuk pintu rumah Panji.


Satu menit, dua menit berlalu. Tidak ada jawaban dari rumah itu. Akan tetapi Sintia masih enggan meninggalkan rumah itu karena ia sangat yakin jika Zidan berada didalam.


Beberapa saat kemudian akhirnya Panji ke luar membukakan pintu.


"Mana Zidan?" tanya Sintia dengan meninggikan suaranya. Kini Sintia terlihat begitu marah.


"Sabar sayang, Zidan ada bersamaku dengan aman," jawab Panji.


"Zidan ini mamah nak," teriak Sintia yang segera bergegas masuk ke dalam rumah. Sintia mencari keberadaan anaknya ke setiap sudut. Sintia pun berlari dari tempat satu ke tempat yang lain.


Hampir saja Sintia putus asa. Sintia pun duduk terkulai lemas dilantai. Ia merasa bingung harus mencari kemana lagi. Namun tidak berapa lama akhirnya Zidan keluar dari kamar sambil berlari.


"Mamah," panggil Zidan sambil berlari ke pelukan ibunya.


"Sayang kamu kemana aja? Dari tadi mamah mencarimu," lirih Sintia yang langsung memeluk anaknya dengan begitu erat. Selama hidupnya baru kali ini Sintia merasa kehilangan Zidan.


"Maaf mah tadi aku pergi sama papah," jawab Zidan.


Flashback On


Hari ini Panji berniat untuk menemui anaknya tanpa sepengetahuan Sintia. Untuk itu Panji segera mendatangi sekolah Zidan karena sebentar lagi ia akan pulang sekolah. Panji pun segera melajukan kendaraannya dengan begitu cepat.


Beberapa saat kemudian akhirnya Panji tiba di sekolah. Disaat bersamaan Zidan baru saja keluar dari kelasnya.

__ADS_1


"Zidan!" panggil Panji dari arah depan kelas Zidan. Panji melihat Zidan saat ia baru keluar dari kelasnya.


"Papah? Sedang apa disini?" tanya Zidan polos. Zidan merasa bingung sebab tidak biasanya ia datang menemuinya. Sudah sangat lama juga ayahnya tidak pernah menemui Zidan.


"Maafkan papah Zidan jika selama ini ayah kurang memperhatikan Zidan, papah khilaf. Tapi kali ini papah ingin menebus kesalahan papah, papah ingin mengajak kamu jalan-jalan," ujar Panji yang berbicara  dengan Zidan.


Panji berusaha meyakinkan Zidan agar ia mau ikut bersamanya. Setelah beberapa merasa sendirian akhirnya Panji mau menemui Sintia dan anaknya.


Mendengar kata-kata papahnya membuat Zidan merasa apa yang dikatakan papanya memang tulus. Setelah sekian lama Zidan sangat merindukan papanya. Zidan pun terdiam sejenak memikirkan kepergiannya bersama sang papah.


"Kenapa diam nak?" tanya Panji yang melihat anaknya tiba-tiba terdiam.


"Aku sudah memaafkan papah," jawab Zidan.


"Benarkah nak? Apa kamu yakin sudah memaafkan papah, bagaimana kalau kita jalan-jalan untuk menebus kesalahan papah," tambah Panji yang berusaha meyakinkan Zidan agar ia mau diajak pergi bersamanya.


"Tapi pah, nanti mamah gimana? Aku pasti dimarahi mamah sebab pergi tanpa sepengetahuannya," lirih Zidan yang merasa takut jika ibunya akan marah.


"Tidak apa-apa sayang, nanti biar papah yang telpon.


"Iya sayang, kamu jangan khawatir ya," timpal Zidan yang segera mengajak Zidan masuk ke dalam mobilnya.


Panji pun sengaja menjemput Zidan karena hari ini ia akan mengajaknya jalan-jalan. Panji merasa bersalah karena selama ini ia sudah mengabaikannya. Panji pun segera mengajak Zidan ke pusat permainan.


Panji mengajak Zidan agar ia bisa bermain bersama. Panji mengajak Zidan ke salah satu mall yang cukup mewah. Panji sengaja mengajak Zidan ke game master, pusat permainan terbesar di mall itu.


Mereka memainkan beberapa permainan,  mulai dari  balap mobil, balap motor, bermain bola basket dan masih banyak lagi yang lainnya. Zidan terlihat begitu bahagia.


Selama hidupnya baru kali ini Zidan merasa memiliki seorang ayah.


Begitupun dengan Panji yang merasa menyesal karena selama ini sudah mengabaikan Zidan. Padahal selama ini Zidan tidak tahu apa-apa. Zidan hanyalah korban dari keegoisan Panji.


"Maafkan papah nak karena selama ini papah tidak memperdulikan kamu," gumam batin Panji yang melihat anaknya begitu senang. Zidan terlihat begitu bahagia saat ia sedang bermain.


Hampir seharian mereka berada di mall itu. Hampir semua permainan Zidan mencobanya hingga ia pun merasa kelelahan dan mulai kelaparan.

__ADS_1


"Kamu kenapa nak?" tanya Panji yang melihat Zidan memegangi perutnya sejak tadi.


"Apa kamu sakit perut nak?" tanya Panji sekali lagi.


"Bukan pah, aku bukan sakit perut. Tapi aku lapar," jawab Zidan yang mengecilkan volume suaranya.


"Oh kirain kamu sakit perut," kekeh Panji yang merasa tidak peka dengan apa yang dirasakan anaknya.


Itulah bedanya antara laki-laki dan perempuan, perempuan akan lebih memperhatikan anaknya. Sedangkan laki-laki merasa tidak tahu jika di jam seperti ini merupakan jam makan siang.


Setelah mendengar jawaban dari anaknya Panji pun segera bergegas mengajak Zidan ke tempat makan. Panji mengajak Zidan makan disalah satu restoran yang tidak begitu jauh dari tempat permainan itu. Panji mengajak Zidan makan disebuah restoran yang pasti disukai anak-anak.


Panji pun segera memesan 2 nasi dan 2 fried chicken beserta minumannya. Zidan yang sudah besar memakan makanannya sendiri. Dia makan begitu lahapnya karena sudah kelaparan sejak tadi.


"Makan yang banyak nak," ujar Panji yang menggusar kepala Zidan.


Zidan pun hanya mengangguk tanpa menjawab kata-kata ayahnya karena mulutnya dipenuhi makananan. Panji merasa senang melihat putranya begitu bahagia.


"Maafkan papah nak karena selama ini papah kurang memperhatikanmu," gumam batin Panji yang lagi-lagi merasa bersalah.


"Apa kamu ingin tambah nak?" tanya Panji lagi.


"Tidak pah, aku sudah kenyang," jawab Zidan sambil memegangi perutnya yang sudah kekenyangan. Panji pun tersenyum simpul melihat tingkah putranya yang begitu lucu.


"Kamu mau makan apa lagi sayang?" tanya Panji yang ingin memanjakan anaknya.


"Tidak pah, perutku sudah kenyang. Sekarang aku mau pulang, mamah pasti khawatir," lirih Zidan.


"Iya sayang tapi kita pulang ke rumah papah yah, nanti biar mamah yang akan jemput kamu," timpal Panji.


Setelah mendengarkan papanya, Zidan pun akhirnya setuju. Kini mereka pulang menuju rumah Panji. Sepanjang perjalanan Zidan tidak henti-hentinya bercerita. Panji yang mendengar ocehan Zidan pun tersenyum simpul.


Tak berapa lama akhirnya mereka tiba dirumah Panji. Panji membawa Zidan ke dalam kamar agar Zidan bisa beristirahat. Tak berapa lama saat Zidan akan membaringkan tubuhnya, Zidan seperti mendengar ada yang memanggilnya.


"Mamah,bukannya itu suara mamah?" ujar Zidan.

__ADS_1


__ADS_2