
Zidan merasa sangat senang karena hari ini merupakan hari pertama bagi Zidan untuk bersekolah ditempat yang baru. Ia terpaksa harus mengulangi sekolahnya dari awal, sebab sudah beberapa bulan ini sekolahnya terganggu. Sejak pagi Sintia sudah mulai sibuk membereskan rumah dan menyiapkan sarapan untuk anaknya.
"Makan dulu nak," ujar Sintia yang segera menyiapkan makanan diatas meja.
"Iya mah," jawab Zidan yang sejak tadi sudah siap akan berangkat ke sekolah. Zidan sangat antusias dihati pertamanya bersekolah.
Zidan pun segera memakan makanan yang sudah disiapkan ibunya. Nasi dan fried chicken adalah makanan kesukaan Zidan. Ia akan menghabiskan makanannya jika makan dengan makanan kesukaannya. Tak berapa lama makanan Zidan pun habis dilalap olehnya.
Selesai menghabiskan makanannya, Sintia segera bergegas mengantar anaknya ke sekolah. Zidan dan Sintia segera naik ojeg online yang sebelumnya ia pesan. Tak berapa lama akhirnya ojeg itu datang.
"Permisi dengan Bu Sintia?" tanya tukang ojeg itu memastikan.
"Iya pak, saya sendiri," jawab Sintia yang segera menghampiri tukang ojeg itu.
"Silahkan bu," tawar tukang ojeg itu
"Ayo sayang," ajak Sintia yang segera menaikan anaknya ke atas motor.
"Iya mah," jawab Zidan.
Tak berapa lama supir ojeg online itu segera melajukan motornya. Di hari senin seperti ini memang begitu padat di jalan raya, sehingga Sintia sengaja memesan ojeg agar mereka tidak terlambat. Berbeda dengan mobil, motor bisa menyalip dijalanan kecil sekalipun.
Tak butuh waktu yang lama akhirnya mereka tiba di sekolah baru Zidan. Sekolah yang cukup sederhana namun begitu ramai. Sintia sengaja mendaftar ke sekolah ini karena memang sekolah inilah yang paling dekat dengan rumahnya.
TK Tadika Mesra sebuah Tk yang cukup sederhana, namun begitu banyak murid yang mendaftar di sekolah itu.
"Hai, boleh aku duduk disini?" tanya seseorang yang berdiri dihadapan Zidan.
"Boleh, silahkan," jawab Zidan yang segera bergeser ke samping kanan.
"Terima kasih," ujar Ara yang segera duduk disebelah Zidan.
"Apa kamu baru mendaftar juga di sekolah ini?" tanya Ara.
"Iya, itu ibuku yang sedang mendaftarkan aku," tunjuk Zidan kepada ibunya yang sedang duduk di hadapannya bersama salah seorang guru.
__ADS_1
"Siapa nama kamu?" tanya anak perempuan yang cantik itu.
"Aku Zidan, kamu sendiri siapa?" jawab Zidan yang segera menyodorkan tangannya.
"Aku panggil saja Ara," ujar Ara sambil tersenyum simpul.
"Mah perkenalkan ini Ara teman baru aku mah," ujar Zidan saat Sintia menghampirinya..
"Wah benarkah? Siapa namamu? Cantik sekali," puji Sintia.
"Hai tante, aku Ara," jawab Ara yang berusaha memperkenalkan dirinya.
"Wah nama yang cantik," puji Sintia sambil mencubit pipi Ara yang sangat menggemaskan.
"Akhirnya kamu dapat teman baru ya nak," ujar Sintia yang mengusap kepala anaknya.
Setelah perkenalan itu mereka menjadi dekat. Zidan dan Ara bahkan duduk satu meja. Kini mereka menjadi sahabat. Baru pertama kali bertemu tapi mereka terlihat begitu akrab. Sintia merasa senang melihat anaknya bahagia.
"Jika seperti ini, mungkin aku harus bekerja agar aku punya pemasukan," gumam batin Sintia.
Beberapa hari berlalu, kini Zidan mulai disibukan dengan sekolah nya. Sekolah yang memang waktu belajarnya berbeda dengan sekolah lain. Disana Zidan akan berada di sekolah hampir seharian penuh. Hal itu pun dimanfaatkan Sintia untuk melakukan rencananya.
Sejak malam Sintia sengaja membuat lamaran pekerjaan. Sintia harus bekerja keras untuk membiayai hidup anaknya. Setelah Zidan pergi ke sekolah yang dijemput oleh supir sekolahnya, Sintia pun segera bergegas pergi membawa surat lamaran pekerjaan.
Sintia segera mendatangi setiap perusahaan yang ia lewati.
"Permisi pak, apa disini sedang dibutuhkan karyawan baru pak?" tanya Sintia pada salah seorang satpam yang sedang berjaga diruangannya.
"Maaf bu, belum ada," jawab satpam itu secara sopan.
Entah sudah berapa perusahaan yang ia datangi, namun hasilnya masih tetap nihil. Hingga tak terasa sore pun. Mulai menjelang.
"Mamah kemana mah? Kenapa baru pulang?" tanya Zidan yang menyambut kedatangan ibunya.
"Maaf sayang, mamah sedang mencari pekerjaan. Jadi tidak apa-apa kan jika mamah tidak menjemputku hari ini," jawab Sintia.
__ADS_1
"Kenapa mamah harus bekerja?" tanyanya lagi.
Dengan susah payah Sintia pun mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak. Merasa cukup paham, kini Zidan mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Maafkan Zidan mah, Zidan selalu merepotkan mamah," gumam batin Zidan. Di usianya yang masih sangat kecil Zidan begitu memahami alasan kenapa Sintia harus bekerja.
"Aku tahu mah, semua ini mamah lakukan hanya demi aku kan mah," gumam batin Zidan.
Merasa kelelahan karena hampir seharian Sintia berjalan dan berkeliling akhirnya Sintia tertidur di ruang tamu. Zidan yang merasa kesulitan karena tidak mungkin jika harus membopong ibunya. Akhirnya Zidan membiarkan ibunya tidur di atas sofa. Zidan segera menyelimuti Sintia dengan selimut miliknya.
"Selamat malam mah. Maafkan aku mah," ujarnya lagi setelah mengecup pucuk kepala ibunya.
Melihat ibunya tertidur diatas sofa, Zidan pun berinisiatif untuk tidur dibawah Sintia dengan karpet sebagai asasnya. Zidan tidak tega jika harus membangunkan ibunya, namun. Ia juga tidak mau berada jauh dari ibunya.
Pada saat Zidan akan memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponsel ibunya berdering. Sintia yang kelelahan tidak mendengar bunyi ponselnya. Zidan pun berinisiatif untuk mengangkat panggilan itu, namun pada saat Zidan akan berbicara tiba-tiba ponselnya mati sebab habis baterai
"Mamah pasti lupa mencharge ponselnya," ujar Zidan yang berinisiatif untuk mencharge ponsel ibunya.
Setelah itu Zidan pun kembali berbaring dibawah ibunya. Tak terasa hampir semalaman mereka tidur diruang tamu.
Keesokan harinya..
"Astaga aku ketiduran disini," ujar Sintia yang merasa bingung karena ia tertidur diatas sofa.
"Zidan? Apa semalaman dia tidur dipantau?" ujar Sintia lagi yang semakin terkejut melihat anaknya tertidur diatas lantai yang hanya beralaskan permadani.
"Zidan sayang, bangun nak!" seru Sintia dengan suara yang lembut. Sintia mengelus pipi putranya agar ia bisa segera bangun.
"Mamah sudah bangun?" tanya Zidan yang mengucek matanya karena baru bangun.
"Kenapa kita tidur disini? Kenapa Zidan tidak membangunkan mamah nak?" tanya Sintia lembut.
"Aku tidak tega bangunin mamah, makanya aku juga tidur sini," jawab Zidan polos.
"Kamu ini memang anak yang baik, sini mamah peluk," ujar Sintia yang segera memeluk anaknya. Sintia sangat bangga karena Zidan tumbuh menjadi anak yang baik dan perhatian. Semenjak kehadiran putranya itu hidup Sintia semakin banyak berubah. Sintia merasa beruntung karena memiliki anak seperti Zidan.
__ADS_1