HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
26. Kenapa Masih Disini


__ADS_3

Sudah beberapa minggu berlalu, Arin berharap jika Sintia akan segera pergi dari rumahnya. Pada saat pertama datang, Reza mengatakan jika Sintia hanya tidur untuk satu malam saja. Namun pada kenyataannya sekarang sudah beberapa minggu dia masih ada dirumah.


"Kak, apa Arin boleh tanya?" ujar Arin yang membuka pertanyaan saat ia sedang memasukan baju ke dalam lemari.


"Iya kenapa?" tanya Reza yang menautkan kedua halisnya.


"Kenapa kak Sintia masih disini? Bukannya dia akan tidur satu malam saja?" tanya Arin kesal.


"Begini Rin, kakak juga bingung sampai kapan dia ada disini. Kakak tidak enak jika menyuruhnya pergi dari sini," lirih Reza.


"Tapi kak, sampai kapan kita akan seperti ini terus. Aku sudah tidak sanggup lagi," timpal Arin yang merasa bingung dan kesal dengan kehadiran Sintia.


Arin merasa tidak nyaman saat ia harus berada satu atap dengan wanita lain. Terlebih wanita ini merupakan mantan dari istri suaminya. Wanita mana yang tidak akan merasa kesal jika ia berada satu rumah dengan wanita lain. Arin ingin segera mengakhiri semua ini.


Mendengar pembicaraan mereka membuat Sintia merasa tidak enak. Sebenarnya bukan Sintia tidak mau pergi, tapi ia merasa bingung harus pergi kemana. Ditambah dia membawa anak kecil yang belum tahu mau kemana.


"Jadi selama ini mereka tidak menyukai kehadiranku," gumam batin Sintia.


Setelah mendengar percakapan diantara mereka, Sintia bergegas ke kamarnya membereskan semua pakaian miliknya dan anaknya.


"Sintia kamu mau kemana?" tanya Reza yang menautkan kedua halisnya karena melihat Sintia yang tiba-tiba berkemas.


"Aku akan pergi dari sini, aku sudah tidak mau merepotkan kalian lagi. Maafkan aku karena aku sudah mengganggu ketentraman hidup kalian" lirih Sintia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak Sintia, tidak seperti itu," ujar Reza yang merasa bersalah.


"Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Arin tadi," gumam batin Reza.


"Sudahlah Za, aku tahu semuanya," tukas Sintia.


Setelah semuanya siap, Sintia pun segera bergegas pergi dari rumah Reza dan membawa serta anaknya Zidan.


"Kita  mau pergi kemana mah?" tanya Zidan sambil merengek.


"Kita akan pergi dari rumah ini," jawab Sintia sambil menuntun terus anaknya.

__ADS_1


"Tapi mah aku betah berada disini, aku senang tinggal bersama om dan tante," ujar Zidan lagi dengan air mata yang mulai turun di pipinya.


Sementara Arin hanya bisa diam melihat Zidan dari kejauhan. Sebenarnya Arin tidak ingin Zidan pergi, akan tetapi Arin juga tidak bisa jika harus tinggal bersama dengan Sintia. Apa kata orang? Bagaimana jika ayahnya tiba-tiba datang ke rumahnya? Bagaimana Arin akan menjelaskan semuanya.


"Maafkan tante Zidan, tante tidak bisa mencegah kepergianmu. Tante sayang Reza," lirih Arin dalam hati.


Melihat kepergian Zidan membuat Arin merasa sedih. Beberapa bulan tinggal bersamanya membuat rasa sayang itu tumbuh dihati Arin. Ia sudah menganggap Reza seperti anaknya sendiri. Meski Arin tidak tega tapi Arin harus melakukan semua ini.


"Tunggu Sintia," pekik Reza yang sedari tadi menyaksikan mereka berdua. Reza Merasa  tidak tega melihat Zidan menangis.


"Apa lagi Reza, tolong biarkan aku pergi," lirih Sintia.


"Tapi bagaimana dengan Zidan, aku tidak tega melihatnya menangis seperti itu," timpal Reza.


"Biarkan dia menangis seperti itu, ini semua hanya Sementara," jelas Sintia yang segera  memanggil taksi dihadapannya.


"Ayo cepat Zidan," titah Sintia yang segera memaksa Zidan masuk ke dalam mobil.


"Tapi mah," jawab Zidan yang merasa berat melangkahkan kakinya ke dalam mobil.


Saat mobil melaju, Reza tidak berhenti-berhentinya menangis. Dia terus saja memanggil nama Reza dan Arin. Zidan benar-benar menyayangi mereka berdua.


"Sudahlah Zidan hentikan, nanti kapan-kapan kita akan menginap lagi dirumah tante Arin dan om Reza ya," ujar Sintia yang mencoba menenangkan anaknya.


"Benaran mah?" tanya Zidan di sela-sela tangisannya.


"Bener sayang," ujar Sintia.


Mendengar kata-kata ibunya membuat Zidan merasa tenang. Zidan merasa tidak bersedih lagi setelah mendengar hal itu.


"Maafkan mamah nak, mamah terpaksa harus membohongimu," gumam batin Sintia.


Dirumah Reza hanya bisa terdiam menyaksikan Sintia pergi dari rumahnya.


"Maafkan om Zidan, om tidak bisa mencegah kepergiannya," gumam batin Reza saat melihat mobil mereka pergi semakin jauh.

__ADS_1


"Maafkan aku juga Sintia, aku tidak bisa mencegah dirimu pergi dari sini. Maafkan aku pah, aku tidak bisa memenuhi janjimu," gumam batin Reza lagi.


Reza begitu menyayangi Zidan, bahkan ia sudah menganggap Zidan seperti anaknya sendiri. Sudah cukup lama Reza menantikan buah hati.


"Mungkin seperti ini rasanya menjadi seorang ayah," gumam batin Reza.


Reza pun bergegas masuk ke dalam rumah setelah melihat kepergian mereka.


"Apa kamu puas melihat mereka sudah pergi dari sini?" tanya Reza saat melihat Arin.


"Bukan seperti itu kak, sebenarnya aku juga merasa sedih melihat kepergian Zidan. Aku tidak tega melihat kepergian mereka. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Sintia ada disini.  Itu pasti akan membuat rumah tangga kita hancur," jelas Arin.


"Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu Arin?" tanya Reza.


"Aku selalu merasa takut jika kamu akan jatuh cinta lagi pada Sintia kak, aku tidak mau jika hal itu terjadi," ujar Sintia lagi.


"Tidak Arin, hal itu tidak mungkin terjadi," timpal Reza.


"Sudahlah, terserah kakak saja. Aku malas berdebat dengan kakak, aku sudah lelah," tukas Arin yang bunar-benar merasa kesal.  Entah jawaban apa lagi yang harus Arin jelaskan, Reza benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya.


"Aku akan pergi dulu cek kandungan," pamit Arin yang segera bergegas dari rumah.


"Biar kakak anter Rin," timpal Reza.


"Tidak usah kak, aku bisa sendiri," jawab Arin yang segera berlalu meninggalan Reza seorang diri.


Arin sebenarnya tidak mau jika harus terus-terusan berdebat seperti ini. Sedari awal Arin tidak pernah bertengkar dengan Reza. Arin dan Reza selalu merasa bahagia. Tapi kali ini semenjak kehadiran Sintia di rumahnya, selalu saja ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.


Arin segera memanggil taksi yang berlalu dihadapannya. Dan ia pun segera bergegas. Rasanya sudah muak bagi Arin memperdebatkan hal yang seharusnya tidak penting bagi hubungan mereka berdua.


"Tunggu Arin," pekik Reza yang melihat kepergian istrinya.


Reza benar-benar bingung harus bersikap seperti apa pada Arin. Padahal ia hanya ingin membantu Sintia, tidak ada hal lain yang membuatnya terpaksa melakukan hal itu.


"Maafkan aku kak, sebenarnya aku merasa lelah dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini," gumam batin Arin.

__ADS_1


__ADS_2