
Sementara Arin merasa masih curiga tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya. Hampir semalaman Arin tidak bisa memejamkan matanya. Arin masih saja memikirkan suaminya yang tiba-tiba terluka.
"Sebenarnya apa yang terjadi kak? Kenapa kakak bisa terluka?" gumam batin Arin.
"Mengapa akhir-akhir ini aku merasa jika kak Reza sedang menyembunyikan sesuatu," gumam batin Arin lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi kak? Kenapa kakak bisa tiba-tiba terluka?" tanya Arin sekali lagi yang melihat Reza sedang bersiap akan pergi ke kantor.
"Sudah kakak bilang, kakak kemarin terjatuh sehingga membuat bibir kakak berdarah," pekik Reza dengan suara yang begitu keras. Padahal sebelumnya Reza tidak pernah berkata seperti itu. Reza selalu berbicara lembut pada Arin. Namun akhir-akhir ini entah apa yang terjadi dengan suaminya.
"Kakak berangkat kerja dulu ya?" pamit Reza yang segera bergegas ke kantor.
"Iya kak," jawab Arin singkat dan tidak menoleh ke arah suaminya. Sebagai wanita Arin tidak pernah diperlakukan seperti itu.
Arin merasa sangat sakit hati dengan kata-kata Reza. Reza tidak pernah meninggikan suaranya kepada Arin. Tapi untuk kali ini, entah apa yang terjadi dengan Reza. Sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini.
Padahal Arin sedang hamil besar, sebentar lagi Arin akan melahirkan buah cintanya dengan Reza. Seharusnya Reza lebih memperhatikan istrinya, bukan malah sebaliknya membentak Arin.
"Tega kamu kak," gumam batin Arin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sebelum pergi, Reza hanya melihat Arin dari kejauhan. Tidak ada kata maaf yang ia ucapkan. Reza segera bergegas pergi dari rumahnya tanpa mengecup pucuk kepala Arin. Biasanya Reza akan melakukan hal itu, tapi sudah beberapa hari ini Reza tidak melakukannya.
"Maafkan kakak Rin, kakak khilaf," gumam batin Reza saat dalam perjalanan.
"Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi seperti ini," gumam batin Reza lagi.
Semenjak bertemu dengan Sintia, pikiran Reza mulai teralihkan. Entah mengapa Reza tiba-tiba selalu memikirkan tentang Sintia. Entah karena Reza mulai mencintainya, atau ada hal lain yang membuat Reza seperti itu.
Sementara ditempat lain, Sintia juga masih memikirkan tentang kejadian kemarin. Sintia merasa takut dengan ancaman Panji. Sintia takut jika Panji tiba-tiba datang membawa Zidan pergi jauh darinya. Kali ini Sintia harus lebih waspada dan hati-hati.
Dari kejauhan Panji masih mengintai rumah Sintia dari kejauhan. Panji memperhatikan arah sekitar dan berusaha menghampiri Sintia lagi. Akhirnya Panji pun segera menghampiri Sintia yang baru saja keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Sintia," panggil Panji yang datang lagi ke rumahnya.
"Sedang apa kamu disini mas?" pekik Sintia yang terkejut dengan kedatangan Panji.
"Sudah aku katakan aku ingin membicarakan sesuatu," jawab Panji.
"Ada apa lagi kamu kesini mas?" tanya Sintia yang merasa terganggu dengan kedatangan Panji.
"Tolong berikan aku waktu, aku hanya ingin berbicara kepadamu," ujar Panji sambil memohon.
"Oke akan aku berikan waktu beberapa menit untuk bicara," tukas Sintia yang segera duduk di kursi teras rumah seraya melipat tangannya.
Setuju dengan Sintia, Panji pun mulai duduk dan menceritakan maksud kedatangannya. Beruntung Zidan sudah pergi ke sekolah sehingga Sintia merasa jauh lebih tenang. Mungkin setelah menyampaikan maksudnya, Panji tidak akan mengganggu Sintia lagi.
"Begini Sintia, sebelum nya aku ingin meminta maaf atas kesalahanku. Aku menyesal karena sudah mengkhianati dan membiarkanmu pergi dari rumah," lirih Panji yang menyesali perbuatannya.
"Apa? Setelah berbulan-bulan kamu mengusirku kamu bilang menyesal mas? Helo selawa ini kamu kemana aja?" tanya Sintia yang merasa bingung harus berbuat apa. Sebenarnya Sintia merasa sakit hati atas perbuatan Panji kepadanya. Bahkan hingga saat ini Sintia masih merasa kesal dengan perbuatan Panji.
menyesali perbuatanku," lirih Panji sekali lagi.
"Mungkin aku bisa memaafkanmu mas, tapi aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu," lirih Sintia.
"Aku juga ingin kita bersama lagi Sintia, aku mohon," lirih Panji.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Lalu wanita itu, akan kamu kemanakan?" tanya Sintia yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Tidak Sintia, kamu tidak salah dengar. Aku, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya," jawab Panji.
"Maaf aku tidak bisa mas. Maaf aku harus bekerja mas, ini sudah terlalu siang," pamit Sintia yang segera mengunci pintu rumahnya.
"Tapi kenapa Sintia? Apa semua ini karena mantan suamimu dulu? Bukankah dia sudah memiliki istri? Setidaknya lakukan ini demi anak kita Sintia," ujar Panji lagi.
__ADS_1
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sintia. Dia tidak menghiraukan kata-kata Panji. Sintia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Panji.
"Sintia tunggu," pekik Panji.
"Maaf aku sudah terlambat," ujar Sintia yang langsung pergi meninggalkan Panji. Dan hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Sintia tunggu, aku belum selesai berbicara," pekik Panji.
"Maaf mas aku sudah terlambat," teriak Sintia yang kebetulan ada sebuah taksi yang melintas dihadapannya.
Panji pun merasa kecewa dengan sikap Sintia yang seperti itu. Padahal Panji benar-benar tulus ingin meminta maaf kepada Sintia. Tapi Panji tidak memiliki pilihan lain karena Sintia benar-benar pergi meninggalkannya.
Melihat Sintia yang sudah pergi jauh, Panji pun bergegas pulang.
"Aku merasa heran setelah sekian lama, mas Panji tiba-tiba datang meminta maaf dan mengajak kembali. Apa yang harus aku lakukan?" gumam batin Sintia saat sedang didalam mobil. Pikirannya tidak tenang memikirkan hubungannya dengan Panji.
"Apa aku harus menerima mas Panji kembali? Tapi aku tidak bisa bersamanya lagi, hatiku sudah sangat sakit hati. Apa yang harus aku lakukan?" gumam batin Sintia.
Sepanjang perjalanan Sintia terus saja memikirkan hubungannya dengan Panji. Sesampainya dikantor, Sintia segera bergegas ke ruangannya. Sintia mulai menyibukkan dirinya agar ia tidak memikirkan semua itu.
Namun baru saja Sintia akan memulainya, tiba-tiba Reza masuk ke dalam ruangannya.
"Sintia, apa Panji tidak mengganggu lagi?" tanya Reza yang baru saja datang.
"Tidak, dia tidak menggangguku lagi," jawab Sintia yang terpaksa harus berbohong. Sintia tidak ingin jika ia harus membicarakan masalah pribadinya dikantor.
"Baiklah aku akan meninggalkanmu," ujar Reza yang segera meninggalkan ruangan Sintia.
"Syukurlah akhirnya dia pergi juga dari sini," gumam batin Sintia yang membuang nafasnya secara kasar.
Tanpa banyak bicara Sintia pun mulai mengerjakan pekerjaannya. Sintia ingin segera menyelesaikan semuanya agar ia bisa pulang lebih awal. Akhir-akhir ini Sintia selalu sibuk dengan pekerjaannya dan ia ingin menghabiskan waktunya dengan Zidan anaknya.
__ADS_1
"Maafkan mamah nak, selama mamah mulai bekerja, mamah kurang perhatian sama Zidan," gumam batin Sintia yang semakin bersemangat dalam melakukan pekerjaannya. Meski lelah tapi Sintia harus melakukan ini semua hanya karena Zidan.