HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
47. Harus Melupakan


__ADS_3

Sintia berencana untuk mengundurkan diri setelah ia kembali kepada suaminya. Panji tidak memberikan izin kepada Sintia untuk bekerja lagi, maka dari itu hari ini Sintia memutuskan untuk resign dari kantornya.


"Sintia," panggil Reza yang baru melihat Sintia.


"Ada apa lagi Za?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya dan segera bergegas meninggalkan Reza.


"Tunggu Sintia, aku masih ingin berbicara denganmu," ujar Reza yang menarik tangan Sintia.


"Apa lagi yang harus dibicarakan Za? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, lagi pula aku akan resign dari kantor ini. Jadi tolong jangan ganggu aku lagi!" pekik Sintia yang segera melepaskan pegangan tangan Reza dan segera bergegas pergi.


"Tapi Sintia tunggu dulu, aku tidak bisa melupakanmu," ujar Reza.


Plak...


Merasa kesal karena Reza terus mengejarnya dan memegang tangannya akhirnya ia menampar Reza. Seketika langkah Reza pun terhenti setelah menerima tamparan keras dari Sintia.


"Aku sudah peringatkan Reza," ujar Sintia yang kini menunjuk ke arah Reza.


"Tapi Sintia tunggu, dengar kan aku," teriak Reza sekali lagi.


Tanpa mendengarkan kata-kata Reza, Sintia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Reza. Ia tidak mau berbicara lagi dengan Reza setelah kejadian malam itu. Sintia merasa malu walau hanya bertemu dengan Reza.


Sintia merasa sangat bersalah, untuk itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya. Karena hal itu pula lah yang membuat Sintia akhirnya mau kembali kepada Panji.


Sintia malah mempercepat langkahnya agar ia tidak bertemu lagi dengan Reza. Beruntung  Sintia bisa lolos dari Reza, karena ia mendapatkan taksi.


"Taksi, taksi," ujar Sintia sambil melangkahkan kakinya.


Akhirnya taksi itu berhenti persis di hadapan Sintia.


"Syukurlah," gumam batin Sintia sambil mengusap dadanya karena  bisa pergi dari Reza.


Sedangkan Reza merasa marah dan hanya bisa melihat kepergian Sintia. Ia merasa tak berguna karena Reza tidak bisa berbicara dengan Sintia. Untuk beberapa kali Reza pun terus menghubungi ponselnya namun tidak diangkat juga oleh Sintia.


"Ayo angkatlah Sintia," ujar Reza sambil memegangi ponselnya.


Namun beberapa kali ia mencoba, Sintia tetap tidak mengangkatnya.

__ADS_1


Sementara ditempat lain, Sintia hanya menatap ponselnya. Ia merasa tidak percaya karena Reza akan bersikap seperti ini. Reza terus saja memaksanya.


"Kenapa dia terus saja menghubungiku? Apa dia tidak memikirkan perasaan Arin apa?" gumam batin Sintia yang sejak tadi menatap ponselnya dipenuhi beberapa panggilan dan pesan oleh Reza.


Tak terasa hampir satu jam Sintia dalam perjalanan, kini akhirnya ia sampai dirumah. Sepanjang perjalanan Sintia terus saja memikirkan Reza.


"Aku pulang," ujar Sintia sesampainya  di rumah.


"Ada apa Sintia? Kenapa kamu terlihat panik?" tanya Reza yang melihat Sintia begitu panik.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya khawatir karena pekerjaanku yang banyak. Sementara aku malah keluar dari kantor," ujar Sintia yang terlihat sedih.


Sebenarnya Sintia tidak ingin keluar dari pekerjaannya sebab ia menyukai pekerjaannya. Namun demi menyelamatkan hubungannya dengan Reza, Sintia harus melakukan semua ini.


Sintia tidak ingin jika kesalahan mereka akan terulang kembali. Sebagai seorang wanita Sintia sangat tahu rasanya dikhianati, akan tetapi justru Sintia melakukan kesalahan yang sama pada Arin.


"Maafkan aku Rin, aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku kepadamu. Dan aku akan mengembalikan Reza kepadamu," gumam batin Sintia.


"Ada apa Sintia?" tanya Panji yang melihat istrinya tiba-tibw terdiam.


"Aku tidak apa-apa," jawab Sintia.


"Wah benarkah? Apa kamu memasak untukku?" tanya Sintia yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sebab dulu Panji tidak pernah melakukan hal itu. Tapi kali ini Panji terlihat begitu berbeda.


Ya Panji memang ingin berubah. Panji ingin memberikan yang terbaik bagi Sintia agar ia bisa menebus kesalahan nya. Panji ingin Sintia bahagia.


"Maafkan aku Sintia karena aku sudah menyia-nyiakanmu selama ini," gumam batin Panji.


Sejak tadi Panji berkutat di dapur untuk memasak masakan yang spesial. Hari ini dia memang sengaja belum bekerja karena ingin menghabiskan waktunya bersama Sintia. Panji ingin membahagiakan Sintia.


"Wah sepertinya enak," ujar Sintia saat melihat banyak makanan diatas meja.


"Pastinya, kita makan ya," ajak Panji.


Sintia pun hanya menganggukan kepalanya. Sebagai seorang wanita Sintia merasa tersanjung dengan apa yang dilakukan Panji. Dia begitu manis dan romantis. Wanita mana yang tidak akan merasa senang jika menerima perlakuan seperti itu dari suaminya.


Mereka pun akhirnya menikmati merasakan Panji. Mereka terlihat begitu bahagia. Mereka terlihat seperti pasangan muda yang baru menikah.

__ADS_1


"Terima kasih Sintia," ucap Panji sambil memegang tangan Sintia.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.


"Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan yang kedua," jawab Panji.


"Aku berharap kamu tidak akan pernah mengulangi kesalahanmu lagi," lirih Sintia.


"Tentu Sintia, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi," timpal Panji penuh keyakinan.


"Astaga aku hampir lupa, Zidan sebentar lagi pulang," tukas Panji yang segera bersiap untuk menjemput anaknya ke sekolah.


Sementara dalam perjalanan pulang, Reza duduk termenung disebuah taman. Ia yang memikirkan perasaannya kepada Sintia. Dia merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya selama ini.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan? Apa yang sudah aku perbuat kepada Arin? Aku sudah mengkhianatinya," gumam batin Reza yang sambil duduk di kursi panjang di taman.


Setelah beberapa hari ia baru menyadari tentang kesalahannya.


"Aku harus melupakan Sintia, aku harus bisa melupakan Sintia," gumam batin Reza.


"Maafkan kakak Rin, tidak seharusnya kakak bersikap seperti ini," ujarnya lagi.


Setelah menyadari kesalahannya, Reza pun berniat untuk memperbaiki kesalahannya. Reza ingin meminta maaf kepada Arin tentang perilakunya selama ini. Ya Reza kini benar-benar menyesali perbuatannya.


Untuk itu Reza berniat membeli sesuatu agar Arin merasa bahagia. Reza bergegas pulang dan membeli sebuah coklat dan buket bunga. Reza mengendarai kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi agar ia segera tiba dirumah.


Tak butuh satu jam akhirnya Reza tiba dirumah.


"Kakak sudah pulang?" tanya Arin yang kebetulan membuka pintu.


"Iya Rin, kakak punya kejutan buat kamu," ujar Reza sambil berlutut dihadapan Arin dan memberikan sebuah buket bunga.


"Wah indah sekali," tukas Arin yang terlihat begitu senang.


"Tunggu, ini ada satu lagi," timpal Reza yang segera mengeluarkan coklat dari tas kerjanya.


"Wah kejutan lagi, aku jadi terharu. Tapi dalam rangka apa kak? Aku kan tidak sedang ulang tahun," ujar Arin yang merasa ada yang aneh. Sedangkan sejak kemarin Reza terlihat begitu sedih dan dingin, akan tetapi kali ini Reza tiba-tiba bersikap romantis.

__ADS_1


'Ada apa ini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apa kak Reza menyembunyikan sesuatu?" gumam batin Arin.


__ADS_2