
Beberapa hari kemudian berada di rumah nenek membuat kondisi Bu Sofia semakin membaik. Kini Bu Sofia tidak banyak berbaring, bahkan Bu Sofia hari ini ingin mandi menggunakan air hangat.
Hal itupun tidak di sia-siakan Arin. Kali ini Bu Sofia ingin di mandikan oleh Arin.
"Nak tolong bantu ibu mandi ya, ibu minta tolong untuk menggosokan bagian punggung belakang ibu," ujar Bu Sofia yang sedang duduk di kursi meja sembari menunggu Arin memasak air.
"Iya bu," jawab Arin senang. Meski di usianya yang baru menginjak 15 tahun tapi Arin terlihat begitu dewasa. Arin mengerti dengan apa yang harus ia lakukan.
Beberapa menit kemudian air pun sudah siap. Arin dengan cekatan segera menuangkan air panas dari panci ke dalam ember. Setelah itu Arin segera mendinginkan air panas itu dengan air biasa.
Dikamar mandi Bu Sofia sudah menunggu sambil duduk di sebuah kursi kecil. Perlahan Arin mengguyurkan air hangat itu ke seluruh bagian tubuh Bu Sofia. Arin segera menyabuni Bu Sofia terutama bagian punggung yang tidak terjamah oleh Bu Sofia.
Setelah itu Arin memberikan shampo ke rambut ibunya. Tak berapa lama akhirnya Bu Sofia selesai mandi. Ia segera mengenakan pakaiannya dan duduk di kursi dekat meja makan.
Arin pun berinisiatif untuk menyisir rambut ibunya yang panjang terurai. Perlahan Arin mulai menyisir rambut panjang itu. Dari belakang Arin terus saja menatap ibunya. Terkadang Arin memikirkan hal terburuk dalam hidupnya, namun ia segera menepis pikiran buruk itu dari benaknya.
"Apa tidak dingin bu?" tanya Arin sambil menyisir rambut ibunya yang panjang.
"Tidak nak, ibu merasa lebih segar setelah beberapa hari tidak mandi," jawab sang ibu.
Mendengar hal itu membuat Arin merasa senang. Arin bahagia karena ibunya kini terlihat lebih sehat.
"Semoga ibu akan sehat selalu dan panjang umur," gumam batin Arin penuh harap sambil menyisir rambut ibunya yang panjang.
"Setelah ini ibu makan ya, Arin suapi," tukas Arin lagi setelah ia selesai menyisir rambut ibunya.
Bu Sofia hanya mengangguk layaknya anak kecil yang menuruti kata-kata ibunya. Dari tangan Arin, Bu Sofia makan begitu banyak hingga ia merasa kekenyangan.
"Sudah cukup Rin, ibu sudah kenyang," ujar Bu Sofia.
"Oh iya bu,"jawab Arin yang segera meletakan piringnya diatas meja.
"Antar ibu ke kasur," ujar Bu Sofia yang kini menggandeng tangan Arin.
__ADS_1
"Mari bu," tukas Arin yang kini berjalan disamping ibunya.
Mereka berjalan bergandengan tangan. Arin segera mengantar mamahnya ke atas kasur yang terletak ditengah rumah. Arin pun membaringkan ibunya dan menyelimutinya.
"Sekarang mamah istirahat ya," ujar Arin selepas menyelimuti ibunya.
"Iya sayang terima kasih," tukas Bu Sofia.
"Sama-sama mah," ucap Arin yang mengecup pucuk kepala ibunya.
Melihat ibunya tertidur, Arin pun merasa lega akhirnya ia tertidur pulas. Arin akhirnya pergi ke kamar untuk istirahat sejenak sambil mengecek ponsel barangkali ada pesan yang penting. Hingga akhirnya Arin pun mengerjakan matanya sejenak.
"Teteh, teteh.." terdengar suara Bi Marni berteriak.
"Ada apa ya kok berisik sekali," ujar Arin yang terperanjat mendengar teriakan Bi Marni. Spontan Arin pun setengah berlari melihat keadaan Bu Marni.
"Ada apa bi?" tanya Arin yang kini melihat Bi Marni menangis di dekat kasur ibunya.
"Kenapa mamah bi?" tanya Arin yang kini menatap ibunya masih tidur dengan pulsanya.
"Mamah kenapa bi?" tanya Arin sekali lagi dengan tegas.
"Mamah sudah pergi dengan tenang Rin," lirih Bi Marni.
"Apa? Tidak mungkin!" pekik Arin yang kini menangis. Arin masih tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di segarnya. Arin merasa jika ibunya sudah sehat kembali sejak kemarin. Bahkan Arin tidak mau membayangkannya walau hanya sesaat.
Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan kita di masa mendatang. Arin merasa jika hidup ibunya akan sehat kembali, akan tetapi diluar dugaannya ternyata Tuhan berkehendak lain.
Arin terus saja menangis meratapi kepergian ibunya. Arin tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia terus saja terisak menyaksikan kepergian ibunya. Arin sayang, Arin yang malang.
Jasad ibu Arin pun kini di mandikan, lalu dishalatkan, setelah itu jenazah di bawa ke TPU (Tempat Pemakaman Umum). Semua keluarga ikut menyaksikan saat Bu Sofia dikuburkan. Air mata Arin tak tertahankan saat ibunya di masukan ke dalam liang lahat. Air matanya semakin deras.
Bi Marni yang berdiri disamping Arin beberapa kali mengusap punggung Arin sebagai tanda menguatkan Arin.
__ADS_1
"Yang sabar nak, ibumu sudah tenang di alam sana. Sekarang dia tidak akan merasakan sakit lagi," lirih Bi Marni yang kini mengusap air mata Arin yang sejak tadi tumpah.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Arin selain tangisan. Di dalam hidupnya hari ini merupakan hari yang sangat menyakitkan. Selama hidupnya baru kali ini Arin merasakan kehilangan yang begitu teramat dalam.
Semua sanak saudara ikut menyaksikan saat Bu Sofia dikebumikan. Termasuk beberapa orang tetangga yang rumahnya tidak begitu jauh, mereka menyempatkan diri untuk datang ke kampung halaman Bu Sofia.
Hampir semua orang memberikan dukungan pada Arin agar bersabar dalam musibah ini. Namun kata-kata dari mereka tidak bisa menghentikan air mata Arin yang terus saja mengalir. Tak terasa setelah rangkaian acara pemakaman pun ditutup dengan doa.
Semua orang membubarkan diri, namun Arin masih ingin berada dipusara ibunya. Arin masih meratapi kepergian ibunya. Arin masih merasa sedih saat kehilangan ibunya.
"Jangan tinggalkan Arin bu," lirih Arin yang masih saja menangis.
"Sudah nak, jangan menangis," timpal Bi Marni yang langsung menggandeng Arin untuk pulang..
"Tapi Arin masih ingin disini bi," jawab Arin yang menolak ajakan Bi Marni.
Akan tetapi Bi Marni tetap mengajak Arin
pulang karena hari mulai gelap.
Flashback Off
Tak terasa air mata itu menetes saat Arin mengingat kepergian ibunya. Bahkan butuh beberapa tahun lamanya bagi Arin bisa bangkit kembali. Arin dulu merupakan anak yang periang, ceria serta humoris. Semenjak kepergian ibunya membuat Arin berubah. Arin cenderung menjadi anak yang pendiam.
Bahkan saat ia tumbuh dewasa pun Arin masih saja pendiam.
Eaa... eaa..
Tangisan Quenza pun seketika membuyarkan lamunan Arin.
"Sayang, cup.. cup.." ujar Arin sambil menggendong bayinya. Akan tetapi tangisan Quenza masih tidak berhenti. Hingga akhirnya Arin memberikan ASInya, setelah beberapa saat bayi itu tertidur kembali. Mungkin dia merasa lapar.
Beberapa saat Arin menyusui Quenza akhirnya Arin ikut tertidur disamping Quenza. Seharian mengasuh Quenza membuat Arin merasa cepat lelah.
__ADS_1