HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
38. Seperti Keluarga Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Biar aku yang akan mengantar kalian," ujar Panji yang masih berada diteras rumah.


"Tidak perlu, lagi pula Zidan ada yang mengantar jemput," timpal Sintia saat keluar rumah.


Tidak berapa lama datanglah mobil jemputan Zidan yang langsung parkir di halaman rumah Sintia.


"Itu mobilnya datang Zidan," tunjuk Sintia.


"Tapi aku mau diantar papah mah," ujar Zidan.


Sintia hanya menggeleng dengan permintaan anaknya. Akan tetapi Sintia juga tidak bisa melarangnya.


"Ya sudah kalau begitu, tapi hanya sekarang saja ya," tukas Sintia yang mencoba memberikan pengertian pada anaknya.


"Iya mah," jawab Zidan.


Sintia pun akhirnya berbicara pada supir jika untuk hari ini mungkin Zidan akan diantar oleh papanya. Mengerti dengan apa yang dikatakan Sintia, akhirnya supir itu segera pergi menuju ke sekolah.


"Terima kasih pak," ujar Sintia.


"Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi," pamit supir itu yang segera meninggalkan halaman rumah Sintia.


"Yeay, akhirnya aku diantar papah juga," sorak Zidan.


"Ya sudah kamu berangkat bareng papah yah, mamah mau pergi sekarang soalnya sudah siang," pamit Sintia yang merasa tidak ingin diantar oleh Panji.


"Kenapa tidak bareng kita aja," timpal Panji yang menautkan kedua halisnya.


"Ah tidak perlu repot-repot, biar aku pergi sendiri saja," tukas Sintia.


Namun pada saat Sintia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Zidan menarik tangan Sintia.


"Bareng kita aja mah," ujar Zidan yang meraih tangan Sintia.


Sintia pun dibuat bingung oleh anaknya. Sintia merasa tidak enak jika Ia harus menolak keinginan Zidan, namun ia pun tidak bisa untuk mengiyakan karena Sintia tidak ingin pergi bersama Panji.


Untuk beberapa saat Sintia terdiam.


"Mah," tanya Zidan yang sedikit menarik tangan Sintia, sehingga membuat Sintia terkejut.


"Ayo lah sekali ini aja, setidaknya lakukan ini buat Zidan bukan aku," timpal Panji yang merasa jika Sintia memang tidak ingin pergi bersamanya.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Sintia yang akhirnya mengabulkan keinginan anaknya.


"Yeay," sorak Zidan yang merasa sangat bahagia.


Akhirnya mau tidak mau, Sintia pun harus pergi bersama Panji dan Zidan. Mereka seperti keluarga yang harmonis. Mereka terlihat seperti keluarga yang sesungguhnya. Zidan pun merasa bahagia saat bisa bersama dengan kedua orang tuanya.


Sepanjang perjalanan Zidan tak henti-hentinya berceloteh. Dia terus membicarakan setiap apa yang dilihatnya.


"Aku senang sekali, akhirnya aku bisa bareng mamah dan papah," sorak Zidan yang terlihat begitu bahagia.


"Papah juga senang sayang," timpal Panji sambil menyetir dan sesekali melihat Sintia yang duduk dibelakang.


Sintia yang mendengar pernyataan anaknya hanya tersenyum kikuk. Sintia merasa bingung harus berbicara apa pada Zidan. Sebelum pergi ke kantor Sintia, Panji mengantar Zidan terlebih dulu.


"Akhirnya nyampe juga," ujar Zidan sebelum turun dari mobilnya. Zidan menyalami mamah dan papanya satu persatu.


"Belajar yang baik sayang, dengarkan bu guru ya," tukas Sintia yang langsung memeluk dan mencium kening putranya.


"Oke mah!" jawab Zidan setelah menyalami mamanya.


"Dadah sayang," ujar Panji.


"Dadah papah," timpal Zidan yang menyalami papanya.


Setengah jam kemudian akhirnya mereka tiba di kantor Sintia.


"Terima kasih karena sudah mengantarku," ujar Sintia setelah turun dari mobil Panji.


"Ya sama-sama Sintia," tukas Panji yang segera meninggalkan kantor Sintia sambil tersenyum simpul.


Dari kejauhan Reza melihat Sintia turun dari mobil. Baru kali ini ia melihat Sintia diantar menggunakan mobil.


"Mobil siapa itu?" gumam batin Reza yang merasa tidak suka saat Sintia ada yang mengantarnya.


"Sintia tunggu!" pekik Reza yang setengah berlari mengejar Sintia.


"Iya ada apa?" tanya Sintia yang segera kembalikan tubuhnya.


"Hai, tadi siapa yang mengantarmu?" tanya Reza yang menautkan kedua halisnya.


"Oh, dia Panji," jawab Sintia.

__ADS_1


"Apa? Panji? Kok bisa kalian barengan?" tanya Reza lagi yang masih tidak percaya.


Tanpa memperdulikan Reza, Sintia pun mempercepat langkahnya. Sintia merasa di introgasi dengan pertanyaan Reza. Memangnya siapa dia yang selalu ingin tahu urusan Sintia.


"Sebenarnya apa mau dia? Kenapa dia selalu ingin tahu urusanku," gumam batin Sintia.


Sintia merasa risih dengan sikap Reza akhir-akhir ini. Sintia merasa  tidak suka  dengan setiap pertanyaan yang ia berikan.


"Sintia tunggu!" pekik Reza yang melihat Sintia malah berlari.


Bukannya menghentikan langkahnya, Sintia justru mempercepat langkahnya. Sintia tidak ingin jika Reza terus mengikutinya.


Sintia segera masuk ke dalam ruangannya. Sintia menyibukan dirinya agar ia tidak memikirkan kekesalannya pada Reza.


"Kenapa Sintia malah menghindariku," gumam batin Reza.


"Ah sudahlah, aku hampir lupa jika sekarang ada meeting," gumam batin Reza lagi.


Reza pun segera bergegas pergi menuju ruangan meeting.


Sementara ditempat lain, Arin merasa lelah dengan aktifitasnya saat ini. Sebagai seorang ibu muda, Arin merasa sangat lelah karena hampir setiap malam ia harus bergadang demi anaknya.


Bayi yang baru lahir terkadang terbangun tengah malam hanya karena merasakan lapar. Bahkan ia juga akan terbangun jika buang air kecil.  Untuk itu mesti mengantuk, Arin pun harus terbangun.


Sedangkan Reza terkadang ia membantu, tapi terkadang ia juga tertidur dengan pulsanya.


Eaa.. eaa..


"Cup, cup sayang jangan nangis ya," ujar Arin sambil menggendong bayi kecilnya yang lucu.


Perlahan tapi pasti tangisan itu berhenti seketika,bayi itu mulai terlelap dipangkuan Arin. Arin masih mengayun anaknya menggunakan gendongan bayi. Hingga akhirnya bayi itu tertidur dengan pulasnya.


Perlahan Arin segera menidurkan bayinya dengan sangat hati-hati.


"Ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang ibu. Semua ini begitu melelahkan. Seandainya saja ibu masih ada, mungkin saat ini aku tidak akan terlalu kerepotan seperti ini," gumam batin Arin.


"Seandainya ibu masih ada, mungkin aku juga akan lebih memperhatikan dan lebih menyayangi ibu," gumam batin Arin yang tiba-tiba teringat akan almarhum ibunya.


Disamping anaknya Arin mulai berkaca-kaca sambil menatap bayinya dalam-dalam. Melihat bayinya yang tertidur pulas membuat Arin merasa tenang. Arin hanya berkaca-kaca mengingat ibunya.


Arin teringat saat dulu masuk sekolah SMP, Arin lebih suka menghabiskan waktunya di sekolah. Arin malah sibuk dengan pacarnya padahal saat itu ibunya sedang sakit.

__ADS_1


"Maafkan Arin bu, karena Arin masih belum bisa menjadi anak yang baik. Arin belum bisa membalas jasa ibu sampai akhirnya ibu tiada. Arin hanya bisa mendoakan semoga ibu ditempatan ditempat yang terbaik," gumam batin Arin yang mendoakan ibunya.


Rindu yang paling menyesakkan ialah rindu pada seseorang yang telah tiada. Begitupun dengan Arin yang pada saat sedang merindukan ibunya, Arin tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya.


__ADS_2