
Oiya Sintia boleh aku mengatakan sesuatu," ujar Panji setelah menyesap rokoknya dan menyimpan roko itu diatas asbak.
"Ya kenapa?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.
"Aku mohon tolong berikan aku kesempatan yang kedua Sintia, aku merasa tidak tega melihat Zidan. Dia terlihat begitu bahagia saat kita makan bersama tadi, karena akupun merasa sangat bahagia saat bisa bersama kalian," lirih Panji.
"Entahlah Panji aku masih belum bisa percaya. Aku masih takut dengan apa yang pernah kamu lakukan kepadaku," lirih Sintia yang merasa bingung.
"Jika tentang hal itu aku berjanji tidak akan pernah mengkhianatimu lagi Sintia," ujar Panji yang kini berlutut dibawah Sintia dan memegang tangan Sintia untuk meyakinkan Sintia.
Sintia terdiam sesaat memikirkan tentang hubungannya bersama Panji. Lagi pula mereka belum benar-benar berpisah. Saat itu Sintia pergi dari rumah karena menyaksikan suaminya berselingkuh.
Tapi tidak pernah ada tindakan khusus yang Sintia lakukan. Mereka belum berpisah secara resmi, itu artinya mereka masih bisa kembali rujuk kapanpun mereka mau. Hal itulah yang mendorong Panji untuk bisa kembali kepada Sintia.
"Apa kata-katamu bisa dipercaya?" tanya Sintia ragu.
"Tentu Sintia, aku janji kali ini aku tidak akan pernah mengkhianatimu lagi," lirih Panji yang benar-benar meyakinkan Sintia sambil memegang tangannya.
"Baiklah kalau begitu aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi, tapi jika setelah ini kamu mengulangi kesalahan yang sama, aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi. Tidak ada kesempatan yang ketiga atau bahkan yang ke empat," ujar Sintia yang mencoba memberikan kesempatan kepada Panji.
Sebenarnya hal ini ia lakukan semata-mata hanya demi anaknya Zidan. Sintia juga memperhatikan jika terpancar wajah bahagia saat Zidan bersama ayahnya. Hal itulah yang membuat akhirnya Sintia mau menerima Panji kembali.
"Ya sudah kalau begitu besok kita kembali ke rumah ya," ajak Panji sambil memegang tangan Sintia.
Sintia hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
Keesokan harinya Zidan sudah bangun pagi-pagi sekali untuk bersekolah. Sedangkan Sintia hari ini meminta izin tidak masuk bekerja karena akan membereskan barang-barangnya menuju rumah Panji kembali.
Sementara Panji mengantarkan Zidan ke sekolah, Sintia disibukan dengan memasukan baju-baju miliknya dan Zidan ke dalam koper besar. Sehingga nanti setelah Panji datang mereka bisa langsung pergi.
Setengah jam kemudian akhirnya Panji kembali ke rumah untuk menjemput Sintia.
"Apa semua sudah beres Sintia?" tanya Panji yang melihat ke sekeliling rumah.
__ADS_1
"Sudah, lagi pula hanya ini barang-barangku. Semua ini milik ibu pemilik rumah," jawab Sintia yang sebelumnya sudah berpamitan kepada pemilik rumah.
Panji segera menyeret koper milik Sintia menuju mobilnya. Sedangkan Sintia menatap rumah kontrakannya sebelum ia benar-benar pergi dari tempat ini. Rumah yang penuh akan kenangan walau hanya sesaat.
"Apa ada yang ketinggalan Sintia?" tanya Panji memastikan.
"Ah tidak," jawab Sintia yang langsung mengekor dibelakang Panji.
Setelah Sintia masuk ke dalam mobil, Panji pun segera melajukan mobilnya. Sintia menatap rumah lamanya, ia mengingat akan kejadian malam itu bersama Reza. Begitu menjijikan namun hal itu tidak ingin Sintia ulangi lagi.
"Mungkin memang ini jalan yang terbaik untukku, mungkin dengan aku kembali kepada Panji, Reza tidak akan berani untuk mendekatiku lagi," gumam batin Sintia.
"Ada apa Sintia? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Panji yang terlihat bingung melihat Sintia tiba-tiba terdiam.
"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Sintia.
Panji pun kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak terasa satu jam kemudian akhirnya mereka tiba di rumah Panji.
"Selamat datang kembali di rumah," ujar Panji saat ia membukakan pintu.
"Terima kasih Sintia karena sudah memberikan aku kesempatan yang kedua," ujar Panji sambil memegang tangan Sintia.
"Iya Panji, aku berharap kamu tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanku," tukas Sintia yang masih merasa canggung saat baru masuk ke rumahnya kembali.
Sintia pun segera masuk ke dalam kamarnya. Ia merindukan kamar yang selama ini ia tinggalkan.
"Aku berharap aku tidak salah dalam mengambil keputusan," gumam batin Sintia.
"Terima kasih Sintia," ujar Panji yang tiba-tiba datang dan memeluk Sintia dari belakang.
"Iya," jawab Sintia.
Untuk beberapa saat Panji memeluk erat Sintia dari arah belakang. Ia begitu merindukan sang istri yang sudah lama tidak ditemuinya. Sintia yang merasakan kehangatan itupun membalikan tubuhnya.
__ADS_1
Kini mereka saling berhadapan dan Panji sedikit mendorong tubuh Sintia ke atas kasur. Panji saat ini menindih Sintia dan mencumbu setiap jengkal tubuh Sintia. Mereka begitu saling merindukan satu sama lain.
Sintia menikmati setiap tindakan yang dilakukan Panji. Permainan itu semakin panas, perlahan tapi pasti Panji segera membuka kancing baju Sintia. Namun tidak ada penolakan yang Sintia lakukan karena ia pun begitu merindukan suaminya.
"Aku sangat merindukanmu Sintia," ujar Panji.
"Aku juga," tukas Sintia.
Seketika mereka pun melakukan hal yang sudah selayaknya mereka lakukan sebagi suami istri. Panji begitu menikmati setiap permainannya, begitupun dengan Sintia yang sama-sama menikmati semua rasa ini.
Hampir satu jam mereka melakukan permainan itu. Kini mereka hampir menuju puncak dari inti permainannya, dan tidak berapa lama akhirnya mereka menuju puncak kemenangan.
Panji kini terkulai lemas di samping Sintia, sementara Sintia berada dipelukan Panji. Sintia sangat merindukan suaminya yang begitu ia cintai. Meski Sintia pernah kecewa karena pengkhianatan suaminya, namun didalam lubuk hatinya yang paling dalam Sintia masih sangat mencintai Panji.
"Kalau begitu aku akan mandi dulu, aku akan menjemput Zidan," ujar Panji yang segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Iya, aku akan menyiapkan makanan sambil menunggu kalian datang," timpal Sintia yang segera bergegas menuju dapur.
Satu jam kemudian akhirnya Panji tiba Di sekolah Zidan.
"Papah, kenapa papah ada disini?" tanya Zidan yang merasa heran karena tiba-tiba ayahnya datang menjemputnya.
"Kejutan," ujar Panji.
"Ayo cepat kita pulang, papah punya satu kejutan lagi untuk Zidan," tukas Panji yang begitu antusias ingin memberitahukan yang sebenarnya kepada Zidan bahwa orang tuanya sudah kembali.
"Kejutan apa pah? Aku jadi penasaran," timpal Zidan yang mulai penasaran dengan kejutan Panji.
Di tempat lain Reza sejak tadi memikirkan Sintia yang tidak masuk bekerja hari ini.
"Kemana Sintia hari ini tidak masuk kerja, apa dia baik-baik saja," gumam batin Reza yang sedari pagi mencari keberadaan Sintia namun tidak kunjung ketemu.
"Setelah pekerjaanku selesai aku akan mendatangi rumahnya, aku takut jika Sintia kenapa-napa," gumam batin Reza lagi yang sejak tadi merasa gelisah.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian akhirnya Reza membereskan semua pekerjaannya. Reza sudah tidak sabar ingin segera menemui Sintia. Reza pun akhirnya segera bergegas menuju rumah Sintia.