
Siang mulai berganti malam. Tak terasa hampir seharian Reza bekerja. Ia merasa begitu lelah denga aktifitasnya hari ini. Reza merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Perlahan ia pun mulai memejamkan matanya.
Akan tetapi baru saja ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba saja bayangan Sintia muncul dihadapannya.
"Kenapa tiba-tiba dia muncul dipikiranku?" gumam batin Reza yang terperanjat.
"Kenapa kak?" tanya Arin yang merasa terkejut melihat suaminya terperanjat.
"Eh tidak, tidak apa-apa. Kakak hanya mimpi buruk saja," ujar Reza yang terpaksa berbohong kepada Arin.
Tanpa merasa curiga Arin pun menyusui anaknya kembali. Sementara Reza kini berbalik membelakangi Arin. Reza tidak mau jika Arin sampai tahu yang sebenarnya. Arin pasti akan bersedih jika tahu tentang perasaan Reza.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku? Mengapa sejak kemarin aku terus saja memikirkan Sintia. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat ini," gumam batin Reza.
Setelah sekian lama membalikan tubuhnya membelakangi Arin, akhirnya Reza membalikan tubuhnya lagi menghadap Arin kembali. Reza menatap Arin dengan begitu dalam.
Arin tertidur setelah menyusui anaknya. Mungkin ia merasa lelah karena sejak tadi terjaga.
"Maafkan kakak Rin, kakak tidak pernah ingin bermaksud menyakitimu," gumam batin Reza yang sejak tadi menatap Arin.
Reza pun seketika menyelimuti Arin. Reza merasa tidak tega saat melihat Arin, namun ia pun tidak mengerti dengan apa yang di rasakannya. Entah perasaan apa yang dirasakan Reza.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya Reza tertidur pulas. Reza tidur begitu nyenyak. Arin terbangun karena sekarang menunjukan pukul 4 pagi. Arin sengaja bangun lebih awal agar ia bisa melaksanakan sholat sunat.
Selesai sholat, dengan cekatan Arin mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang ringan dan memasak di dapur. Namun tidak berapa lama terdengar Quenza menangis, dengan setengah berlari Arin pun bergegas menuju kamarnya.
"Astaga ayahmu kok tidak kebangun ya denger tangisanmu nak," ujar Arin yang segera menggendong Quenza.
"Kak, kakak! Ih si kakak, anaknya kebangun juga malah asyik tidur," tukas Arin lagi sambil mengguncangkan sedikit tubuh suaminya.
"Kakak masih ngantuk Rin," timpal Reza yang hampir saja terbangun dan menguap.
"Tapi kak ini sudah siang," ujar Arin lagi.
__ADS_1
"Apa? Sudah siang? Kenapa kamu tidak membangunkan kakak?" tanya Reza yang terperanjat dan segera bangun dari tidurnya meski masih mengantuk.
"Sudah cepat ke air sana," timpal Arin yang kini mendorong Reza dari belakang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Reza pun segera menuruti perintah istrinya. Ia segera bergegas ke kamar mandi. Tak berapa lama akhirnya Reza keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju kerjanya.
"Kakak langsung pergi ya Arin sudah siang," pamit Reza yang segera pergi menuju kantornya.
"Loh gak makan dulu kak?" tanya Arin.
"Nanti saja dikantor," teriak Reza yang sudah berada diambang pintu.
Arin pun hanya menggeleng karena tingkah suaminya. Arin yang sejak tadi sudah di sibukan dengan berbagai pekerjaan dan mengurus anaknya merasa begitu lelah, beruntung di rumah ada asisten rumah tangga yang membantu pekerjaannya.
Sementara Reza pergi ke kantornya dengan menggunakan kecepatan tinggi. Reza hampir saja melupakan pertemuan penting hari ini. Satu jam kemudian akhirnya Reza tiba dikantornya.
Saat Reza berjalan terburu-buru, tak sengaja ia berpapasan dengan seorang wanita.
"Aduh," ujar wanita itu yang terjatuh ke lantai.
"Kakiku sakit," lirih Sintia yang berusaha untuk bangun.
"Aw, sepertinya kakiku terkilir saat jatuh," tukas Sintia yang meringis kesakitan sambil memegangi kaki kanannya. Sintia menggunakan sepatu hak tinggi, sehingga saat ia terjatuh kakinya terkilir.
Merasa bersalah Reza pun segera membopong Sintia ke dalam ruangannya. Di dalam Sintia di dudukan di atas sofa. Reza melihat bagian kaki Sintia yang terkilir. Reza pun spontan memegang kaki Sintia dan berusaha mengobatinya.
"Bagian mana yang sakit Sintia? Maafkan aku, aku tidak sengaja," ujar Reza yang merasa sangat bersalah. Sebab Reza lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Andai saja Reza tidak terburu-buru mungkin Sintia tidak akan seperti ini.
"Sudahlah Reza tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak berhati-hati," lirih Sintia yang terus saja memegangi kakinya.
Merasa panik Reza pun terus mengurut bagian kaki Sintia yang terkilir.
"Bagaimana Sintia apa merasa lebih baik?" tanya Reza yang masih memegangi kaki Sintia.
__ADS_1
"Aw masih sakit," lirih Sintia yang malah merasa semakin sakit.
"Ya sudah kalau begitu aku akan membawamu ke rumah sakit," timpal Reza.
"Tidak perlu Za, tidak usah repot-repot," tolak Sintia yang merasa tidak enak.
"Tidak apa, lagi pula ini salahku. Aku harus bertanggungjawab," tukas Reza yang segera membopong Sintia kedalam mobilnya.
Beberapa karyawan yang menyaksikan kepergian mereka mulai ricuh. Ada yang melihat dengan tatapan tidak suka, ada pula yang kepo atau merasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa dia diperlakukan seperti itu oleh Reza.
Namun Reza tidak menghiraukan tatapan sinis dari beberapa karyawannya. Reza hanya ingin segera membawa Sintia ke rumah sakit. Dengan kecepatan yang sangat tinggi Reza segera melajukan kendaraannya.
Tak terasa setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
"Biar aku yang akan membopongmu," ujar Reza saat Sintia akan turun dari mobil.
"Tidak usah Za, aku bisa jalan sendiri," tukas Sintia yang merasa tidak enak sebab dari tadi ia membopongnya.
"Tidak apa Sintia," timpal Reza lagi.
"Please za, aku mohon aku merasa tidak enak karena kamu selalu seperti itu di tempat umum," lirih Sintia.
Akhirnya Reza mengerti dengan keinginan Sintia. Perlahan Sintia turun dari mobil dan mencoba berjalan ke dalam rumah sakit. Sementara Reza memperhatikan dari belakang dan sesekali membantu Sintia saat ia akan terjatuh.
Sintia yang merasa akan jatuh pun hanya bisa diam saat Reza berusaha untuk menolongnya. Sintia merasa begitu berlebihan kepada Reza, padahal ia tahu bahwa Reza hanya ingin membantunnya.
Reza pun segera mendaftatkan Sintia, dan tak berapa lama kemudian, akhirnya Sintia dipanggil oleh dokter. Perlahan tapi pasti Sintia segera masuk ke dalam ruangan dokter itu.
"Permisi dok," ujar Sintia saat ia baru masuk kedalam ruangannya.
"Silahkan masuk, silahkan duduk," timpal dokter itu yang tersenyum simpul.
"Terima kasih dok," ujar Sintia.
__ADS_1
Ia pun segera menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada dokter itu. Tak berapa lama dokter pun segera memeriksa dan mengoleskan salep di kaki Sintia. Sintia pin meringis kesakitan. Ia merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan dokter itu.
Beberapa saat berada didalam ruangan dokter, membuat Sintia kini me jadi lebih baik. Kini Sintia tidak begitu merasakan kesakitan seperti tadi.