HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
43. Kenapa Tidak Pulang?


__ADS_3

Boleh aku melakukannya Sintia?" tanya Reza sebelum ia benar-benar mengakhiri permainannya.


"Tentu Za, sudah lama aku tidak mendapatkan itu," ucap Sintia yang kini sudah sangat siap.


Mendengar hal itu membuat Reza segera meluncurkan senjatanya menuju gerbang kenikmatan milik Sintia. Reza pun beberapa kali menghentakan pinggulnya. Sintia yang sudah lama tidak mendapatkan itupun serasa bersemangat.


"Aahh za," ujar Sintia yang baru sekarang mendapatkan hal itu lagi setelah sekian lama berpuasa.


Semakin lama permainan itu semakin panas. Reza sejak tadi berusaha keras memberikan apa yang tidak didapatkan Sintia selama ini.


Reza semakin memaju mundurkan senjatanya seraya memainkan benda kembar itu.


Dan tidak berapa lama sampailah mereka pada puncak kemenangan. Reza tertidur lemas disamping Sintia, begitupun dengan Sintia yang sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan itu. Sebagai wanita yang normal ia pun merasa senang.


Merasa kelelahan dengan apa yang sudah terjadi, mereka akhirnya tertidur pulas di suasana malam yang semakin dingin. Mereka tertidur dibawah satu selimut sambil berpelukan.


Sementara di tempat lain Arin masih memikirkan keberadaan suaminya. Tidak biasanya Reza tidak pulang seperti ini, padahal cuaca di luar begitu buruk. Saat Arin akan minum dari gelas, tiba-tiba saja gelas itu terjatuh.


Praanng!


"Astaga kenapa gelas ini bisa terjatuh,"ujar Arin yang merasa terkejut karena gelas yang dipegangnya tiba-tiba terjatuh ke lantai.


"Apa kak Reza baik-baik saja? Kenapa dia masih belum pulang ya? Padahal hari sudah semakin larut, terus diluar juga hujan begitu derasnya. Kakak dimana?" gumam batin Arin yang begitu mencemaskan suaminya.


Sejak tadi Arin menunggu suaminya pulang. Namun sampai saat ini ternyata Reza masih belum pulang juga. Biasanya ia akan mengabari terlebih dulu jika akan pulang terlambat.


Tapi entah mengapa untuk saat ini. Bahkan dihubungi saja ponselnya tidak aktif. Arin mencoba beberapa kali, namun ponselnya masih tidak aktif juga. Ketika Arin menelpon ke kantor ternyata Reza juga sudah tidak ada disana.


Terakhir ada yang melihat Reza pergi bersama dengan Sintia.


"Apa mungkin kak Reza pergi bersama Sintia? Tapi kenapa sampai saat ini kak Reza masih belum pulang juga," gumam batin Arin lagi yang kini berfikiran kemana-mana. Arin mulai menduga-duga jika Reza sedang bersama Sintia.


Arin sudah merasa lelah karena sejak tadi menunggu kepulangan suaminya namun tak kinjung datang. Beberapa saat kemudian akhirnya Arin pun tertidur di sofa.


Keesokan harinya, Reza merasa terkejut karena saat ia bangun ternyata ia sedang berada dikamar bersama Sintia. Mereka tertidur dibawah satu selimut tanpa memakai sehelai benang pun.

__ADS_1


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan," gumam batin Reza yang segera terperanjat bangun dan segera mengenakan pakaiannya.


"Aku harus cepat-cepat pulang, Arin pasti menugguku pulang sejak kemarin malam," gumam batin Reza lagi.


Sintia yang baru saja membuka matanya, sama-sama terkejut. Sintia tidak habis pikir jika ia akan melakukan hal itu bersama Reza, mantan suaminya terdahulu. Sintia pun mengingat tentang kejadian semalam.


Ia pun menyadari awalnya memang Sintia yang tidak ingin Reza pergi. Namun setelah kejadian ini, Sintia pun merasa menyesal.


"Apa kamu mau pulang  Za?" tanya Sintia.


"Iya Sintia maaf aku harus segera pergi," pamit Reza yang segera pergi meninggalkan Sintia.


"Sial! Kenapa aku harus melakukan hal ini bersama Reza," gumam batin Sintia yang menyesali perbuatannya sendiri.


"Akan tetapi aku juga sudah lama sekali tidak merasakan hal itu," gumam batin Sintia lagi yang kini segera bergegas mandi.


Setelah kejadian semalam membuat Sintia merasa begitu lelah. Sintia pun harus segera mandi agar ia merasa lebih segar.


"Untung saja Zidan tidak ada dirumah," ujar Sintia lagi yang cepat-cepat membersihkan diri karena hari ini harus pergi bekerja.


Sementara dalam perjalanan Reza mengendarai kendaraannya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Ia merasa kesal kepada dirinya sendiri karena sudah tega mengkhianati Arin. Reza merutuki dirinya sendiri.


Satu jam kemudian akhirnya Reza tiba dirumah.


Ting.. tong..


"Tolong dibuka mba," ujar Arin yang sedang kerepotan memomong bayinya.


"Baik non," timpal pembantu itu yang segera bergegas membukakan pintu.


Saat membuka pintu, mba Sumi merasa terkejut.


" Den Reza?" tanya seseorang.


"Iya mba," jawab Reza yang segera memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Siapa mba?" tanya Arin yang berteriak.


"Den Reza non," jawab mba Sumi yang merasa terkejut karena datang pagi-pagi sekali.


"Apa kak Reza?" tanya Arin yang masih tidak percaya. Padahal baru saja Ia memikirkan suaminya, tapi kenapa tiba-tiba saja dia datang seperti itu.


"Kakak dari mana saja kak? Kenapa semalaman tidak pulang?" tanya Arin yang sejak kemarin merasa khawatir dengan suaminya.


"Kakak terjebak banjir dalam perjalanan, dan jalan pulang kemari ditutup karena ada pohon yang tumbang. Makanya kakak tidur di mobil," jawab Reza yang mencoba membohongi Arin.


"Semoga Arin percaya dengan kata-katanya," gumam batin Reza.


Arin pun terdiam saat mendengar penjelasan suaminya. Antara percaya dan tidak percaya, entah perkataan Reza benar atau tidak yang jelas untuk saat ini Arin tidak ingin berdebat. Meski merasa curiga, akan tetapi Arin tidak ingin mengutarakan isi hatinya.


Sedangkan Reza yang berada di dalam kamar merasa lega. Setelah beberapa menit mandi, kini Reza sudah bersiap dengan pakaian kantornya. Meski lelah tapi Reza harus segera pergi ke kantor.


"Kakak mau kemana lagi?" tanya Arin yang melihat suaminya sudah berpakaian rapi dan baru saja pulang dan sekarang akan pergi lagi.


"Kakak harus kerja Rin," jawab Reza yang segera pergi ke meja makan untuk sarapan.


"Oh iya, ya sudah kakak makan dulu yang banyak," ujar Arin yang segera memberikan minum pada suaminya.


Reza pun mulai memakan sarapannya agar ia bisa cepat pergi ke kantor. Beberapa menit kemudian akhirnya Reza selesai sarapan mulai pergi.


"Kakak pergi turun Rin," ujar Reza sambil mengecup pucuk kepala Arin dan juga anaknya.


"Iya kak," jawab Arin yang mencium punggung tangan kanan suaminya terlebih dulu.


Tak lupa Reza pun mencium Quenza putrinya sebelum ia pergi.


"Ayah kerja dulu sayang, baik-baik dirumah ya," ujar Reza sambil mencium dan melambaikan tangan pada anaknya.


Setelah berpamitan Reza segera bergegas pergi. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Satu jam kemudian akhirnya Reza tiba dikantor. Disaat yang bersamaan Sintia juga baru datang.


"Sintia tunggu," panggil Reza yang melihat Sintia berlalu dihadapannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Sintia, aku tidak bermaksud untuk," ujar Reza yang tidak melanjutkan kata-katanya.


"Sudahlah Za, tidak usah dibahas. Lagi pula aku juga ikut bersalah karena," tukas Sintia yang sama-sama tidak melanjutkan kata-katanya.


__ADS_2