
Beberapa bulan berlalu, tak terasa kandungan Arin sudah menginjak 9 bulan. Itu artinya tidak lama Arin akan melahirkan seorang anak. Kehamilan yang pasti akan dialami oleh setiap wanita. Kini Arin sudah tidak bisa banyak bergerak seperti biasa.
Perutnya yang besar membuat Arin tidak bisa melakukan apa-apa. Arin hanya duduk saja, sesekali jalan-jalan agar proses kelahiran nya berjalan lancar. Sudah hampir 2 bulan Arin dibantu oleh seorang asisten rumah tangga yang bernama mba Sumi.
Wanita yang sudah cukup berumur namun masih terlihat sangat segar dan pekerja keras. Pagi-pagi sekali mba Sumi sudah bangun menyiapkan sarapan dan membereskan rumah.
"Selamat pagi non Arin," sapa mba Sumi saat Arin baru saja masuk ke dalam dapur.
"Selamat pagi mba, oiya hari ini masak apa?" tanya Arin sambil memegangi perutnya yang besar.
"Hari ini mba masak opor ayam non, biar ga bosen makan sayur terus," jawab mba Sumi yang sudah menyiapkan masakannya diatas meja.
"Wanginya enak banget mba, pasti opornya juga enak," ujar Arin sambil mengendus bau masakan mba Sumi.
"Tentu non, silahkan makan dulu non. Sekalian bibi juga goreng kerupuk udang kesukaan den Reza," tukas mba Sumi.
"Wah benarkah mba? Aku jadi lapar nih," timpal Reza yang baru saja datang dan langsung duduk untuk sarapan.
"Iya den silahkan," tawar mba Sumi.
Sementara Arin dan Reza sedang menyantap sarapan paginya. Mba Sumi segera bergegas menuju ruang tengah untuk beres-beres rumah. Arin merasa beruntung karena semenjak kehadiran Mba Sumi pekerjaan nya tidak terlalu berat.
Melihat perut Arin yang semakin membesar membuat Reza tidak tega jika melihat Sintia istrinya harus mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk itu Reza pun berinisiatif untuk mencari asisten rumah tangga yang kini sudah bekerja dirumahnya.
Mba Sumi ia kenal dari kampung halamannya di Jawa. Saat Reza pulang kampung waktu itu, mba Sumi mendatanganginya untuk meminta pekerjaan. Reza pun teringat pada istrinya yang pasti akan memerlukan bantuan orang lain saat sudah melahirkan nanti.
Reza sengaja menyiapkan segalanya karena Reza tahu bahwa Arin sudah tidak memiliki seorang ibu lagi. Itu artinya tidak akan ada orang lain yang bisa mengurus Arin nanti.
"Kalau begitu aku berangkat ya," pamit Reza sebelum ia berangkat bekerja. Seperti biasa sebelum berangkat bekerja Reza akan mengecup pucuk kepala Arin dan mencium anaknya didalam perut Arin.
"Ayah pergi dulu sayang, kamu baik-baik dirumah yah,muah," ujar Reza sambil berbisik diatas perut Arin dan mencium perut Arin sebelum ia berangkat.
Tidak lama bayi yang berada didalam perut Arin pun menendang seolah menjawab pernyataan ayahnya tadi.
"Aw sayang," ujar Arin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu kenapa Arin?" tanya Reza yang melihat Arin tiba-tiba meringis kesakitan namun tersenyum.
"Ini kak, bayi kita barusan nendang. Sepertinya dia merespon apa yang kamu katakan barusan," jawab Arin sambil mengelus perutnya yang besar.
"Wah benaran Rin?" tanya Reza yang merasa ikut senang saat mendengarnya.
"Iya kak, kalau tidak percaya nih coba rasakan," ujar Arin sambil memegang tangan suaminya menuju perut yang barusan bayi itu tendang dalam perut Arin.
"Wah iya Rin, ini kakak bisa rasain," tukas Reza yang merasa senang saat memegang bagian perut Arin yang menonjol.
Sementara dari kejauhan mba Sumi hanya tersenyum melihat kehangatan mereka berdua. Mereka terlihat begitu bahagia. Mba Sumi jadi teringat pada anaknya yang berada di kampung.
"Semoga kamu baik-baik aja nduk," gumam batin mba Sumi.
"Aw sakit kak," ujar Arin yang tiba-tiba merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Kamu kenapa Rin? Apa kamu mau melahirkan sekarang?" tanya Reza yang mulai khawatir melihat istrinya meringis kesakitan.
"Tidak tahu kak, perut aku sakit," jawab Arin yang kini duduk di lantai karena tidak kuat menahan kesakitan karena perutnya terasa mulas.
"Iya mba saya akan segera membawa Arin ke rumah sakit, mba tolong jaga rumah ya," tukas Reza sambil membopong Arin ke dalam mobilnya.
"Iya den," jawab mba Sumi sambil mengangguk dan segera bergegas membawa tas besar yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
Reza segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Reza sengaja mencari rumah sakit yang tidak begitu jauh dari rumahnya agar ia bisa segera membawa. Arin.
"Sabar sayang sebentar lagi," ujar Reza yang sesekali memandangi wajah Arin.
"Tapi ini sakit kak, aw.." lirih Arin yang masih meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Sebentar lagi sayang itu sudah dekat," tunjuk Reza yang semakin mempercepat kendaraannya.
Beberapa detik kemudian tibalah mereka disalah satu rumah sakit.
"Dokter, dokter," teriak Reza seraya membopong Arin keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan beberapa perawat mendorong sebuah kasur dan Arin segera dibaringkan dikasur itu. Sementara Reza mengikuti dari belakang.
Beberapa detik kemudian tibalah Arin diruang persalinan.
"Maaf anda harus menunggu diluar," ujar salah seorang perawat itu.
"Tapi saya ingin mendampingi istri saya," lirih Reza yang begitu khawatir.
"Maaf pak, tapi anda harus tetap diluar," tukas perawat itu.
"Biarkan dia masuk dok," timpal dokter dari arah dalam.
Reza pun akhirnya masuk ke dalam menyaksikan persalinan istrinya.
"Ayo bu sedikit lagi," ujar dokter wanita itu sambil membantu membimbing Arin agar bayinya keluar.
"Tapi sakit dok, uh," teriak Arin yang semakin meringis kesakitan. Betapa beratnya perjuangan seorang ibu melahirkan seorang anak. Keringat Arin bercucuran, air matanya menetes, sungguh perjuangan yang begitu berat.
"Ayo kamu bisa sayang," ujar Reza yang berdiri disamping Arin seraya memegang tangan Arin sebagai bentuk dukungan agar Arin lebih semangat.
Beberapa menit pun berlalu, tapi Arin masih terus berjuang agar bayinya keluar. Pembukaan satu hingga akhirnya pembukaan terakhir Arin akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik juga bersih.
"Selamat pak, bayi anda perempuan dan tidak kurang satu apapun," ujar dokter itu.
"Alhamdulillah sayang, selamat ya," tukas Reza yang menyunggingkan senyumnya ke arah Arin.
Sementara Arin hanya tersenyum simpul tanpa berkata apa-apa. Arin masih merasa begitu lelah dengan perjuangan yang ia lakukan. Kini bayi itu dibersihkan, sedangkan Arin dibersihkan seraya diberi suntikan oleh sang dokter.
"Ini bayinya bu, silahkan diberi AsI dulu," ujar salah seorang perawat yang memberikan bayi itu ke pelukan Arin.
"Alhamdulillah selamat datang sayang," ujar Arin yang tersenyum kepada bayinya.
Tak berapa lama Reza pun mengadzankan bayi itu ditelinga kanannya dan komat ditelinga kiri bayi itu. Sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan bagi orang yang beragama islam.
Seumur hidupnya baru kali ini Reza mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Ia sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan merasakam semua ini.
__ADS_1