HANCURNYA HARAPANKU

HANCURNYA HARAPANKU
35. Kebahagiaan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Beberapa hari setelah melahirkan, kini keadaan Arin semakin membaik. Hari ini Arin sudah diperbolehkan untuk  pulang. Reza pun membereskan semua barang-barang Arin. Setelah semuanya beres akhirnya mereka segera pulang dan membawa bayi mereka.


Arin menggendong bayi mereka menuju tempat parkir mobil. Kebahagiaan jelas terpancar diwajah mereka berdua.


"Silahkan anak ayah yang cantik," ujar Reza sambil membukakan pintu mobik untuk Arin.


"Makasih ayah," jawab Arin yang segera bergegas masuk ke dalam mobil.


Setelah menutup pintu mobil, Reza pun setengah berlari menuju kemudinya. Reza sudah tidak sabar ingin segera bermain dengan buah hatinya. Selama hidupnya baru kali ini Reza mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan menjadi orang tua yang sesungguhnya.


Hampir satu jam berada didalam mobil, akhirnya kini mereka tiba dirumah. Reza pun segera membuka pintu mobil untuk istrinya.


"Makasih kak," ujar Arin.


"Sama-sama sayang," jawab Reza seraya tersenyum simpul.


Setelah turun dari mobil mereka pun segera bergegas masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ujar Arin saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam," jawab mba Sumi yang menyambut kedatangan mereka. Sebelumnya mba Sumi memasak terlebih dahulu untuk Arin dan juga Reza.


"Cantiknya, sini-sini biar mba gendong," ujar Mba Sumi seraya tersenyum dan mengambil bayi itu dari gendongan Arin.


"Hati-hati mba," tukas Arin.


"Non Arin dan den Reza makan dulu ya, mba sudah masakan tadi. Si cantik biar bibi yang urus," ujar mba Sumi.


Mereka pun segera bergegas ke dapur untuk makan. Sementara mba Sumi menggendong bayi mereka menuju ruang tamu. Mba Sumi menggendong bayi kecil itu hingga ia tertidur.


"Cantiknya," ujar mba Sumi saat memandangi wajah anak majikannya.


"Siapa namanya non?" tanya mba Sumi yang merasa kebingungan harus memanggil apa.


"Siapa ya kak? Hampir saja kita lupa cari nama buat anak kita," jawab Arin.


"Iya siapa ya? Sebentar kakak cari dulu," ujar Reza yang mencoba berfikir mencari nama anaknya.


"Bagaimana kalau Quenza kak," ujar Arin yang tiba-tiba saja memikirkan nama itu.

__ADS_1


"Mmh, boleh juga sih kakak setuju," tukas Reza yang langsung setuju dengan apa yang diucapkan Arin.


"Nama yang bagus non, Quenza," timpal mba Sumi.


"Hai Quenza yang cantik," ujar mba Sumi.


Namun Quenza masih tertidur pulas.


"Tolong bawa Quenza ke kamar aku mba," ujar Arin setelah menghabiskan makanannanya.


"Boleh non," jawab mba Sumi yang segera mengekor dibelakang mba Sumi.


Sesampainya didalam kamar, mba Sumi segera menidurkan Quenza diatas kasur Arin. Namun saat mba Sumi akan beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba saja Quenza terbangun.


Eaa.. eaa..


"Duh si cantik malah bangun, mungkin Quenza lapar non," ujar mba Sumi.


"Iya mba tidak apa-apa, biar saya kasih ASI," ujar Arin yang segera memberikan Quenza ASI secara eksklusif.


"Cepat dikasih ASI non, tapi hati-hati," tukas mba Sumi.


"Sabar non, awalnya memang seperti itu. Akan terasa sakit dan perih, tapi lama-lama juga akan terbiasa dan tidak akan sakit lagi non," ujar mba Sumi yang memberitahukan pengalaman nya kepada Arin.


Sementara Arin hanya mengangguk mendengar masukan dari mba Sumi. Meski mba Sumi hanya asisten rumah tangga Arin, tapi Arin selalu mendengarkan kata-kata mba Sumi karena usianya yang jauh diatas Arin. Mba Sumi sudah Arin anggap sebagai ibunya sendiri.


Setelah memberitahukan hal itu, mba Sumi segera bergegas keluar kamar karena Reza baru saja masuk ke dalam kamar. Sementara Reza hanya bisa memperhatikan Arin yang meringis kesakitan.


"Sabar sayang, nanti juga terbiasa," ujar Reza yang memeluk Arin dari belakang.


"Iya kak," jawab Arin yang sesekali membetulkan posisi tidurnya agar bayinya bisa mendapatkan ASInya.


Meski perih dan sakit karena hisapan Quenza, tapi Arin tetap menahan nya agar ASInya keluar. Ia tidak memperdulikan rasa sakit yang di deritanya.


"Sabar Arin, sabar," gumam batin Arin dalam hati yang menahan kesakitan.


Beberapa menit setelah Quenza menyusu kepada Arin, akhirnya Quenza tertidur juga. Namun dari arah belakang Reza tiba-tiba menjahili Arin. Dari arah belakang Reza sengaja memegang benda kenyal milik Arin.


"Kak ih, bisa diem gak," ujar Arin yang merasa kesal karena Reza memainkan benda kembar miliknya.

__ADS_1


"Tapi aku merasa kangen, aku ingin itu," rengek Reza yang seperti anak kecil meminta sesuatu.


"Kakak juga harus sabar, tunggu satu atau dua mingguan lagi kak," ujar Arin.


"Yaah, lama amat," lirih Reza yang merasa kecewa karena ia harus menunggu selama itu.


Bagi setiap wanita yang sudah melahirkan pasti akan mengalami masa nifas. Hal itu biasanya berjalan sekitar satu atau dua minggu saja. Reza sebagai suami harus berpuasa selama itu juga.


"Sudah ah kak, aku mau mandi dulu gerah," pamit Arin yang segera melepaskan pelukan Reza.


"Sebentar saja Arin, kakak masih ingin memainkan ini," ujar Reza yang masih memainkan benda kenyal itu.


"Kakak, nanti Quenza keburu bangun," lirih Arin.


Bukannya segera melepaskan pegangannya, Reza malah semakin mempererat pegangannya dan menghisapnya seperti anak kecil yang sedang kehausan. Setelah puas menyesapnya, Reza pun kembali menyesap bibir ranum Arin.


Reza masih memainkan dan ******* bibir Arin. Setelah ia puas, akhirnya ia pun melepaskannya sendiri. Merasa akan segera bangun, Arin pun segera bergegas pergi ke dalam kamar mandi.


Sementara Reza yang merasa lelah, kini tertidur pulas disebelah Quenza. Untuk beberapa saat Arin berada dikamar mandi. Arin mempercepat ritual mandinya karena merasa Quenza akan segera terbangun.


Namun saat keluar dari kamar mandi ternyata Quenza masih tertidur pulas. Arin pun hanya tersenyum melihat anak dan suaminya yang tertidur pulas. Ternyata seperti ini rasanya memiliki seorang anak dan suaminya.


Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Arin berharap jika kebahagiaan ini tidak akan cepat berlalu.


"Aku berharap kamu tidak akan pernah berubah kak, aku ingin kita selamanya seperti ini," gumam batin Arin seraya memandangi wajah suaminya.


Sementara ditempat lain, Sintia merasa begitu khawatir.


"Kenapa Zidan masih belum pulang," ujar Sintia saat ia baru saja tiba dirumah.


Sintia pun mencoba menghubungi anaknya ke sekolah. Namun hasilnya nihil.


"Kemana Zidan pergi? Apa Panji membawanya pergi?" gumam batin Sintia.


Merasa seperti itu, Sintia pun bergegas menemui Panji dirumahnya. Sintia pergi menggunakan ojeg online agar ia cepat sampai dikediaman Panji. Setengah jam kemudian akhirnya Sintia tiba dirumah Panji.


"Zidan, Zidan," teriak Sintia dari luar rumah Panji.


"Itu seperti suara mamah yah," ujar Zidan dari dalam rumah Panji.

__ADS_1


"Ah tidak mungkin, mamahmu pasti sibuk bekerja," ujar Panji yang mencoba membohongi Zidan.


__ADS_2