Hey! My Heart Is Yours My Police

Hey! My Heart Is Yours My Police
TWENTY-FIVE


__ADS_3

Rey, laki-laki tampan itu, apa kabar dia, sedang apa dia, banyak yang penasaran begitu juga Marissa, dan ini sudah Minggu ke- tiga, dia sama sekali tidak mendapatkan kabar sedikit pun. Bahkan Jack juga sama kepala pelayan itu sampai hampir gila dibuatnya, belum lagi Marissa yang meminta hal aneh yang seharusnya dilakukan oleh tuan mudanya, Marissa malah menjadikannya pengganti tuan mudanya, jika tidak Marissa akan merajuk dan mengancam uang gajinya, ohh apalah daya seorang kepala pelayan seperti dia.


Disaat Jack sedang santai karena pekerjaan sudah beres suara lengkingan Marissa mendengung di telinga nya, mau tidak mau dia yang baru saja duduk diatas kursi di dekat meja pantry bangkit dan menghampiri Marissa yang sedang meniton tv di ruang keluarga.


" Ada yang anda inginkan Nyonya ? "


" Hey Jack, " Suara lembut dan halus itu tapi mengapa terdengar memilukan di pendengaran Jack, atau memang ada yang salah dengan pendengaran nya. " Jack " Ohh dia tidak salah suara Nyonya mudanya itu memang terdengar memilukan.


" Iya Nyonya, ada yang anda inginkan ? "


" Hey, Apakah pergi bertugas hanya alibinya saja Jack " Kalimat ini membuat alis Jack menyatu tanda bahwa dia bingung.


" Maaf Nyonya ? " Marissa menghela nafas, rasa berat , dia ingin menyampaikan perasaan ini terhadap seseorang agar dia tidak terbebani, dadanya sesak jika tidak dikeluarkan.


" Jack apakah ini alibinya saja, bahwa dia ingin pergi dariku " Jack bahkan sampai melebarkan matanya, bagaimana Nyonya mudanya berfikir sampai seperti itu. Jack mengurungkan niatnya untuk berbicara saat suara Marissa kembali terdengar.

__ADS_1


" Jack dia pergi, dia pamit, dia janji kan akan memberitahukan kabar setiap hari padaku !! Tapi kenapa sampai Minggu ketiga dia masih belum memberi kabar padaku, Nomor nya juga sudah aktifkan 2 hari yang lalu, tapi kenapa masih belum menghubungi ku, bahkan telfon ku saja tidak dihiraukan Jack " Kasihan memang, tapi apa perlu berfikir sejauh itu, suaminya kan hanya bertugas, Heyy! Jack, kau tidak tau rasanya menjadi Marissa.


Jack menggaruk kepalanya yang tak gatal itu,dia bingung harus bagaimana, nyatanya telfon Jack juga di abaikan, bahkan pesan-pesannya juga di abaikan.


" Nyonya, sebaiknya anda istirahat, agar pikiran anda tenang " istirahat ? tenang ? bagaimana caranya ? beritahu dia ! dia juga ingin istirahat dengan tenang !!! dia juga lelah memikirkan pemikiran yang tentunya menyakitkan buat dirinya, diabaikan suami sendiri !!!!!


" Aku ingin membenci nya Jack , tapi aku tidak bisa " diakhir kalimat yang terdengar menyedihkan itu, membuat Jack kalang kabut, pasti sebentar lagi akan ada suara seseorang_ " hiks...hiksss " benarkan! ini bukan kali pertama, pagi dimana Marissa yang tidak turun dari lantai dua untuk sarapan, dimulai hari itu dia terlihat semakin murung dari hari pertama sampai hari itu murungnya masih bisa dikendalikan, dia masih bisa terseyum walaupun terpaksa kepada para maid , tapi hari itu mengubah segalanya, dia semakin murung , selalu mengunci diri, dan turun jika sudah bosan, melamun, bahkan tidak memperdulikan sekitarnya nya, para maid dan Jack sampai harus memperhatikan jalan wanita itu, jika tidak sudah dipastikan banyak luka yang hinggap di tubuhnya.


Dan mungkin ini puncaknya, dia sampai mengeluarkan unek-unek nya pada Jack kemudian menangis, biasanya dia hanya menangis setelah banyak melamun dan berakhir tertidur.


*/*/*


Satu harian ini Marissa hanya memasukkan makanan kedalam mulutnya satu kali dan itu malam ini, jika tidak karena paksaan para maid dia tidak mungkin makan.


Marisa berbaring, memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, walau jam masih menunjukkan pukul 7:30 yang artinya belum memasuki jam tidur.

__ADS_1


*/*/*/


Pagi datang lagi, hari ini begitu cerah, Marissa bangun, matanya menatap langit langit kamar yang dia tempati, terasa sangat kecil dan begitu suram, tapi tak apalah dia merasa sedikit damai.


Ya, tadi malam saat semua orang sudah tertidur, dia sudah merencanakan ini, meninggalkan rumah besar itu dengan segala isinya dan kembali kedalam rumah kecil yang dibelinya sendiri. Tentunya tanpa sepengetahuan siapapun didalam rumah itu, dia pernah bilang kan dia tidak akan meninggalkan Rey dalam keadaan apapun, tapi dia harus melanggar janjinya, seperti nya Rey yang meninggalkan nya, kalau udah begitu, dia juga harus pergi, tidak ada gunanya dia disana, semuanya terbukti, saat malam sebelum dia pergi dia menyempatkan untuk kembali menghubungi suaminya, tapi hasilnya nihil, nomornya aktif ,bahkan ketika dia berkali kali menghubungi nomor itu tetap aktif tapi tidak ada jawaban sama sekali. Saat dia turun dan membawa koper miliknya, saat ia melewati kamar kepala pelayan yang dilantai satu dekat tangga, samar dia mendengar Jack dia menyebutkan kata " baik tuan muda " memang nya siapa lagi yang disebutnya tuan muda jika bukan suami nya, sakit itu semakin mendalam, kenapa Jack bisa menghubungi suaminya sedangkan dia tidak!!!! Keputusan nya sudah bulat, dengan hati-hati dia keluar dari rumah itu, bahkan sepertinya tuhan mendukungnya saat pos security itu kosong dan pagar rumah tidak dikunci. Dengan cepat Marissa menaiki taksi dan membawanya kerumah kecil yang duku ditempati nya sebelum menikah.


" Apa kau bahagia, jika bahagia, pulangnya aku tidak akan mengganggumu lagi " dia bermonolog sendiri, air mata diujung matanya kembali mengalir denga dada yang kian ikut menyesakkan.


*/*/*


Jack laki-laki itu sudah hampir stres saat pagi ini kamar Nyonya mudanya tidak terkunci dan sedikit terbuka, dia dikejutkan dengan tidak adanya Marissa dan lebih parahnya tidak adanya satu helai pun pakaian milik Nyonya mudanya itu, yang menandakan bahwa Marissa sudah pergi dari rumah ini, mau melacak, tidak bisa handphone saja ditinggal olehnya, begitu sempurna bukan rencana yang dibuat Nyonya mudanya.


Bagaimana caranya dia menyampaikan ini pada tuan mudanya, habislah dia !!!!


Tadi malam tuan mudanya akhirnya menghubungi nya, ternyata disana tempatnya bertugas dia sama sekali tidak memegang handphone apalagi melihatnya, dia disibukkan dengan kasus penyelundupan serta pengedaran narkoba secara besar besaran dinegara itu dan lebih parahnya lagi kegiatan haram itu didukung oleh mafia besar di negara tersebut.

__ADS_1


Dan kabar yang bahagia yang tadi malam di katakan tuan mudanya akan menjadi malapetaka untuk Jack.


Ya, tadi malam Rey menghubungi Jack , saat sudah diperiksa dokter yang bertugas disana bersama dengan Rey, 2 Minggu belakangan dia terus saja muntah tepat di pagi hari saat dia bangun, Rey kira itu hanya masuk angin biasa, ditambah pikiran terbelah menjadi tiga Marissa, Negara dan Papanya, kabar papanya banyak menyita pikirannya, akhirnya kabar papanya yang sakit parah itu dia dengar dan itu seminggu setelah dia bertugas, liburan hanya sebagai alasan papanya, padalah perjalanan kesana dia gunakan untuk berobat. Makan tak tentu hingga kurangnya dia berkonsentrasi, jadi dia berfikir itu semua membuatnya masuk angin, Tapi siapa sangka kendati masuk angin ternyata itu gejalan seseorang hamil, dokter bilang ini hal langka, istrinya mengandung dan yang merasakan efeknya adalah dirinya selaku ayah dari calon anaknya, kabar itu membuatnya bahagia, sebelum menelfon Jack dia menelfon orang suruhan yang menjaga papa, agar menyampaikan kabar itu , dia yakin kabar itu membuat papa semangat untuk sembuh. Saat menghubungi Jack, dia memberi kabar itu, dan mengatakan untuk menjaga Marissa dengan baik. Karena berhubung sudah larut Jack akan menyampaikan kabar bahagia itu besok , ketika pagi datang, tapi pagi ini sebuah kejadian yang tidak ingin terjadi akhirnya terjadi juga, Nyonya mudanya terlanjur salah paham, dan memutuskan untuk pergi.


__ADS_2