
Pagi ini Rey lagi-lagi harus merasakan muntah di pagi hari, tapi kali ini ada senyum yang menghiasinya, mengingat ada calon anaknya di dalam perut istri tercinta nya.
Rindu ? Tentu saja, sudah hampir sebulan, dan semalam adalah hari keberuntungan buat Rey kasus yang akhirnya selesai, serta kabar bahagia itu membuatnya tak sabar untuk sampai ke rumah, melihat senyum Marissa, bibir manis yang menjadi candunya, serta hangatnya tubuh istrinya itu. Dering ponsel mengalihkan hayalan - hayalan yang diinginkannya itu.
" Ya "
"........"
" Baiklah " Ponsel ditutup sepihak oleh Rey, para anggota mengabarkan kepulangan mereka sekitar 30 menit lagi, dan Rey diminta untuk bersiap-siap.
Bagi Rey mandi tidak butuh waktu lama, membereskan pakaiannya setelah nya memakai sepatu nya keluar dengan pakain santainya, Ya begitulah kebiasaannya jika sudah bertugas dalam waktu yang panjang dia akan pulang tanpa pakaian dinasnya.
_-_-_-_-_-_-_--_-_-_-_
Berhubung waktu yang berbeda berjam-jam Rey sampai di Kanada jam 7 pagi, masih terlalu pagi. Rey sendiri dijemput oleh supir pribadinya, dengan raut wajah lelah bercampur bahagia, dia sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya, memelukku dan memberikan banyak ciuman.
Berbeda dengan raut wajah Rey, Jack , dia sedang panik kalang kabut, tadi pagi saat dia bangun jam 5 pagi setelah bersiap dia berniat ingin memberitahu kabar bahagia itu pada ibu muda yang sedang hamil itu, tapi kejadian tak sesuai rencana, Marissa sudah tidak ada dikamar, awalnya dia berfikir mungkin bumil satu ini kedapur karena lapar, tapi lagi-lagi ekspetasi tak sesuai kenyataan, tak menyerah, Jack menyuruh seluruh pelayan mencari sosok yang sangat ingin mereka temukan tapi halnya nihil. Hingga sudah jam 7 pagi Marissa tetap tidak ditemukan, poor Jack.
Para pelayan juga sudah menyerah, sangking fokusnya Jack mencari Marissa dia gak sadar dirinya belum memberi kabar terhadap tuan mudanya, semakin rumit keadaan saat suara Rey tuan mudanya memanggil nama Marissa, sudahlah bersiap kena maki.
Langkah kaki yang tadinya semangat perlahan memelan dan akhirnya berhenti tepat dihadapan para pelayan nya yang berlutut dengan wajah ketakutan mereka, ditambah Jack laki-laki itu juga sama.
" Ada apa ini Jack " Jack yang dipanggil dengan suara yang tersirat bingun tetapi tegas itu menambah ketakutan nya.
Perlahan Jack menghadap Rey dengan tangan gemetar, " Maafkan saya tuan " Alis Rey menukik tajam, perasaan sudah mulai tak enak.
" Lebih jelas Jack " Nadanya sudah mulai naik. Jack menelan susah payah Saliva nya.
" Nyonya muda...dia pergi dari. Masion ini "
__ADS_1
*satu detik
dua detik
tiga detik*
Langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa itu memenuhi mansion mewah itu, Ya ,Rey dia berlari kearah kamarnya dan Marissa, pertama yang dilakukan nya melihat lemarinya, tangannya mencengkram kuat hingga kukunya yang merah menjadi putih, baju baju, nya sudah tidak ada.
Rey meninju lemari yang tadi di hempaskan tadi. Berlari keluar menaiki mobilnya menyusuri kota Calgary mencari istri nya, seorang Rey bukan orang yang bodoh, dia masih ingat dimana dirinya bertemu pertama kali dengan Marissa, dia menyeringai dibalik kemudinya, dapat kau.
Mobilnya melaju membelah kota itu, sampai dia berada di sudut kota, tempat ini, dia yakin Marissa nya ada disini.
Mobil itu berhenti tepat didepan rumah kecil dengan bentuk yang masih sama saat dirinya pertama kali disini.
Dengan langkah besar Rey menuju pintu rumah itu. Mengetuk pintu dengan tidak sabaran, butuh waktu 5 menit sampai akhirnya pintu terbuka.
_-_-_-_-_
" Manusia tidak tau diri mana ini "
Marissa membuka pintunya, matanya membesar saat melihat tubuh tegap suaminya didepannya, dengan secepat kilat dia ingin menutup pintu tetapi kalah cepat dengan Rey yang sudah merengsek masuk kedalam rumah itu, mengunci pintu dan menatap dalam Marissa.
Ingin sekali dia marah , tapi mengingat sang istri sedang mengandung Rey berusaha keras untuk meredam emosinya. Ekspresi takut itu, membuat Rey semakin tidak tega, tapi menjahilinya tidak apa kan. Rey menyeringai.
Tubuh Marissa menegang saat Rey melangkah perlahan mendekati nya.
"SS__STOPPP " Tangan Marissa terangkat, menginstruksikan kepada Rey agar laki-laki itu berhenti melangkah bahkan tangan Marissa bisa menyentuh dada bidang milik suaminya , karena dia sendiri sudah tersudut kan ke tembok.
" Aa__aaku bilang stop " Dan jarak diantara mereka berdua hanya tinggal 2 jengkal tangan Marissa, hingga dia bisa merasakan nafas menderu Rey.
__ADS_1
Tatapan tajam itu seakan berhasil menembus hati Marissa, oh rasanya Marissa ingin menangis, dia tidak berani menatap mata Rey ,terlalu silau akan kemarahan.
" Udah finish ? " pertanyaan Rey berhasil membuat Marissa menatapnya, mata grey milik Marissa yang menenangkan dan mata biru gelap milik Rey beradu, Rey bisa melihat, ada kerinduan, kegembiraan, serta kemarahan dan kekecewaan di mata itu. Apa aku melakukkan kesalahan. Tatapan tajam itu berubah jadi sendu.
Tangan Rey bergerak naik menagkup pipi Marissa tidak peduli dengan pemberontak wanita itu.
Rey bergerak mencium hangat kening Marissa, ciuman terlepas bersamaan dengan pecahnya tangis Marissa. Rey merengkuh tubuh mungil sedikit berisi itu, ya ditinggal selama hampir sebulan ternyata kehamilannya membuatnya membengkak, Rey terkekeh geli. Ya Tuhan masih sempat nya dia menjahili istrinya yang sedang ngambek ini.
" Sudah berhenti, sayang " Bukannya berhenti tangis itu semakin menjadi dengan tangan Marissa yang memukul kecil dada bidang Rey.
" Honey, hey ,sayang, babe, jangan menangis kasihan baby kita " Apa tadi katanya baby, baby siapa? kita ? Marissa mendongak dengan tangis yang berusaha untuk dihentikan nya yang menyisakan isakan kecil dari bibirnya.
" baby ? " Rey mengangguk dengan mantap mencium sekali lagi kening Marissa,
" Kita ke dokter , ayo "
" Tung__tunggu " padahal Rey masih diposisikannya engga kemana-mana.
" Apa maksudmu "
" Kau hamil, anak ku dan kamu ada Disini " ucap Rey seraya mengusap perut datar Marissa.
" Jangan membohongi ku, " Rey menggeleng dengan senyumnya, menggendong Marissa seperti anak koala, menimbang nya seperti bayi " Kau hamil sayang, kau yang hamil dan efeknya aku yang merasakan, makanya kau tidak pernah merasa kalau kau mengandung " penjelasan Rey semakin membuat Marissa bingung, dia masih remaja beranjak dewasa polos belum paham yang berhubungan dengan kandung-mengandung.
" Aku tidak paham "
" Apa kau akan senang jika kau mendapatkan kabar kalau kau hamil " tentunya saja Marissa mengangguk mantap, siapa yang tidak senang diberi kepercayaan terhadap Tuhan. Yang dia tidak paham tu kalimat di tengah tengah yang Rey sampai kan.
Melihat kebingungan istrinya, tanpa ba bi Bu Rey membawa Marissa keluar dan melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat untuk periksa.
__ADS_1