
Malam pun tiba, hiruk riuh nya para tamu yang berdatangan. Bahkan tak pernah terdengar orang yant selalu berdecak kagum atas dekorasi mewah nya, tatanan makanan dan juga bunga-bunga yang sangat wangi.
Terlihat para pekerja disana menyambut dan mengantarkan tamu sesuai dengan meja dan undangan yang di tunjukannya.
Mata berbinar para tamu yang datang saat melihat stand produk kecantikan dan rancangan baju yang perusahaan Ghiston keluarkan sekarang.
"Ini rancangan langsung Putri bungsu Tuan Ghiston, Tuan Ghiston ternyata punya Putri yang sangat berbakat" ucap A.
"Dan ini juga langsung di modeli oleh Putri sulung Tuan Ghiston yang selaku CEO perusahaan ini" sambung B.
Tamu undangan makin banyak yang berdatangan, bukan hanya kolega bisnis saja yang datang bersama keluarga nya, namun para petinggi perusahaan pun sama membawa keluarga nya.
Terlihat dari arah pintu kedatangan Geri, Riska dan teman-temannya. Mereka berdecak kagum dan sangat kepo siapa pemimpin Ghiston sekarang.
"Ger, apa kau tahu siapa CEO GhistonGroup? Katanya Putri sulung Tuan Ghiston yang hilang?" tanya Boy dengan penasaran
"Nanti juga kalian tahu" jawab Geri santai.
"Apa kami mengenalnya?" tanya Riko, teman Geri.
"Ya, bahkan beberapa kali Istri kita bersinggungan dengan nya" jawab Geri kembali.
Hah.
Riska dan Istri teman Geri hanya melongo dan saling tatap, mereka tidak pernah merasa bersinggungan dengan orang kalangan atas.
Belum sempat mereka bertanya ataupun protes, sebuah ucapan bahwa keluarga Ghiston sudah tiba di Aula itu.
"Bukankah itu Selly" ucap Istri Riko.
"Hah mana? " tanya Istri Boy.
Istri dari Riko menunjuk ke deretan yang di duduki oleh keluarga inti Ghiston.
"Mas, apa Selly Putri sulung Tuan Ghiston?" tanya Riska.
Geri menganggukan kepala nya, dia duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pihak disana.
🌿
Acara berlangsung dengan sangat meriah dan juga menyenangkan, Riska dan teman-temannya hanya diam dengan wajah yang penuh keterkejutan.
Selly memberikan sepatah kata dengan anggun dan elegant nya, bahkan dia terkesan seperti pemimpin yang sudah berpengalaman.
"Sayang, ayo kita temui keluarga Arkan" ajak Daddy pada Selly.
Hemm.
Selly menatap Daddy nya bingung, namun dia juga menuruti nya dengan menggandeng Ayesha.
"Ayeshaa" panggil Arkan dengan berbinar.
"Iyaa Paman" balas nya dengan tersenyum.
Selly menyapa dan menyalami orangtua Arkan, dia juga ikut duduk di dekat Mommy nya.
__ADS_1
"Ini ya yang namanya Selly, cantik dan pintar sekali" puji Bunda Arkan.
"Terimakasih Tante, itu belum apa-apa nya di banding kalian yang sudah bergelut beberapa tahun di dunia bisnis" balas Selly ramah.
"Ghiston, siap saja ya aku akan membawa seserahan untuk melamar Putri mu ini" ucap Ayah Arkan.
Arkan langsung tersenyum berbinar, dia juga memangku Ayesha dengan menciumi pucuk kepala nya.
"Hah kenapa Om? Kan Om udah nikah" kaget Selly yang seperti orang bodoh.
Ehh.
Hahaha pecahlah tawa Bunda, Mommy dan Arkan saat melihat wajah cengo Selly. Sedangkan Ayah dan Daddy hanya menggelengkan kepala nya.
"Bukan buat Om, sayang. Tapi buat Arkan dan kamu jadi mantu Om dan Tante" jelas Bunda seraya dengan terkekeh geli.
Ehh.
Selly langsung tersenyum canggung, bahkan dia menatap Arkan dengan menahan malu.
"Gimana Sell? " tanya Mommy.
"Aku ini belum selesai masa iddah Mom, dan jika memang ada jodoh nya aku tidak akan bisa menolak" ucap Selly dengan menundukan kepala nya.
"Tidak apa, tapi aku ingin mengikatmu dengan cincin pertunangan karena besok aku akan pergi ke Paris untuk pekerjaan disana dan mungkin akan selama 3 bulan" jelas Arkan semangat.
Hah.
Selly langsung menatap Arkan dengan terkejut, bukan hanya Selly tapi orangtua mereka juga sama. Namun mereka langsung tersenyum saat Arkan mengeluarkan cincin bermatakan berlian.
Selly menatap Ayesha yang menatap nya juga.
"Mama, Paman Arkan akan menjadi Papa aku? " tanya Ayesha dengan tatapan serius.
Heem.
"Iya sayang, apa boleh Paman jadi Papa sambung Ayesha? " tanya Arkan dengan berani.
Ayesha diam saja, dia menatap Selly dan Kakek serta Nenek nya.
"Boleh, asal jangan sakiti Mama dan jangan mancing terus. Terus, kalau ngasih uang jangan sedikit karena aku suka jajan dan kasihan Mama jika harus dagang kue kembali" jelas Ayesha dengan polos dan tegas.
Ehh.
Selly langsung terkejut saat mendengar ucapan Ayesha, dia lalu menatap orangtua Arkan dan Arkan tak enak.
"Jika Papa Arkan melakukan hal itu maka Nenek akan tonjok dia" ucap Bunda Arkan.
"Jadi boleh nih Paman pasangkan cincin nya? " tanya Arkan kembali.
"Biar aku saja yang pasangkan" jawab Ayesha dengan cepat.
Ayesha memasangkan cincin pada jari manis Selly, setelah nya dia memeluk Selly dengan hangat.
Tepuk tangan seketika riuh disana, bukan hanya dua keluarga itu saja yang memperhatikannya. Namun, banyak kolega bisnis Daddy Ghiston juga yang memperhatikan mereka yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Rully dan Melly bertepuk tangan dengan sangat kompak, keduanya sangat bahagia melihat Kakak mereka di lamar lelaki yang baik.
Selly hanya bisa menunduk dan mengulum senyum, dia juga masih butuh figur seorang Suami dan Ayah bagi Putri nya.
"Besok pagi kami akan ke mansion mu, Ghiston" jelas Ayah Arkan.
"Baiklah kami tunggu" balas Daddy dengan tersenyum.
Arkan membawa Selly menjauh dari sana, dia membawa keluar ruangan dan menuju taman yang berada di samping Perusahaan.
Sedangkan Ayesha sudah bermain bersama dengan Aunty dan Uncle.
ð– „
Disinilah mereka berada, di Taman yang cukup sepi yang ada di pinggir perusahaan.
"Sell" panggil Arkan.
"Maaf jika memang ini cukup terburu-buru, karena besok aku akan pergi cukup lama dan aku tak ingin kehilangan kalian. Jujur saja, aku sudah menyayangi kamu dan Ayesha, aku tak ingin kehilangan kalian dan izinkan aku membahagiakan kalian" ucap Arkan dengan sungguh-sungguh.
Hufh.
Selly membuang nafas dengan perlahan, dia menatap Arkan dengan serius.
"Baiklah, mari kita sama-sama jalani semua nya dengan seiringnya waktu. Aku hanya tak ingin kejadian di rumah tanggaku dulu kejadian lagi" balas Selly dengan yakin.
Arkan langsung mengangguk dan tersenyum, karena saking senang nya dia langsung saja memeluk Selly dengan erat.
Deg.
Selly langsung mematung, namun dia juga sangat nyaman di pelukan itu.
"Ehemmmm belum muhrim" celetuk Melly dengan tengil nya.
"Heh bikin kaget saja" ucap Selly dengan ketus.
Arkan tersenyum kecil, lalu dia memegang tangan Selly dengan erat.
"Ayo masuk, Mommy dan Daddy sudah memanggil" ucap Melly.
"Baiklah, ayo" balas Arkan.
Selly mengangguk, dia berjalan bersama dengan Arkan. Bahkan Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya pada Selly.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1