
Sore hari nya Selly mengantarkan Arkan ke Bandara bersama dengan Ayesha. Sedangkan Orangtua Arkan malah menunggu nya di mansion Ghiston.
Selama perjalanan Ayesha duduk di pangkuan Arkan, dia sangat bahagia dan terus saja bercerita dengan senang pada Arkan.
"Jangan lama disana nya ya, Pa. Terus harus telepon atau vidio aku" ucap Ayesha dengan merengek.
"Baik Tuan putri, Papa disana akan sebentar dan datang untuk menikahi Mama mu" bisik Arkan tersenyum.
"Janji" pekiknya dengan bahagia.
Arkan mengangguk, sedangkan Selly menatap keduanya dengan bingung.
"Ngobrolin apa sih?" tanya Selly kepo.
"Gak ada" jawab Arkan dan Yesha barengan.
Hih.
Kesal Selly dan dia memalingkan wajah nya. Sontak saja Ayesha langsung tertawa dan mencium pipi sang Mama.
Tak berselang lama mobil yang membawa mereka tiba di Bandara.
Selly dan Ayesha mengantarkan Arkan tepat di ruang tunggu.
"Tunggu aku pulang" bisik Arkan memeluk Selly sekilas.
Selly hanya mengangguk, tak lama setelah itu Arkan masuk ke dalam pesawat.
Sedangkan Selly dan Ayesha kembali ke arah mobil yang ada di sana.
"Hai Selly" sapa Riska yang ada disana bersama dengan Geri.
Selly hanya berdehem dan mengangguk saja.
"Papa mau kemana?" tanya Ayesha penasaran.
"Mau liburan Yesha, mau bulan madu supaya Mama cepat hamil" jawab Riska dengan bangga.
"Oh" balas Ayesha dengan wajah yang sedikit masam.
Geri? Dia hanya menatap Ayesha sekilas dan setelah nya pergi bersama Riska.
"Mau beli icecream?" tawar Selly pada Ayesha.
"Mauuuuu" balas Ayesha dengan semangat.
Selly terkekeh, dia lalu membawa Ayesha ke dalam mobil dan menyuruh sang sopir untuk membawa nya ke supermarket lebih dulu.
"Ma, nanti kita jalan-jalan naik pesawat?" tanya Ayesha.
"Iya Nak, namun tunggu kamu libur sekolah dulu ya" jawab Selly.
"Emm kapan? " tanya Ayesha.
Selly membawa Ayesha ke pangkuannya, dia membelai lembut pipi cubby Putri nya.
"Paling 2 bulan lagi kamu libur, nanti kalau Mama gak bisa ajak jalan-jalan kamu akan di ajak oleh Nenek dan Kakek" jelas Selly lembut.
"Aku mau ke Papa Arkan saja deh" celetuk nya berbinar.
__ADS_1
Selly hanya mengangguk saja, dan selebihnya Ayesha bercerita dan menayakan semuanya pada sang Mama.
Hingga mereka tiba di supermarket dan Ayesha memilih beberapa icecream disana.
🌿🌿🌿
Sudah 1 minggu sejak Arkan pergi, Ayesha selaly saja menelpon dan vidio call sebelum tidur.
Bahkan saat ini Selly semakin sibuk karena banyak pekerjaan di perusahaannya.
Seperti saat ini, Selly sudah bersiap-siap untuk rapat bersama dengan Geri dan Boy.
"Nona, ayo semua sudah datang" ajak Nike pada Selly.
"Iya Nike" balas Selly.
Langkah keduanya mendekat ke ruantan rapat yang ada di lantai 7. Selly melangkah dengan tegas dan wajah yang datar, dia masih selalu menampilkan wajah datar nan dingin di luar lingkungan keluarga.
Ceklek.
Selly masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya.
Dan rapat pun langsung di buka oleh Nike, kali ini akan membahas proyek pembangun toko kosmetik yang ada di Bandung.
"Mana berkas keuangannya?" tanya Selly datar.
Boy langsung memberikannya karena memang perusahaan dia yang bertanggung jawab.
Brak.
"Bagaimana anda bisa memberikan material nomor 3 untuk pembangunan itu? Apa anda sedang main-main dengan dana ini" ucap Selly lantang.
"Bagaimana dia bisa tahu" gerutu Boy.
"Saya sudah menargetkan semuanya dengan benar, bahkan saya juga sudah menghitung dana untuk material nomor 1 agar bangunan itu kokoh" jelas Selly dengan bangkit dari duduk nya.
"Bu bukan begitu Nona, i itu material nomor 1 kok" balas Boy dengan susah payah.
"Hei, saya bukan anak kemarin sore untuk percaya akan bualan anda, Tuan. Saya tahu harga material nomor 1 yang asli dan harga material nomor 3 yang asli. Apa perlu saya lihatkan contoh nya" bentak Selly tak terima.
"Kembalikan dana itu semuanya Tuan Boy Fernandes" ucap Selly penuh penekanan.
"Dan Nike, suruh orang merubuhkan bangunan itu" perintah nya dengan tegas.
Hah.
"Baik Nona" balas Nike patuh.
Sedangakn Boy dan Geri hanya bisa melongo saja.
"Bagaimana anda bisa menyuruh nya merubuhkan bangunan itu? Bangunan itu sudah anak buah saya kerjakan dengan baik" protes Geri.
"Dan seharuanya perusahaanmu tahu bahwa bahan-bahan itu bukan bahan paling bagus" tekan Selly.
"Saya tunggu dana itu kembali Tuan Boy" ucap Selly dengan tatapan tajam.
Selly langsung keluar dari sana dengan wajah yang sangat masam dan kesal.
Brak.
__ADS_1
Pintu tertutup dengan keras, Geri dan Boy sampai terperanjat karena kaget.
"Bagaimana dia bisa tahu" gerutu Boy dengan kesal.
"Gue udah bilang kan jangan berani merubahnya, ini yang akan membuat kita untung dan sekarang malah buntung" timpal Geri kesal.
Geri lalu bangkit dari sana dan pergi, Boy pun ikut pergi dari sana. Dia harus memikirkan cara agar cepat mengembalikan dana perusahaan Ghiston dengan cepat.
Geri dan Boy masuk ke dalam mobil masing-masing. Geri langsung melajukan mobilnya ke arah perusahaannya.
"Sialan kau Boy, udah gue kasih tahu tapi dia ngeyel. Ini namanya rugi bukan malah untung, mana pekerja hari ini gajihan lagi, arrgghh" ucap Geri penuh dengan kekesalan.
"Mana besok ada kerjaan ke Kalimantan dan bisa langsung mancing kalau proyek ini rampung, ahh gara-gara si Boy" kesal Geri dengan mengcengkram setir mobil.
Geri menghentikan mobil nya tepat di depan loby perusahaan, dia langsung saja masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangannya.
"Huh mana proyek ini bernilai miliaran lagi" gerutu nya lagi dengan dongkol.
"Gue aja gak berani nyolong uang dana itu, ehh dia berani amat. Terlalu takut bini sih gitu" gumam Geri dengan langkah ke arah ruangannya
Geri bertemu Toni yang akan ke kantin karena sudah jam makan siang.
Dia menitip sesuatu untuk makan siang nya.
Geri menghempaskan tubuh nya di sofa yang ada di ruangannya.
"Gue kira Selly itu hanya anak pungut keluarga Ghiston, namun ternyata dia adalah sulung nya dan bahkan anak kandung. Tau gitu gue gak akan mau dia ceraiin dan bertahan saja" gumam nya dengan menerawang.
"Ahh sudahlah, gue harus fokus saja dulu agar besok pas ke Kalimantan gue ada uang lebih buat mancing disana" gumam nya lagi dengan merebahkan kepalanya ke sandaran kursi.
Tok Tok
"Masuk" teriak Geri.
"Ini pesanan anda Tuan" ucap Toni setelah dia masuk ke dalam ruangan sang atasan.
"Kau makan disini juga, temani aku" ucap Geri sambil membuka pesanannya.
"Baik Tuan" balas Toni patuh.
Lalu keduanya mulai makan siang dengan sesekali Geri berbincang tentang proyek nya yany gagal.
Toni sangat menyayangkan padahal proyek itu proyek besar dan juga kemungkinan perusahaan Ghiston tidak akan mau lagi mempercayakannya pada mereka nanti nya.
Geri pun berpikiran demikian, dia juga sudah menduga hal itu namun masih menepisnya karena dia tidak melakukan kesalahan apapun.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1