
3 Bulan kemudian.
Selly melepaskan pelukannya pada Ayesha yang akan berangkat liburan bersama Daddy dan Mommy nya. Dia sendiri tak bisa ikut karena pekerjaan yang lumayan banyak.
Melly dan Selly langsung pergi dengan mobil masing-masing. Mereka memang punya kesibukan sendiri dan juga lumayan padat.
"Huh sekarang aku harus mengecek beberapa bahan untuk launching pakaian lagi, belum lagi pemotretannya. Nike kenapa gak cari model saja coba, ini malah aku yang harus repot" keluh Selly dengan memijit kening nya yang lumayan pusing.
Selama 3 bulan ini Selly sangat sibuk, dia harus cek kesana kemari agar proyeknya lancar dan tak ada dana yang di colong kembali.
π
Tibalah Selly di perusahaan, dia langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kepala ku pusing sekali" gumam Selly dengan menggelengkan kepala.
Selly bersandar pada dinding lift, dia mencoba bertahan dengan kesadarannya karena pusing sudah semakin mendera di kepala nya.
"Ya Allah, ini sakit sekali kepala, badan menggigil begini. Perasaan tadi pagi masih biasa saja" gumam Selly kembali lirih.
Ting.
Lift terbuka dan dengan sempoyongan Selly keluar dari sana, bahkan kesadarannya sedikit sudah tak ada.
Bruk.
Akhir nya tubuh Selly tumbang juga dan untung nya ada seseorang yang menangkap nya.
πΏπΏ
Geri melepaskan pelukan Riska, dia lalu berlalu masuk ke dalam mobil nya untuk bekerja.
Kenyataan malam tadi membuatnya sangat muak dan cukup membuat mood nya hilang.
Semalam Riska dan Geri ke Rumah sakit untuk bertemu Dokter, Riska yang memang sedang sakit dan di pikiran Geri adalah sedang hamil.
__ADS_1
Namun kenyataannya salah, bukan kabar baik yang Geri terima namun kabar buruk.
Riska tidak bisa hamil karena rahim nya bermasalah dan waktu kecelakaan bersama keluarganya sudah di angkat.
Kaget? Itulah yang di rasakan oleh Geri!
Riska? Dia hanya bisa menunduk dalam karena sudah menyembunyikan fakta tersebut dari Geri.
"Arrggghhh" teriak Geri dengan memukul stir mobil nya.
"Kenapa coba Riska sampai berbohong, padahal aku ingin sekali mempunyai keturunan dan laki-laki" ucap Geri kembali dengan kesal.
"Aku sudah membayangkan punya anak lucu-lucu darimu Ris, namun kau mematahkan langsung bayangan itu dengan sekali hentakan" gumam Geri.
Geri menghentikan mobil nya di area perusahaan, di lobby sudah terlihat Toni yang menunggu nya.
"Ada apa, Ton?" tanya Geri setelah menghampiri nya.
"Gawat Tuan, Tuan Boy melakukan curang dengan membawa dana perusahaan yang akan kita investasikan kepadanya" jelas Toni dengan gusar.
"Dia sudah kabur entah kemana Tuan, aku sudah mengirimkan anak buah ke Rumah orangtua nya" jelas Toni.
Deg.
"Ya ampun, bagaimana ini Ton? Ayo kita ke ruangan ku saja" ajak Geri dengan cepat.
Hampir semua karyawan sedang merasa tegang dan genting, mereka bekerja dengan maksimal agar perusahaan itu tetap berdiri dan tidak goyang.
Geri menghentakan tubuh nya di atas kursi kebesarannya, dia lalu mengambil ponsel nya.
"Ahh sial, nomor nya sudah tak aktif" gerutu Geri.
"Kita tidak bisa mengambil apapun di perusahaannya, karena bukan hanya kita saja yang di tipu oleh nya" ucap Toni dengan menggebu.
"Kita hanya bisa mencari investasi buat perusahaan kita saja Tuan, dan untung saja gajih karyawan sudah di berikan kemarin" jelas Toni kembali.
__ADS_1
"Kita keluarkan produk kita saja dan proyek yang ada di Kalimantan akan segera rampung. Mudah-mudahan dari sana kita sudah tertutupi" ucap Geri dengan yakin.
"Ah ya anda benar, kita akan keluarkan produknya esok hari dan sekarang kita fokus pada pencarian Boy" balas Toni.
Geri dan Toni sama-sama mengutak-ngatik ponselnya, mereka menghubungi anak buah nya dan Geri menghubungi beberapa orang yang terkena dampak penipuan oleh Boy.
Brak.
"Geri, apa kau juga kena tipu oleh Boy?" tanya Riko dengan terengah-engah.
"Ya, dan bukan sedikit" jawab Geri dengan cepat.
"Ayo kita ke Rumah kosong yang dulu dia jadikan pesta" ajak Riko.
Hah.
"Aku baru mengingat nya, Toni kerahkan anak buah kita pada tempat yang akan kita tuju" ucap Geri dengan cepat
Toni mengangguk, lalu mereka bergegas keluar dari perusahaan dan menuju ke Rumah Boy.
"Gila ini sungguh gila, Ger. Aku tak sangka Boy berani berbuat ini, padahal kamu kurang baik apa" ucap Riko setelah duduk di kursi mobil.
"Hah dia sudah seperti kerasukan, bagaimana dengan Istri nya?" tanya Geri.
"Dia ada bersama dengan anak-anak nya, bahkan mereka tidak tahu bahwa perusahaan Boy hampir kolaps karena Istri nya itu selalu berinvestasi kesana" jelas Riko.
"Arrghhh bagaimana ini, perusahaan ku pun pasti akan kolaps karena dana inves itu cukup besar" geram Geri dengan mengepalkan tangannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.