
Geri dan Riko sampai di Rumah tersebut, namun semuanya nihil dan tak ada siapapun disana.
"Dia sepertinya sudah kabur" ucap Toni sambil menunjukan bekas ban mobil yang kelihatannya masih baru.
"Dia sudah pasti mengira kita akan kesini, Ger" timpal Riko.
Geri mengangguk, dia lalu mengajak sahabat dan Asistennya pergi dari sana.
🌿🌿
Sedangkan di ruangan Selly, saat ini dia masih terlelap dengan nyaman karena sejak tadi Selly belum sadar.
Nike yang panik pun sudah akan menelpon Tuan Ghiston, namun di hentikan oleh Arkan dan menyuruh nya menelpon Rully saja.
Yap, pria yang menangkap Selly tadi adalah Arkan. Dia sudah pulang sejak kemarin dan ingin memberikan kejutan pada Selly dengan datang ke perusahaannya pagi-pagi sekali.
"Dia seperti nya kelelahan ya, Rull" tebak Arkan dengan raut wajah masih cemas.
"Iya, Kakak selalu saja lembur karena proyek dan barang terbaru nya akan launching" jelas Rully yang masih disana.
"Nona selalu saja menunda makan, padahal sudah saya ingatkan selalu" timpal Nike.
Hufh.
Arkan membuang nafas kasar, dia hanya mengangguk saja.
"Kau boleh kembali bekerja, Nike" ucap Arkan pada Asisten calon Istri nya itu.
"Baik Tuan" balas Nike patuh, lalu dia pergi dari sana.
Setelah kepergian Nike, Rully pun izin untuk kembali ke Rumah sakit.
Dan di ruangan tersebut hanya ada Arkan dan Selly.
"Bangunlah, jangan buat aku khawatir gini" gumam Arkan dengan memegang tangan Selly.
__ADS_1
"Eungh" lenguh Selly yang mana membuat Arkan tersenyum bahagia.
Arkan membiarkan Selly sadar sepenuhnya lebih dulu.
Terlihat kelopak mata Selly yang terus berkedip menyesuaikan cahaya.
"Mau minum?" tawar Arkan pada Selly.
Ehh.
Kaget Selly dengan menatap Arkan bingung.
"Loh kok ada kamu, Mas? Memangnya aku dimana?" tanya Selly bingung.
Arkan hanya terkekeh geli, dia lalu membantu Selly agar duduk.
"Kamu tadi pingsan saat keluar dari lift" jelas Arkan memberikan air putih pada Selly.
"Ehh di infus" kaget Selly saat melihat lengannya.
"Kenapa selalu memporsir tubuh hmm, apa kamu kurang istirahat hingga kelelahan begini? Atau jangan-jangan kurang makan?" cecar Arkan dengan raut wajah kesal namun khawatir.
Hufh.
Selly menundukan kepalanya dan menghela nafas pelan.
"Maaf" lirih Selly dengan menyesal.
"Jangan fokus bekerja hingga membuatmu sakit begini, bagaimana jika Ayesha tahu? Dia pasti akan sedih, hmm" ucap Arkan kembali.
"Iya iya maaf, aku pusing nih jangan ngomel dulu ya. Mau makan aja deh" celetuk Selly dengan wajah yang di buat se memelas mungkin.
Heh.
"Boleh jitak gak sih" gemas Arkan dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Selly hanya tertawa kecil dengan tangan yang mengambil makanan dari Arkan.
Arkan terkekeh melihat Selly yang makan seperti orang yang tidak makan seminggu saja.
"Pelan-pelan hei" protes Arkan saat Selly tersedak makanan.
Selly hanya tersenyum saja, lalu dia meminum obat yang di berikan oleh Arkan.
"Istirahat dulu, biar aku yang memeriksa berkas itu. Untuk pertemuan apapun sudah di undur sampai minggu depan" jelas Arkan tegas.
"Hemm iya, makasih ya" balas Selly tak enak.
"Rebahan lagi sana, aku kerjakan dulu pekerjaan mu" ucap Arkan kembali.
Selly mengangguk patuh, dia lalu merebahkan tubuh nya yang memang masih merasa lelah.
Hingga lambat laun kesadarannya kembali hilang dan Selly mulai terlelap kembali karena meminum obat tersebut.
Arkan sendiri mengerjakan beberapa berkas yang ada di meja kerja Selly, dia memeriksa nya dan melihat ada satu berkas yang mencurigakan.
"Ini apa-apaan, kenapa perusahaan ini memberikan berkas kerja sama? Bukannya ini perusahaan orangtua Boy" gumam Arkan dengan kesal.
Arkan lalu memisahkan nya terlebih dulu, nanti setelah Selly sehat dia akan membicarakannya bersama.
"Aku yakin pasti ini ulah Boy, karena dia sudah tak ada pemasukan lagi" gumam Arkan kembali.
Arkan lalu menata berkas yang sudah di periksa dan hanya butuh tandatangan Selly saja, lalu dia menelpon Asistennya agar menyelidiki perusahaan orangtua Boy.
.
.
.
.
__ADS_1