
Hari sudah malam, Geri baru menyelesaikan pekerjaannga dan setelah itu dia langsung pulang.
Geri tidak langsung melajukan mobil nya ke arah mansion, tetapi dia melajukan mobil nya ke arah empang yang ada di samping mansion.
"Ck, kau sudah disini saja" ucap Geri saat melihat Boy dan Riko sudah ada di empang.
"Mumet gue di Rumah, apalagi kejadian tadi bikin gue kesel" balas Boy dengan wajah masam.
"Lu sih nyari gara-gara, gue aja gak berani ngambil gitu eh elu malah nyolong dana dari perusahaan Ghiston pula" celetuk Geri menggelengkan kepalanya.
Hah.
Riko menatap Geri dan Boy bergantian, dia cukup kaget karena penuturan dari sahabat nya itu.
"Bagaimana bisa lu seberani itu Boy? Dan buat apa uang nya? " tanya Riko penasaran.
"Gue terpaksa, saat itu ada tiket mancing lumayan gede bayarnya dan gue baru saja ngabisin buat kebutuhan anak bini, ya gue khilap dan kalap jadi nya" jawab Boy terlihat santai.
"Gila lu, gue yakin perusahaan lu gak bakalan dapat tender gede lagi setelah ini" ucap Geri.
Boy langsung tersentak, dia tidak berpikir sampai kesana.
"Bener apa kata lu, Ger. Gue bakalan kehilangan tender yang lainnya karena berita ini pasti sudah meroket" gerutu Boy.
Geri dan Riko hanya mengangkat bahu acuh, mereka cukup tahu kalau Boy selalu saja ceroboh dalam hal berbisnis.
Bahkan dia pernah di tipu temannya dan mengakibatkan perusahaannya kolaps saat itu, untung saja dia punya orangtua yang cukup berpengaruh.
"Gue balik duluan ya, gue mau nemuin orangtua gue dulu" ucap Boy dengan cepat.
Setelah kepergian Boy, Geri dan Riko masih disana karena sedang asyik.
"Lalu bagaimana dengan proyek itu?" tanya Riko.
"Di hancurkan, karena Selly tak mau kalau bahan material itu bukan nomor 1 dan sialnya pekerja gue juga bodoh karena mereka mau saja di suruh memasang material itu tanpa konsul dulu sama gue" jawab Geri dengan wajah kesal.
"Mungkin mandor nya sudah di cocok oleh uang" ucap Riko.
"Bener, si Boy itu kelewat bego apa gimana ya" balas Geri dengan menggelengkan kepala nya.
"Padahal dia itu gak bakalan kekurangan uang, bini nya juga punya usaha yang lumayan maju" celetuk Riko.
"Gue jadi curiga kalau Boy itu main sama cewe lain deh, soalnya kalau hanya untuk mancing dia gak bakalan kalap nyampe nyolong dana proyek" jelas Geri dengan serius.
Riko mengangguk dengan membenarkan ucapan Geri, karena dia juga sering melihat Boy bersama cewe lain dan bukan Istri nya.
Malam kian larut dan Geri pulang setelah jam menunjukan angka 10. Dia masuk ke dalam mansion dan terlihat Riska yang masih menunggu nya.
__ADS_1
"Mas, kenapa baru pulang?" tanya Riska.
"Aku mancing dulu sama Riko dan Boy" jawab Geri duduk di samping Riska.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan Boy, aku tak percaya dia setia pada Istri nya dan aku tak mau kau ikutan lagi" keluh Riska dengan rengekan.
"Ck, tidak akan" balas Geri.
Lalu kedua nya masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Riska menyiapkan pakaian ganti untuk sang Suami dan dia menunggu di atas ranjang dengan baju dinas nya.
Ceklek.
"Ck, gak usah nyiapin pakaian deh kalau ujung-ujung nya gak akan di pakai juga" ucap Geri dengan tatapan nakal.
Dan malam panjang pun mereka lewatkan dengan berbagi peluh di atas ranjang.
🍌
Ke esokan pagi nya, Geri berangkat kerja dengan lumayan pagi karena harus menemui beberapa pekerja yang ikut dalam proyek di Bandung.
Dia sudah menahan kesal akan mandor nya yang terlalu rakus akan uang hingga membuatnya rugi begini.
Setiba nya di perusahaan, dia langsung menuju ke Aula yang sudah ada Toni dan beberapa pekerja yang di mintai datang.
Ceklek.
Geri mengangguk, lalu dia menghampiri pekerja tersebut.
"Saya mau tanya, apa kalian tahu saat pembangunan itu material nya bukan yang paling bagus?" tanya Geri.
"Tau Tuan, kami juga sudah protes pada mandor dan Tuan Boy. Namun mereka tidak mengdengarkan kami" jawab salah satu dari mereka.
Geri mengangguk paham, dia lalu memberikan sisa upah nya untuk mereka.
Dan tinggalah disana mandor, Geri dan juga Toni.
"Aku sudah percayakan semuanya padamu, kenapa kau malah mau-mau nya di cocok uang untuk hal ini. Dan kamu tahu siapa yang sudah kau khianati? Selly, pemimpin Ghiston" jelas Geri dengan geram.
"Kau membuat semua kacau dan kita rugi waktu serta tenaga dan uang. Kenapa kau ahhhhhh" teriak Geri dengan kesal.
Mandor itu hanya diam saja dan kaget, pasalnya dia tidak tahu bahwa proyek itu adalah milik Ghiston.
"Maafkan saya Tuan" ucapnya dengan penuh sesal.
"Pergilah, sisa upahmu tidak akan aku berikan karena konpesensi atas ini. Lain kali kalau ada apapun cepat hubungi kami dan team" balas Geri dengan cepat.
Geri melangkah pergi dari sana bersama dengan Toni, dia langsung ke ruangannya.
__ADS_1
"Aku yang teledor dan mau-mau nya di perbudak dengan uang kecil" gumam Mandor itu dengan helaan nafas kasar.
🍌
Sedangkan di perusahaan Ghiston, Selly baru saja tiba disana dan akan berangkat ke Bandung bersama dengan Nike.
Mereka akan meninjau langsung ke Bandung untuk pembangunan yang baru tanpa ada campur tangan oranglain.
Selly cukup trauma karena bukan sedikit dana yang dia keluarkan untuk proyek ini.
"Bagaimana butiq yang di jogja? Perusahaan Geri kan yang megang kendali?" tanya Selly saat sudah duduk di dalam mobil.
"Aman saja dan material juga yang paling bagus, kalau menurut saya Tuan Geri tidak pernah bermain curang akan urusan kantor Nona" jawab Nike apa adanya.
"Iya, aku hanya memberi pelajaran saja agar dia lebih tegas pada pekerja nya" ucap Selly.
Keduanya terus berbincang selama perjalanan berlangsung, bahkan mereka juga sesekali membahas pekerjaan yang ada di luar Kota.
"Untuk ke depan nya kita jangan libatkan lagi perusahaan Boy dalam pembangunan proyek, apalagi dalam urusan dana" jelas Selly tegas.
"Baik Nona" balas Nike patuh.
Selly memejamkan mata nya sebentar, perjalanan yang cukup melelahkan karena kemarin malam Selly habis lembur.
Nike membiarkan Selly untuk memejamkan mata, dia sendiri hanya diam memandang ke arah luar jendela.
"Nona Nike" panggil sopir.
"Kenapa Pak?" tanya Nike.
"Hati-hati pada Tuan Boy, dia cukup meresahkan. Tolong jaga Nona muda, itu info dari Tuan Arkan" ucap nya lirih.
Nike mengangguk, dia lalu menatap Selly yang sudah terlelap karena kelelahan.
Perjalanan mereka cukup memakan waktu karena macet yang ada di depan belum juga urung lancar.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.