
Aku mendengar makian mengglegar dari pacara Azura berniat pergi, namun hatiku mengatakan tidak. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Tanpa aku sadar pintu tak dikunci dan celah kecil terbuka membuatku melihat dengan jelas pertengkaran mereka.
Azura meraih botol kaca berniat memukul pacarnya. Tangannya ditahan dan dicengkeram dengan erat.
"Wanita gak akan pernah menang dari laki-laki! " ucapnya menekankan setiap kata berbicara tepat diwajah Azura.
"Alfan!! !! " teriak Azura marah.
Aku lihat wajahnya yang biasanya ceria dirundung perasaan sedih, menyesal dan amarah.
"Kamu yang menghancurkan hidupku!! "ucap Azura.
" HAHAHAHA. Kau bilang aku yang menghancurkan hidupmu? Bahkan kau sendiri dilecehkan ayahmu? Apakah punyaku kurang memuaskanmu? "ucap pria tersebut.
Aku baru mengetahui bahwa namanya adalah Alfan. Tamparan dilayangkan Azura ke wajah Alfan. Dibalas tatapak tajam olehnya.
" Gugurkan atau aku umumkan seluruh kampus bahwa kau wanita pelacur! Biar beasiswamu dicabut"Ucap Alfan mutlak.
"Enggak akan! Bayi ini gak bersalah! " balas Azura.
"Yasudah! Aku akan menganggap itu bukan bayiku tapi bayi ayahmu sendiri! " ucap Alfan mengambil sebungkus rokok berbalik berniat pergi.
Aku berlari ke sudut gelap menghindari Alfan. Dia keluar dirundung amarah. Dia memang ganteng dengan tinggi yang diidam-idamkan oleh kaum perempuan, namun dia cacat atitude yang tak layak jika dijadikan pasangan seumur hidup. Aku masih berada disana menunggu situasi aman. Pintu kamae Azura terbuka lebar. Aku memberanikan diri masuk ke dalam dan menutup pintu tersebut.
Azura mendongak. Dia benar-benar terkejut melihatku. Dia bahkan berdiri dari duduknya saking terkejutnya.
"Bagaimana keputusanmu? " tanyaku kepadanya.
Dia menghela nafas kembali duduk. "Ternyata kamu telah tahu, " ucap Azura pasrah.
"Aku mau bantu kamu lapor polisi, " ucapku kepadanya.
Dia tertawa pelan ketika mendengar ucapanku.
"Percuma, dia memiliki kekuasaan. Aku sendiri bahkan tak tahu anak ini ayahnya siapa? Apakah dia atau ayahku sendiri. Sungguh miris bila di dengar. Seorang anak melahirkan anak dari ayahnya sendiri. Jika itu sampai terjadi, bukankaj akan viral dimana-mana? " ucap Azura.
Aku mendekat kupeluk tubuhnya. Dirinya rapuh. Aku termenung bersamanya. Masalahku tak seberat yang dihadapi olehnya.
__ADS_1
"Aku ingin nikah denganmu, " ucap Azura membuatku terkejut.
Azura perlahan menaiki tubuhku. Aku berusaha menghindari ketika nafasnya terasa di leherku. Aku benar-benar tersiksa.
"Aku menyerahkan tubuhku kepadamu, " ucap Azura.
Azura mengincar bibirku. Dia perlahan-lahan turun. Suaraku aneh. Aku bingung dan takut. Aku ingin keluar. Suara ketukan terdengar membuat Azura berhenti. Segera aku membenahi diri dan bersikap sewajarnya saja. Pintu dibuka olehnya. Seorang perempuan yang aku kenal berada di depan pintu.
"Cari siapa? " tanya Azura.
"Dimana Angga? tanya Angel.
Aku beranjak berdiri berjalan ke arah Angel. Dia menarik lenganku keluar dari kamar Azura.
" Pergilah dulu, pakaianmu kotor, "ucap Angel kepadaku. Akupun menganggukkan kepala berjalan terlebih dahulu. Tersisa Angel dan Azura.
" Aku tahu kamu tak berdaya, tapi jangan pernah menjadikan orang lain tumbal atas perbuatan orang lain kepadamu apalagi Angga. Jika aku lihat kamu berani menyakitinya, jangan salahkan jika aku membongkar kasusmu. Mudah bagiku menghancurkan karir dan hidup seseorang. Sekali aku berucap, tidak ada yang berani menentang keputusanku. Karena aku orang yang tahu terima kasih kepada Tuhan, aku tak pernah melakukan hal keji. Tapi jika menyangkut Angga, aku akan berani melakukan apapun terhadapnya bahkan menjadi iblis neraka sekalipun! "ucap Angel penuh penekanan.
Angel pergi meninggalkan kamar Azura. Dia berjalan tenang tanpa ada perasaan takut. Dagunya terangkat menandakan seberapa berkuasanya dia. Azura menutup pintu kamarnya yang terdengar ditelinga Angel.
" Menyentuhnya? Tubuh kotormu tak pantas!"ucap Angel pergi meninggalkan gedung apartemen.
"Hilangkan perasaan tak enakmu atau kau akan menyesal karena dimanfaatkan. Perasaan orang lain bukan tanggung jawabmu, " ucap Angel tersenyum kepadaku.
Aku membalasnya dengan senyuman ringan. Itulah kelemahan terbesarku selama ini.
"Tapi manusia memiliki hati untuk merasakan perasaan orang lain, " ucapku kepadanya.
"Tapi apakah orang lain merasakan perasaanmu juga? Menjadi egois tak selalu buruk, " balas Angel.
"Jangan ganggu pendidikanmu hanya karena masalah cinta. Sembuhkan lukamu secara benar-benar. Jangan menyembuhkan luka bersana orang lain karena itu akan menghasilkan hasil yang buruk, " ucap Angel menasehatiku.
Aku menganggukkan kepala berterima kasih atas nasehatnya. Aku masuk ke dalam gedung. Mobil berhenti dan ia masuk ke dalamnya. Mobil mewah mengantarkannya pulang. Di dalam mobil, ia tengah duduk diam menatap pemandangan di luar. Kediaman mewah tempat dimana Angel tinggal.
Dia kuliah namun memiliki rumah sebesar itu membuat siapapun tahu betapa kayanya dia. Angel turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Berjalan ke arah kamar dan berpapasan sengan seorang laki-laki.
"Darimana saja? " tanyanya ramah.
__ADS_1
Angel tersenyum membalas pertanyaan kakaknya itu.
"Habis main sama temen, " jawab Angel.
"Cowok apa cewek? " tanya kakaknya penasaran.
"Cowok, " jawab Angel.
"Wihhhh... Punya adek ipar nih bakalan, " balasnua dengan semangat.
Angel membalasnya dengan senyuman. Dia berpamitan kepada kakak laki-lakinya. Pintu kamar tertutup. Dia berendam di bathtup sembari memejamkan matanya. Dia menyunggingkan senyuman palsu ketika mengingat interaksinya dengan kakak laki-lakinya tersebut.
"Memang benar jika laki-laki memiliki sifat baik belum tentu dia sebaik penampilannya. Alfan Jarrel Madhava. Persembunyianmu sungguh dalam, " ucap Angel tertawa ringan.
Dia begitu jijik dengan kakak laki-lakinya itu. Penampilan luarnya begitu baik namun sebenarnya ia busuk. Meniduri puluhan wanita berbekal tampangnya.
Makan malam tiba. Semua anggota keluarga hadir di meja makan termasuk Angel. Kakak laki-lakinya Alfan ikut turun. Kedua orang tua mereka masih lengkap. Suasana hening ketika semua orang fokus dengan aktivitas makanannya. Begitu selesai, semua orang lantas berbalik pergi untuk beristirahat maupun bersantai. Tak ada pembicaraan setelahnya. Angel berniat pergi kembali ke kamarnya. Pada saat di tangga, kakaknya Alfan menahan lengannya. Angel menoleh.
"Ada apa kak? " tanya Angel.
"Besok-besok bawa kerumah kenalin abang, " ucap Alfan.
Aku menganggukkan kepala. Berjalan meninggalkan kakak laki-lakiku kembali ke kamar.
"Sungguh melelahkan berpura-pura, " ucap Angel rebahan dikasur mewahnya.
Pukul 23.00 waktu disana, aku merasakan nyeri hebat di perutku. Asam lambungku naik hingga terasa perih. Aku mengambil obat pereda nyeri, setelah meminumnya perutku terasa baikan.
"Aku harus melupakan Azura atau siapapun itu. Fokus menata masa depan, " ucapku bertekad.
Beberapa hari setelahnya hidupku aman dan damai. Berita Azura siswa berprestasi hamil diluar nikah menyebar dengan cepat. Tak ada seiorangpun yang menyangka. Ayah dari bayi yang ia kandung tak jelas membuatnya dikeluarkan dari kampus.
"Hai! " ucap Faza datang bersama Victor.
"Untung Lo gak jadian sama dia. Gue gak bisa bayangin reputasi Lo selama ini hancue gara-gara dia. Lagian cewek kok gak bener, " ucao Victor.
Aku hanya diam. Andaikan saja mereka tahu cerita yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku fokus tesis. Kelulusan tinggal di depan mata. Kalian harus sama-sama berjuang biar kita lulus bareng, " ucapku menasehati mereka.
Nasehatku diterima baik oleh mereka. Beberapa bulan setelah kabar hamilnya Azura, aku jarang melihatnya di apartemen bahkan jendelanya. Aku tahu siapa orang yang menyebarkan berita itu. Kedekatanku dengan Angel kian mencuat dari waktu ke waktu. Kelulusan tinggal beberapa bulan saja. Saat ini aku tengah duduk di taman apartemen. Aku lihat seorang wanita berpakaian tertutup misterius yang aku yakin bahwa itu adalah Azura.