
Aku mendengar teriakan Angel yang keras. Aku berada tak jauh dari lorong kamarnya hingga aku mendengar teriakannya. Aku mengetuk pintu yang tak lama kemudian terbuka. Angel terkejut ketika melihatku datang. Aku dipersilahkan masuk.
"Maaf berantakan, " ucapnya kepadaku.
"Tak apa, " balasku mengerti keadaan.
"Aku tahu maksud kedatanganmu, tapi aku sarankan berhentilah. Kamu gak akan pernah bisa menang melawan kakakku, apalagi ayahku," ucap Angel.
"Lantas apakah aku harus berhenti? Adikku dihamili oleh kakakmu! Bahkan kematian adikku tak ada yang memerdulikannya termasuk ayahmu sendiri! Meskipun Dia adalah ayah tiriku tapi aku tak pernah menganggapnya sebagai ayah! Dia yang menghancurkan kehidupan keluargaku! " ucapku dengan nada marah.
"Aku tahu, semua ini salah keluargaku. Tapi ingatlah. Kamu tak memiliki kekuasaan apapun. Apa gunanya melawan mereka. Aku bisa membantu Elena membuatnya tetap aman selama 10 tahun. Setelahnya kamu harua berusaha sekuat mungkin, " balas Angel.
Seketika amarahku meledak. Aku berdiri. Perasaan campur aduk tiba-tiba aku rasakan.
"Kamu tahu? Adikku ditabrak oleh orang lain yang hingga sekarang tak pernah ada kejelasan! Aku menerima anaknya dan tepat saat itu juga kamu meninggalkanku! Bahkan kamu tutup mata ketika tahu kakakmu sendiri yang memperkosa adikku!! Aku sendirian Angel!! " ucapku dengan amarah.
"Aku harus bagaimana! Apa yang ingin kamu mau dariku?" ucap Angel.
"Kamu gak tahu rasanya hidup sendirian!! Aku tak punya siapapun yang ada untukku. Hanya Elena yang mau menemaniku. Keluargaku? Ibuku yang selalu aku anggap ada ternyata dia yang membuatku kembali terluka. Kedua kakakku hanya memanfaatkanku!! Aku sendirian Angel!! ! "bentakku meluapkan emosiku selama ini.
" Aku salah!! Aku tahu aku salah!! Tapi aku mohon jangan membenciku sama seperti yang lainnya. Cukup mereka yang membenciku, jangan kamu, "balas Angel memelukku dengan erat.
" Aku tak membencimu asalkan kamu memberitahuku siapa yang menabrak Azura pada malam itu, "ucapku padanya.
" Kakakku Alfan yang menabrak Azura, "Jawab Angel.
Seketika aku melepaskan pelukannya. Dia terdorong.
" Bejat!! Kalian keluarga busuk!! "ucapku dengan marah.
" Aku benar-benar baru tahu! Aku tak berniat menyembunyikanmu. Sungguh, "balas Angel.
Aku menatap sengit dirinya. " Aku akan runtuhkan kejayaan keluargamu dengan caraku sendiri. Jika tak mungkin maka aku yang membuatnya mungkin! "ucapku dengan marah meninggalkan Angel.
" Kamu akan menyesal karena menyinggungnya! Kamu tidak akan pernah menang! "teriak Angel.
Aku tak memerdulikannya. Saat ini emosiku benar-benar memuncah. Pikirannku kalut. Perasaan benci hingga balas dendam muncul. Aku memberhentikan taksi. Amplop pemberian dokter Yuli aku lihat sekilas.
" Sudah saatnya Angga Narendra berdiri sendiri melawan semuanya. Apapun aku lakukan demi menegakkan keadilan untuk adikku sendiri dan menbahagiakan Elena, "ucapku bertekad.
Taksi berhenti di sebuah kantor. Aku turun setelah membayarnya. Bertanya pada resepsionis apakah aku bisa bertemu dengan pemimpin yayasan.
"Aku datang atas nama direktur rumah sakit medika indah untuk bertemu dengan pemimpin yayasan, " ucapku yang membuat resepsionis akhirnya luluh. Dia menelepon seseorang sebelum aku dipersilahkan mengikutinya.
Kini aku dipandu oleh seseorang menuju ruangan pemimpin. Pintu dibukakan olehnya. Aku melihat seorang wanita duduk membelakangiku.
"Mengapa kamu kemari menggunakan nama direktur medika indah? " ucapnya membalikkan badan. Aku sedikit terkejut karena beliau memiliki tampang menegaskan.
__ADS_1
Aku memberikan amplop pemberian Ibu Yuli kepadanya. Beliau membaca sekilas kemudian menatapku.
"Perkenalkan. Aku Kusuma Putri Raharja, pemimpin yayasan Intan Permata. Jika Ibu Yuli memberikan surat ini berarti kamu bukan orang sembarangan, "ucapnya memperkenalkan diri.
" Saya Angga Narendra, "jawabku dengan ramah.
" Katakan. Apa yang ingin kamu butuhkan?"tanya ibu Kusuma.
Aku menunjukkan vidio rekaman cctv kepadanya. Raut wajahnya tak menunjukkan kegelisahan ataupun apa.
"Itu benar memang aku. Tak kusangka dimana aku melihat seseorang membuang anaknya untuk pertama kali membuatku dalam masalah," ucap ibu Kusuma menghela nafas.
"Anda tidak terkejut? " tanyaku bingung.
"Terkejut? Tentu saja iya. Namun aku hanya tak menyangka bahwa aku akan terlibat dalam masalah ini. Anak yang kamu cari adalah Akbar. Dia sekarang berumur 8 tahun. Ibu Lia dan guru Lisa merawatnya selama ini. 8 tahun berlalu dengan cepat. Dengan surat dari ibu Yuli akhirnya aku tahu mengapa dia begitu penting bagimu, " jawab Ibu Kusuma.
Aku benar-benar terkejut. Akbar adalah Sapta. Aku mengingat bagaimana dia mengucapkan janji kepada Elena.
"Sapta Padma Adijaya. Nama yang begitu indah," ucap Ibu Yuli.
"Apakah anda ingin menjadi saksi? " tanyaku.
Ibu Kusuma hanya diam tak membalas pertanyaanku.
"Beri aku waktu, " ucap Ibu Kusuma.
"Siapa? " tanya Ibu Kusuma mendengar ketukan dari pintu. Tak lama kemudian seseorang masuk.
"Bagus! Aku suka jawabanmu. Ayahku pasti memberimu hadiah, " ucap Alfan bertepuk tangan.
Ibu Kusuma berdiri dengan amarahnya menghampiri Alfan.
"Jangan berlebihan! " bentak Ibu Kusuma.
"Tenanglah. Aku tak menyakiti anak angkatmu itu. Akbar akan baik-baik saja tergantung bagaimana sikapmu, " balas Alfan melangkah mendekati pintu melambaikan tangannya kemudian keluar dari ruangan. Ibu Kusuma sangat emosi. Dia berteriak histeris.
"Bajingan kalian semua!! Aku yakin kalian akan menerima akibatnya! " teriak Ibu Kusuma.
Alfan meninggalkan ruangan. Ibu Kusuma berteriak meluapkan emosi.
"Kalian benar-benar bajingan! " ucap Ibu Kusuma.
Aku kembali ke rumah sakit. Ketika pintu terbuka, aku tak menemukan keberadaan mereka semua termasuk Elena. Ponsel aku keluarkan mencari nomer Rizki. Beberapa menit aku menunggu, hingga suara Rizki terdengar di ujung.
"Elena bersamamu? " tanyaku kepadanya.
"Elena sama mamah. Katanya mamah ingin berbicara dengannya. Kalau gak salah masalah donor mata, " jawab Rizki.
__ADS_1
Aku terhenyak. Seketika pikiranku kosong. Siapa orang yang bersedia mendonorkan mata untuk Elena.
"Dimana? " tanyaku kembali.
"Mungkin jalan-jalan. Gak usah Lo pikiran. Gak mungkin nyokap Gue nganeh-nganeh, " jawab Rizki kemudian menutup telepon.
Aku hanya diam. Hatiku bergetar hingga pikiranku tak lagi jernih. Elena mendapatkan donor mata. Sedangkan di suatu tempat, Ibu Yuli dengan Elena tengah berjalan-jalan.
"Elena gak takut sama ibuk? " tanya Ibu Yuli.
"Ibu gak jahat. Elena merasakannya, " jawab Elena.
Ibu Yuli berjongkok. Dia berhadapan dengan Elena.
"Elena ikut ibu ya... " ucap Ibu Yuli.
Elena menganggukkan kepala. Ibu Yuli membawa Elena ke cafe. Mereka menunggu hingga sosok perempuan berpenampilan elegan datang.
"Sorry. Sesuai dugaanmu dia datang, " ucapnya menjabat tangan Ibu Yuli.
"Santai. Aku baru aja dateng, " balas Ibu Yuli.
Perempuan tersebut adalah pemimpin yayasan intan permata. Ibu Kusuma Putri Raharja.
"Elena, gimana kabarmu? " tanya Ibu Kusuma.
"Baik-baik aja! " jawab Elena antusias.
Ibu Kusuma menoleh melihat temannya. Dia menganggukkan kepalanya.
"Elena main sama anak tante ya? Pasti Elena kenal orangnya, " ucap Ibu Kusuma.
Tak lama kemudian seorang anak laki-laki datang dengan antusias. Dia menepuk pundak Elena.
"Akbar! " ucap Elena terkejut.
"Ini aku! " balas Akbar tak kalah antusias.
Elena beranjak berdiri. Tinggi kedua anak tersebut hanyalah terpaut beberapa centi.
"Jaga Elena baik-baik. Kamu anak cowok, " ucap Ibu Kusuma.
"Siap! " balas Akbar mengajak Elena pergi. Kepergian mereka berdua disambut dengan suasana serius dan hening.
"Dia datang? Anaknya atau dia sendiri? " tanya Ibu Yuli.
"Anaknya yang datang mengancamku. Sesuai rencanaku, Akbar akan mendonorkan mata untuk Elena. Hanya ini satu-satunya pilihan terbaik bagi dirinya, " balas Ibu Kusuma.
__ADS_1