Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Terselamatkan dan Tahu Tuan Pemilik Bidak


__ADS_3

"Persetan dengan namamu! Cepat lepaskan kami! " ucap Victor marah menatang nyalang Agung.


"Ouhh... Kau ingin menyelamatkan sahabatmu itu? Sayangnya aku tak bisa membiarkanmu pergi! " balas Agung mencengkeram rahang Victor hingga membuat aliran darahnya terganggu.


"Seorang budak patuh layaknya anjing adalah cerminan dirimu, "ucap Victor meludahi wajah Agung setelah gumpalan kain berhasil di lepaskan. Agung hanya diam memejamkan mata membersihkan ludah Victor dari wajahnya mengusapnya menggunakan sapu tangan.


" Benar-benar tangguh! Baru saja aku mendapatkan kabar dari Tuan Muda bahwa salah satu diantara kalian harus memilih untuk bebas atau mati. Hanya satu orang yang hidup,"ucap Agung.


Victor menoleh ke arah Faza yang benar-benae rapuh dan ringkih. Wajahnya pusat pasi.


"Biarkan dia bebas! " ucap Victor. Agung menoleh dengan terkejutnya.


"Baik! Karena Tuan ini sedang baik hati maka dia akan dibebaskan saat ini juga, " balas Agung mengambil pisau memotong tali yang mengikat Faza seluruhnya hingga tubuhnya jatuh ke lantai.


"Arkhhhh!!! " teriak Agung dengan lantang ketika sebuah cutter menusuk kakinya. Dia melihat ke bawah ketika Faza berhasil menancapkannya. Victor membenturkan kepalanya dengan tubuh Agung membuatnya terhuyung. Faza merebut pisau dan membebaskan Victor. Mereka berlari disertai sumpaj dan cacian Agung yang mengejar dengan berdarah-darah.


Agung berteriak layaknya anjing kesetanan. Mulutnya menyumpahi bahwa mereka berdua akan mati jatuh dari langit. Langkah kaki terdengar cepat dan keras. Puluhan bahkan ratusan anak tangga tak mereka hiraukan. Victor berseru kepada Faza untuk lari terlebih dahulu.


"Bodoh! Kau bukan Tuhan yang turun ke bumi! " bentak Faza menarik Victor pergi. Kepalanya terasa pusing dengan pemandangan kabur. Suara gemuruh di lantai mulai mendekat. Jantung seakan berhanti berdetak.


"Sialan! Sungguh terkutuk Alfan! " ucap Victor ketika melihat gerombolan orang datang mengepung. Keadaan sunyi. Saling menunggu hingga sosok Agung datang dengan kaki berdarahnya.


"Bunuh! " perintah Agung


Faza seketika terperanjat. Tenaganya seakan terisi dengan langsung memukul wajah musuhnya. Victor tercengang. Dia tak menyangka Faza mampu bertarung. Dia mulai berpikir bahwa Alfan baru saja mendapat berkah Tuhan. Dia mulai ikut bertarung bersama Faza membuat jalan. Mereka hanya dihadapkan pada dua pilihan. Satu orang mati atau semuanya mati. Agung dengan angkuhnya menyaksikan pertarungan tersebut.


"Gue bunuh gak akan timbul masalah kan? " tanya Faza disela-sela pertarungan.


"Masa bodo dengan masalah. Lebih baik hidup tapi dipenjara daripada mati! Aku belum nikah! Tolong pengertiannya! " balas Victor.

__ADS_1


Pisau muncul di tangan Faza dengan cepat ia melesat menusuk tubuh lawan dengan kecepatan tinggi.


"Anjing gila!! " teriak Agung dengan lantang. Pistol ia keluarkan bersiap menembak Faza. Dengan cepat pisau terlembar dari tangannya menusuk lengan berbarengan dengan suara tembakan terdengar.


"Dorrr!!! "


"Arkhhhhh!! "


Hanya terdengar suara tembakan disusul dengan teriakan kesakitan Agung. Tepat pada saat dia menembak, Victor menarik musuhnya menggunakannya sebagai tameng. Darah bercucuran di lantai. Mereka berdua berhasil lolos dalam pengejaran.


"Apa yang kalian lihat! Cepat kejar! " perintah Agung.


Bawahan yang tersisa mengejar mereka berdua secepat mungkin. Agung mengerang kesakitan.


"Anjing gila yang liar! Meskipun aku mati hari ini lebih baik daripada menghadapi mereka! Tapi aku tak boleh mati! " ucap Agung merobek pakaiannya membungkus luka yang ada pada tubuhnya.


"Berhenti!! "


Victor maupun Faza mengabaikan perintah tersebut dan terus berlari.


"Kita harus ke bandara!" ucap Victor.


Mereka terua berlari hingga Faza menemukan kesalahan. Tak mungkin bagi mereka berlari hingga ke bandara. Tiba-tiba mobil mencegat di depan. Hendak berbalik namun tidak sempat akan tetapi mobil tersebut membuka pintu mobil menandakan sesuatu. Mereka berdua buru-buru melompat ketika dekat masuk ke dalam mobil menutup pintu kemudian melesat pergi. Dari spion mobil terlihat lawan tengah menatap tajam sembari mengutuk.


Helaan nafas terdengar jelas. Nyawa mereka terselamatkan. Baru saja menyadari bahwa sopir bukanlah orang biasa.


"Tenang saja. Aku adalah orang dari nona Angel. Kalian harusnya bangga, nona Angel mengerahkan hampir seperempat bawahannya demi mengantar kalian berdua ke bandara, " ucap sopir tersebut seperti sosok mulia menenangkan umat.


"Angel? " ucap Victor.

__ADS_1


Faza menghirup nafas dalam-dalam dirinya ingat betul bahwa Angel diam-dim telah mengirimkan email dengan lima akun berbeda di setiap pesannya.


"Suasana kacau. Angga kemungkinan akan menimpa nasib buruk dalam hidupnya. Kali ini hanya kita yang kemungkinan bisa membantunya, " ucap Faza berkomentar sedikit membaca situasi.


"Apakah kalian tahu siapa nona Angel dan Tuan Alfan? " tanya sopir memburamkan kenyataan bahw mereka berdua adalah teman dari nonanya.


"Aku tahu. Hanya saja mengapa Alfan menargetkan Angga bahkan memojokkan sampai ke titik ini, " jawab Faza.


Sopir dengan santainya membawa mobil menuju bandara mendiamkan balasan dari Faza.


"Perseteruan nona dan tuan layaknya perebutan takhta. Tiada akhir kecuali pemenang dan pecundang telah ditentukan. Sosok besar menunggu lawan tangguhnya muncul. Nona mengerahkan bawahannya sebanyak ini mungkin akan membuat suasana menjadi panas" ucap sopir memberikan pernyataan dan penekanan jelas kepada mereka berdua bahwa Angel benar-benar menunjukkan murah hatinya.


"Siapa Tuan dari bidak ini semua? " tanya Victor.


"Harusnya kalian tahu siapa itu. Tapi beliau Tuan dari segala bidak di bawahnya. Lawanya belum muncul mengapa beliau harus turun gunung? " tanya sopir membuat mereka berpikir keras. Siapa lawan setara dengan keluarga Setya Prambudi bahkan dirinya sendiri menganggapnya sebagai saingan terberatnya.


Merek berdua mulia bertanya-tanya siapa sosok Angga sebenarnya. Mengapa dia menjadi tokoh utama dalam permainan dan mengapa masalah semakin rumit. Bukankah ini semua hanyalah permasalahan aib dari keluarga Prambudi dari. Tidak mungkin bagi sosok mulia dengan segala reputasi agungnya begitu repot mengurus skandal perselingkuhannya dengan mendengarkan bahkan ketakutan dengan sosok Angga.


Semua orang tidak akan mempercayainya Keluarga Prambudi adalah gunung sedangkan Angga hanyalah semut bermimpi tinggu memanjat gunung. Seketika pikiran menakutkan terlintas dibenak mereka. Semuanya telah direncanakan dengan baik. Sosok mulia pemimpin keluarga agung Setya Prambudi.


Tengah bertarung dengan lawannya menggunakan Angga sebagai pion emasnya. Tapi mengapa dia memerintahkan eksekutor anaknya sendiri mempersulit Angga bahkan mendorong putrinya sendiri ikut dalam permainan. Hal gila macam apa yang dia pikirkan. Lawan tangguh seperti apa yang membuat sosok Setya Prambudi begitu mengantisipasinya.


"Siapa kau? " tanya Faza tenang layaknya desiran angin lembut terdengar manis ditelinga orang. Sang sopir pun tersenyum menanggapi.


"Aku bukan milik nona ataupun tuan. Aku hanya orang lewat dan tertarik akan permainan ini, " jawab sopir membuat asumsi keduanya akhirnya menjadi jelas.


"Siapa lawannya! Sejak kapak terencana begitu indah. Angga adalah sahabat kami! " ucap Victor dengan marah.


"Tidak usah bertindak begitu implusif. Jika ingin tahu maka kalian harus semakin dalam dan dalam. Pemenang dari permaianan ini bergantung pada apakah dia sadar identitasnya atau tidak, " balas sang sopir membuat kata-kata yang ingin diucapkan Victor tertepan kembali. Faza diam dan yakin bahwa Setya Prambudi memegang rahasia kehidupan sentral lawannya.

__ADS_1


__ADS_2