Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Tak Mudah Mengalahkan Kami


__ADS_3

Pintu terbuka, Ibu Yuli membawa Elena kembali ke rumah. Aku menyambutnya dan seketika Elena berlari ke dalam pelukanku.


"Operasi donor mata akan dilakukan pada hari senin dan aku sendiri yang akan memimpin jalannya operasi, " ucap Ibu Yuli.


"Aku benar-benar berterima kasih kepada Anda. Aku akan mendampinginya, " balasku kepada Ibu Yuli. Beliau tersenyum kemudian berpamitan untuk kembali.


"Gimana? Seru bermain sama tante Yuli? " tanyaku kepada Elena yang dibalas anggukan antusias dari Elena.


"Elena bertemu sama Akbar. Kita bicara bersama, namun dia sedikit aneh ketika mengatakan sesuatu, " ucap Elena membuatku mengrenyitkan dahi bingung.


"Bicara bagaimana? " tanyaku kepadanya.


"Dia berkata, 'Jika kamu bisa melihat dan aku tidak. Apakah kamu akan meninggalkanku?' Itulah kalimat yang Elena dengar, " jawab Elena mengucapkan kalimat persis seperti yang dia dengar dari mulut Akbar.


Seketika perasaanku tak enak. Pikiranku melayang mengenai ucapan Akbar. Aku teringat akan Ibu Kusuma.


"Akbar adalah Sapta, " ucap Ibu Yuli


Aku membawa Elena ke kamar dan kebetulan art baru yang khusus membantu Elena datang. Aku memberikan kepadanya karena Rizki telah benar-benar mengecek latar belakang art tersebut.


"Siapa yang memberitahu Embun? Pantas saja dia menodong pertanyaan itu kepadaku, " ucapku bermonolog.


Suara gemuruh tiba-tiba terdengar yang tak lama kemudian hujan deras nan lebat. Renungan malam ini adalah apakah aku egois atau tidak dengan kesempatan kali ini.


"Hidupku sesepi ini, apakah aku boleh egois satu kali ini saja? Aku menginginkan kebahagiaan bersama dengan Elena, " ucapku pasrah akan keadaan bimbang ini. Suara hujan di tengah malam disertai dengan gemuruh membuat perasaanku kalut. Pikiranku melayang akan ucapan Akbar kepada Elena. Hari ini aku tak bisa menemukannya.


Aku meng scroll sosial media dan tanpa sengaja postingan mengenai gelaran pameran seni akan diadakan besok membutku senang. Sudah lama aku tak menikmati keindahan karya seni.


"Galeri seni Paramita? Sepertinya menarik melihat rating yang bagus, " ucapku menganggumi dekorasi indah dan tata ruangan elegan.


Pagi hari pada hari jam kerja, Embun menerima sebuah surat dari sekertarisnya. Dia mengrenyitkan dahi bingung. Tertera kop surat di luar amplop bertuliskan Adijaya Group. Embun benar-benar bingung. Ia tahu kop ini merupakan asli dari stempel khas perusahaan orang tuanya. Embun mengeluarkan surat dari amplop kemudian membacanya dengan seksama.


"Brengsek!! " ucap Embun dengan marah melemparkan surat yang dia terima.


Isi dari surat yang dia terima benar-benar membuatnya marah. Adijaya Group menginginkan akuisisi perusahaan Martyapada meleburnya menjadi satu yakni milik Adijaya Group dengan Hirawan sebagai pimpinan tertingginya. Sekertaris Thalia masuk ke dalam ruangan setelah mendengar keributan. Dia terkejut melihat keadaan Embun.


"Nona! " ucap sekertaris Thalia.


"Siapa yang melakukannya! Akuisisi Martypada aku tidak menyetujuinya, " ucap marah Embun.

__ADS_1


Sekertaris Thalia benar-benar tidak enak.


"Direktur Utama beserta pemegang saham lainnya setuju pengakuisisian ini, utusan dari Adijaya Group telah datang menunggu anda di ruangan, " ucap sekertaris Thalia.


Embun seketika diam. Dia menatap sekertaris Thalia dengan tajam.


"Siapa yang tidak menyetujui pengakuisisian ini? Aku lihat poling dari para direktur hingga manager ikut serta, " tanya Embun.


"Hanya manager keuangan yang tidak menyetujuinya. Dia sekarang tengah berada di bawah tekanan direktur keuangan, " jawab sekertaris Thalia.


Embun terhenyak. Mimik wajahnya benar-benar mengungkapkan perasaannya.


"Aku akan kesana, " ucap Embun memimpin jalan.


Sedangkan di ruangan lain. Seluruh petinggi perusahan hadir bahkan para manager ikut serta. Pintu terbuka dengan Embun masuk ke dalam ruangan membuat atensi tertuju padanya. Semua orang berdiri menyambutnya. Utusan dari perusahaan Adijaya Group meminum kopi dengan santainya.


"Rasanya enak? " tanya Embun.


"Tentu saja, " balasnya dengan senyuman ramah.


Embun berbalik berdiri menatap semua orang yang hadir.


Semua orang angkat tangan keculi Angga.


"Aku tidak menyetujui akuisisi ini! " ucap Embun dengan marah.


"Anda berbicara tidak ada gunanya. Mengandalkan seorang manager keuangan? Sungguh ironi sekali. Jika Anda bersedia maka Tuan bisa mengizinkanmu pulang"


Embun hanya diam. Emosinya benar-benar akan meledak hebat.


"Apa syarat yang membuat Anda mundur? " tanyaku.


"Ohhh.. Ternyata kau bukan sembarang manager. Kau menginginkan syarat? Maka aku akan memberikannya. Perusahan Martyapada harus berdiri sendiri dengan 50% mitra kerja harus memisahkan diri maka aku akan kembali"


"BRAKKK!!! "


Suara gebrakan meja terdengae keras. Embun benar-benar marah. Dia menunjuk wajah utusan perusahaan orang tuanya itu dan memakinya karena keterlaluan.


"Aku setuju, " ucapku yang membuat terkejut Embun hingga meneriaki namaku.

__ADS_1


"Aku suka keberanianmu. Waktumu hanya 3 bulan menstabilkan keuangan perusahaan. Aku tidak akan ikut campur"


"Tidak perlu mencari pengganti mitra selama itu, orangnya sudah datang, " ucapku membuat utusan tersebut mengrenyitkan dahinya.


Sekertaris Thalia membuka pintu disusul dengan tiga orang masuk ke dalam.


"Dia? " ucap seseorang bingung.


"Perkenalkan. Saya Excel Immanuel sebagai pemimpin perusahaan Suralaya beserta dengan istri saya Arumi Bestari, " ucapnya sembari tersenyum ramah.


"Saya Julia Adriella sebagai pimpinan perusahaan Wiguna Abadi datang untuk menawarkan kontrak kerja dengan perusahaan Martyapada atas nama bapak Angga Narendra"


Utusan dari perusahaan Adijaya Group menatap mereka dengan seksama sesat sebelum beranjak berdiri.


"Kau menang. Aku mengaggumi kecermatan dan ketepatanmu. Aku menunggu aksimu selanjutnya, " Ucap utusan tersebut pergi meninggalkan ruangan.


Aku diam menunggu Embun berbicara.


"Pengajuan kontrak mitra kerja dua perusahaan dapat dilakukan oleh sekertaris Thalia dan Embun sebagai CEO akan mengurusi hal-hal lainnya, " ucapku beranjak berdiri.


Sekilas aku melihat saudaraku yang menatapku dengan senang. Aku terpaksa melakukan ini semua.


"Mohon Anda mengevaluasi setelah masalah ini selesai, " ucapku kepada Embun kemudian membungkuk hormat kepada semua orang sebelum pergi ke luar ruangan.


Aku berjalan di lorong memencet tombol lift menunggu pintu lift terbuka. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuk dan aku masuk ke dalamnya. Saat ingin memencet tombol lantai dasar, seseorang datang menghentikannya. Dia masuk ke dalam lift dan memencet tombol lantai dasar.


"Kau harus bisa memainkan peranmu sendiri, " ucap orang tersebut yang tak lain adalah utusan perusahaan Adijaya Group.


Aku melihat sekilas name tag dari utusan Adijaya Group.


"Tuan Arsenio Bagas? Anda sepertinya mengawasi gerak-gerikku hingga bersedia menungguku, " ucapku dengan santai.


Dia tertawa mendengar ucapanku. Tak seperti di ruang rapat sebelumnya. Ekspresinya saat ini terlihat benar-benar santai.


"Tuan Besar Hirawan Adijaya mengutus Anda kemari karena aku atau nona Embun? "ucapku bertanya.


"Itu bukan urusanku. Lambat laun kau akan bertemu dengan Tuan Besar. Ingatlah! Jika nona benar-benar mewarisi seluruh kekayaan Adijaya Group, maka kau tidak sebanding dengannya, " ucap Arsenio Bagas.


Aku mendekat berbicara di telinganya. "Aku takut nonaku hanya dimanfaatkan olehnya. Aku tahu beliau mengincar sesuatu dari anaknya. Aku menunggu menantu dari Tuan Besar Hirawan Adijaya menemuiku, " ucapku dengan pelan serta nada yang tenang.

__ADS_1


__ADS_2