
"Benar Tuanku. Dukungan afiliasi yang diprakarsai olehnya sendiri. Namun pada saat dia berada di galeri seni Paramita, dia di tangkap ataa tuduhan itu. Seluruh dewan perusahaan benar-benar tetap patuh karena Angga meminjam tangan orang lain mengendalikan dan menyokong Martyapada dari luar. Adapun kejanggalan yang bawahan curigai adalah keterlibatan mendalam keluarga itu ketika Angga berada di Belanda, jika Alfan menuduhkan tuduhan penculikan anak maka seharusnya terjadi sesuatu, " ucao Arsenio Bagas menjabarkan dalam gambaran umum dan tidaj memerincinya karena dia yakin Tuannya bukan orang bodoh.
Hirawan Adijaya diam. Pikirannya memilah dan mengklasifikasi mengerucutkan gambaran umum dari penjelasan bawahannya.
"Galeri seni Paramita? Angga? Dan tuduhan penculikan Alfan. Siapa yang ditargetkan keluarga mulia itu, " gumam Hirawan Adijaya pada dirinya sendiri. Dia tahu maksud kalimat akhir dari Arsenio Bagas. Alfan tidak akan bertindak bodoh meskipun dia cabul. Dia mengumumkan tuduhan penculikan anak kepada orang lain berarti mendeklarasikan bahwa dia telah berhubungan. Tapi tidak ada kabar bahwa pernikahan telah terjadi, jika benar anaknya adalah haram maka sama saja menampar wajahnya sendiri bahkan ayahnya. Alfan tidak akan bodoh dengan hal itu.
Kilatan cahaya terlintas di matanya. Sedetik kemudian dia menyadari sesuatu. Kajadian penangkapan Angga adalah yang direncanakan dengan teliti.
"Tuan menemukan sesuatu? " tanya Arsenio Bagas.
"Aku tahu. Keluarga mulia Prambudi tengah memperingatkan seseorang, " jawab Hirawan Adijaya yang langsung dimengerti Arsenio Bagas.
"Tapi Tuan. Galeri seni Paramita adalah milik nyonya Diana Selvia. Meskipun bertindak sebagai direktur sekaligus kurator, fakta bahwa beliau pemilik tidak bisa disangkal. Jika keluarga mulia memerintahkan putra kebanggannya mengultimatum galeri seni Paramita, bukankah nyonya Diana menyinggung keluarga mulia itu?"ucap Arsenio Bagas. Ucapannya tidak bisa dibantah dalam segi apapun karena ucapannya adalah pernyataan, bukan pertanyaan. Hirawan Adijaya mengerti maksud dari bawahannya akan tetapi pikirannya terlintas hal mengerikan.
"Nyonya Diana bukanlah orang biasa. Keluarganya memiliki pendalaman dan pengabdian penuh terhadap karya seni bahkan seni barang kuno antik. Pemahaman mereka mengenai nilai historis suatau karya tiada bandingannya. Namun bukan itu yang aku maksud, tapi suaminya. Dia adalah monster yang mengerikan sama seperti Setya Prambudi, "ucap Hirawan Adijaya.Titahnya dapat mempengaruhi suatu negara hanya dengan ucapannya. Itu adalah nilai mutlak keluarga aristokrat
"Maksud anda keluarga Prambudi menggunakan Angga untuk memperingatkan dengan nyonya Diana disana? " tanta Arsenio Bagas diangguki oleh Hirawan Adijaya dengan kepercayaan diri.
Seseorang membuka pintu datang membawa amplop coklat memberikannya langsung kepada Hirawan Adijaya. Orang tersebut kemudian pergi. Dengan rasa penasaran ia membukanya dan sebuah surat berisi pernyataan mengejutkan. Gebrakan meja tiba-tiba terdengar keras bahkan mampu membuat Arsenio Bagas tersentak karena terkejut.
Gemuruh bahkan awan gelap layaknya datang menghancurkan ketenangan Hirawan Adijaya. Arsenio Bagas bahkan beranjak berdiri karena ia melihat wajah Tuannya dirundung amarah besar.
"Tutup seluruh cabang Intan Permata! Pergi dan katakan padanya bahkan aku tidak terima! Bunuh dia!!! " bentak Hirawan Adijaya meluapkan amarahnya. Dia tidak peduli apakah benar dan tidak atau darimana informasi tersebut namun pikirannya telah dibutakan oleh amarah.
Arsenio Bagas langsung melaksanakan perintah Tuannya tanpa pembicaraan. Dia telah tahu maksud Tuannya untuk memaksa pimpinan yayasan Intan Permata untuk berbicara atau dia akan mati.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak. Cucunya akan menjadi buta. Hirawan Adijaya tidak akan membiarkan itu terjadi. Dirinya tidak peduli apakah cucunya adalah haram atau tidak. Sepintas pikirannya menuju pada tuduhan penculikan yang dilayangkan oleh Alfan. Mengkonfirmasi hal itu, Hirawan Adijaya menarik kesimpulan bahwa dia benar-benar terjebak dan ikut dalam permainan ini dan tidak peduli resiko apapun. Dia tidak akan membiarkan cucunya menjadi buta.
Rumah sakit dimana operasi dilaksanakan terjadi sesuatu yang mendebarkan. Seluruh orang disebar menjaga kawasan dan menetralkan rumah sakit tersebut. Langkah kaki Arsenio Bagas berjalan sangat cepat. Pintu lift terbuka. Saat ingin tertutup, seseorang mencegahnya. Dia masuk ke dalam. Dua orang pria dengan umur tak beda jauh berdiri dengan seimbang.
"Berita memang tersebar dengan cepat, " ucap pria disamping Arsenio Bagas. Dirinya menoleh ketika mendengar ucapan tersebut. Tak mengerti apa yang dimaksud, Arsenio Bagas lantas bertanya.
"Aku tak mengerti apa yang Anda bicarakan. Aku merasa kita baru pertama kali bertemu, " ucap Arsenio Bagas.
"Tentu saja. Perkenalkan. Namaku Agung Pratyaksa, " ucapnya memperkenalkan diri. Perasaan terkejut melanda hati Arsenio Bagas. Dirinya kemudian tahu apa tujuannya kemari. Alfan telah memerintahkannya.
"Tujuan kita sama. Apakah anda ingin bersatu tangan? " tanya Arsenio Bagas.
Agung menganggukkan kepalanya. Dia benar-benar kagum akan pemikiran taktis Tuannya. Bawahan kompeten langsung Hirawan Adijaya benar-benar datang.
Pintu lift terbuka. Mereka berjalan beriringan menuju suati ruangan. Langkah mereka terhenti ketika melihat sosok perempuan berpakain hitam duduk menyilangkan kakinya. Dia menoleh. Tatapannya tajam. Arsenio Bagas tahu siapa itu. Mereka melanjutkan berjalan hingga jarak dengan wanita tersebut tak jauh. Dia beranjak berdiri berhadapan menatap mata Arsenio Bagas.
"Kalian tidak diterima disini, silahkan pergi, " ucap Angel tersenyum membuat gerakan tangan.
Agung maju satu langkah. Dia tidak diterima dipermalukan oleh seorang wanita. Tepat di samping Angel, Agung melontarkan tatapan tajam berniat membuka pintu. Tangannya terulur kemudian dengan kecepatan tinggi tangannya diblokir.
"Jangan membuatku marah. Aku tak kenal dirimu, " ucap Agung menoleh menatap tajam ke arah Angel.
Angel tak bergeming. Dia berdiri dengan kemuliaan luar biasa.
"Jika kau mengenal kakakku, mengapa tidak denganku? " tanya Angel.
__ADS_1
Agung menarik lengannya dari pintu ketika dia mendengar ucapan Angel.
"Dia adalah anakku, mengapa aku tak berhak! " ucap Agung marah.
"Anak? " Suara wanita bertanya. Langkah kaki terdengar disepanjang lorong. Arsenio Bagas maupun Agung berbalik melihat siapa orang tersebut.
Sosok Ibu Kusuma berdiri menyilangkan kedua tangannya menatap lekat Arsenio Bagas.
"Aku lihat kaulah yang membuang anakmu sendiri, jika aku tak melihatnya bukankah anakmu tak akan hidup hingga hari ini? " tanya Ibu Kusuma.
Sekali lagi pandangan rumit terlintas dimata Arsenio Bagas. Dia seharusnya tidak berada di rumah sakit, dia diperintahkan menemui pimpinan yayasan Intan Permata. Takdir begitu adil, dia melihat Kusuma Putri Raharja datang kemari.
"Tidak sekalipun aku mengundangmu, kau seperti utusan Tuhan berlagak sok didepanku, " ucap Agung.
Ibu Kusuma mendengus berjalab mendekati mereka semua. Dia berhadapan dan bertatapan langsung dengan Agung.
"Anakmu tidak akan mati. Dia hanya buta, " ucap Ibu Kusuma dengan tenang. Kalimat tersebut memantik emosi dari Agung.
"Kau! " bentak Agung menunjuk wajah Ibu Kusuma. Arsenio Bagas bertindak menyerang namun dengan cepat ditangkis oleh Angel.
"Katakan padanya bahwa Ibu Kusuma Putri Raharja berada di bawah naunganku! Jika aku berani menentang kakakku sendiri mengapa aku tidak berani dengannya, " ucap Angel.
"Nyawanya berads ditanganku! " balas Arsenio Bagas.
Pertarungan kecil terjadi. Tangan Angel meliuk mengunci dengan kaki mendang bagian vital. Arseno Bagas sangat teliti memperhatikannya. Pertarungan terjadi bahkan tak mengindahkan dua orang tersebut saling menatap nyalang satu sama lain. Kedatangan Agung ke rumah sakit tidak seperti yang direncanakan. Dia berinisiatif datang membawa surat hasil tes DNA sehingga menghentikan jalannya operasi. Dengan keadaan ditangannya, dia berniat membawa masalah ke publik menyeret rumah sakit dan membawa masalah lain bagi Angga. Jalannya kasus persidangan pertama akan membuahkan hasil memuaskan. Datangnya Ibu Kusuma tak bisa diprediksi sehingga perkataannya membuat Agung tahu siapa pemegang situasi kali ini.
__ADS_1