
"Dia anakkku!! Aku berhak menghentikannya! Kau hanya perawan tua! " ucap Agung.
"PLAKKK!! "
Tamparan keras dilayangkan oleh ibu Kusuma ke wajah Agung. Nyaris berubah warna kulit akibat tamparan keras yang diterima olehnya.
"Pelacur tua!!! " teriak Agung.
"Apa!!!! " Balas Ibu Kusuma tak kalah sengit. Dua orang menatap tajam satu sama lain mengungkapkan kebencian luar biasa.
"Dia anakku!! Aku berhak dan kau tidak! " bentak Agung.
"Anakmu? Kau pikir Sapta sudi memiliki ayah sepertimu? " ucap Embun datang. Kedatangannya benar-benar mengejutkan semua orang. Agung terpaku ketika mendengar suara yang ia kenal. Malam panas ia lalui bersamanya hingga janji manis di bawah bulan purnama terucapkan dengan begitu indah.Embun berjalan mendekati Agung menampar untuk kesekian kalinya.
"Aku berharap kaulah yang mati! Aku yang menyetujuinya! Kau tidak terima lawan aku! " ucap Embun sengit. Tak ada rasa takut dalam dirinya. Semua membuatnya hampir gila dalam satu waktu. Tatapan Embun beralih pada Arsenio Bagas yang masih dalam kuncian Angel. Ia berjalan mendekatinya mendekatkan wajah hingga tersisa beberapa jarak dari wajah Arsenio Bagas.
"Ayah menyuruhmu kemari? Tidak terima cucunya buta? Pulang! Katakan padanya untuk menemuiku tepat setelah persidangan selesai, " ucap Embun dengan dingin. Kilatan tatapan menbunuh terlintas dimatanya. Arsenio Bagas terhenyak akan tatapan yang dia terima saat itu. Tatapan dendam kesumat benar-benar dilayangkan oleh Embun.
Angel mengendurkan kunciannya memberikan ruang gerak untuk Arsenio Bagas. Dia berdiri dengan tegap di hadapan Embun.
"Aku tak akan pernah pergi kecuali aku mati, " ucap Arsenio Bagas.
"Doorrr!! "
Embun mengeluarkan pistol dan langsung menembak Arsenio Bagas tepat diantara kedua alisnya. Suasana hening seketika. Arsenio Bagas tersungkur. Embun berbalik ke arah Agung. Ketakutan melanda hati Agung ketika Embun benar-benar melakukan hal gila.
"Kau ingin menggunakan Sapta mengancam Angga? Jangan kira aku bodoh! Pergi sana sebelum kau mati ditanganku! " ucap Embun.
Agung mengabaikan rasa takutnya menghampiri Embun. Ciuman mendarat dibibirnya dengan kasar. Embun menodongkan pistol ke dada Agung menyuruhnya untuk mundur.
"Ingin menggunakan Angga sebagai alat Tuanmu? Langkahi dulu mayatku! " ucap Embun dengan marah menyiratkan nada jijik ketika Agung menciumnya.
"Kau akan hancur!!! " teriak Agung pergi dengan amarah dan kekecewaan mendalam.
Ibu Kusuma berbalik menatap Embun dengan kejutan luar biasa.
"Kamu? " ucap Ibu Kusuma.
__ADS_1
Embun menyimpan kembali pistolnya tersenyum membalas pertanyaan ibu Kusuma. Embun memeluk Ibu Kusuma dengan erat. Perasaan lega hingga khawatir terlihat dari deru nafas Embun. Elusan pelan dari tangan Ibu Kusuma menenangkannya.
"Kamu tahu? Maafkan aku, " ucap Ibu Kusuma.
Embun melepas pelukannya menatap Ibu Kusuma dengan penuh arti. Dia mengusap air mata yang menetes.
"Aku tahu karenanya. Aku tahu keputusan Anda adalah yang terbaik, " ucap Embun.
Angel mendekat menepuk pundak Embun.
"Kamu punya rencana? Dia bawahan kompeten ayahmu yang aku tahu dari penyelidikanku? " tanya Angel.
"Aku menantang melawannya langsung hari ini. Seharusnya dia tak berada dimari. Keberuntunganku dapat membunuhnya. Kasus Angga mungkin sedikit ringan, " balas Embun.
"Aku membawa dua sahabat Angga dari Belanda sebagai saksi kunci penerimaan Elena kepada Angga. Pengacara yang aku sewa telah aku perintahkan menuntut balik Alfan atas tuduhan penelantaraan anak. Tes DNA seharusnya cukup kuat menjeratnya. Masalahmu lebih besar. Perusahaan yang kau pimpin dalam aliansi dua perusahaan keluarga Angga. Harusnya kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya, " ucap Angel.
Ibu Kusuma berdiri diantara mereka memagang masing-masing pundak keduanya.
"Tidak apa. Aku akan membantu. Satu tujuan dengan berbagai cara adalah yang terbaik, " ucap Ibu Kusuma.
"Jika aku dijadikan pion, lebih baik aku memainkan pion lainnya. Agung harus tinggal di dalam jeruji besi! " ucap Embun bertekad. Matanya memancarkan keseriusan tekad kuat.
Embun menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Perusahan dan reputasimu taruhannya, " ucap Ibu Kusuma.
"Aku telah memikirkannya. Kasus Angga akan selesai dan penyerahan posisi CEO akan aku laksanakan. Rekam jejak Angga akan segera bersih sedangkan aku akan bergulat dalam lumpur. Menjerat Agung tidak akan mudah mengandalkan CCTV. Aku ingin diriku dan ayahku hancur dalam satu waktu, " ucap Embun.
Ibu Kusuma terhenyak. Dia benar-benar tak menyangka dendam kesumat antara ayah dan anak begitu dalam. Menyeret diri sendiri kedalam lubang membawa orang lain untuk jatuh adalah pengorbanan balas dendam adalah hal gila.
"Aku akan membantu. Perusahaan Martyapada akan dalam pengawasanku. Pengokohan Angga akan berlangsung aman dan lancar. Perusahaan anggota keluarga Angga tidak akan berani macam-macam, " ucap Angel.
Embun dan Angel saling berjabat tangan tanda saling setuju. Embun berbalik menatap Ibu Kusuma.
"Selanjutnya saya mengandalkan Anda, " ucap Embun.
Pintu terbuka. Ibu Yuli keluar menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Semuanya berhasil. Kalian bisa masuk, " ucap Ibu Yuli.
Semua saling berpandangan bahagia satu sama lain. Mereka masuk ke dalam. Dua orang anak terbaring berdampingan. Embun berjalan melihat dari dekat wajah anaknya. Beberapa menit ia memandang Akbar sebelum pandangannya teralihkan kepada Elena. Ibu Kusuma berada di samping Embun.
"15 menit lagi dia akan sadar, kalian ingin menunggu? " tanya Ibu Yuli.
Ibu Kusuma menatap Embun yang terdiam dalam keheningan.
"Sapta aku titip. Jangan beritahu aku ibu kandungnya. Aku mohon hal itu sepenuh hatiku," ucap Embun.
"Aku... Baik aku menghargai keputusanmu, " balas Ibu Kusuma.
Suana benar-benar hening. Angel berada di samping ranjang Elena. Dia mengingat dimana keputusannya meninggalkan Angga. Angel berbalik menatap semua orang.
"Elena akan aman dalam naunganku. Jika Angga bertanya siapa jawablah apapun itu selain namaku, " ucap Angel membungkukkan badannya sebelum pergi dari ruangan.
"Aku pamit, " ucap Embun pergi.
Helaan nafas terdengar dari kedua wanita tersebut.
Ruangan persidangan berlangsung sengit hingga keputusan hakim memihak kepada Angga atas saksi dan bukti-bukti kuat dari Faza dan Victor.
Angga berhasil pulang dengan Rizki, Victor dan Faza.
"Lo gimana? " tanya Rizki.
"Baik, " jawabku dengan yakin karena tak ada keluhan apapun memang.
"Nyokap Gue baru aja ngabarin kalau operasi berjalan lancar. Lo mau ke sana? " tanya Rizki.
Aku diam untuk beberapa saat. Memutuskan pergi atau tidak adalah keputusan Mudah namun tidak dengan sekarang.
"Aku mau pulang. Aku yakin semuanya berjalan dengan baik, " jawabku kepada Rizki.
Rizki menganggukkan kepalanya. Mobil melaju menuju rumahnya. Beberapa saat kemudian mobil berhenti ketika sampai.
"Kalian berdua nginep disini karena gua yakin si hombreng itu bakalan berulah, " ucap Rizki.
__ADS_1
"Siap! " balas Victor dan Faza bergegas masuk ke dalam rumah. Perkataan Rizki barusan membuat kerutan pada dahiku.
"Udah Lo gak usah tahu. Terlalu polos cukup baik, " ucap Rizki mengajakku masuk ke dalam rumah.