
Pintu terbuka. Embun datang tepat pada waktunya. Semua orang berdiri menyambutnya. Embun datang dengan pakaian formalnya. Dia sekilas melihatku.
"Rapat hari ini akan membahas dua hal. Yang pertama adalah mengenai kemajuan perusahaan dan yang kedua aku akam memperkenalkan seseorang, " ucap Embun.
Semua orang menganggukkan kepala. Rapat dimulai. Semua orang mengungkapkan gagasan ide hingga sanggah menyanggah pendapat satu sama lain. Aku berbicara seperlunya hingga pembahasan kedua dimulai.
"Aku ingin memperkenalkan seseorang. Dia yang akan menjadi manajer umum yang baru. Meskipun dia baru aku rekrut, tapi kinerjanya bisa aku jamin. Sekalian ada dewan direksi, mohon untuk menilai. Apakah dia berhak atau tidak menempati posisi ini. Aku akan memberikan identitas dirinya dan pencapaian apa yang dimiliki, "ucap Embun.
Sekertaris Thalia memberikan dokumen kepada masing-masing orang. Semuanya membuka dokumen tersebut. Aku berkontak mata dengan Embun untuk beberapa saat. Suasana hening. Jantungku berdegup kencang. Mereka adalah anggota dewan direksi. Organ dibawah tingkat dewan komisaris. Entah apa yang ada dalam pikiran Embun yang berani.
" Bagus. Namun kami ingin melihat bagaimana kinerjanya satu tahun"
"Baik. Aku mengerti. Apakah anda akan laporan kepada dewan komisaris? " tanya Embun.
"Tidak perlu. Masalah seperti ini tidak perlu melibatkan para beliau"
"Baiklah kalau begitu. Rapat telah selesai. Anda semuanya boleh pergi, " ucap Embun.
Semua orang berdiri begitupun denganku. Pundakku ditepuk oleh sekertaris Thalia.
"Ada apa? " tanyaku kepadanya.
"Beliau ingin berbicara kepada anda, " jawab sekertaris Thalia.
Aku menoleh. Embun tengah berdiri membelakangiku. Akupun menganggukkan kepala. Sekertaris Thalia tersenyum kemudian pergi keluar ruangan. Hanya tersisa aku dan Embun di dalamnya.
"Ada apa? " tanyaku kepadanya.
"Aku mengenalkanmu kepada dewan direksi. Kemungkinan dewan komisaris akan mulai memperhatikanmu. Aku mempertaruhkan jabatanku dengan namamu, " jawab Embun.
"Sebegitukah kamu mengusahakannya. Mengapa aku tak menjadi karyawan biasa? Asalkan aku mendapat gaji layak, aku tak masalah. Apakah karena aku perlu dikasihani? " tanyaku kepadanya.
Embun membalikkan badannya. Kini aku dan dia berhadapan lurus.
"Aku hanya ingin membantu Elena, " ucapnya.
Aku tersenyum. "Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah kamu mengasihaniku? " tanyaku kepadanya.
"Ya! Aku mengasihanimu! " balas Embun.
"Apakah kamu tahu mengapa seorang laki-laki bisa pergi ataupun tak nyaman? Salah satunya karena harga dirinya tak diakui, " ucapku kepadanya.
Embun terhenyak. Dia diam. Akupun tahu mengapa ia diam.
"Mengapa harus pergi?" ucap Embun.
"Karena merasa tak dihargai. Semua orang akan pergi, " balasku kepadanya.
__ADS_1
"Kaupun sama!" bentak Embun.
"Sama? Apakah kamu lupa siapa aku? Jika ingin mengingatnya maka kita makan siang bersama," ucapku kepadanya.
Aku keluar dari ruangan disusul dengan Embun. Dia meminta sekertarisnya menyiapkan mobil. Hari ini dia akan makan siang bersamaku. Aku duduk bersamanya di kursi penumpang. Suasana hening. Sekertaria Thalia berada di depan. Aku menulis pada buku kecil yang selalu aku bawa. Embun heran.
"Apa yang kamu tulis? " tanyanya kepadaku.
"Sebuah puisi, " jawabku.
"Aku tak pernah melihatmu menulis puisi. Sejak kapan hobimu berubah? " tanya Embun.
"Aku tak pernah berubah. Kamu saja yang tak ingat, "jawabku.
Embun terdiam. Dia menoleh menghindariku. Mobil berhenti. Aku keluar terlebih dahulu dari dalam mobil. Sekilas buku catatanku dilihat oleh Embun.
Tak lama kemudian, Embun menyusul turun dari dalam mobil. Sekertaris Thalia telah terlebih dahulu membuat reservasi. Aku bersama Embun duduk saling berhadapan.
"Jika ingin mengenalku, tanyakan saja secara langsung, " ucapku kepadanya.
"Mengapa kamu pergi? " tanya Embun.
"Aku bukan pergi, hanya menyembuhkan luka, " jawabku.
"Aku yang membuatmu terluka? " tanya Embun.
Suasana sunyi. Kami hanya saling menatap. Tak lama kemudian pelayan datang membawa makanan. Kami pun menyantap makanan terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian, kami pun selesai.
"Maaf, " ucap Embun.
"Mengapa mengucapkan maaf? " tanyaku kepadanya.
"Aku baru tahu, kamu berharga, " jawab Embun.
"Setiap orang berharga, hanya saja apakah orang tersebut menyadari atau tidak, " Balasku.
Helaan nafas terdengar panjang. Aku tahu dia tengah banyak masalah.
"Aku dengar kamu menikah dengan Agung. Sudah bukan pacar lagi? " tanyaku kepadanya.
"Aku hamil dengannya namun dia tak pernah mengakui anaknya. Dia tak menikahiku. Itulah sebabnya banyak orang menganggao aku dan dia masih berpacaran, " jawab Embun.
"Kamu hamil sekarang? " tanyaku kepadanya.
Embun menggelengkan kepalanya. "Dia laki-laki tak bertanggung jawab. Aku menyetujui nafsu birahinya. Dan dulu aku melahirkan. Dia tak ingin karirnya hancur. Anakku dibuang olehnya. Bertahun-tahun mencari namun tak pernah aku temukan, " jawab Embun.
Aku terkejut mendengarnya. "Berapa umur anakmu? Dan dimana Agung berada sekarang? "
__ADS_1
"Seharusnya anakku berumur 8 tahun. Aku tak berani melapor karena karirku akan sama-sama hancur. Sekarang keberadaan Agung akupun tak tahu, " ucap Embun menundukkan kepalanya.
Tanganku mengepal. Aku marah dengan wanita dihadapanku ini. Dia benar-benar mementingkan karirnya.
"Siapa nama anakmu? " tanyaku setelah berhasil mengendalikan emosi.
"Sapta Padma Adijaya, " jawab Embun.
"Kamu mau aku ingin melakukan apa? " tanyaku.
"Aku ingin kamu bantu dimana keberadaan Sapta, " jawab Embun.
"Dia akan membencimu dan maaf. Aku dan kamu hanya sekedar partner kerja, " jawabku kepadanya.
"Angga! " ucap Embun.
"Kenapa? " tanyaku kepadanya.
"Aku minta bantuan sama kamu dan kenapa kamu menolaknya! " jawab Embun.
"Karena kamu bukan ibu yang baik! Kamu tega meninggalkan anakmu sendiri. Jika kamu tak berkenan aku bekerja denganmu maka aku dengen lapang dada mengundurkan diri, " ucapku beranjak berdiri berniat meninggalkan meja.
Embun mencegah lenganku. Akupun berbalik.
"Bisa kita bersama lagi? " tanya Embun.
"Enggak akan pernah bisa. Kamu cuma kasihan samaku. Kita berbeda. Tuhanmu dan Tuhanku tak sama. Biarkan aku damai dengan diriku sendiri. Aku bisa bantu kamu asalkan kamu terima konsekuensinya nanti, " jawabku kepadanya.
Aku keluar dari dalam restoran. Embun menyusulku. Raut wajah kita seperti biasa. Kita masuk ke dalam mobil. Sopir melajukan kembali mobil menuju kantor.
Aku berada di dalam ruanganku. Memandang laptop mencari keberadaan keluarga Azura.
"Tidak ada jejak mengenai keluarganya kecuali..." ucapku menggantung melihat ayah dari Azura dengan nama yang tak asing aku dengar.
Aku diam mengingat nama tersebut dalam benakku. Aku ingat ketika kedua kakakku berdebat dengan ibuku.
"Mamah jangan nganeh-nganeh! " ucap kak Arumi marah.
"Mamah gak pengen kesepian dimasa tua, Arumu!! "
"Yaudah kalau begitu mamah gak usah balik!" ucap kak Arumi.
"Baik! Mamah gak akan balik lagi! Tapi inget! Jangan pernah minta sepeserpun uang dari mamah. Kalian hanya memiliki rumah ini! "
Aku mendengar perdebatan tersebut hanya bersembunyi di sudut. Kakak keduaku datang menenangkan kak Arumi.
"Kak... " Panggil kak Julia.
__ADS_1
"Mamah tuh cuma selingkuhan! Laki-laki brengsek yang bakal jadi papah kita! " ucap kak Arumi.