Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Sisi Kelam Azura


__ADS_3

Suara dering notif instagram seketika berbunyi beberapa kali. Yah, lumayan banyak followers ku. Mereka like dan coment pada postingan yang baru saja aku bagikan.


"Mutualan dong!! "ucap seseorang dengan profil koala tengah tertidur. Dengan username langit biru. Pasti adalah dia. Aku melakukan apa yang dia inginkan. Kita sama-sama saling mutual. Notif pesan muncul.


" Hai! Aku langit biru! "ucapnya dengan emote lambaian tangan.


" Kenapa? "tanyaku padanya.


" Harusnya aku dong yang tanya. Masak fotoku jelek sedangkan kamu ganteng. Kan gak matching. Aku kayak koala kecebur kolam,"jawab Azura.


"Yang penting aku ganteng. Masalah orang lain, aku mah bodoamat, " balasku kepadanya.


Dia mengirimku stiker bergerak dengan membawa pisau berlari. Aku membayangkannya tertawa sendiri.


"Gimana kalau dilihat mantanmu. Mendingan kita foto bareng nanti malam. Oke! Aku jemput! " Ucap Azura.


Seketika dia offline. Bersamaan dengan itu muncul notif dari akun Embun. Dia like postinganku berikut dengan komentarnya.


"Jaga kesehatan ya ganteng... Jangan lupa balik, " ucap Embun.


Seketika muncul komentar dibawahnya memberokan reaksi atas komentar Embun.


"Dia gantengku! Bukan gantengmu! Ngapain balik pulang jika pintu rumah kau tutup! " balas Azura.


Aku benar-benar terkejut akan kemunculan Azura yang membalas komentar Embun.


"Dia tahu siapa Embun? " gumamku.


Embun membalasnya dengan ucapan maaf. Tak lama kemudian komentar dari akun instagram Agung muncul kembali. Dia menulis "Satu lebih baik daripada dua" ucapnya dengan kalimat teka-teki.


"Dia menyindirku? " tanyaku pada diriku sendiri.


Aku benar-benar sangat sensitif entah mengapa ketika Agung berkomentar.


Aku benar-benar merasa berharga ketika Azura mengucapkan seperti itu terang-terangan di komentar instagram. Rizki benar-benar mengomporiku.


"Berangkat jomblo, pulang bawa jodoh! " ucap Rizki.


Aku tutup handphone kembali dan berpikir topik apa yang akan aku bicarakan dengan Azura nanti.


"Dia posesif. Apakah aku hanya akan dianggap pelarian? " ucapku pada diri sendiri.

__ADS_1


Pukul 06.00 waktu belanda kota Amsterdam malam hari. Aku keluar dari apartemen. Pakaianku seperti biasanya. Aku duduk di kursi di pinggir jalan menunggu datangnya Azura. Waktu terus berlalu hingga aku bosan.


"Dimana dia? " tanyaku dengan kesal. Pasalnya satu jam aku telah menunggu dirinya tanpa kabar.


Aku berjalan ke arah apartemen sebrang. Aku ingat bahwa dia tinggal dilantai 3 dengan nomer kamar yang selalu aku ingat seperti tanggal lahirku. Aku berjalan di lorong. Suasana hening. Aku tiba di depan kamarnya dan berniat aku ketuk pintu tersebut. Aku mendengar sesuatu dari dalam seperti benda pecah. Aku dekatkan telingaku dengan pintu.


"Diam! Turuti perkataanku! " ucap seorang pria.


"Enggak akan! Laki-laki brengsek! " ucap Azura.


Suara tamparan terdengar jelas ditelingaku.


"Kamu wanita kotor gak usah belagak sok suci!" balas pria tersebut. Aku mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Aku berlari ke sudut belokan mengintip pria yang keluar dari kamar Azura. Tubuhnya jangkung sama seperti pria yang aku lihat sebelumnya.


Azura hendak menutup pintu namun aku datang dan mencegahnya. Dia terkejut melihatku.


"Bolehkah aku masuk? " tanyaku kepadanya.


Dia menatapku sebentar sebelum menganggukkan kepala. Aku diperbolehkan masuk ke dalam kamar. Tanpa aku sadari bahwa aku diikuti oleh pria yang sebelumnya keluar dari kamar Azura.


"Kau akan menyesal! " ucapnya marah kemudian benar-benar pergi.


Aku di dalam dipersilahkan duduk. Azura membawakan minuman kepadaku.


Aku meraih segelas teh hangat dan kuminum sedikit.


"Kenapa? " tanyaku kepadanya.


"Gak apa-apa kok. Cuma hal biasa, " jawab Azura.


"Kalau gak ada apa-apa kenapa aku tanya kamu nangis? " balasku.


Azura benar-benar menangis. Air mata mengalir deras turun membasahi pipinya. Aku beranjak berdiri membawanya duduk sembari aku peluk. Aku elus-elus kepalanya. Dia benar-benar sedih dan berada pada titik terendahnya saat ini.


"Aku capek," ucapnya kepadaku.


"Kenapa dia membuatku seperti ini! Dia mengancamku dan menyiksaku! "


Dia menatap wajahku. Aku hapus air mata dari pipinya dan kutatap wajahnya dengan serius.


"Ceritalah jika ingin. Kalau enggak menangislah hingga hatimu tenang. Aku disini untukmu, " ucapku menenangkannya.

__ADS_1


Dia mempererat pelukannya. Ku dengar tangisannya semakin lirih dan tak bersuara. Aku pikir akulah yang menambah masalah untuknya.


"Aku minta tolong sebentar saja seperti ini, " ucap Azura samar-samar aku dengar.


Aku mengiyakannya. Aku benar-benar memeluknya. Perasaanku seakan deja vu dimana hal ini sama persis ketika aku memeluk Embun pada saat itu. Azura mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya sendiri.


"Aku minta waktumu mendengar ceritaku, Bolehkah? " tanya Azura.


"Ceritalah, " balasku.


Azura mulai menenangkan diri. Dia menghirup nafas kemudian ia hembuskan dengan pelan.


"Dia pacarku, " ucap Azura.


"Sejak kapan? Bukankah kamu mengatakan mantan pada saat di pesawat? Kamu juga terlihat bahagia ketika bersamanya diluar, " ucapku terkejut ketika mengetahui kenyataannya.


"Aku malu untuk mengatakannya. Apa yang dikatakannya benar bahwa aku telah kotor, " ucap Azura.


Aku tak mengerti maksud dari kata kotor yang ia bicarakan.


"Aku dilecehkan ayahku sendiri waktu dia pulang mabuk. Ibuku tak berdaya karena sama-sama mengalami KDRT. Kata ibu tiriku bahwa aku punya tiga saudara tiri, dua perempuan dan satu laki-laki. Ibuku tak mengatakan dimana mereka berada karena dia malu. Ibu kabur dan menikah dengan ayahku, dia sendiri yang cerita. Aku menyembuhkan luka karena seseorang yang baik kepadaku. Dia mengatakan tak akan pergi, namun kenyataanya adalah sama. Dia pergi meninggalkanku. Aku frustasi dan menemukan pria yang baik dan ternyata sama seperti ayahku, dia melecehkanku, "ucap Azura tertunduk lesu. Dia benar-benar tak berdaya.


Aku tak menyangka bahwa ayah mana yang kejam merudapaksa anaknya sendiri. Dia telah gagal menjadi seorang ayah karena jatuh cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya sendiri. Aku peluk kembali tubuhnya yang rapuh. Aku tak tahu harus bagaimana. Sifat yang ceria menutupi kisah kelam hidupnya. Aku dan dia sama-sama berangkat dengan tujuan menyembuhkan luka hati.


Aku sangat berharap dia segera menemukan kakak laki-lakinya. Ketika proses itu, aku akan menggantikan kakak laki-lakinya dalam status sebagai seorang sahabat dekat.


"Kalau nangis, menangislah. Biarkan aku tahu rasa sakitmu. Jangan hanya tersenyum dan tertawa karena itu akan membuatmu tersiksa. Berteriaklah jika tak mampu, " ucapku kepadanya.


Dia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Aku usap dengan pelan.


"Aku pulang dulu ya? " tanyaku kepadanya.


Dia menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Kalau ada apa-apa telfon aja, atau jika dia datang kesini telfon langsung, " ucapku memberi wejangan kepadanya.


Aku keluar dan kututup pintu kamarnya. Aku berjalan di luar gedung berniat kembali ke apartemenku sendiri. Entah mengapa hari ini terlalu sunyi. Seseorang memukulku hingga aku terjatuh. Aku berbalik melihat siapa dia.


"Gak usah sok jadi cowok! " ucapnya dengan amarah.


Dia bersana dua orang temannya tengah menertawanku. Dia berasal dari negara yang sama sepertiku. Terlihat mereka lebiu senior dibandingkan aku. Kedua temannya memegang kedua tanganku dan dia memukul perutku berulang kali. Rasa nyeri seketika menjalar ditubuhku. Pada saat itu perasaan menyesal seketika muncul. Mengapa aku tak bisa membela diri?

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang. Keringat membasahi tubuhku. Pikiranku benar-benar kalut pada waktu itu.


__ADS_2