Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Siapa Yang Ditargetkan?


__ADS_3

Kata-kata penekanan dari sang sopir membungkam mereka berdua hingga ke titik diam dan hening. Perjalanan menuju bandara berjalan lancar tanpa mereka tahu semuanya telah beres. Tuan sopir berbicara melalui speaker mobil.


"Sesuai perintah. Bawahan menyelesaikan dengan bijaksana, " ucap sang sopir. Sambungan terputus berganti dengan suara seseorang yang mereka berdua kenal adalah Rizki.


"Tidak usah khawatir nyawa kedua temanmu ini telah aman. Tindakan implusif mu terhadap nona dari bawahan ini membuat yang lain tak senang. Beliau lah yang menyelematkan kedua temanmu. Ingatlah untuk berbalas budi kepadanya! " ucap sang sopir memutus sambungan teleponnya. Mereka berdua sedikit terkejut. Bukankah sopir mengatakan secara samar bahwa dirinya memiliki Tuan lain, mengapa dirinya menyebut nonanya kembali. Hanya diam adalah pilihan tepat.


Mereka sampai dibandara. Sopir mengantarkan sesuai dengan tempatnya. Begitu mereka berdua turun, koper datang dan dalam keadaan rapi dan bersih. Sama-sama tercengang namun tak mereka ungkapkan. Sang sopir turun dari mobil.


"Cepat sebelum terlambat mati disini. Lebih aman jika kalian telah terbang. Semua orang dibandara telah terisi penuh pembunuh, " ucap sang sopir diangguki. Buru-buru mereka pergi bersiap untuk melakukan proses keberangkatan.


Dengusan yang dilakukan oleh sopir dengan amarah dingin ketika melihat sekitarnya. Orang-orang beraktivitas seperti biasa berlalu-lalang menjalani kehidupan masing-masing dan semuanya tampak tenang. Tapi tidak di depan mata sang sopir. Orang-orang yang ada di bandara adalah pembunuh ekslusif dari seseorang.


"Benar-benar merepotkan, " ucap sang sopir masuk ke dalam mobil dan pergi.


Dua pemuda telah selesai bersiap menunggu pesawat dengan damai dan tenang. Faza termenung membuat Victor heran.


"Kepribadianmu menjadi diam hingga seperti air tenang. Apakah kau mencurigai sesuatu? " tanya Victor mengungkapkan kejujurannya.


Balasan dari Faza adalah anggukan mengkonfirmasi kekhawatiran Victor.


"Jika seluruh bidak hitam memiliki Tuan Prambudi sebagai Tuannya, lantas siapa pemilik dari bidak putih? Dan Angga adalah yang ditargetkan. Mengapa orang biasa sepertinya digunakan dan dirawat layaknya permata berharga, sesuatu hal sentral pasti dimiliki Angga tak terkecuali adalah hal-hal pribadi kedia belah pihak. Bantuan yang kita berikan tak lain adalah hal yang hanya membebaskan satu tali kecil dan kita adalah bidak yang dikendalikan,"jawab Faza mengemukakan pemikirannya dengan jelas dan jujur.


"Setidaknya kita tahu bahwa Angel maupun Angga tidak berselisih paham, " balas Victor.

__ADS_1


Waktu keberangkatan tinggal menunggu hitungan kurang lebih 30 menit. Mereka menunggu dengan patuh. Pada saat jamnya tiba, semua keberangkatan dibatalkan membuatnya terkejut. Makian langsung keluar dari mulutnya beribu sumpah serapah. Mereka tak menyadari bahwa semua orang yang ada di bandara memiliki satu tujuan sama yakni membunuh dan menghilangkan mayat mereka. Tatapan tak sedap dari berbagai arah membuat mereka heran hingga satu hal terpintas dipikiran masing-masing.


Beranjak berdiri kemudian berbalik berjalan dengan cepat menuju arah tak tentu. Semua orang berbalik menatap mereka. Perasaan cemas semakin memuncah ketika hal-hal aneh terjadi disekelilingnya.


Sopir tiba-tiba muncul mengejutkan mereka berdua. Ia menunjukkan jalannya ke suatu tempat.


"Pergi ke pesawat itu secepatnya! Tidak usah takut apapun! " ucap sang sopir menunjuk pesawat yang tak jauh dari mereka. Buru-buru berterima kasih dan berlari. Sang sopir mendengus dingin. Perasaannya benar-benar jengkel, marah dan dendam.


"Jika benar-benar dia bertindak gila maka aku yakin orang-orang berkuasa negeri ini akan turun tangan, " ucap sang sopir.


Pertarungan bisa saja terjadi di bandara dengan anak buah Angel melawan anak buah Alfan. Namun mereka tidak bodoh. Penguasa negeri tetaplah penguasa seluruh kebijakan dalam maupun luar negeri. Mereka tak akan merugikam tuan masing-masing dengan tindakan bodohnya. Semua telah diperhitungkan dengan teliti.


Diruangan dengan Alfan bersama dengan Agung saling berhadapan. Tatapan tajam mengarah kepada Agung namun tak berisi ancaman atau kemarahan. Seakan hanya gertakan untuk tetap patuh.


"Dimana kau membuang anakmu? " tanya Alfan.


"TK Intan Permata, " jawab Agung.


Alfan beranjak berdiri berjalan hingga berada di depan meja ruang kerja. Menyerahkan sebuah tiket pesawat kepada Agung.


"Pergi ke Indonesia. Temukan anakmu. Dia sekarang memiliki ibu angkat Kusuma Raharja. Dia bukan orang sembarangan. Pemimpin yayasan Intan Permata. Senin anakmu akan menjadi buta dan manfaatkan itu untuk menjebak Angga, " ucap Alfan menginstruksikan kepada Agung untuk segera melaksanakan perintahnya.


Agung menjawab dan segera pergi melaksanakan perintah Tuannya. Alfan kembali duduk menyeduh kopi dengan tenang. Dia kembali ke Belanda atas perintah ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Ingin lepas? Sayangnya tidak akan pernah bisa. Kau akan menerima amukan dari Hirawan Adijaya. Perusahaanmu akan hancur lebur dan hidupmu sengsara, " ucap Alfan bermonolog.


Tak lama kemudian suara dering telepon terdengar. Alfan mengangkat telepon terdengar suara berat dengan wibawanya luar biasa.


"Bagaimana hasilnya? Apakah ada pergerakan lebih? " ucap Setya Prambudi.


Kepulan asap melayang di udara. Alfan menjawab dan menjabarkan situasi sebenarnya dengan jujur. Setya Prambudi hanya diam tak marah maupun kecewa.


"Dorong sampai ke titik dimana dia harus muncul! " perintah Setya Prambudi jelas. Suara telepon terputus. Kepulan asap terua membumbung tinggi meliuk-liuk di udara.


Hari ini adalah hari dimana Angga di adili dan dimana Elena melaksanakan operasinya. Suasana di ruang oprasi begitu sunyi. Kedua belah pihak dipisahkan oleh tirai polos. Seluruh dokter dan tenaga medis lainnya telah bersiap untuk hari ini. Pimpinan mereka akan mengoprasi langsung memantau proses kelangsungan. Ibu Yuli mengenakan masker dan pakaian oprasi. Dirinya telah menyiapkan berbagai tindakan pencegahan di luar maupun dalam. Fokusnya adalah merawat Elena dan Akbar.


Waktu berlalu. Suasana begitu hening. Semuanya melaksanakan dengan tenang terlihat profesionalitas mereka masing-masing. Sedangkan di suatu tempat yakni ruangan pimpinan tertinggi Adijaya Group, Hirawan Adijaya tengah berhadapan langsung dengan bawahannya yang paling berkompeten yakni Arsenio Bagas.


"Bajingan mana yang menghamili putriku? " tanya Hirawan langsung tanpa adanya perhalusan kata.


"Bawahan menjawab. Dia adalah Agung Pratyaksa. Setelah ditelusuri begitu rinci dan dalam, dia terhubung dengan Alfan. Putra Prambudi, " jawab Arsenio Bagas.


Hirawan Adijaya seketika kepalanya terangkat ketika mendengar nama tabu dari sosok besar tersebut.


"Pelacur kecil bodoh! Dia benar-benar harus mati! " ucap Hirawan Adijaya dengan marah memaki putrinya sendiri. Arsenio Bagas hanya diam. Dirinya sudah terbiasa dengan makian seperti ini.


"Dimana cucuku? " tanya Hirawana Adijaya setelah tenang.

__ADS_1


"Itu... Pengadilan masih memutuskan ketika aduan dari Alfan atas tuduhan penculikan anaknya sendiri kepada Angga. Bawahan mengatakan ini karena merasakan ada sesuatu yang janggal, " jawab Arsenio Bagas.


"Angga? Orang yang berhasil lepas dari permainanku? Dia pernah dekat dengan Embun?" ucap Hirawan Adijaya sebagai balasan dengan pemahaman sederhananya.


__ADS_2