Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Semua Adalah Bidak


__ADS_3

"Tingg! "


Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar terlebih dahulu. Berada di dalam mobil sembari menghela nafas panjang adalah hal yang bisa aku lakukan saat ini. Masuknya pemain baru adalah salahku.


"Jika aku tak bisa mengendalikan semuanya maka Embun akan hancur, " ucapku dengan pasrah.


Mobil terus melaju hingga aku sampai di sebuah gedung galeri seni yang tengah mengadakan pameran. Mobil berada di parkiran dan aku berjalan menuju lantai pertama. Karya seni lukis dengan berbagai tema serta filosofi berjejer rapi. Penjelasan di setiap lukisan sangat membantu. Aku terdiam merekam semuanya dalam benakku. Tiba-tiba aku teringat akan pernah mengajak Embun melihat pameran seni.


Semua orang tiba-tiba diam. Aku menoleh ke belakang dan sedikit terkejut ketika melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian elegan beserta dengan orang-orang ber jas di belakangnya. Aku sadar akan posisi menyampingkan diri membungkukkan badan hendak pergi.


"Tunggu! " ucap wanita tersebut menghentikanku.


Aku berhenti dan menatap wanita tersebut yang berjalan mendekatiku.


"Bagaimana menurutmu lukisan itu? " ucap wanita tersebut menunjuk lukisan yang aku lihat sebelumnya.


"Sangat indah, namun ada kesedihan di dalamnya. Seperti luka hati yang belum menemukan obatnya, " ucapku mengatakan jujur akan pendapatku.


Wanita tersebut tersenyum berjalan satu langkah ke depan. "Siapa namamu?" tanya wanita tersebut mengulurkan tangan. Aku canggung dan merasa tak enak hati namun demi menghargainya aku membalas uluran tangannya.


"Angga Narendra, " ucapku membalas senyuman ramahnya.


"Nama yang bagus. Perkenalkan. Aku Diana Selvia. Direktur galeri seni Paramita sekaligus kurator. Aku sangat menganggumi penilaianmu," ucapnya memperkenalkan diri.


Seketika aku tak enak hati karena menjabat tangan seorang direktur dengan santainya di depan mata bawahannya.


"Terima kasih. Saya meminta maaf atas ketidaksopanan saya, " ucapku membungkukkan badan namun dicegah olehnya.


"Tidak perlu begitu sungkan, " balasnya dengan santai.


Segerombolan orang tiba-tiba datang menangkapku. Aku berontak karena terkejut.


"Apa yang terjadi! Aku bukan kriminal! " ucapku marah.


"Anda ditahan karena kasus tuduhan penculikan anak" ucap aparat memborgol kedua tanganku.

__ADS_1


Ibu Diana terkejut namun dia berusah santai berpikiran lurus.


"Tunggu! Siapa yang melaporkannya? " tanya Ibu Diana.


"Alfan Jarrel Madhava," ucap aparat membawaku pergi. Akupun hanya bisa pasrah. Sedangkan sekilas aku melihat ibu Diana menatapku untuk beberapa saat.


"Siapa dia? Bagaimana bisa menyinggung keluarga Prambudi, " gumam Ibu Diana mengambil ponsel dari tasnya menelepon seseorang.


Aku berada di dalam mobil hanya bisa diam dan tak banyak bicara.


"Aku tak pernah menyinggungnya, mengapa aku ditangkap atas tuduhan penculikan anak? " Ucapku dengan bingung.


"Kau dituduh menculik seorang bayi beberapa tahun waktu di Belanda, " jawab aparat tersebut kemudian menyadarkanku mengenai ayah kandung Elena.


"Brengsek! Aku dijebak! Bagaimana caranya menyakinkan Adijaya Group jika reputasiku hancur, " maki ku dalam hati kesal karena tak menyadari jebakan Alfan yang telah ikut campur.


Mobil berhenti di halaman kantor kepolisian. Ketika aku turun dari mobil, Rizki datang menghampiri.


"Lo tenang aja! Gak usah nganeh-nganeh. Elena biar Gue yang urus, " ucap Rizki sebelum aku di bawa pergi.


Aku melihat Rizki amat sangat kesal.


"Dimana Alfan? " tanya Rizki to the point.


Rizki masuk dengan emosinya mengancam wanita tersebut yang tak lain adalah Angel.


"Aku gak tahu! " ucap Angel.


"Lo tahu? Gara-gara abang Lo yang bresengsek, Angga di penjara!! "balas Rizki


" Apa!!"ucap Angel terkejut.


"Tuduhan penculikan abang Lo gila itu!! " ucap Rizki.


"Aku gak ngerti, aku kemari hanya karena Rizki,"balas Angel.

__ADS_1


" Gue gak mau tahu, pokoknya Lo harus bantu caranya Angga keluar atau reputasi Martyapada dipertaruhkan. Gue tahu kalau abang Lo yang buat Hirawan Adijaya bertindak, "ucap Rizki berbicara tanpa memberikan celah kepada Angel.


" Oke! Aku bisa jamin mitra kerja perusahaan Martyapada adalah aku. Perusahaan pakaian Berenice milikku akan mendukung penuh semua progaram Martyapada. Masalah hukum aku akan sebisanya membantu, "ucap Angel.


" Gue minta satu hal, "ucap Rizki berjalan mendekati Angel.


" Gue minta hari senin jangan sampai abang Lo ngacau Elena. Atau Gue gak akan tinggal diam dan gak akan segan-segan ngelakuin apapun itu"


Rizki pergi meninggalkan Angel sendirian. Angel benar-benar frustasi. Kedatangannya membawa masalah padahal ia ingin kembali dalam waktu dekat.


"Kau benar-benar melewati batas! " ucap Angel.


Suara dering telepon terdengar nyaring. Sosok angkuh pembawa masalah mengangkat dengan tangan mulusnya. Jari-jarinya mengetuk meja sembari telinganya mendengarkan.


"Kapan persidangannya? " ucapnya dengan tenang.


"Tiga hari lagi Tuan, " jawab orang di sebrang dengan nada penuh kehatian.


"Tambahkan masalah lebih besar untuknya, " perintahnya dengan dingin mengakhiri telepon. Dia adalah Alfan dengan tampilan aslinya. Gunung es kokoh bersinar terang oleh cahaya tanpa leleh sedikitpun. Alisnya bertaut mengambil bidak catur kemudian meletakkannya di salah satu kotak.


"Dia layak bermain denganku. Tapi aku tak bisa membuatmu tenang. Aku lupa jika malaikat kecilmu akan melakukan suatu hal penting di hari senin besok lusa, " ucap Alfan melihat dengan seksama tersenyum melihat bidak caturnya menguasai permainan secara penuh. Tak mungkin bagi bidak putih membalikkan situasi dalam satu kali gerakan. Bidak hitam merajalela menguasai permainan.


Sore hari di kediaman Rizki, Ibundanya tengah datang menjenguk Elena. Dirinya telah mendengar dari suaminya bahwa persidangan akan dilksanakan dalam waktu dekat.


"Bagaimana dengan ayah? " tanya Rizki khawatir akan kondisi yang di luar kendali.


"Dia harus suci menjadi seorang pengadil, tak boleh gegabah ataupun berpihak karena Tuhan melihatnya. Dia berkata untuk kita mencari bukti secepatnya sebagai bagan pembanding kasus ini, aku tak bisa berbuat banyak karena harus menyiapkan operasi besar untuk Elena, " ucap Ibu Yuli membuat helaan nafas putranya terdengar. Dia menjatuhkan diri pada sofa empuk berusaha menjernihkan pikiran. Dering notif dari ponsel Rizki yakni pesan dari Angel.


"Gue Angel. Nomer yang Gue kirim temen Angga Belanda. Mereka saksi dari wasiat Azura. Minta mereka mencari dokter yang menerima wasiat Azura untuk jadikan saksi, " ucap Angel dalam chat tersebut.


Rizki langsung menghubungi kedua nomer tersebut namun tak ada yang mengangkat teleponnya. Rizki tak tahu bahwa orang yang dia cari tengah di sekap oleh orang lain. Kedua ponsel bergetae hampir bersamaan. Pria angkuh membawa sebuah balok kayu menghampiri meja dimana kedua ponsel mereka bergetar berbunyi.


"Lepaskan!!! " ucap Victor berteriak dengan keras meskipun mulutnya disumpal oleh kain.


Mereka berdua di gantung terlentang. Faza tampak lelah dengan tubuh lemasnya. Pria sombong memukul Victor menggukan balok kayu seperti mainan ulang tahun.

__ADS_1


"Brengsek!! " teriak Victor dengan keras hinga rahangnya ditahan oleh pria tersebut.


"Ingat! Gue adalah Agung! Anak buah Tuan Muda Alfan, " ucapnya akhirnya memperkenalkan diri.


__ADS_2