Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Menukar Takdir?


__ADS_3

"Kau tak ingin memberi tahu ibu kandungnya? Lagipun dia tetap orang tua aslinya, " ucap Ibu Yuli.


"Hanya akan menambah masalah bagiku. Hirawan akan datang mencium jejaknya jika Embun tahu. Lebih baik dia mengetahuinya diakhir karena Akbar tidak akan berguna bagi Hirawan dan Embun akan tetap pewaris Adijaya Group mau tidak mau, " ucap Ibu Kusuma.


"Haisshhh. Angga benar-benar tidak beruntung. Dia akan dibenci oleh Embun hingga akhir jika tahu. Saudaranya berusaha merebut pasar Adijaya Group dengan kedua aliansi perusahannya, " balas Ibu Yuli menghela nafas panjang.


Kedua wanita tersebut hanya saling pandang satu sama. Memiliki tujuan yang sama.


"Kau menyuruh Angga menemuiku hanya demi mengkonfirmasi sesuatu? " tanya Ibu Kusuma.


"Aku hanya ingin tahu seberapa jauh Dia memantau semua ini. Jika dia sampai turun tangan ke mari maka semuanya akan berubah sedetik pun, " jawab Ibu Yuli.


"Akbar harus menjadi bayangan pelindung bagi Elena dan dia telah tahu bersedia sepenuh hatinya, " balas Ibu Kusuma.


"Satu minggu tepat hari senin operasi pendonoran mata akan dilakukan dan aku sendiri yang akan memimpin operasi ini. Kau benar-benar setuju? " tanya Ibu Yuli.


"Tentu saja. Lebih baik Akbar cacat namun tetap dalam dekapanku dibandingkan dia hanya menjadi alat ancaman bagi keluarga Hirawan, " jawab Ibu Kusuma.


Di taman, Akbar dan Elena tengah duduk bersama. Mereka menikmati angin sejuk yang menerpa.


"Elena! Jika kamu bisa melihat dan aku tidak. Apakah kamu akan meninggalkanku? " tanya Akbar.


"Tidak! Kita adalah sahabat!" jawab Elena.


Elena tidak akan tahu bahwa hidupnya akan berubah. Akbar mengelus-elus kepala Elena dengan lembut. Dirinya mendongak ke langit sebelum memejamkan matanya. Dirinya berpikir mungkin saat ini terakhirnya dia melihat Elena dengan kedua matanya. Jauh di belakang mereka Ibu Yuli dan Ibu Kusuma memandang Elena dan Akbar.


"Aku tahu niatmu, tapi apakah aku harus merebut kebahagiannya? " tanya Ibu Yuli.


"Aku terpaksa. Hanya dengan ini aku bisa melihatnya disampingku, " jawab Ibu Kusuma.


Ibu Yuli menghembuskan nafas pasrah. Keputusan temannya telah bulat.


"Mungkin dirimu mendapatkan solusi, tapi dia akan mendapatkan masalah, " ucap Ibu Yuli.


"Aku tak peduli dengannya. Hidupku perlu aku perjuangkan dan orang lain tak perlu aku pedulikan, " balas Ibu Kusuma berjalan menghampiri Akbar.


Akbar menoleh ketika melihat ibu angkatnya. Elena pun merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.


"Elena, Akbar pulang dulu ya! " ucap Ibu Kusuma.


Elena pun menganggukkan kepalanya. Akbar melambaikan tangan kepada Elena. Ketika mereka pergi, raut wajah sedih terlihat di wajah Elena.


"Mengapa bersedih? " tanya Ibu Yuli.

__ADS_1


"Hanya merasakan kosong. Elena tidak suka perasaan ini, " jawab Elena.


Ibu Yuli duduk di samping Elena. Dia mendekatkan tubuh Elena.


"Semua orang akan pergi. Elena tak perlu menyesalinya. Katakan kepada dirimu sendiri untuk tetap kuat dan tak menyesal sekalipun meskipun ditinggalkan sendiri, " ucap Ibu Yuli.


Elena diam. Dia akhirnya mengerti akan sesuatu hal lain.


"Senin Elena akan melakukan operasi, jaga kesehatan ya! " ucap Ibu Yuli.


"Eummm!! " balas Elena.


Ibu Yuli mengajak Elena pergi dari taman. Mereka akan kembali ke rumah Rizki.


Di rumah Rizki, aku mendapatkan berbagai masalah pekerjaan yang kian menumpuk meskipun ditinggal sebentar.


"Betapa lelahnya aku, " ucapku bermonolog.


Ponselku berdering. Nomer asing yang tak aku kenali meneleponku.


"Halo? " ucapku memulai pembicaraan.


"Dimana Sapta? " tanya Embun.


"Gue gak tahu!" balasku dengan nada yang sama.


"Gue tahu Lo yang bunuh Sapta! Lo serahin diri ke polisi apa Gue seret!! " ucap Embun kemudian menutup telepon. Aku menghela nafas lega. Notif Email dari perusahaan atas nama Embun menbuatku mengerti bahwa ponselnya telah disadap seseorang.


Aku menuliskan bagaimana kabar situasinya melalui email. Tak lama kemudian dia membalasnya. Aku terkejut akan balasannya.


"Aku diancam sama seseorang katanya kamu tahu dimana Sapta. Papah bahkan nelfon aku sendiri tanya dimana Sapta meskipun dengan kalimat anak haram. Aku kaget karena selama ini papah gak tahu"


Aku benar-benar pusing. Seseorang memonopoli menggerakkan bidak catur dengan sangat apik. Sekali bidak di gerakkan maka situasi akan benar-benar berubah


"Apakah di dunia ini benar-benar ada orang yang seperti itu? Siapa orang-orang yang menjadi bidak caturnya?" ucapku berpikir.


Di rumah Embun. Dia tengah rebahan sembari memikirkan sesuatu setelah ancaman yang dia dapatkan.


"Siapa dia? Kenapa dia menyuruhku mencurigai Angga, " ucap Embun.


Tanpa Embun sadari bahwa dirinya adalah salah satu bidak catur yang dikendalikan oleh seseorang yang mampu menggerakkan dan menentukan kehidupannya.


Di suatu tempat. Alfan tengah tertawa puas karena dia berhasil menjalankan rencana ayahnya. Salah satu eksekutor tertinggi Setya Prambudi.

__ADS_1


"Semua berjalan sesuai rencana. Mereka akan hancur. Adijaya Group tak ada pewaris selain putrinya dan aku bisa menikmati dirinya sesuai perjanjian yang aku inginkan, " ucap Alfan tertawa.


"Tuan muda, apakah Angga perlu disingkirkan? " tanya bawahan Alfan.


"Dia? Laki-laki tak berguna tak perlu disingkirkan. Biarkan dia terombang-ambing dalam keraguan dan ketidakmampuannya. Salahkan dia menjadi bidak catur ayahku, " ucap Alfan diangguki oleh bawahannya.


Alfan memainkan pisau kecil di tangannya yang kemudian ia goreskan pada kertas kosong di atas meja.


"Anak tiri dari selingkuhan ayahku dan sekarang dia yang membawa anak perempuan bodoh itu? Aku lupa namanya. Kau tahu? " tanya Alfan pada bawahannya.


Bawahannya diam. Dia sedikit berpikir sebelum mengucapkan sebuah nama.


"Elena Tuan, " jawabnya dengan penuh hati-hati.


Senyuman terlukis di wajah rupawan Alfan. Senyumnya mampu membius para wanita dalam dekapan hangatnya.


"Bukankah anakku seharusnya dalam dekapanku? " ucap Alfan yang telah memikirian rencana buruknya.


Alfan meraih ponselnya. Dia menelepon orang besar yang mengendalikan bidak caturnya.


"Pah!. Aku ingin anakku kembali, " ucap Alfan.


"Seharusnya kau tahu pergi kemana jika mengiginkan itu"


"Baik. Aku akan melakukan apa yang aku mau, " ucap Alfan menutup telepon.


Dia menyuruh bawahannya untuk pergi dan memberikannya amplop coklat.


"Berikan kepadanya dan katakan untuk mengurus semuanya, " perintah Alfan.


Bawahan menerima amplop tersebut berniat pergi melaksanakan tugas dari Tuannya.


"Tunggu! " Sela Alfan.


Dia memberikan amplop coklat satu lagi kepada bawahannya.


"Antarkan kepada Tuan Hirawan. Aku ingin sesuatu yang menegangkan, " perintah Alfan.


Bawahan menyanggupinya. Dia keluar dari ruangan melaksanakan perintah.


"Angga Narendra, aku dengar kau hanya dimanfaatkan oleh keluargamu. Sungguh nasib yang malang. Sebentar lagi nasibmu akan tragis, sama seperti Azura, " ucap Alfan.


Dia beranjak berdiri menatap megahnya gedung-gedung disekitarnya. Terlihat sebuah gedung yang dimana menjadi fokus penglihatannya.

__ADS_1


"Martyapada? Aku menginginkanmu, " ucap Alfan.


__ADS_2