Hujan Pembawa Pesan Rindu

Hujan Pembawa Pesan Rindu
Sakit!


__ADS_3

"Lo tuh gak cocok jadi cowok!"


"Gimana mau jadi cowok kalau kalem-kalem kek gini? "


"Feminim boy mungkin? "


Mereka menertawakanku dengan puas. Aku melihat mereka melepaskan kedua tanganku segera aku berlari. Aku memasuki gedung dan pintu kamarku aku buka. Aku mencari obat penenangku disegala tempat hingga tak sengaja aku menemukannya di tas. Aku buka dan aku telan obat itu. Jantungku benar-benar berdetak kencang. Traumaku kembali muncul. Melihat mereka tertawa puas mengrebungiku mengingatkanku pada waktu dulu.


Waktu kecil aku pernah dibully hingga mentalku benar-benar hancur. Perkataan mereka membuatku sakit hati dan merasa rendah diri. Suara-suara tertawa mereka terdengar ditelingaku hingga aku benci. Aku menutupinya dengan kedua tanganku. Aku memukul kepalaku berusaha menyadarkan bahwa itu semua ilusi.


"Dasar anak yatim! "


"Hahahahaha! Anak janda miskin mana mungkin sukses! "


"Cowok kok gak ngerokok? Banci ya? "


"Jadi cowok tuh kudu ngerti olahraga. Gak cuma masak di dapur"


"Si paling feminim boy"


"Cowok kok cantik. Situ beneran cowok apa cewek? "


"Dasar lemah dan penakut! "


Aku mendengar perkataan itu semua berputar-putar dikepalaku. Aku berusaha menyadarkan dirimu sendiri.


"ARKHHHH!!! "Teriakku frustasi.


Aku menahan diriku untuk tak menyakiti diriku sendiri ketika melihat pisau dimeja. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Aku menoleh melihat ke arah jendela. Langit benar-benar gelap terdengar suara gemuruh.


"Dimana ada hujan, disitu aku berdiri"


Aku beranjak berdiri dan mengingat perkataan wanita cantik itu yakni Embun. Aku membayangkan Embun tengah berdiri di kamar sebrang. Aku keluar dan berdiri di balkon kamar.


"Embun? " ucapku dengan pelan.


Wanita yang ada di kamar sebrang menoleh. Aku menggelengkan kepala melihat untuk kedua kalinya bahwa itu bukan Embun, tapi Azura. Dia tengah tersenyum melihatku. Akupun membalasnya. Dia mengucapkan kalimat pelan dan aku melihat jelas melalui bibirnya. Dia mengatakan "kita sama-sama berjuang menyembuhkan luka. Semoga Tuhan memberkati" Itulah yang aku tangkap dari ucapannya itu.


Aku berbalik masuk ke dalam kamar. Pikiranku menjadi tenang setelah melihatnya. Entah mengapa wajahnya seperti obat bagiku. Malam ini hujan turun dengan deras. Aku duduk diranjang bersender sembari menukis sesuatu. Entah mengapa ketika hujan, pikiranku menjadi tenang. Beberapa saat kemudian tulisanku telah sempurna. Tetap puisi yang aku tulis yang berjudul "Bagaimana jika aku nanti mati"

__ADS_1


Tidak ada seorang pun yang tahu kapan mereka mati. Takdir hanya diketahui oleh Tuhan. Seperti masa lalu yang harus diselesaikan dengan damai agar hari ini menjadi tenang. Semua orang pasti akan datang ketika salah satu orang terkasih meninggal. Hanya saja sebagian orang tak merasakannya, bukan karena ia meninggal saja. Namun karena mereka tak memiliki saudara. Apakah aku akan seperti mereka yang meninggal dalam kesepian tanpa orang lain tahu?


Aku pejamkan mataku berharap esok akan lekas membaik dengan hati yang tenang. Mungkin obat penenang yang aku minum mulai bereaksi.


"Tringggg!!!! "Suara dering alarm membangunkanku.


Aku bangun dalam kondisi yang lelah entah karena apa. Mungkin karena batinku yang terluka. Aku beranjak berdiri berniat bersih-bersih. Ketika mandi baru aku menyadari lebam ada dimana-mana dan beruntungnya wajahku tak terluka. Jika orang lain tahu maka akan merepotkan.


Aku selesai dan bersiap sarapan pagi. Suara ketukan pintu menahanku untuk memulai makan. Aku berdiri membukakan pintu.


" Pagi bro! "ucap Victor bersama dengan Faza menyelonong masuk. Aku menutup pintu melihar mereka yang telah duduk manis di meja makan layaknya anak-anak menunggu ibu mereka menyiapkan makanan.


" Ada apa? "tanyaku kepada mereka.


" Biasa. Numpang makan, "jawab Victor.


Aku mengeluarkan makanan lebih dan kusajikan di atas meja. Kita makan bersama-sama. Aku merasakan perasaan aneh pada saat itu. Seperti rasa bahagia yang menjalar. Aku lupa jika aku pernah makan bersama keluarga di meja makan.


" Hallo! "ucap Faza melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.


"Ngapain ngelamun? " tanya Victor.


"Yaudah kita gas berangkat! " balas Victor dengan semangat.


Aku menganggukkan kepala mengikuti mereka berdua. Di depan gedung telah terparkir dua sepeda.


"Kalian naik sepeda? " tanyaku heran melihat sepeda yang terparkir di depanku.


"Iya. Biar hemat dikit, " jawab Faza.


"Gue bawain sepeda! " ucap Victor datang membawa sepeda. Dia memberikannga kepadaku. Aku terkejut bagaimana ia menghilang dan datang secepat itu.


"Ini bukan curian kan?" tanyaku ragu.


"Aman! " balas Victor.


Mereka berdua telah melaju lebih dulu. Aku tengok ke belakang dimana halte tempatku dan Azura menunggu bus. Aku ingin melihat ke apartemennya, namun hatiku mengatakan tidak. Aku mulai mengayuh sepedaku menuju kampus.


Suasaba disana ramai. Aku dan kedua temanku layaknya geng anak remaja dimana heboh ketika melihat cewek-cewek cantik. Aku merasakan pusing melihat mereka berdua saling memberikan komentar satu sama lain. Aku kira Faza anak yang kalem, namun pikiranku salah. Dia terlalu bar-bar. Mereka berdua tiba-tiba melihatku dengan pandangan tak biasa.

__ADS_1


"Ehmmm!! " ucap Victor.


"Kenapa? " tanyaku heran.


"Tipe cewek Lo kayak gimana. Nanti biae si Faza cariin. Dia banyak kenalan cewek-cewek cantik pinter dan kalem. Gue tebak tipe cewek Lo tuh kayak Azura!" ucap Victor.


Aku diam mendengar ocehan Victor. Ingin rasanya aku mengatakan kepadanya bahwa teman-teman cewekku banyak seperti tipeku, namun mereka tak membuatku nyaman dan merasakan seperti rumah. Hanya Embun yang aku anggap sebagai rumah tempatku pulang.


"Bukan, " balasku singkat.


Hari ini aku sibuk. Selain kuliah, aku ikut kelas seni. Aku mencoba membuka kembali perasaan nyaman dan tenang ketika melukis. Aku pulang ke apartemen sendirian ketika petang. Aku membawa coklat di tasku.


Aku benar-benar merasa berharga ketika Azura mengucapkan seperti itu terang-terangan di komentar instagram. Rizki benar-benar mengomporiku.


"Berangkat jomblo, pulang bawa jodoh! " ucap Rizki.


Aku tutup handphone kembali dan berpikir topik apa yang akan aku bicarakan dengan Azura nanti.


"Dia posesif. Apakah aku hanya akan dianggap pelarian? " ucapku pada diri sendiri.


Pukul 06.00 waktu belanda kota Amsterdam malam hari. Aku keluar dari apartemen. Pakaianku seperti biasanya. Aku duduk di kursi di pinggir jalan menunggu datangnya Azura. Waktu terus berlalu hingga aku bosan.


"Dimana dia? " tanyaku dengan kesal. Pasalnya satu jam aku telah menunggu dirinya tanpa kabar.


Aku berjalan ke arah apartemen sebrang. Aku ingat bahwa dia tinggal dilantai 3 dengan nomer kamar yang selalu aku ingat seperti tanggal lahirku. Aku berjalan di lorong. Suasana hening. Aku tiba di depan kamarnya dan berniat aku ketuk pintu tersebut. Aku mendengar sesuatu dari dalam seperti benda pecah. Aku dekatkan telingaku dengan pintu.


"Diam! Turuti perkataanku! " ucap seorang pria.


"Enggak akan! Laki-laki brengsek! " ucap Azura.


Suara tamparan terdengar jelas ditelingaku.


"Kamu wanita kotor gak usah belagak sok suci!" balas pria tersebut. Aku mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Aku berlari ke sudut belokan mengintip pria yang keluar dari kamar Azura. Tubuhnya jangkung sama seperti pria yang aku lihat sebelumnya.


Azura hendak menutup pintu namun aku datang dan mencegahnya. Dia terkejut melihatku.


"Bolehkah aku masuk? " tanyaku kepadanya.


Dia menatapku sebentar sebelum menganggukkan kepala. Aku diperbolehkan masuk ke dalam kamar. Tanpa aku sadari bahwa aku diikuti oleh pria yang sebelumnya keluar dari kamar Azura.

__ADS_1


"Kau akan menyesal! " ucapnya marah kemudian benar-benar pergi.


__ADS_2