
"Ayo dong Conrad, sekali-sekali kita bersenang-senang."
"Tapi, aku masih harus belajar untuk ujian akhir skripsi."
"Aduh! Itu kan masih satu minggu lagi. Kamu ini anak muda apa gak sih. Masa tidak punya waktu untuk 'having fun' sih!"
"Kau ini, kalau ada maunya paling getol memaksa."
"Hahahah, jangan lupa ya rekomendasikan diriku untuk kerja sebagai marketing di perusahaan kapal pesiar daddy-mu."
"Dih! Usaha sendiri sana!"
Tawa mereka meledak bersamaan. Dion hari ini memaksa Conrad untuk ikut dengannya ke Club malam. Conrad akhirnya menyetujui, karena pada dasarnya dirinya pun sedang resah.
Kedua wanita yang dekat dengannya, Ruby dan Jasmine, beberapa hari ini seakan menjauh. Jasmine tidak pernah muncul lagi seperti biasanya, sedangkan Ruby seakan menghindari dirinya.
Setelah kejujuran Jasmine mengungkapkan perasaanya pada Conrad, wanita itu mundur dengan teratur. Aplagi saat itu Conrad mengatakan padanya jika dia diam-diam sudah berpacaran dengan Ruby.
Ada perasaan yang tak dapat ia jelaskan ketika Jasmine tidak pernah menemuinya lagi. Rindu?
"Ah! Mungkin karena sudah terbiasa, hingga aku merasa aneh tidak melihat Jasmine setiap harinya. Mungkin ini yang terbaik untuk dia tidak menemuiku lagi," batin Conrad menenangkan dirinya.
Dan di sinilah dia malam ini, sebuah Club ternama di Miami. Suara hinggar bingar musik yang keras tak dapat menutupi kegundahan hatinya.
Segelas martini ada di tangannya. Ia menyesap minuman itu dan rasa hangatnya mulai membakar dada. Rasa asin dari buah olive, menghilangkan kegetiran dari kerasnya Vodka bercampur setetes Vermouth. Dentuman musik pun mulai bisa dia terima, membuat dirinya menyatu dengan suasana hingar bingar.
Pandangannya menyebar ke seluruh ruangan, memperhatikan setiap manusia yang sedang meliuk-liuk dengan bersemangat. Aroma peluh, rokok dan alkohol bercampur, cukup menambahkan rasa pusing di kepala Conrad.
"Hei! Conrad! Bukankah itu salah satu wanitamu?" Dion menunjuk ke lantai atas dalam ruangan kaca, yang biasa di tempati oleh tamu Vip.
Conrad mengerjapkan matanya yang terasa kabur. Dia menajamkan pandangannya untuk memperhatikan wanita yang ditunjukan oleh Dion.
Seketika jantungnya berdegup dengan kencang melihat ke arah wanita yang sedang dalam pelukan seorang pria. Sosok wanita yang sangat ia kenal begitu juga pria tersebut.
Wajahnya yang memerah karena alkohol bertambah menyeramkan dengan rahang yang mengeras. Nafasnya mulai memburu dan tubuhnya bergetar menahan emosi. Ia turun dari kursi tingginya hendak menuju ke arah gadis itu berada.
"Mau kemana kau?" Dion mencekal tangan Conrad.
"Aku harus menyelamatkan wanitaku!" teriak Conrad mengalahkan suara hinggar bingar. Dia yakin jika pria di atas sana, bermaksud melecehkan wanitanya.
"Mau menyelamatkannya dari apa. Lihat dia! Nyaman sekali dalam cumbuan pria itu!"
Conrad menatap ke arah ruang kaca di lantai dua. Dia bisa melihat wanita tersebut sedang berdiri dan menikmati cumbuan pria dari belakangnya. Matanya terpejam dan tangan pria itu meraba sekujur tubuhnya, tanpa perlawanan.
"Kau lihat, bukan dia begitu menikmatinya."
Conrad tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis cantik dan baik-baik yang sangat ia rindukan, bagaimana bisa berada di tempat seperti ini dan berakhir dalam pelukan pria itu
"Aku tetap harus ke sana, meminta penjelasan!"
"Untuk apa! Apa dia memiliki hubungan dengan dirimu? Tunggu! Katakan padaku sebenarnya pacarmu Jasmine atau Ruby?"
Conrad tidak menghiraukan perkataan Dion dan tidak ada niatan untuk menjawab. Dia melewati orang-orang yang berkerumun hendak menjangkau tangga ke lantai dua. Emosi dalam dirinya membuat dia tak dapat berpikir jernih.
__ADS_1
"Hei! Kau tidak perlu mempermalukan dirimu di sana! Cukup kau ketahui wanita seperti apa dia! Lupakan! Lebih baik kita bersenang-senang!" Dion dengan tegas menarik Conrad menjauhi tangga tersebut.
Pemuda yang sedang patah hati itu merasa resah. Namun dia akhirnya mengikuti perkataan Dion, menenggelamkan dirinya dalam belasan gelas martini sambil memandang wanita yang sangat ia rindukan. Perasaan cemburu begitu membakar di dalam dadanya.
"Pengkhianat!" batinnya penuh kebencian.
"Aku pulang dulu!"
"Hei! Tunggu. Aku akan mengantarmu." Doni menahan tangan Conrad. Dia sangat khawatir melihat sahabatnya yang sedang mabuk dan dalam suasana hati tidak baik.tk
"Tidak perlu, kau bersenang-senanglah, aku bisa naik taxy."
"Kau yakin?"
Conrad mengajungkan jempolnya dan mulai berjalan keluar dengan langkah sedikit sempoyongan. Rasa sakit di hatinya lebih kuat daripada rasa sakit di kepala.
Taxy mengantarkan pemuda itu ke apartement kecilnya, dia turun dengan langkah yang sedikit sempoyongan. Rasa pusing akibat belasan Martini, membuat dirinya sangat sukar menguasai diri. Dia pun tak menyadari saat membayar taxi dengan selembar uang Seratus dolar untuk biaya yang seharusnya hanya dua puluh dolar.
Hoek! Hoek!
Conrad memuntahkan isi perutnya begitu saja di pinggiran jalan. Rasa pahit yang keluar seolah menandahkan kenyataan pahit yang dia rasakan.
"Conrad ... kau baik-baik saja?" seorang wanita mendekatinya dengan panik.
"Kenapa kau ada di sini, kenapa kau tidak bersenang-senang juga seperti dia?" ucapnya dengan merancau.
"Kau mabuk? Ini seperti bukan dirimu. Ayo aku bantu naik ke atas."
Conrad tak menolak wanita yang sedang memapah dirinya. Dia bergelanyut begitu saja, meletakan tubuh pada pundak kecil seorang wanita, yang sedikit kesusahan menopang tubuh besarnya.
Wanita itu dengan sekuat tenaga membantu Conrad mencapai tempat tidur. Dia kemudian mengambil lap basah untuk menyeka wajah Conrad. Melepaskan sepatu dan melonggarkan sabuk pemuda itu.
"Minumlah air ini sedikit, untuk membersihkan mulutmu." Ia mengangkat kepala Conrad dan membantu pemuda itu menegak habis air mineral.
"Kenapa kau mengkhianati aku?" bisik Conrad sambil menatap wanita yang memangku kepalanya.
"Aku ...."
"Bukankah kau mengatakan mencintai aku, tapi kenapa melakukan dengan pria lain?"
Saat ini di pandangan Conrad wanita yang ada di dekatnya berganti rupa beberapa kali. Terkadang ia melihat Ruby, terkadang pula ia melihat Jasmine.
Pemuda itu mengerjapkan mata dan memandang wanita itu lagi.
"Aku sangat merindukanmu, beberapa hari tidak melihatmu, membuatku tersiksa." Tangannya membelai wajah wanita tersebut.
"Conradd ... maafkan aku ...."
Bibir merah wanita cantik yang bergetar di hadapannya membuat Conrad begitu menginginkannya. Perasaan lain muncul dalam hatinya. Ia menarik tengkuk wanita itu dan ********** dengan mesra tanpa perlawanan.
Bayangan wanita yang mengkhianati dirinya kembali terlintas dalam pikirannya, membuat dia memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir dan leher wanita dalam pelukannya saat ini.
"Apa ini yang kau inginkan dariku? Kenapa kau selalu menghindari diriku dan mencarinya dari pria lain?" gerutunya.
__ADS_1
"Conrad ... aku ..."
Conrad memandang wajah wanita itu lagi, membelainya dengan lembut. Kali ini sosok itu berubah menjadi wanita lain di matanya.
"Aku sangat merindukanmu. Aku sangat menginginkan dirimu," ucapnya mesra.
"Ooo Conrad. Aku mencintaimu." Wanita itu mengecup bibir Conrad.
Conrad dalam keadaan yang di pengaruhi oleh alkohol tal dapat berpikir jernih. Naluri seorang pria membuatnya semakin aktif di atas tubuh wanita yang sangat ia rindukan.
Ia melepaskan pakaian dari sekujur tubuh wanita itu tanpa perlawanan. Bibir dan tangannya dengan aktif menyusuri setiap sudut tubuh molek tersebut.
Tangan gadis itu pun tak kalah aktif melepaskan kancing-kancing kemeja Conrad. Tubuh polos mereka mulai menyatu dalam hasrat dan kehangatan.
Kamar kecil tersebut dipenuhi dengan desahan-desahan kenikmatan dan kepasrahan. Gadis itu merelakan sesuatu yang sangat ia jaga selama dua puluh tahun, kepada pria yang sangat ia cintai.
"Conrad ...."
Setelah dua kali melakukan percintaan mereka, ia terlelap dalam pelukan pria itu. Hingga fajar menyingsing, matanya menatap pria yang sedang memeluknya penuh kebahagiaan, hingga pemuda itu menggumamkan nama wanita lain ...
"Kau melakukan ini, karena mengira aku adalah dia?"
Air matanya bercucuran. Ia dengan hati hancur, melepaskan pelukan Conrad. Gadis itu, berusaha untuk berdiri, menahan rasa sakit di hati yang melebihi rasa sakit di pusat intinya. Dengan susah payah ia mengenakan pakaiannya.
"Celana dalamku ... aku tidak dapat menemukannya."
Gadis cantik itu berusaha mencari segetiga penutup yang entah telah dilempar ke mana oleh Conrad semalam.
"Hmmm ...." Pemuda itu bergumam, membuat wanita tersebut menghentikan gerakannya.
"Selamat tinggal Conrad," bisiknya sendu.
Wanita itu keluar dari apartemen Conrad, tanpa menemukan segitiga pelindungnya. Suara pintu yang tak sengaja ia tutup dengan keras menggugah pemuda tersebut dari lelapnya.
Conrad mengerjapkan mata dengan malas. Rasa sakit yang menguasai kepalanya, membuat dirinya enggan untuk bangun.
Beberapa saat lemudian, ia menggeliat dan terkejut melihat tubuh telanjangnya, sprei yang berantakan dan matanya lebih terbelalak lagi melihat noda darah di sprei tersebut.
Kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih, tak dapat memahami kejadian yang sudah terjadi. Conrad memejamkan mata berusaha menerka rentetan kejadian yang masih samar.
"Jasmine .... Tidak mungkin! Jangan katakan jika semalam itu bukan mimpi. Aow!" Conrad memegang keningnya yang sakit karena alkohol semalam. Ia mengenakan celana panjangnya dengan tergesa-gesa, karena ia yakin gadis itu belum jauh.
Dengan kepala yang berat ia membuka pintu apartemen dan terkejut melihat seorang gadis yang sedang menangis terisak di samping pintu.
"Ruby?"
"Conrad ...," bibir gadis itu bergetar.
"Kau ... apakah kau ...," dia bingung menanyakan apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
"Kau sudah lama di sini?" Akhirnya pertanyaan itu yang meluncur di bibirnya.
Ruby mengangguk. Dia masih terisak membuat Conrad merasa bersalah. Pemuda itu memeluk Ruby dan mengusap rambut wanita itu dengan lembut, mengecup keningnya.
__ADS_1
"Maafkan aku Ruby ...."
Hatinya merasa terpukul, kejadian semalam telah membuat dirinya menjadi seorang predator. Dia merengut kesucian seorang wanita dengan membayangkan wanita lain. 'Jasmine ... ' desahnya dalam hati.