
Diana masih menatap Conrad dengan heran, tetapi dia tidak melanjutkan percakapan.
"Kita akan berbicara nanti, Conrad." Wanita itu kemudian membawa Sean ke ruang keluarga di mana seluruh anggota keluarga berkumpul.
"Huaaaa …. Ada boneka hidup." Anna loncat turun dari sofa dan langsung menghampiri Sean.
"Hallo, namaku Anna. Siapa namamu?" Senyuman ceria dan sorot mata Anna yang bersahabat membuat Sean merasa sangat senang.
"Namaku Sean K junior." ucapnya dengan lantang.
"K? Sama dong. Kalau Aunty Anna Knight, bagaimana dengan Sean K nya itu apa?"
Bocah kecil itu tampak bingung dengan pertanyaan Anna, dia menatap Conrad ragu-ragu mencari bantuan untuk menjawab pertanyaan Anna.
"K-nya Sean sama dengan keluarga ini. Sean Knight junior." Jawaban Conrad membuat seluruh anggota keluarga menatapnya heran.
"Ooo sama ya? Sean baru tahu." sahut Sean polos.
"Duh, Sean ini menggemaskan sekali. Ayo sini duduk sama Aunty Anna dan Adelaide." Anna dengan gembira menggandeng Sean untuk bersamanya dengan Adelaide.
Gadis cantik berdarah campuran Indonesia dan Amerika itu memahami dari tatapan mata Mommy-nya jika memerlukan waktu untuk berbicara dengan Conrad. Hal ini juga begitu mengejutkan bagi mereka semua, karena Conrad yang selalu menjadi panutan membuat dobrakan dengan membawa seorang anak, dengan nama keluarga Knight?
"Sean sekarang mau main apa?" Sean menjawab pertanyaan Adelaide dengan melihat jam di dinding yang menunjukan pukul delapan malam.
"Uncle Conrad, Sean bubuk di sini?" Bocah kecil itu menguap lebar.
"Sean sudah mengantuk ya. Bubuk di sini saja ya dengan Uncle?" Conrad menghampiri anaknya dan duduk di sisi bocah itu.
"Mommy tidak marah?" Matanya berpijar gembira meskipun ada keraguan.
"Nanti, Uncle yang bicara dengan Mommy. Okey?" Ucapan Conrad dijawab dengan anggukan kepala Sean.
"Sekarang, kita akan berkenalan dengan Grandpa tampan di rumah ini ya." Sean kembali berada di gendongan Conrad.
"Kakak! Biar Anna yang menidurkan Sean." Anna berseru sebelum mendahului Conrad mencari pelayan untuk menyiapkan pakaian Sean.
"Sean mau dibacakan dongeng dan segelas susu hangat sebelum tidur?" Kali ini Adelaide yang ikut menawarkan sesuatu.
"Mau, Aunty."
__ADS_1
"Minta pelayan saja untuk menyiapkannya Adel." Conrad tidak tega jika Adel yang sedang dalam kondisi rentan harus naik turun tangga.
Adel adalah alasan pria muda itu memilih menjadi dokter jantung. Dia melepaskan kedudukannya sebagai anak tertua yang biasanya berkecimpung di dunia bisnis untuk mengabdi pada keluarganya.
"Iya, Kak."
Conrad kemudian membawa Sean ke dalam ruang kerja Andrew diikuti oleh Diana.
"Kenalkan Sean, dia adalah ayahku, Grandpa Andrew."
"Hallo, Grandpa.” Sean turun dari gendongan Conrad dan menghampiri Andrew.
"Anak tampan, kemarilah." Andrew melebarkan tangannya.
Sean tanpa malu-malu segera menghampiri Andrew dan mencium pipi pria itu kanan dan kiri, membuat Andrew tertawa girang.
"Anak pintar, siapa mommy-mu?"
"Jasmine Miller." sahut Sean dengan lantang.
"Miller?" Andrew mendongak ke arah Conrad. "Apakah Grandpa Sean bernama Michael Miller?"
"Wow, Grandpa Andrew keren langsung tahu nama Grandpa Michael." Sean mengerutkan keningnya dengan menggelengkan kepala kagum.
"Benarkah?"
"Iya benar." Andrew tertawa kecil dengan mengusap kepala Sean.
"Sean sayang sudah mengantuk ya. Ayo, ikut grandma kita lihat bagaimana kamar Uncle Conrad." Diana meraih tangan Sean.
"Ayo, Grandma. Bye Grandpa. Uncle, Sean tunggu di kamar ya." Sean menatap ke arah Conrad.
"Iya Sean, bobok dulu ya sama dua Aunty kembar. Uncle masih ada urusan dengan Grandpa dan Grandma." Conrad penuh kasih sayang mencium pipi kiri dan kanan Sean.
Diana membawa Sean keluar dari ruang kerja Andrew menuju ke kamar Conrad di mana Anna dan Adelaide sudah menanti. Sementara itu di dalam ruang kerjanya, Andrew menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat kemudian mematikan komputer.
Sambil menunggu Diana kembali, Conrad mengambil sebotol anggur merah, dua buah gelas untuk dirinya dan Andrew. Dituangkan anggur tersebut dan menyerahkan segelas anggur pada Andrew.
"Katakan pada kami Conrad, apa maksudmu dengan Sean adalah anakmu?" Diana yang baru saja kembali ke dalam ruangan tak dapat menahan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Duduklah dulu, Sayang." Andrew menepuk sisi tempat duduknya yang kosong,
Diana menghempaskan pantatnya di sisi sang suami, di mana pria itu dengan cepat pula melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Pemandangan mesra itu membuat Conrad tersenyum simpul.
"Seperti inilah yang aku inginkan dalam hidupku." pria itu mengarahkan tangan yang memegang segelas anggur ke arah orang tuanya,
"Semua perlu proses, tidak bisa abrakadabra lengket begini." ujar Andrew sambil mengecup kening istrinya dengan mesra.
"Benar, Sayang sekali prosesku mengalami banyak hambatan." Conrad tersenyum ketir.
Dia kemudian menceritakan apa yang terjadi antara dirinya, Ruby dan Jasmine. Bagaimana dia mendampingi Ruby saat melahirkan dan pencariannya akan Jasmine hingga bertemu lima tahun kemudian. Sean adalah bonus yang tak pernah dia ketahui selama lima tahun.
"Sean adalah anak yang tidak pernah aku ketahui, Mom ... Dad …." Conrad menghembuskan napad dengan berat dan menyandarkan punggungnya. "Meskipun berkali-kali Jasmine menyangkal, tetapi akhirnya dia tak dapat membantah."
"Kenapa kau tidak menanyakan padanya alasan dia pergi dan menjauhi dirimu?"
Conrad menyesap anggurnya sebelum menjawab pertanyaan Diana.
"Aku sudah sering menanyakannya, tetapi dia selalu menghindar." sahut Conrad lirih.
"Kau ini luar biasa sekali, menolak perjodohan ketika Michael memintanya, tetapi berakhir menghamili wanita malang itu. Bagaimana Daddy harus menghadapi Michael dan keluarganya jika tahu kau yang membuat Jasmine menanggung penderitaan dan melewati masa kehamilan sendirian." keluh Andrew.
"Ingat diri." Diana menepuk dada suaminya perlahan.
"Aku tahu, kita juga mengawalinya tanpa pernikahan, tetapi setidaknya aku tidak pernah membiarkan mu jauh dan mengalami penderitaan sendirian." Andrew dengan santainya membela diri.
"Ini memang salahku. Aku terlalu plin plan saat itu." Conrad menyadari kebodohannya yang menyebabkan dia kehilangan keluarga kecil yang seharusnya sudah dimilikinya sejak lama.
"Aku mengenal dirimu, Conrad. Kebaikan yang ada dalam hatimu membuat kau tidak dapat memutuskan semua secara logika. Kau terlalu lembut dan perasa, tetapi aku rasa saat ini Conrad-ku sudah berubah dewasa, mendengar bagaimana dirimu bisa dengan tegas memperoleh waktu Bersama Sean."
Diana tak tega melihat wajah muram anak sulung di keluarga ini, meskipun bukan lahir dari rahimnya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang, Conrad?" Andrew menatap tajam ke arah dokter muda, mencari tahu apa rencana selanjutnya.
"Aku akan menikahi Jasmine, bukan hanya karena dia adalah ibu dari Sean. Namun, karena aku tahu kalau kami saling mencintai."
Andrew dan Diana saling berpandangan mendengarkan perkataan Conrad yang tegas. Tampak jelas kesungguhan hati pemuda tersebut terpancar dari raut wajahnya yang tegas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika Jasmine masih terus menolak?" Pertanyaan Andrew menimbulkan seringai di wajah Conrad.
__ADS_1
Pria itu meletakan kedua sikut tangan di pahanya dan menatap tajam ke arah Andrew.
"Aku tidak akan menunggu lama lagi, Dad. Karena itu aku ada disini dan meminta bantuanmu. Aku akan menggunakan nama keluarga Knight untuk membuat Jasmine bersedia menikahiku."