
Jasmine hari ini membawa Ruby menginap di rumahnya. Selama hari senin hingga kamis, Ruby bisa mengambil cuti dari tempatnya magang. Kedua gadis yang mulai akrab itu, sangat senang sekali dengan ide menginap bersama.
"Ruby, katakan padaku, apa kamu punya pacar?" tanya Jasmine dengan mata cerianya dan wajah penuh keingintahuan.
"Kalau kamu?" Ruby bertanya balik daripada menjawabnya.
"Aku …." Jasmine menggulingkan tubuhnya dari posisi tengkurang dengan tangan yang menopang dagu, menatap ke langit-langit kamarnya yang dipenuhi tempelan 'glow in the dark'.
Ia terdiam sesaat, di dalam pandangannya saat ini, wajah Conrad yang tengah tersenyum padanya. Jasmine menyungging senyuman indah menatap bayangan Conrad.
"Kok, senyum-senyum sendiri sih. Siapa pacarmu?" tanya Ruby yang menjadi penasaran dengan sikap Jasmine.
"Aku belum punya pacar."
"Masa sih?"
"Beneran."
"Ah, gak percaya. Kau gadis yang sangat cantik dan menyenangkan, pasti banyak sekali pria yang menyukaimu." Ruby menggoyangkan kakinya, dia menopang dagu dan menatap Jasmine dengan tatapan menggoda.
"Tapi … tidak ada yang menarik di hatiku."
"Kau belum pernah berpacaran?"
Jasmine menggelengkan kepala.
"Serius?"
"Pernah sih waktu masih usia tujuh belas, mereka menjodohkan kita karena dia ketua tim basket dan aku ketua tim Cheerleader. Hanya untuk memuaskan penggemar, juga menghindari banyaknya pria yang mengejarku." Jasmine tertawa kecil mengenang masa itu.
"Lalu?"
"Lalu? Setelah kita lulus ya putus. Karena kami adalah teman darii kecil, itu sebabnya kami bisa sepakat membuat perjanjian itu."
"Kenapa kalian tidak jadian saja?"
"Enggak lah. Dia sudah di jodohkan dan mencintai tunangannya. Hanya saja gadis yang menjadi tunangannya sedang melanjutkan studi di luar negeri. Jadi dia sepakat berpacaran denganku, dengan alasan yang salah denganku."
Jasmine tertawa geli mengingat masa sekolah menengahnya.
"Kalau sekarang, kau menyukai seseorang?" Ruby masih melancarkan pertanyaan.
Jasmine menarik napas. Dia mengacungkan jarinya seakan hendak menyentuh bintang di langit-langit kamarnya. Gerakan Jasmine sedikit memutar seakan melukis wajah seseorang dalam angannya.
"Aku menyukai seseorang, tapi tidak yakin jika pria itu menyukaiku." Jasmine mendesah perlahan.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Bisa jadi dia menyukaimu."
Jasmine menggelengkan kepala. "Dia terlalu acuh padaku, meskipun aku seringkali berusaha dekat dengannya." Mata Jasmine masih menerawang ke langit-langit kamar.
"Apakah aku mengenalnya?"
Jasmine diam sesaat mendengar pertanyaan Ruby, menimbang apakah dia harus menceritakan atau menyimpan dalam hatinya.
Akan sangat memalukan jika ternyata Ruby juga menyukai Conrad atau jika Conrad menyukai Ruby, Jasmine tidak ingin Ruby menjaga jarak karena dirinya.
__ADS_1
Gadis cantik berambut pirang itu kemudian membalikan tubuhnya, kembali telungkup dengan wajah yang menempel pada kasur.
"Kau belum menjawab pertanyaanku dari tadi. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya pacar?"
Ruby tersenyum lebar, ia menggelengkan kepala. "Belum."
"Yang benar? Masa sih?"
"Iya benar!"
"Aku pikir kau dan Conrad …."
"Hush! Kami hanya berteman baik."
"Ah … aku kira kalian berhubungan."
Ruby tersenyum tipis pada Jasmine sebelum melanjutkan membawa buku tentang anatomi tubuh manusia. Matanya tertuju pada buku tersebut, namun pikirannya menerawang.
Aku tidak boleh menceritakan hubunganku dengan Conrad pada siapapu. Jika ibuku tahu, dia pasti tidak akan menyukai Conrad. Heh! Conrad, berapa lama aku harus menutupi hubungan ini.
Terdengar ketukan di pintu, Jasmine segera membukanya.
"Nona, makan malam sudah siap. Tuan Michael juga tuan muda Robert sudah siap di meja makan." ujar Lupita.
"Daddy di rumah? Ayo Ruby, kau aku perkenalkan dengan daddyku." Jasmine mengulurkan tangannya pada Ruby yang tampak ragu. "ayo, jangan malu."
Ruby meraih tangan Jasmine yang menggandenganya keluar dari kamar. Ini adalah pertama kalinya ia akan bertemu dengan ayah Jasmine, Ruby sedikit canggung.
"Hai, Dad. Hai, Rob." sapa Jasmine dengan riang. "Mana, Mom?"
"Hallo, Uncle."
"Ayo duduk, Ruby."
Jasmine duduk di depan dr.Michael sementara Ruby berhadapan dengan Robert. Ruby menatap malu ke arah Robert yang tersenyum padanya.
Melihat Robert dengan hanya menggunakan kaos oblong dan celana selutut dan rambut yang acak-acakan tanpa minyak rambut. Ruby sedikit gugup melihat sisi lain dari Robert.
"Makanlah yang banyak, Ruby."
"Ini sudah cukup, Uncle." sahut Ruby dengan tersenyum tipis.
"Daddy ini bagaimana sih? Masa anak gadis disuruh makan malam yang banyak." protes Jasmine.
"Makan yang banyak, nanti olah raga yang banyak juga, ya 'kan Ruby."
"He eh," Ruby hanya menimpali perkataan Robert.
"Lain kali aku akan mengajakmu mengintip Robert yang lagi berolah raga, kau akan takjub." Jasmine tertawa kecil.
"Boleh saja, aku juga bisa mengajarimu mengencangkan bagian-bagian yang penting," ujar Robert mengerdipkan matanya.
Selesai makan, Michael meninggalkan mereka semua dan melanjutkan membaca buku di ruang perpustakaan. Sedangkan Jasmine mengantar Ruby di ruang keluarga untuk menonton televisi.
"Ruby, tunggu sebentar ya. Aku mau menemui daddy dulu." Jasmine meninggalkan Ruby sendiri. Di tengah perjalanan menuju ruang perpustakaan ia bersalipan dengan Robert.
__ADS_1
"Jangan menggoda Ruby, jika tidak serius."
Robert tertawa kecil. "Bukankah akan lebih baik bagimu, jika Ruby berpacaran denganku? Maka Conrad tidak akan mendapatkan kesempatan."
"Robert! Aku ingin semuanya berjalan alami. Jika harus bersaing, biar dengan hati yang terbuka."
"Mana ada ceritanya seperti itu, salah satu pasti akan terluka."
"Tapi, aku tidak ingin kau menyakiti Ruby. Dia sahabat baikku."
Robert mengangkat kedua tangannya dan meninggalkan Jasmine dengan acuh. Pemuda itu berjalan ke arah Ruby. Jasmine yang ingin menyusul mereka terhenti, karena apa yang ia ingin katakan pada ayahnya lebih penting.
"Dad …."
"Ada apa sayang?" Michael menyahuti Jasmine tanpa mengalihkan pandanganya dari buku yang ia baca.
"Aku ingin bertanya sesuatu. Kau suka dengan temanku, Ruby?"
Michael melepaskan kacamata bacanya dan memandang ke arah Jasmine. Putrinya yang semakin dewasa dan cantik. Michael merasa bodoh menyetujui persyaratan Conrad, seharusnya saat itu ia membawa Jasmine ikut berkunjung ke rumah keluarga Knight.
"Ruby, dia tampaknya anak baik."
"Betulkan, Dad. Aku tidak salah kan memilih teman."
"Tentu saja."
"Bisakah kau menolong Ruby, Dad?" Mata Jasmine memandang Michael penuh harap.
"Apa yang kau inginkan?"
"Dia kuliah di bagian keperawatan, nurse. Bisakah kau membantu memberinya pekerjaan magang dan juga membantu memberikan bea siswa tambahan?" ucap Jasmine dengan bersungguh-sungguh.
"Kau tampaknya menyukai anak itu, Jasmine."
Jasmine mengangguk."Dia satu-satunya teman yang paling sederhana dan apa adanya yang aku punya, Dad. Dia baik hanya saja, keluarganya kurang mampu."
"Akan Daddy tanyakan kepada kepala perawat jika ada posisi untuk Ruby. Mengenai bea siswa, bagaimana dengan loma ribu dolar setiap bulannya?"
"Daddy! Kau yang terbaik!" Jasmine memeluk Michael dengan sukacita.
"Jangan senang dulu, ada syaratnya." Michael tersenyum tipis.
"Kok pakai syarat, Dad?" ucap Jasmine merajuk.
"Jadi atau tidak?"
"Asal tidak menyulitkanku, tidak masalah."
"Mudah saja. Daddy ingin kau memperkenalkan seorang pemuda baik-baik sebagai pacarmu padaku, bagaimana? Mudah kan?" Michael sangat berharap jika Conrad yang akan diperkenalkan oleh Jasmine.
"Ah, Daddy! Persyaratanmu lebih susah daripada berkeliling lapangan dua puluh kali." Jasmine menggerutu.
"Jangan katakan kalau kau tidak memeiliki seseorang di dekatmu?"
"Ah, Daddy! Kau benar-benar menyebalkan!"
__ADS_1
Jasmine keluar dari ruang perpustakaan dengan kesal. Akan lebih mudah bagi dirinya jika saja, Conrad tidak dingin padanya.