Hurt By Mr.Doctor

Hurt By Mr.Doctor
Anak lucu


__ADS_3

"Sean pulang dengan Uncle, ya." Conrad yang hari itu sedang tidak praktek malam segera menghampiri anaknya di ruangan Jasmine.


“Horeee … akhirnya Uncle Conrad tidak sibuk.” Bocah kecil itu melompat-lompat dengan gembira.


Hati pria itu sangat terenyuh dengan keceriaan di mata bocah itu, anak yang tidak memanggil dirinya dengan sebutan Daddy.


"Bagaimana kalau kita ke Mall dulu. Jalan-jalan sambil membeli mainan baru?" Dia berjongkok di depan Sean.


"Ide yang cemerlang." Sean melingkarkan tangan kanannya di leher Conrad siap untuk di gendong.


Conrad kemudian mengangkat tubuh Sean dan mencium kedua pipi bocah itu penuh kasih sayang. Pandangannya kemudian beralih ke arah Jasmine yang masih duduk di balik meja kerjanya dengan memperhatikan interaksi antara Conrad dan Sean.


"Kau ikut dengan kami, bukan?" tanyanya penuh harap.


"Aku masih banyak pekerjaan. Bawa pulang Sean sebelum pukul delapan malam." Jasmine mengalihkan pandangan ke arah Sean. "Tidak boleh nakal ya, Sayang."


"Mommy tidak ikut jalan-jalan?" 


Jasmine menggeleng."Bagaimana kalau besok kita berdua berenang?" 


"Okey!" Sean mengangguk dengan patuh. "Ayo uncle, kita berangkat sekarang."


"Direktur Michelle." Conrad mengangguk ke arah Mommy Jasmine.


"Glandma, bye-bye. Mommy, bye-bye." Sean melambaikan tangannya.


Setelah Conrad keluar, Michelle berdiri dari tempat duduknya hendak menyusul mereka, tetapi dia berhenti sesaat di dekat Jasmine hanya untuk mengatakan kekebalan hatinya. "Kau bodoh!"


Michelle lalu keluar untuk menyusul ke arah Conrad yang masih menunggu lift. 


"Conrad! Besok datanglah ke rumah jika kau tidak sibuk. Aku dan Michael akan pergi dan meliburkan beberapa pelayan." Michelle memandang dokter muda itu penuh arti.


"Dengan senang hati Direktur Michelle. Emh … mungkin saya akan membawa Sean menginap di rumah Daddy Andrew, apakah boleh?"


 Conrad tentu saja tidak akan meminta izin kepada Jasmine untuk membawa anaknya begitu saja, karena wanita itu pastinya akan menolak. Dia menghormati dan menjaga persahabatan keluarga dengan bertanya pada Direktur Michelle.


"Kau mau membawa Sean ke rumah keluarga Knight?" Michelle tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Conrad mengangguk. "Setelah kembalinya Francisco dan Francesca ke Italy, Mommy Diana selalu merasa kesepian." Dibelainya pipi Sean penuh kasih sayang.


"Siapa itu Andrew dan Diana?" Pertanyaan Sean membuat Conrad terenyuh.


      Mereka Grandpa dan Grandma-mu, Sayang


"Mereka Daddy dan Mommy, Uncle."


"Oooo." 


"Bagaimana, Nyonya Michelle?" Conrad menatap ke arah ibu dari wanita yang dia cintai.

__ADS_1


"Tentu, tentu saja. lakukan yang kau mau, aku percaya padamu." Michelle tersenyum dengan anggun. "Sean, jangan nakal ya."


"Siap, Grandma." Dua jempol kecil diacungkan ke arah Michelle.


Pintu lift terbuka dan Conrad segera masuk dengan membawa Sean.  Pria itu sangat bahagia bisa memiliki waktu bersama dengan anaknya, meskipun sampai sekarang Jasmine belum mengakui jika Conrad adalah ayah biologis dari Sean, tetapi wanita itu juga tidak kuasa melarangnya untuk bersama bocah tampan ini.


Lift berhenti sesaat di lantai dua puluh dua, di mana seorang dokter muda tampan lainnya masuk.


"Conrad? Hey, Sean."


"Uncle Robert, mau pulang juga?" 


Robert tersenyum ke arah Sean dan menggelengkan kepala. "Uncle masih harus lembur." Dicubitnya pipi Sean dengan gemas. "kalian mau ke mana."


"Mau jalan-jalan ke Mall dan beli mainan." sahut Sean dengan gembira.


"Wah, senangnya." Robert mengacak rambut Sean penuh kasih sayang. "aku tidak tahu jika kalian akrab." 


Robert menatap Conrad penuh tanda tanya. Setelah lima tahun berada di New York, Dokter yang mendalami ahli beda saraf ini kembali pulang untuk mengabdi di rumah sakit di mana keluarganya memiliki saham besar. 


"Karena dia menggemaskan." Conrad menatap Sean dengan kekaguman.


"Apalagi mommy-nya, bukan?" sindir Robert penuh arti.


"Sayang sekali dia menolakku berkali-kali." 


"Tidak aku sangka setelah sekian lama kau ternyata masih memiliki hati dengan adikku." Robert masih terkekeh dengan keras membuat Sean bingung dengan apa yang ditertawakannya.


"Bagaimana denganmu dan Ruby?" pandangan Conrad menyelidik ke arah Robert. Malam itu dia yakin sekali jika pria yang bersama Ruby di club adalah Robert. 


"Ada apa dengan dia? Setelah lima tahun apakah dia masih cantik?" Robert mengerikan matanya. 


"Kau belum pernah bertemu dengan Ruby atau berhubungan dengan dirinya selama ini?" tanya Conrad dengan heran.


Robert mengangkat baunya acuh. "Kenapa harus? Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan---"


"Wanita!" Ucapan Robert dipotong oleh Conrad.


"Kau mengenal diriku." Robert tertawa kecil.


"Lalu anak Ruby apakah itu milikmu?" bertepatan dengan pertanyaan Conrad, lift sudah terbuka di lantai satu.


"Ayo Uncle, kita berangkat." Sean berteriak girang memutuskan keinginan Robert untuk bertanya lagi. "bye-bye Uncle Robert."


"Bye-Bye Sean." Robert melambaikan tangannya dengan ciuman jarak jauh, dia masih berdiri menatap punggung Conrad hingga menghilang di balik pintu.


"Apa Conrad tahu jika Ruby menggugurkan kandungannya?" gumam Robert lirih nyaris tak terdengar. 


Perjalanan Conrad menuju ke Mall terdekat hanya menghabiskan waktu lima belas menit. 

__ADS_1


"Sean mau makan dulu atau jalan-jalan?" 


"Sean mau ke toko mainan." 


"Okey kalau begitu." 


Mereka ayah dan anak yang baru saja bertemu berjalan bergandengan tangan dengan penuh suka cita. Bocah tampan itu tak henti-hentinya bertanya dengan menunjuk pada etalase toko yang mereka lalui. Sean, dia sangat mirip dengan Jasmine yang dulunya lincah, menggemaskan dan apa adanya.


Ingatan Conrad melayang kepada Kenzie yang jauh lebih pendiam daripada Sean. Kenzie tidak mudah untuk bisa akrab dengan orang lain jika tidak mengenal mereka dengan baik. Sifat pemalu Kenzie tampaknya menurun dari Ruby. 


Ruby … tanpa sadar Conrad mendesah. Wanita pertama yang dia cintai ternyata bukanlah cinta terakhir yang dia miliki. Kurangnya komunikasi dan misteri dalam hidup wanita itu terlalu jauh dari jangkauannya. 


"Sean mau ini ya …." Bocah tersebut sudah memborong beberapa tokoh aksi para pahlawan superhero.


"Boleh. Sean suka semuanya?" Conrad menunjuk pada patung robot Batman, Supermen, Spidermen, Kapten Amerika dan Iron man.


"Iya. Super hero." sahutnya dengan anggukan mantap.


"Harus dirawat dengan baik ya." Conrad tertawa kecil dengan mengusap kepala bocah empat tahun itu. 


"Sean punya etalase khusus mainan di ruang bermain.” ceritanya dengan bangga.


“Hebat sekali. Bolehkan, Uncle melihatnya?” Sean mengangguk menjawab pertanyaan Conrad.


“Tambahkan satu spiderman dibungkus terpisah." Conrad menyerahkan kartu kredit kepada pramuniaga.


"Buat siapa, Uncle?" Sean mengerjakan mata penuh rasa ingin tahu.


"Hadiah buat teman kecil, Uncle."


"Oooo." 


Selesai berbelanja di toko mainan, Conrad membawa Sean untuk membeli beberapa pakaian yang bisa digunakan anak itu untuk bermain dan menginap di kediaman keluarganya. Mereka menikmati kebersamaan di Mall dengan penuh sukacita. 


"Ini rumah siapa, Uncle?" tanya Sean ketika mereka memasuki mansion keluarga Knight. 


"Ini rumah orang tua Uncle Conrad. Sean mau kan bermain dengan mereka." 


Sean mengangguk sambil mengagumi taman depan yang tampak begitu indah dengan lampu taman yang menerangi. Conrad menggandeng Sean masuk ke dalam rumah dan membiarkan pelayan membawa turun pakaian Sean yang akan di dry cleaning.


"Mommy, kenalan ini Sean." 


Diana dengan gembira segera menghampiri bocah lucu yang menyapanya dengan sebutan grandma. "Hey, Sean." dipeluknya Sean dalam gendongan tanpa berhenti mencium dan mengagumi bocah tersebut, hingga wanita itu menemukan kemiripan antara Conrad dan Sean.


"Anak lucu siapa yang kau bawa ini, Conrad?" Diana langsung membawa Sean dengan gembira.


"Anakku, Mom."


"Apa?" Diana terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Conrad. 

__ADS_1


__ADS_2