
Satu tahun sebelum kejadian itu ....
"Ruby ... kau sudah selesai?" tanya Conrad setelah meletakan alat pelnya.
Pemuda tinggi, putih bersih dengan rambut hitam dan mata cokelatnya itu, baru saja menyelesaikan tugasnya mengepel seluruh cafe yang akan segera tutup itu.
Dia meletakan alat pel tersebut di ruang penyimpanan dan melepaskan celemeknya. Tangan kekar yang tampak berotot itu menyibakan rambutnya begitu saja dengan santai, membuat pelayan wanita lainnya di coffe shop menelan ludah.
"Sebentar lagi, Conrad. Tinggal mengelap bagian ini. Nah! Sudah selesai," ujar Ruby dengan riang.
"Ayo kita pulang bersama, aku akan mengantarmu sampai ke apartement." Senyuman manis menghiasi wajah Conrad. Dia tampak bersemangat setiap kali selesai bekerja dan akan mengantarkan Ruby.
"Kita gak diantar juga, Conrad?" ledek teman kerja lainnya.
"Sayangnya arah kita berbeda, Girls." jawab Conrad dengan santai.
"Emmm ... lain kali aku mau pindah apartement di dekatmu saja." Amora mengerdipkan matanya pada Jenice. Dan mereka berempat pun tertawa.
Jam kerja malam sudah usai, keempat orang tersebut segera mengunci Coffe Shop dan memberikan kunci pada pemilik Cafe yang tinggal di sebelahnya.
"Daahh!" Amora dan Jenice melambaikan tangan pada Conrad dan Ruby.
"Apa kau lapar, Ruby?" tanya Conrad pada wanita cantik berwajah campuran Latin dan Asia di sampingnya.
Gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang indah, alis hitam melengkung alami dan bibir merah muda yang hanya dipolesi lipbalm itu tersenyum manis pada Conrad.
"Kau pasti lapar lagi ya? Ck ...ck ...ck ... jika kau mengajakku makan larut malam setiap hari, pasti dalam sebulan badanku akan seperti bola," sahut Ruby dengan tawa riangnya.
Suara renyah dan tawa gadis itu begitu memikat Conrad. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celana menahan keinginan untuk memeluk gadis cantik yang selalu menghiasi hari-harinya.
Jika bukan karena wanita ini, Conrad tidak akan rela bersusah payah menyamar menjadi pria biasa dan bekerja paruh waktu di cafe yang sama dengan Ruby.
"Salad? Bagaimana?"
"Tidak. Aku akan menemanimu, tapi jangan paksa aku makan. Hemm ... mungkin sepotong kecil keju."
Conrad tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga karena Ruby menyetujui permintaannya. Meskipun hanya menghabiskan waktu lima belas menit di mini market ditambah perjalanan pulang ke apartement Ruby sekitar lima menit dari mini market, Conrad merasa lebih dari cukup.
Ada waktu tambahan untuknya dan Ruby berduaan, di luar waktu part time di Coffee shop dan saat sesekali mereka bertemu di Falkutas Kedokteran.
__ADS_1
"Kau yakin hanya keju itu saja, aku yang traktir loh," ujar Conrad dengan heran.
"Ini sudah cukup. Trimakasih, ya." Ruby kembali memamerkan gigi putih bersih dan rapinya.
"Baiklah." Conrad kemudian membayar sandwich, keju dan dua botol air mineral.
Mereka kemudian duduk di kursi depan mini market, menikmati makanan yang baru saja dibeli.
"Kau tidak masuk kerja, besok?" tanya Ruby sambil mengigit sepotong keju di tangannya.
"Iya."
"Hmm ... sayang sekali. Biasanya hari sabtu selalu ramai dan banyak tip." Ruby sedikit mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
Gadis berusia sembilan belas tahun, mahasiswi semester dua falkutas keperawatan ini juga mengambil waktu part time di Coffee shop, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bea siswa yang dia dapatkan hanyalah untuk membiayai pendidikan, bukan kebutuhan sehari-harinya.
"Sayang sekali ya ... tapi kau tahu bukan, jika setiap sabtu malam aku harus berkumpul dengan keluargaku." keluh Conrad.
"Iya aku mengerti, mungkin lain kali," sahut Ruby penuh pengertian.
Sebenarnya Ruby ingin sekali menghabiskan sabtu malam dengan Conrad. Tetapi, pria itu meskipun menunjukan perhatian dan ketertarikannya pada Ruby, tetap saja terasa membatasi diri.
Conrad belum pernah menyatakan perasaannya pada wanita itu, meskipun Ruby seringkali memberikan signal bahwa dia juga menyukai Conrad. Perasaan itu kadang mengganggu Ruby.
Ruby mengiyakan perkataan pemuda tampan itu. Dia segera membuang bungkus keju dan berjalan berdampingan dengan Conrad.
Mereka berceloteh sepanjang jalan tentang hal--hal ringan. Setibanya di pintu masuk apartment, Conrad menanti hingga Ruby masuk sebelum kembali pulang menuju apartemen kecilnya.
Pemuda itu sengaja menyewa sebuah apartement kecil yang hanya selisih satu blok dari tempat Ruby. Dengan cara seperti ini dia setiap hari dapat pergi dan pulang ke kampus bersama gadis cantik itu.
Sementara itu, Ruby memasuki pintu ruangan apartemet keluarganya. Di sana dia melihat ibunya masih terjaga di depan layar televisi. Dia yakin Rose kakaknya dan Ryan si bungsu pasti sedang tidur.
"Malam, Mom." Sapa Ruby pada ibunya Rosita.
"Kau sudah pulang, Nak?" Rosita meoleh ke arah Ruby yang baru saja melepaskan sepatu kerjanya.
"Iya, Mom." Ruby berjalan menghampiri ibunya.
"Mommy juga baru pulang kerja?" ujarnya melihat sang ibu masih tampak rapi.
__ADS_1
"Iya ...." sahut nyonya Rosita sambil mendesah.
"Apakah daddy sudah tidur?"
Nyonya Rosita mengagguk.
"Kau tidak tidur juga, Mom?" Ruby melirik ke arah ibunya yang memijati kakinya sendiri.
Gadis itu kemudian duduk di lantai dan meletakan kedua kaki Rosita di pangkuannya. Kemudian dengan lembut dia memijat betis ibunya. Memberi sedikit tekanan untuk mengurangi pegal di kaki wanita setengah baya yang masih cantik itu.
"Iya disitu ... hemm ... nyaman sekali, Ruby." ujar wanita setengah baya itu menggumam nyaman.
"Jangan mengambil lembur, Mom. Perhatikan kesehatanmu."
Nyonya Rosita terkekeh kecil. "Jika aku tidak mengambil lembur, bagaimana nasib Ryan. Dia masih kurang satu tahun lagi lulus dari sekolah menengah atas. "
Ruby terdiam, dia tidak dapat memberikan alasan apapun. Semenjak kecelakaan kerja yang memimpa ayahnya, tuan Julio, ibu Ruby menjadi tulang punggung dari keluarga ini. Stroke sekaligus cacat, membuat tuan Julio tidak dapat bekerja dan berbicara dengan benar.
"Kau cantik, anakku sayang Ruby permata hatiku. Ingat nasihatku, jangan sia-siakan masa mudamu untuk berpacaran dengan pemuda miskin. Lihatlah kehidupanku ... ah! Aku tidak menyesal menikah dengan Julio, tapi aku tidak ingin kau bernasib sama denganku, miskin dan menderita." Nyonya Rosita menyandarkan punggungnya di sofa.
"Carilah pemuda kaya yang bisa mencukupi semua kebutuhanmu dan menjadikanmu ratu. Kau mengerti maksudku, bukan?" Sambung wanita setengah baya itu lagi dengan lembut.
"Iya, Mom. Aku mengerti maksudmu," sahut Ruby perlahan.
"Baiklah, beristirahatlah. Aku juga mau tidur." Nyonya Rosita menepuk pundak Ruby sebelum masuk ke dalam kamarnya, di mana tuan Julio sudah tidur dengan nyenyak.
Ruby menghela napasnya, dia kemudian membersihkan diri sebelum masuk ke kamar tidur. Dilihatnya di sana, kakaknya Rose sudah tidur dengan nyenyak.
Rubu duduk di depan meja rias, memandangi dirinya sendiri sebelum mengoleskan krim malam dan hand body ke sekujur tubuhnya. Hanya aset ini yang dia miliki dan harus dia jaga dengan baik, meskipun hanya menggunakan perawatan yang terjangkau.
Ruby kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Angannya beralih kepada Joseph, mantan kekasih yang sudah dia putuskan. Pria itu bekerja sebagai penyalur daging ke beberapa supermarket, namun selalu bersikap terlalu posesif kepada dirinya.
Pikirannya kemudian teringat akan Conrad pemuda tampan yang setiap hari bersamanya. Pertemuan diantara mereka terjadi karena ketidaksengajaan, saat mereka saling bertabrakan di falkultas kedokteran.
Saat itu Ruby yang hampir terlambat berlari dengan kencang ke arah falkultas keperawatan melalui lorong falkultas kedokteran. Dan tanpa sengaja ia menabrak Conrad yang sedang menuju ruangan kuliah.
Tabrakan tak disengaja itu berlanjut dengan pertemuan mereka di ruang perpustakaan. Saat itu kesan pertama yang Ruby lihat pada Conrad adalah seorang pemuda kaya yang mengendarai mobil Lexus. Meski ternyata dia baru mengetahui jika mobil itu adalah milik majikan Conrad.
Perhatian dan kebaikan Conrad sudah menyentuh hati Ruby. Gadis itu menaruh hati pada Conrad, pemuda sederhana yang selalu mendampinginya.
__ADS_1
Akan tetapi perkataan ibunya selalu terngiang di pikiran Ruby. "Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk memasukanmu ke sekolah keperawatan bergengsi itu. Bea siswa yang aku dapatkan untukmu, tidak mencukupi semua. Kau tahu, kau harus menemukan seorang pemuda kaya di sana untuk menjadi suamimu kelak. Jangan hidup miskin dan menderita seperti diriku. Kau harus bahagia anakku."
Pergulatan batin dalam hati Ruby terus melandanya setiap hari. Keinginan untuk menjadi seorang wanita kaya, sehingga ibunya tidak perlu menderita lagi, sama besarnya dengan perasaan hatinya untuk Conrad.