Hurt By Mr.Doctor

Hurt By Mr.Doctor
kopi yang tumpah


__ADS_3

"Apa kau tidak bisa duduk saja di pojokan sana! Lihat apa yang kau lakukan. Apa kau tidak tahu jika kopi itu panas?" suara Conrad yang tidak keras namun sangat tegas penuh penekanan, membuat Jasmine semakin gugup. 


"Ma---maafkan aku …." Tangan Jasmine gemetaran melihat tangan Ruby yang memerah karena kopi panas yang tumpah. Telinga Jasmine juga menjadi sangat merah mendengar kata-kata tajam Conrad.


"Lihat! Bukan pertama kali kau membuat Ruby celaka!" Conrad mengelap tangan Ruby masih dengan berbicara ketus pada Jasmine.


"Sudahlah Conrad. Jasmine tidak sengaja." Ruby menatap wajah Jasmine yang tampak sangat bersalah dan hampir menangis."aku tidak apa-apa. Sebentar lagi juga baikan. Conrad saja yang terlalu berlebihan." 


"Kau terlalu baik hati Ruby. Jangan membela Jasmine yang jelas-jelas ceroboh. Jika dia berhati-hati, bagaimana bisa dia menabrak dirimu yang sedang membawa kopi panas." 


Conrad dengan penuh perhatian menorehkan salep ke tangan Ruby yang memerah akibat kopi panas, tanpa memperhatikan pakaian Jasmine yang basah juga oleh kopi.


Hari itu Jasmine memutuskan akan menghabiskan waktu di cafe di mana Ruby dan Conrad bekerja paruh waktu. Karena bosan tidak ada yang dia lakukan, Jasmine memutuskan untuk membantu melayani tamu.


Malang sekali, saat dia baru saja mencatat pesanan dan membalikan tubuh, ia menabrak Ruby yang berada tepat di belakangnya. Akibatnya seperti yang terjadi sekarang. 


Ruby memekik keras ketika, kopi panas itu tumpah mengenai tangannya dan juga pakaian Jasmine. Beruntung sekali Ruby memakai celemek, sehingga kemarahan Conrad tidak semakin parah. 


Jasmine meremas pakaiannya yang basah oleh kopi. Pemuda yang dengan penuh perhatian itu mengobati Ruby, tidak memperhatikan keadaan Jasmine. 


"Maafkan aku Ruby," ucap Jasmine sekali lagi penuh penyesalan. 


"Tidak apa-apa Jasmine. Santai saja, ini hanya luka ringan," sahut Ruby dengan lembut.


Jasmine kemudian memilih meninggalkan Ruby dan Conrad yang berada di balik area barista. Ia memilih untuk menenangkan diri sekaligus membersihkan pakaiannya.


"Kau jangan terlalu kasar dengan Jasmine, kasihan dia. Dia hampir menangis mendengar omelanmu." 


"Gadis manja itu harus ditegur. Berapa kali dia mencelakaimu. Dulu, dia menjatuhkan mie panas ke tubuhmu dan sekarang kopi. Lebih baik dia diam saja di pojokan ruangan. Gadis seperti dia pasti tidak pernah bekerja keras." celoteh Conrad masih dengan jengkel.


Bagi Conrad Jasmine berbeda dengan Ruby. Ruby dengan darah Asia seperti mommy Diana, rajin bekerja keras untuk menopang hidupnya, tentu berbeda dengan Jasmine anak orang kaya, yang tidak perlu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya.


"Tapi dia gadis yang baik, Conrad." Ruby bersiteguh membela Jasmine.

__ADS_1


Ruby merasa tidak nyaman dengan sikap Conrad yang ketus pada Jasmine, sedangkan gadis itu selalu baik padanya. Jasmine sering mengajak Ruby menginap dan memberikan tas, sepatu dan baju terbaiknya, meskipun itu bekas.


"Kau yang terlalu baik, Ruby." desah Conrad dengan pandangan penuh cinta pada Ruby. Ia membelai rambut Ruby, merapikan helaian rambut yang jatuh ke keningnya.


"Shh nanti ada yang lihat, gak enak." Ruby menepis tangan Conrad perlahan.


"Sampai kapan kita merahasiakan hubungan ini?" bisik Conrad yang tidak tahan meneriakan pada dunia, jika Ruby adalah miliknya.


"Sampai … hmm … sampai aku lulus. Kau mengerti bukan, Conrad?" 


Pandangan Ruby yang memohon membuat Conrad mengalah. Ruby sudah pernah memberinya alasan kuat, jika ibu Ruby tidak mengizinkan dirinya berpacaran hingga lulus kuliah. Ruby ingin menutupi hubungan mereka agar tidak ada gosip yang sampai di telinga ibunya.


"Baiklah aku mengerti." sahut Conrad dengan lembut.


"Hey, kalian! Ada yang bawa baju atau kaos lebih?" Milagros tiba-tiba datang mendekati Ruby dan Conrad.


"Memangnya kenapa?" tanya Ruby heran.


"Loh? Apa kalian tidak tahu kalai baju Jasmine basah, penuh noda kopi?" 


"Cuma kena noda sedikit kan?" tanya Conrad dengan santai.


"Sedikit apanya. Kau ini bagaimana sih, kan kalian tadi bertiga ada di sini. Bagaimana bisa tidak tahu. Kasihan, masa dia pulang tanpa baju?"


"Di mana dia sekarang?" 


"Di toilet wanita. Eh, Conrad …." 


Conrad segera pergi tanpa memperdulikan teriakan Milagros. Ia  mengambil kaos miliknya dari dalam loker dan menuju toilet pengunjung wanita. Beruntung sekali, saat ini kafe dalam keadaan sepi.


Conrad membuka pintu toilet tanpa mengetuknya. Dan ia terkejut ketika melihat Jasmine hanya dengan pakaian dalamnya sedang berusaha mengeringkan pakaian di pengering tangan. 


Jasmine yang semula tidak menyadari jika seseorang yang masuk adalah Conrad, bersikap santai. Namun, ketika ia curiga tidak ada suara lagi, gadis itu menatap ke arah cermin.

__ADS_1


"Aarghhh!" Dia terkejut.


 Saat itu Conrad berdiri membelakangi diri Jasmine, karena merasa malu melihat bagian punggung gadis itu yang hanya mengenakan pakaian dalam. 


Mendengar teriakan Jasmine tanpa sadar dia menoleh dan seketika wajahnya memerah melihat bagian depan bukit kembar yang hanya ditutupi pakaian dalam. Sepintas ia melihat kulit dada itu sedikit merah.


"Maaf! Aku hanya membawakan kaos ini. Milagross mengatakan jika kau memerlukan kaos ganti." Dengan posisi membelakangi Jasmine, Conrad melemparkan kaos yang dia kenakan. 


Sungguh malang sekali, kaos yang dia lemparkan dari belakang tubuhnya masuk dalam wastafel yang basah. Dengan segera Jasmine mengambilnya dan melihat jika kaos itu sudah basah. 


"Te--terimakasih." ujar Jasmine yang dengan cepat mengenakan kaos Conrad. 


Tanpa membalikan tubuhnya atau sekedar menanggapi ucapan Jasmine, Conrad keluar dari toilet wanita. Jasmine memandangi kepergian Conrad dengan wajah yang sendu.


Jasmine sebelumnya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan noda kopi yang melebar di kaosnya. Dia melepaskan blouse yang ia kenakan dan mencuci noda kopi, tanpa menyadari jika air meresap dengan cepat sehingga baju itu menjadi basah.


Saat itulah Milagros masuk dan melihat keadaannya. Milagros juga melihat memar di dada Jasmine. 


Saat ini, Jasmine keluar dari dalam toilet dengan kaos Conrad yang kebesaran di tubuhnya, membuat Jasmine nampak sangat imut.


"Ruby, aku pulang dulu ya. Maaf ya, aku sudah mengacaukan semuanya." 


"Aku tidak apa-apa Jasmine, besok juga sudah baikan," sahut Ruby ceria. 


"Kau baik sekali." Jasmine tersenyum tipis. 


"Teman-teman aku pulang dulu ya. Maaf jika merepotkan kalian semua," pamit Jasmine. Ia mencari Conrad dengan sudut matanya dan tamoak pemuda itu sedang sibuk membersihkan meja pelanggan.


"Dah Jasmine. Mampir lagi lain waktu ya," sahut Milagross dan Fera bersamaan.


Jasmine memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dengan Conrad. Dia masih takut jika mendapatkam tatapan tajam pemuda itu lagi, belum lagi kata-katanya yang keras. 


Dari dalam kafe, Conrad melihat lewat dinding kaca, saat Jasmine melintas pergi begitu saja. "Dasar gadis manja, dia bahkan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun."

__ADS_1


Di dalam mobil, Jasmine menghirup aroma tubuh Conrad terasa menempel di kaos yang ia kenakan. Gadis itu menitikan air mata, dengan memeluk tubuhnya yang mengenakan kaos Conrad.


"Aku bukannya bisa semakin dekat dan akrab dengan Conrad, tetapi dia semakin tidak menyukaiku. Aku benar-benar bodoh dan teledor." 


__ADS_2