Hurt By Mr.Doctor

Hurt By Mr.Doctor
Jasmine


__ADS_3

"Hai Conrad! Kau masih di sini?" Jasmin menepuk pundak Conrad yang duduk memunggungi pintuk masuk di perpustakaan.


"Hai Jasmine." sapa Conrad singkat. Dia hanya sejenak mengalihkan pandangannya dari buku yang dibaca ke arah Jasmine.


Gadis cantik itu duduk di hadapan Conrad. Dia tersenyum ke arah pria yang menjadi alasannya rela berjalan jauh dari gedung falkultas Ekonomi Bisnis ke arah falkultas Kedokteran.


"Mana Kakakku dan Ruby? Mereka tidak ke perpustakaan?" tanya Jasmine yang berusaha mencuri sedikit perhatian dari Conrad.


"Aku belum melihat mereka sedari tadi," sahut Conrad tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.


"Oooo em." Jasmine menggumam sendiri, tanpa tahu harus berkata apa lagi.


Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangan. Dia memperhatikan pria di hadapannya yang tampak begitu konsentrasi dalam mempelajari apa yang dia baca.


Pria itu menulis kembali hal-hal yang dianggapnya perlu. Tulisannya yang rapi dan mudah dibaca bahkan dari arah Jasmine yang berada di seberangnya, membuat gadis itu semakin kagum.


Pertemuan pertama mereka terjadi ketika Jasmine sedang mencari Robert di perpustakaan.


Conrad yang saat itu kehilangan kartu perpustakaannya, terpaksa harus membuat ulang.


Dan saat itulah Jasmine yang sedang berada di depan petugas perpustakaan tertarik dengan Conrad yang pendiam dan acuh padanya. Jasmine si Primadona falkultas ekonomi bisnis, baru pertama kali merasa diacuhkan oleh seorang pria.


"Apa kau ada janji dengan mereka?" tanya Conrad.


Pemuda itu mendongakkan wajahnya menatap ke arah Jasmine. Gadis yang sedang melamun dengan mata tertuju pada Conrad tidak mendengar pertanyaan pria itu.


"Jasmine. Jasmine ...," panggil Conrad.


"Eh ... oo ... iya kenapa." tanya Jasmine tersenyum malu, menyadari mata mereka bertemu.


"Apa kau ada janji dengan Robert dan Rubi?" Conrad mengulangi pertanyaannya.


"Tidak juga."


Aku kemari karena ingin bertemu denganmu.


"Ooo baiklah." Kembali Conrad menekuni buku yang dia baca.


Jasmine kembali memandangi pemuda tampan di hadapannya. Pria dengan rambut hitam, alis tebal yang sangat indah, mata yang tajam namun terkadang bersinae lembut, hidung mancung yang mempertegas ketampanannya, bibir merah dan dagu yang terbelah.


Semua bagaikan manekin hidup yang sangat sempurna. Jasmine sanggup memandangi pemuda tampan itu berjam-jam lamanya tanpa merasa lelah.

__ADS_1


Sudah lebih dari dua jam Conrad membaca buku di perpustakaan. Dia sengaja tidak membeli buku-buku cetakan lama, lebih menyenangkan bagi dirinya mencatat dan membandingkan dengan yang dia miliki.


Pemuda tampan itu tersenyum melihat Jasmine yang tertidur dengan bertumpu pada lengan. Dia memperhatikan gadis yang cantik dengan wajah kecil dan berambut coklat.


Jasmine yang lincah dan suka tersenyum, bahkan ketika sedang tertidur seperti saat ini. Conrad merasakan debaran aneh ketika ia memandang wajah Jasmine secara langsung.


"Jasmine ... apakah dia gadis yang baik untukku? Ah tidak! Aku tidak boleh terpengaruh dengan perkataan dokter Michael. Tidak ada perjodohan diantara kami. Hanya persahabatan," gumam Conrad dalam hatinya.


"Jasmine ... " Conrad menepuk pundak gadis itu perlahan.


"Hoammm ... Ya Tuhan! Aku tertidur ya, memalukan." Jasmine mengusap mulutnya.


"Tenang saja kau tidur dengan cantik, mulutmu tertutup dan tak ada air liur menetes," ujar Conrad menggoda.


"Iiihhh ... aku pasti begitu yaaa. Abaikan saja. Anggap kau beruntung menyaksikan sisi memalukanku." Jasmine mengalihkan rasa malunya dengan ucapan percaya diri.


"Hahahahaha ... tentu saja."


Conrad terkekeh sambil membereskan buku-bukunya. Jasmine berbeda dengan Ruby. Jika Jasmine adalah gadis lincah yang bisa mengubah hal memalukan dengan candaan, sedangkan Ruby otomatis akan terunduk malu dengan pipi yang memerah.


Hal itulah yang membuat Conrad merasa lebih memperhatikan Ruby. Gadis lemah lembut yang penuh perjuangan hidup. Gadis yang tampak sangat memerlukan perlindungan. Berbeda dengan Jasmine, anak kaya yang tampak selalu bahagia dan percaya diri dengan hidupnya.


"Aku mau pulang. Apa kau masih akan di sini? Sebaiknya telphone kakakmu, Robert. Mungkin dia ada kelas tambahan."


"Baikalah kalau begitu."


Mereka berjalan berdampingan keluar dari perpustakaan saat Conrad selesai mengembalikan buku yang ia baca.


"Kau tidak pulang bersama Ruby?" Jasmine merasa heran, karena setahu dia Ruby seringkali berangkat dan pulang kuliah bersama Conrad. Mereka tinggal di blok yang sama.


"Tidak. Hari ini Ruby pulang lebih awal."


"Ooo begitu ... pantas saja ...," gumam Ruby.


Jika saja ada Ruby, dia bisa menggunakan alasan untuk mengantar Ruby dan Conrad ke apartement mereka. Jasmine juga terkadang mengajak mereka untuk singgah terlebih dulu di cafe, sehingga dia memiliki lebih banyak kesempatan untuk bersama Conrad.


Tapi saat ini ... tanpa ada Ruby, entah mengapa Jasmine sang primadona merasa tidak percaya diri. Di hadapan Conrad dia seringkali merasa malu dan gugup, meskipun ditutupi dengan sifat riangnya.


"Kita bisa pulang bersama ji---"


"Tidak perlu Jasmine. Aku bisa naik bis. Kamu tidak perlu memutar jauh untuk mengantarku," sahut Conrad memotong perkataan Jasmine

__ADS_1


"Baiklah." Jasmine menutupi kekecewaannya dengan senyuman riang.


Conrad mengantarkan Jasmine di tempat gadis itu memarkirkan mobilnya.


"Bye Conrad, see you next time." Gadis cantik itu melambaikan tangannya dari dalam mobil melewati Conrad. Dia masih memandang pemuda itu lewat kaya spion hingga jauh dari jangkauan.


"Aaaa Conraddd! Bagaimana caranya aku bisa dekat denganmu. Kenapa aku jadi kikuk jika berada di dekatmu. Huuu! Bodoh!"


Jasmine menggerutu di dalam mobil. Dia merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri. Gadis itu merasa iri dengan mudahnya Ruby mendekati dan mendapatkan perhatian Conrad.


"Eee ... ada apa ini?" Mobil yang di kendarai Jasmine tiba-tiba mesinnya berhenti menderu. Jasmine dengan kebingungan masih sempat menepikan mobilnya.


"Aduh! Jangan bermain denganku dong. Aku tidak mengerti tentang mobilll," rengek Jasmine.


Dia sedikit panik melihat kap mobilnya mengeluarkan asap.


"Kau mobil mewah dengan banyak perawatan. Jangan manja donggg. Jalanan ini agak sepi. Pleaseee." Jasmibe merajuk di depan mobilnya. Dia membuka kap mobil tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.


Saat gelisah seprti itu, dalam hatinya dia berharap andaikan saja Conrad tadi bersamanya, semua pasti akan baik-baik saja.


"Apa yang tejadi Jasmine?"


Jantung Jasmine seakan hendak melompat keluar ketika mendengar suara seorang pria yang sebelumnya ada dalam pikirannya.


"Conrad?" Ia menatap pria di sampingnya tak percaya.


Conrad yang sedang menaiki bis kota, melihat mobil Jasmine yang berhenti di tengah jalan. Saat bis melewati mobil, dia melihat Jasmine yang sedang kesal melihat ke arah kap mobil.


Tanpa berpikir panjang Conrad berhenti di halte terdekat dan berlari ke arah Jasmine. Saat ini dengan ahli ia mengetahui permasalahan sepele pada mobik tersebut.


"Hanya perlu air mineral. Udara luar terlalu panas , sehingga dia kehausan," ujar Conrad santai.


"Ooo ... terimakasih Conrad. Untung kamu lewat. Ayooo kita pulang." Jasmine memberikan kunci mobil pada Conrad.


Pemuda itu tersenyum, pada akhirnya dia juga harus semobil dengan Jasmin.


"Aku akan antar kau ke rumahmu." ujar Conrad dengan menggunakan seatbelt.


"Tidak perlu. Kita menuju ke apartemenmu. Nanti aku bisa pulang sendiri." tolak Jasmine.


"Bagaimana jika nanti mobilmu ngambek lagi?"

__ADS_1


"Gampangg ... aku tinggal memanggil namamu."


Tawa mereka meledak bersama-sama.


__ADS_2