Hurt By Mr.Doctor

Hurt By Mr.Doctor
Conrad


__ADS_3

"Kakak sudah pulanggg!"


Adelaide, gadis tertua dari kembar tiga dan anak ke empat dari enam bersaudara, melompat dengan girang melihat Conrad yang baru saja masuk ke dalam gerbang Mansion.


Gadis kecil itu merupakan alasan Conrad memilih jurusan Kedokteran. Penyakit jantung bawaan yang dimiliki Adelaide semenjak dia dalam kandungan cukup membuat gadis itu menderita.


Rasa sayang Conrad pada Diana yang sudah membesarkannya dan bagaimana dia melihat penderitaan wanita itu ketika merawat Adelaide, menjadikan tekad Conrad semakin bulat.


Pemuda tampan itu tersenyum ke arah Adelaide. Dia mempercepat langkahnya kemudian mengangkat tubuh mungil Adelaide yang berusia sepuluh tahun.


"Kenapa Adelaide di depan? Anginnya besar, loh."


"Adel lagi menunggu kakak. Adel sudah kangen." sahutnya manja sambil mengalungkan tangannya pada leher Conrad.


Conrad membawa Adelaide masuk ke dalam rumah dan dia merasa heran dengan persiapan meja penuh makanan di taman belakang.


"Apa kita akan mengadakan makan malam dengan seseorang?" tanya Conrad pada Adelaide.


"Iya. Daddy mengundang Uncle Briant dan Uncle Michael untuk makan malam."


"Uncle Michael?"


"Kakak lupa yaaa dengan Uncle Michael."


"Dokter keluarga, bukan? Kakak tidak lupa dong, cuma sudah lama tidak pernah bertemu."


"Kakak hebat sih, selalu sehat tidak seperti Adrelaide yang sakit-sakitan," sahut Adelaide dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ehhh ... tidak boleh begitu. Harus selalu semangat ya, biar tidak mudah sakit." Conrad dengan penuh kasih sayang menyentil hidung Adelaide. Pemuda itu menurunkan adiknya dan membiarkan gadis kecil itu duduk dengan nyaman bersama dua saudara kembar lainnya.


"Sudah datang, Nak. Kau tampak semakin tampan dan gagah," ujar Diana dengan penuh kasih sayang.


Conrad membungkukan badannya untuk memeluk Diana, wanita yang sudah membesarkan dan merawatnya sedari kecil.


"Ah, Mommy baru lima hari tidak bertemu, kau membuatku semakin besar kepala," sahut Conrad terkekeh.


"Lebih gagah mana dengan diriku?" Andrew Knight menghampiri istrinya dan melingkarkan tangan dipinggang wanita itu dengan erat.


"Tentu saja kau yang nomor satu di keluarga ini." Diana menyentil hidung suaminya yang manja. "Tapi beda generasi dengan anak-anak." ujar Diana menggoda.


"Yang penting tetap nomor satu di matamu," bisik Andrew dengan mesra.


"Hoekkk! Daddy! Mommy! Disghusting!" seru Aaron anak ke tiga di keluarga tersebut.


"Loh, daddy cuma memeluk mommy, kok. Aaron kalau mau sini Daddy gantian peluk kamu."

__ADS_1


"No! No! Hushhh! No Daddy, No!" Aaron berlari, berkelit dari kejaran ayahnya.


"Kejar terus, Dad! Sampai dapattt!" teriak Francesca, Archie dan Anna bersamaan.


Suasana akrab ini sungguh menyenangkan dan menyegarkan pikiran Conrad dari setiap kesibukannya. Keluarganya yang yang selalu rukun dan sangat dia cintai. Meskipun mereka bergelimang harta,1 tetapi tak pernah terpisahkan oleh karena kasih sayang yang mengikat .


"Bagaimana dengan kehidupan yang kau jalani saat ini? Bagaimana dengan Ruby dan ... Jasmine?" Diana memandang wajah Conrad dengan lembut.


"Semuanya baik-baik, Mom. Bekerja di Coffee Shop ternyata tidak susah. Setidaknya aku bisa merasakan sedikit pekerjaan Mommy ketika menjadi bartender dulu." Conrad balas menatap wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kekaguman.


"Tentu saja, kau pasti bisa melakukannya. Tapi ingat jangan sampai pelajaranmu terbengkalai."


"Tentu saja, Mom."


"Jadi ... kapan kau akan membawa salah satu dari gadis itu kemari?"


"Belum, Mom."


"Okey, Mommy mengerti. Tentukan pilihan yang benar. Jangan sakiti siapapun diantara mereka. Ingat jangan melihat seseorang dari penampilan."


"Tentu saja, Mom. Itu sebabnya, Conrad tinggak di apartement kecil itu."


"Kau anak yang luar biasa, Sayang." Diana mengecup kening Conrad sebelum menghampiri tamu yang sudah mulai datang.


"Conrad kemarilah, sapa Dokter Michael."


Conrad dengan segera menghampiri ayahnya. Dia kemudian menyapa kedua pria lain di sana.


"Hallo Uncle Briant dan Uncle Michael."


"Ini Conrad? Wow! Kau sudah sebesar ini dan tampan sekali." Dokter Michael menepuk pundak Conrad dengan ramah.


"Dia calon dokter juga sepertimu, Michael." Andrew dengan bangga memperkenalkan Conrad.


"Benarkah?" Michael memandang Conrad dengan senyuman mengembang.


"Sudah tahun ke empat," ujar Andrew dengan bangga.


"Sebentar lagi praktek dong. Anakku Robert juga sudah hampir menyelesaikan tahun ke enamnya di kedokteran. Apakah kau pernah bertemu dengannya?" Michael memandang Conrad dengan anthusias.


"Robert?" Conrad tampak berpikir, dia tidak yakin jika Robert yang dia kenal adalah anak dokter Michael.


"Kalian ini tidak pernah mengajak anak-anak berkumpul. Punya anak hampir sebaya juga tidak tahu." Brianta terkekeh mengolok Andrew dan Mi


chael.

__ADS_1


"Ah, kau benar. Kita terlalu sibuk dahulu sehingga melupakan hal itu. Aku juga mempunyai seorang putri yang masih kuliah semester dua di bisnis management. Kau harus bertemu dengan putriku , dia anak yang cerdas dan lincah. Siapa tahu kalian cocok dan ehem ... kita bisa berbesan, Andrew." Dokter Michael tertawa penuh harap.


"Hahaha ... benar-benar itu luar biasa. Conrad menikah dengan putrinya Michael dan salah satu putri kecilmu untuk anakku." Briant tertawa mendengarkan idenya sendiri.


"Anakmu cantik tidak? Pantas tidak untuk anakku?" tanya Andrew menggoda dokter Michael


"Tentu saja cantik. Jasmineku yang cantik."


Dokter Michael mengeluarkan handphone dari saku jasnya kemudian menunjukan pada Andrew. Andrew tersenyum melihat foto putri dokter Michael, kemudian memberikan handphone tersebut pada Conrad.


Mata Conrad terbelalak. Dia sangat mengenal gadis cantik itu. Dan tentu saja Conrad mengerti sekarang, saat dulu berkunjung ke kediaman Jasmine, foto keluarga yang dia lihat adalah foto keluarga dokter Michael.


Hal yang tidak dia sangka sekali, ternyata dua bersaudara itu Robert dan Jasmine, teman yang selama beberapa bulan ini akrab dengan dirinya ternyata anak Dokter Michael saudara jauh Andrew Knight.


"Lihatlah, anakmu sudah tak bisa berhenti menatap putriku. Bagaimana, kau mau berkenalan dengan dia? Agar kita bisa segera meresmikan perjodohan ini?" Michael tertawa penuh semangat.


"Kau tahu aku tidak menyukai perjodohan. Trauma!" Andrew terkekeh.


"Itu beda ... kau mengenal keluargaku dengan baik, luar dan dalam." Dokter Michael kemudian berpaling pada Conrad. "Bagaimana anak muda, kau mau kan berkenalan dengan putriku?" desaknya.


"Tentu saja. Tapi bisakah kita melakukan hal ini dengan caraku?"


"Caramu? Seperti apa?"


"Biarkan aku mengenal Jasmine terlebih dahulu, tanpa campur tangan orang tua. Jika kami cocok, aku akan mendatangi Uncle Michael, bagaimana?" tanya Conrad dengan bersungguh-sungguh.


"Hahaha ... aku suka dengan tekadnya, Andrew. Tentu saja. Dekati dan jaga putriku baik- baik ya. Keras kepala hanya bingkai luarnya saja, dalam hatinya selembut kapas." ujar dokter Michael sambil memberikan nomor telphone Jasmine pada Conrad.


Conrad berpamitan dan kembali ke tempat duduknya. Diana yang sedang berbicara dengan Grisella, sahabatnya sekaligus istri Briant, mendekati Conrad.


"Mom, apa kau tahu kalau Jasmine adalah anak dokter Michael?" tanya Conrad perlahan.


"Benarkah? Mommy hanya pernah bertemu anak Dokter Michael sekali saja sewaktu dia masih kecil. Wah ... ternyata Jasmine anak dokter Michael?" Diana tampak gembira.


"Mom ... jangan sampai Jasmine tahu jika kau istri daddy dan aku anakmu." Conrad takut jika penyamarannya terbongkar dan bisa mengakibatkan jarak antara dirinya dengan Ruby.


"Ih! Kau menyuruh mommy tidak mengakui daddy?" Diana mendelik gemas pada Conrad.


"Ayolah, Mom. Kau mengerti maksudku bukan? Aku masih nyaman dengan statusku yang mereka kenal sebagai supir keluarga Andrew dan Knihgt dan kelima saudara yang aku miliki tinggal di peternakan."


"Okey. Okey. Beruntung kau memiliki mommy yang tidak suka tampil di depan umum." Diana dengan gemas mencubit pipi Conrad.


"Mom! Aku sudah dewasa!" protes Conrad setiap kali Diana mencubit pipinya.


"Selama belum punya anak, kau masih bocah bagiku." Diana tertawa melihat raut wajah Conrad yang kesal.

__ADS_1


__ADS_2