Hurt By Mr.Doctor

Hurt By Mr.Doctor
tak menyerah


__ADS_3

Penolakan? Tentu itu yang di dapatkan Conrad. Pria itu tidak sedih ataupun kecewa, tetapi hatinya masih dipenuhi dengan harapan.


Conrad berbaring di tempat tidurnya di sebuah apartemen mewah. Apartemen yang berhasil dia beli dengan hasil keringatnya sendiri, meskipun sebagian dari keringat itu adalah atas pemberian saham oleh Andrew sang ayah.


Diletakan kedua tangannya di belakang kepala dengan pandangan mata menatap langit-langit kamar. Dalam benaknya saat ini wajah Jasmine dengan berbagai ekspresi terlintas. Sosok yang sudah lama dia cari, tetapi saat bertemu sukar diraih.


"Jasmine, aku tidak akan menyerah. Jika kau tidak bisa menerimaku dengan baik-baik, maka aku akan menggunakan jalur keras." 


Ingatan Conrad melayang saat tadi dia memeluk Jasmine dalam pangkuannya. Sentuhan kulit tubuh mereka, aroma vanila yang menyeruak masuk dalam penciumannya membuat Conrad hampir saja tak bisa menahan diri untuk merasakan sensasi vanila di kulit Jasmine. 


Meskipun ingatannya samar ketika melakukan malam panas dengan wanita itu, tetapi aroma itu tak pernah hilang dari ingatannya. 


Misteri yang masih tidak dapat dia mengerti adalah kenapa Jasmine harus pergi jauh setelah 'malam panas' yang mereka lakukan. Kenapa wanita itu menangis dan harus menghilang sekian lama dengan membawa benihnya.


Bahkan setelah lima tahun berlalu ada luka di mata Jasmine yang tak pernah dimengertinya. Gadis yang dia kenal begitu ceria, hangat dan penuh kebaikan kini berubah menjadi sosok yang dingin dan penuh curiga padanya. 


"Sean …." Conrad tersenyum lebar mengingat  Jasmine berulang kali menyangkal masih mencintainya. "jika dia membenciku tidak mungkin dipeliharanya janin itu dengan baik. Lebih mudah bagi dirinya mendapatkan akses untuk mendapatkan pil pencegah kehamilan." gumam Conrad perlahan.


Saat itu ketika Conrad dengan penuh kesungguhan meminta pada Jasmine untuk menikahinya, bisa dia lihat dengan jelas keterkejutan pada raut wajah Jasmine.


Dia yakin dengan jelas sempat melihat binar kebahagiaan di sorot mata cantik Jasmine. Namun, entah apa yang membuat sinar mata itu berubah dengan cepat. Hal yang tak dapat dimengertinya.


"Berhentilah bermain-main Conrad, kita bukan anak kecil lagi. Pulanglah sekarang juga aku sudah lelah." 


"Aku tidak sedang bermain-main Jasmine. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuktikan perasaanku padamu, bukan. Aku mencintaimu." Conrad membelai wajah Jasmine amat sangat lembut, menyampaikan helaian rambut yang menutupi wajah wanita di pangkuannya.


Jasmine tersentak dengan pengakuan Conrad yang tak pernah dia sangka. Baru beberapa hari mereka bertemu setelah lima tahun terpisah bagaimana bisa dengan mudah pria itu mengatakan Cinta.


Jasmine hampir saja terbuai dengan sikap lembut dan tatapan jantan dari pria yang tak pernah bergeser posisi di hatinya. Namun, kembali perisai diri dia naikan karena rasa takut untuk dikecewakan.


"Jangan khawatir Conrad, aku wanita modern yang tidak memerlukan seorang pria untuk mengasihi diriku. Kau bisa menemui Sean kapanpun dengan meminta izin terlebih padaku. Sekarang pulanglah dan kembalilah pada keluargamu." Jasmine melepaskan dirinya dari Conrad saat pria itu lengah.

__ADS_1


Wanita cantik nan anggun tersebut melangkah cepat menjauhi Conrad saat kabut di matanya hampir saja meneteskan embun.


"Apakah dia masih mengira jika aku masih mencintai Ruby? Aku harus menjelaskan padanya sesegera mungkin bahwa aku terlalu bodoh di masa lalu."


 


Malam semakin larut di saat Conrad baru bisa memejamkan matanya dini hari, akibatnya dia harus bangun sedikit terlambat dari biasanya. 


Conrad tidak dapat melakukan olah raga pagi seperti yang biasanya dilakukan.  Dokter muda yang tampan dan banyak menarik minat para wanita tersebut bergegas masuk ke dalam mobilnya di saat jam sudah menunjukan pukul tujuh. 


Dipacunya mobil dengan cepat menuju ke sebuah apartemen di kawasan tengah kota. Conrad tersenyum ketika melihat seorang anak kecil yang sudah bersiap dengan pakaian seragam sekolah dan tas koper beroda. Di samping bocah kecil itu adalah seorang wanita dengan seragam perawat. 


"Ayah! Kenzie pikir, Ayah lupa antar Kenzie sekolah." pekik bocah itu dengan gembira ketika mobil Conrad berhenti dan kaca jendela diturunkan.


 "Tentu saja tidak. Bukankah setiap hari senin, rabu dan jumat adalah bagian Ayah untuk mengantar Kenzie ke sekolah. Masuklah."


Kenzie tersenyum lebar dan segera masuk ke dalam mobil. 


"Bye, Mommy." Bocah tampan dengan rambut hitam dan mata yang lembut melambaikan tangan ke arah ibunya.


"Tidak masalah, Ruby." Conrad tersenyum ramah.


Conrad menjalankan mobilnya, dari kaca spion dia masih melihat Ruby berdiri di pinggir jalan dan menatap mereka dari kejauhan.


"Ayah, nanti malam apakah bisa datang ke rumah? Ayah sudah lama tidak pernah bermain bersama Kenzie. Kenzie 'kan kangen."  Bocah dengan alis mata tebal hitam yang senada dengan rambutnya menatap Conrad penuh harap.


"Hmm … Ayah tidak bisa berjanji ya, Kenzie. Akan Ayah lihat jadwal kerja nanti." Conrad mengusap kepala bocah itu penuh kasih sayang. 


"Mommy sering nangis loh, Ayah." Kenzie menatap Conrad dengan tatapan polosnya.


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya, Dad. Kenzie sering melihat Mommy menangis diam-diam." 


Conrad menoleh ke arah Kenzie sepintas, tampak bocah yang seumuran dengan Sean itu kelihatan sedih. Tak dapat dipungkiri Conrad sangat menyayangi Kenzie dan jauh lebih akrab dengan bocah itu daripada anak kandung yang baru saja dia ketahui. 


"Mungkin Mommy banyak pikiran, Kenzie harus bisa menghibur Mommy Ruby ya." Conrad memberikan tanda untuk belok kanan ke arah sekolah Kenzie. "Bagaimana keadaan grandpa dan Aunt Rose?" 


Sudah lebih dari dua minggu sejak kedatangan Jasmine dan Sean, Conrad tidak pernah mengunjungi mereka. Rutinitas yang dilakukannya setiap satu sampai dua minggu sekali kini bergeser pada Jasmine dan Sean. Hampir setiap malam Conrad selalu mencari cara untuk bisa menemui Jasmine dan tentunya Sean.


"Grandpa sudah mulai bisa bicara. Sekarang sudah bisa membantu di kasir bersama-sama Kenzie." Senyum Kenzie mengembang sempurna. " Kenzie setiap hari loh membantu di mini market." ucapnya dengan bangga.


"Anak hebat." Mobil sudah tiba di dekat sekolah Kenzie, di mana Conrad kemudian masuk ke area parkiran, hal yang sesekali dia lakukan.


Pria tampan dengan wajah kharismatiknya itu turun dari mobil berputar ke arah pintu samping untuk membantu melepaskan sabuk pengaman, sebelum mengangkat Kenzie turun dari kursi mobil.


"Sini, Ayah bantu membawa tas Kenzie." Conrad mengangkat tas beroda dengan gambar spidermen. 


Dia tersenyum tipis melihat model superhero yang ada di tas Kenzie, membuat Conrad teringat dengan stiker batman yang diberikan oleh Sean. Kedua bocah tersebut memiliki superhero mereka sendiri.


"Sekolah yang baik ya, Kenzie. Ingat, jangan pulang dengan orang yang tidak kau kenal, tunggu Mommy atau aunt Rose untuk  menjemputmu." Kecupan penuh kasih sayang Conrad berikan di kening Kenzie.


Dia menunggu hingga Kenzie masuk ke dalam gedung sekolah sebelum mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. 


"Jasmine, aku akan mengantar Sean sekolah setiap selasa, kamis dan sabtu."   


Senyuman mengembang di wajah Conrad, dia tanpa menantikan jawaban Jasmine memutuskan sambungan telphone.


"Aku tak akan pernah melepaskan dirimu, Jasmine. Kau tidak bisa lari lagi dariku."


...❤❤❤❤❤...


Yukkk yang gak bisa download aplikasi bisa dm saya di ig untuk link cerita biar bisa tekan love.

__ADS_1


Atau jika mau masuk group wa bisa klik link di profil ig.



__ADS_2