
"Tak kusangka kau masih ingat jalan ke rumah ini," sindir Jasmine ketika mereka tiba di kediaman keluarganya.
"Bagaimana aku bisa melupakan tempat yang memberiku banyak kenangan?" Ucapan Conrad yang penuh arti membuat Jasmine melengos.
"Uncle dulu sering main ke rumah Mommy?" tanya Sean penuh rasa ingin tahu.
Conrad mengangguk dengan senyuman tipis dia mengeluarkan Sean dari mobil dengan menggendongnya, dia tak ingin sedetik pun melepaskan Sean dari dirinya.
"Teman baik Mommy?"
"Iya, tentu saja. Mommy Jasmine adalah sahabat yang sangat baik dan menyenangkan."
Kata sahabat yang diucapkan Conrad membuat batin Jasmine tergores, perih. Rasa sesak yang berusaha dia kendalikan dengan senyuman manis.
"Ayo Sean, turun dari gendongan Uncle dokter."
Sean menggeleng dengan semakin merapatkan pelukan ke leher Conrad.
"Sean, ayo jangan manja. Biarkan dokter Conrad duduk, Sean cuci kaki dan tangan bersama Mommy ya." Jasmine mengulurkan tangannya ke tubuh Sean.
"Jangan dipaksa, aku tidak lelah." Conrad menggenggam tangan Jasmine dan menggandeng tangan wanita itu masuk ke dalam rumah.
Tubuh Jasmine menjadi panas dingin merasakan sentuhan kehangatan yang disalurkan oleh genggaman tangan Conrad. Jantung nya berdegup kencang dan matanya terpaku pada tautan tangan mereka.
Jasmine menarik tangannya dari genggaman Conrad saat mereka sudah tiba di ruangan keluarga, dia pergi menjauh demi menyembunyikan rasa panas di wajahnya yang diyakininya sekarang pasti sudah memerah.
Jasmine mengangguk kepada Lupita membiarkan wanita itu meminta pada koki untuk mempersiapkan makan malam, sementara dirinya memilih untuk ke lantai atas, masuk ke kamar agar bisa menenangkan diri. Kehadiran Conrad di rumah ini membuat Jasmine diliputi perasaan tak menentu.
Di lantai bawah, Conrad penuh kasih sayang melepaskan sepatu Sean dan membawa anak itu untuk mencuci kaki juga tangannya di kamar mandi.
"Sean sudah berapa lama kembali ke sini?" Conrad kembali mengangkat bocah itu dan membawanya ke sofa.
"Baru empat hari." Sean menyandarkan tubuhnya dengan manja ke dada Conrad. "Sean suka di sini, rumahnya besar."
"Di London rumahnya tidak besar?" Conrad membelai rambut Sean dengan lembut.
"Besaran rumah ini. Di London Sean, Mommy dan Lupita tinggal di apartemen, rumah tingkat." Sean kemudian membalikkan badannya dan menatap Conrad penuh tanda tanya.
"Uncle kenapa tidak pernah datang ke apartemen di London?" Pertanyaan bocah itu membuat Conrad menjadi muram.
"Maafkan Uncle ya, karena saat itu Uncle harus belajar dan bekerja dengan keras." sahutnya sendu.
Jika saja aku tahu … aku pasti akan datang menemui kalian bahkan membawa kalian bersamaku. Jerit batin Conrad.
__ADS_1
"Ooo. Sean biasanya main dengan siapa di London, ceritakan pada Uncle siapa nama teman baik Sean."
"Uncle Mark! Dia sering membawa Sean main ke taman dan tempat mainan anak-anak." Sean tampak sangat gembira ketika menyebutkan nama Mark.
"Mark?"
Sean mengangguk.
"Apakah Uncle Mark tinggal bersama kalian?" tanya Conrad dengan hati-hati.
"Tidak. Uncle Mark tinggal di apartemen di lantai bawah. Uncle Mark juga sekolah dan suka melukis." Sean turun dari pangkuan Conrad. "Uncle Mark suka mengajari Sean menggambar."
"Oh ya, coba kita lihat bagaimana gambar Sean sekarang."
"Sean ambil buku gambar dulu ya." Sean berlari kecil mencari Lupita. "Lupitaaaaa."
Senyuman tipis terukir di wajah tampan Conrad. Dia menatap punggung mungil itu dengan penuh rasa sedih. Seandainya saja waktu bisa kembali tak akan dibiarkannya Jasmine lari darinya. Sean … pasti dia bisa melihatnya bertumbuh seperti halnya dia melihat pertumbuhan Kenzie.
Langkah kaki ringan yang menuruni tangga membuat Conrad menengadahkan wajahnya. Matanya terkunci menatap sosok wanita cantik yang sangat dia rindukan, turun dengan langkah anggun tapi berwajah dingin.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang sekarang. Aku rasa kau pasti memiliki kesibukan lain yang menunggu." Perkataan tajam Jasmine hanya dibalas dengan senyuman lembut.
"Kenapa kau begitu sinis kepadaku, Jasmine?"
Conrad berdiri dari duduk dan menyejajari langkah Jasmine yang menuju ke ruang makan.
"Tidak ada yang berubah dari rumah ini." ucap Conrad sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.
"Memangnya apa yang bisa kau ingat dari rumah ini?" Jasmine mengangkat bahunya dengan acuh.
"Tentu saja aku masih ingat bagaimana wajahmu yang sangat lucu ketika kalah bermain kartu dan di sana," Conrad menuju pada ruang keluarga."kau terjatuh di atasku, bukan?"
Jasmine melengos mendengar Conrad mengulang kenangan masa lalu, meskipun sebenarnya dia yang memulai.
"Aku tidak sengaja waktu itu. Apa kau masih menyimpan dendam sampai saat ini, hingga masih mengingatnya?" Jasmine tersenyum kecut.
"Tentu saja aku masih menyimpan dendam." Ucapan Conrad membuat Jasmine menatap pria itu dengan heran. Ketidaksengajaan itu kenapa harus menyimpan dendam?
"Hanya karena aku jatuh menabrakmu kau menyimpan dendam sampai saat ini? Heh! Tak kusangka." tutur Jasmine dengan kecewa dan hati yang sakit.
Jika saja yang jatuh waktu itu Ruby kau pasti lebih bahagia, bukan? Ah, Ruby … apakah mereka sudah menikah?
"Tentu saja aku marah, jengkel dan dendam pada diriku sendiri karena saat itu tidak langsung memeluk dan menciummu." Conrad tersenyum penuh arti ke arah Jasmine yang menatap dirinya dengan terkejut.
__ADS_1
Sesaat Jasmine terdiam tidak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut pria itu. Namun, kembali dia mengikis semua perasaan yang akan membuat dia kembali terbuai seperti dulu.
"Kau sekarang lebih pandai berkata-kata ya …" Jasmine menertawakan dirinya sendiri yang hampir saja terbuai dengan kalimat manis itu.
"Tidak juga, aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiran sekarang." Conrad memandang lurus ke arah Jasmine yang duduk di meja makan tepat di hadapannya.
"Apa yang membuatmu---"
"Uncleeee ini buku gambar Sean." Pertanyaan Conrad terpotong dengan kehadiran Sean.
"Coba sini, Uncle lihat." Conrad mengangkat tubuh Sean dan meletakkan balita itu di kursi di sampingnya.
"Wow, ini bagus sekali." Conrad membuka lembar demi lembar yang menunjukan coretan dan warna-warni tak rata khas anak-anak.
Conrad tersenyum melihat bakat yang dimiliki anak kecil tersebut, bagaimana dia bisa memadukan warna dengan baik dan beraturan. Kemampuan yang juga dimiliki olehnya. Tatapan mata Conrad berhenti pada gambar keluarga dengan satu anak di belakang.
"Gambar siapa ini, Sean?"
"Itu Mammy, Sean dan Daddy." sahutnya dengan mulut penuh oleh daging ayam.
"Daddy?"
"Huum." Sean mengangguk dengan mulut penuh.
"Siapa na---" Perkataan Conrad lagi-lagi terpotong dengan suara Jasmine.
"Ayo, Sean, cepat habiskan makananmu. Uncle Dokter harus segera pulang, ini sudah malam."
"Uncle mau pulang?" Sean menatap Conrad dengan sedikit kecewa.
"Iya, dong. Uncle Dokter juga punya keluarga dan kesibukan sendiri." Jasmine menimpali pertanyaan Sean dengan cepat.
"Besok kita bisa ketemu lagi, ya?"
"Sean … tidak boleh seperti itu, Sayang. Teman Mommy ini adalah seorang Dokter yang sangattt sibuk. Lagi pula Sean masa lupa, kalau besok kita akan mengunjungi sekolah yang baru?"
"Benarkah? Asyikkk … Sean bisa punya banyak teman ya, Mommy. Ayo, Uncle cepat dihabiskan makanannya sudah malam."
Conrad hanya bisa termangu menatap ke arah Jasmine, melihat bagaimana usaha wanita ini untuk mencegahnya mendekati Sean.
"Dia pasti anakku." batin Conrad dengan yakin.
__ADS_1