
"Roseee! Kau sudah tidur?" Ruby yang baru saja pulang dari berkencan dengan Conrad merasa bahagia. Ia ingin sekali menceritakan pengalaman menyenangkan pada kakaknya.
"Kau sudah pulang, Ruby?" gumam Rose. Ia hampir saja terlelap ketika mendengar suara riang Ruby. Rose baru saja selesai memberikan therapy pada ayahnya, agar tubuh pria stroke itu tidak terlalu kaku.
"Kau tahu, Conrad hari ini menjemputku dengan mobil mewah. Ooo Rose! Seandainya saja kau tahu, betapa menyenangkannya berada di dalam mobil mewah. Sangat jauh berbeda dengan mobil truk kekasihmu, apalagi bus. " celoteh Ruby panjang lebar.
Dalam pikirannya ia tak dapat berhenti mengagumi kemewahan dan kenyamanan mobil yang digunakan Conrad untuk menjemput dirinya. Sesaat Ruby bisa membayangan dirinya adalah wanita kaya.
"Apakah Conrad anak orang kaya?" Rose dengan antusias mendengarkan cerita Ruby
" Sayang sekali bukan. Dia hanya mendapatkan pinjaman mobil dari boss-nya, "cicit Ruby lemah. " andaikan saja dia anak orang kaya."
"Kau menyukai dia, Ruby? "
"Entahlah."
"Ikuti perasaan hatimu bukan hawa nafsumu, " nasihat Rose.
"Hmmm ... " gumam Ruby lemah. Perkataan Rose memang benar adanya, itu ia akui. Tapi, apakah salah jika Ruby menginginkan kekasih yang kaya dan mencintai dirinya
"Lalu bagaimana hubungan kalian berdua?" Rose merebahkan dirinya menanti jawaban Ruby.
"Tidak ada yang khusus." sahut Ruby.
"Ah, aku kira kalian akan meresmikan hubungan. Sayang sekali Conrad anak yang baik masa depannya pasti cemerlang. "
Ucapan Rose diacuhkan nya, pikiran Ruby menerawang disaat dia menghabiskan waktu dengan Conrad. Saat itu sebenarnya merupakan hari yang sangat menyenangkan untuk Ruby.
Conrad begitu baik, menyenangkan dan perhatian. Penampilan dan postur tubuh yang gagah Conrad, membuat Ruby percaya diri dan merasa menyatu dengan area mewah itu.. Ruby merasa bahagia dan nyaman, kecuali dia pulang tanpa membawa apapun.
"Kau menyukai gaun itu Ruby? " tanya Conrad saat melihat bagaimana Ruby mengagumi gaun yang di pajang di manekin.
"Aku hanya mengaguminya saja. Gaun yang indah dan sangat cocok untuk wanita cantik. "
"Kau juga wanita cantik, aku akan membelinya untukmu. "
'Tidak usah Conrad. Mau kemana juga aku memakai pakaian itu, hehehe." Ruby tertawa hambar. "ayo kita jalan lagi."
__ADS_1
Melewati butik lain matanya terpaku pada jajaran tas indah di sana. Beberapa tas tersebut ia temukan di kamar Jasmine. Mewah dan sangat anggun.
Dari celah kaca etalase, ia bisa mengintip jika satu tas kecil yang sering dikenakan Jasmine seharga lebih dari lima ribu dolar. Uang yang sangat banyak sekali bagi Ruby.
"Ayo, kita masuk dan membelinya. "
"Kau gila, Conrad. Bisa tidak makan tiga bulan kita."
"Aku mempunyai uang bonus dari bekas majikan kayaku. Dan aku ingin membelikan sesuatu untukmu." Conrad menggenggam tangan Ruby, menyakinkan wanita itu akan kesungguhan perkataannya.
"Sudah! Kau simpan saja uangmu untuk keperluan kuliah. Jangan diboroskan untuk barang mahal. Aku cukup mengenakan ini saja. " Ruby menepuk tas yang menggantung di bahunya.
Meskipun sangat menginginkan, ia tetap saja tidak tega menggunakan uang Conrad untuk membelinya. Ruby merasa kasihan, jika harus memanfaatkan kebaikan Conrad. Apalagi pemuda itu sangat baik.
"Beginilah nasib menjadi anak keluarga biasa. Jika saja aku lahir dari keluarga hebat seperti Paris Hilton yang kekayaannya tak akan habis tujuh turunan, bahkan lebih. Tapi, mau bagaimana lagi, aku hanya lahir dari seorang sales dan perawat. Apalagi mereka cuma berstatus imigran di negara ini." batin Ruby dalam hati.
"Ruby, ayo kita makan sesuatu. Kau pati haus dan lelah kan? "
Ruby mengiyakan perkataan Conrad, yang mengajaknya memasuki sebuah cafe. Tempat makan yang indah di mana ada bagian di luar ruangan dan ada yang di dalam ruangan berAc.
"Kau mau duduk di depan atau di dalam ruangan? " Conrad menatap Ruby penuh perhatian.
Ruby asyik menatap ke arah pantai, di mana banyak sekali orang-orang yang berjemur. Mereka semua tampak sangat berkelas, bikini, kacamata sunglass, maupun postur tubuh yang memikat. Beberapa ia kenali sebagai artis dan model ternama.
Ruby merapikan anak rambutnya yang berantakan karena di terbangkam angin. Matanya terasa silau karena sinar matahari sore yang semakin memamerkan warna jingganya.
Dia menebarkan pandangannya yang heran karena Conrad tidak kembali setelah dengan jantanya, menarik kursi untuk dirinya.
"Hai! Melamun. Ini kacamata buatmu." Conrad tiba-tiba mucul dan memberikan kacamata kepada Ruby.
"Kamu beli di mana?" Ruby meraba kacamata hitam merek ternama yang berbahan kokoh dan tampak benar-benar asli.
"Pakai saja, sini aku bantu. Nan lebih nyaman, bukan? "
Ruby mengangguk. Ia sekarang merasa menjadi bagian dari sekelompok orang kaya di tempat itu. Hanya kacamata mewah saja sudah membuat dirinya merasa berbeda. Tunggu, ini asli kan?
"Memangnya di sini ada yang jual kacamata kw ya?" Secara … tidak ada satupun barang discount dari setiap butik yang ia lalui.
__ADS_1
Conrad menertawakan kepolosan Ruby. Saat ini baginya Ruby amat sangat cantik, anggun dan apa adanya. Sikapnya yang malu-malu dan tidak memaksa diri membeli sesuatu yang mahal, membuat Conrad merasa jika Ruby adalah yang terbaik.
Mereka memesan sedikit cemilan pembuka sebelum makan malam. Harga makanan yang luar biasa mahal, awalnya membuat Ruby canggung, namun ia sembunyikan dalam sikap anggunnya.
Malam itu begitu indah meski seringkali Ruby
berharap, jika Conrad sebenarnya adalah salah satu pemuda kaya. Ah … pada kenyataannya Ruby sadar semua itu adalah khayalan.
"Mungkin lain kali aku harus datang ke tempat ini sendirian. Mungkin saja diriku beruntung berkenalan dengan seorang yang kaya. Di kampus, Conrad selalu di sisiku. Meskipun aku merasa nyaman, tapi … ah! Robert pun tidak tampak tertarik padaku." batin Ruby sendiri.
Kata-kata mommy-nya selalu terngiang dalam pikiran Ruby. Mencari pemuda kaya untuk menikahinya, agar kehidupan mereka lebih membaik. Apakah itu salah?
"Ruby, ada yang ingin aku katakan padamu. " Suara Conrad yang tiba lembut, membuat jantung Ruby berlompatan.
Pemuda itu meraih tangan mungil Ruby dan menggenggamnya. Pandangan mata Conrad yang menatapnya membuat Ruby merasa gugup.
"Aku menyukaimu, Ruby. Semenjak pertama kali kita bertabrakan di kampus, aku tidak dapat melupakan dirimu. Aku harap kau memiliki perasaan yang sama dan kita bisa melanjutkan hubungan yang lebih dari sekedar teman. "
Pengakuan Conrad membuat Ruby membeku.
Bibirnya kelu dan kata hatinya saling bertentangan.
Saat ini di atas tempat tidurnya, Ruby berbaring dengan gelisah.
"Aku menyukaimu, Conrad. Sangat menyukaimu. Tapi … kau dan aku sama-sama berjuang untuk hidup. Keluargaku dengan lima adik yang harus kau perhatikan, terlalu berat."
Ruby menghela napas dengan berat.
"Maafkan aku yang menerima cintamu dengan jalan menyembunyikan hubungan kita. "
...❤🌟🌟❤...
Info sekaali lagi ya. Saya tulis kisah ini GRATISAN. Tidak dalam kontrak Noveltoon atau Mangatoon. Jadi upload sekiranya ada waktu saja.
Begitu tamat, akan saya hapus. No komplain. yang suka timbun bab dan ketinggalan, dilarang komplain.
Khusus cerita ini saya tulis di sini untuk menepati janji pada para penggemar Conrad-Jasmine dan Ruby. Kisah lainnya saya tidak janji ya.
__ADS_1
Trimakasihh atas dukungannya 😘😘😘