
"Apa maksudmu mengantar sekolah Sean setiap selasa, kamis dan Sabtu?" Jasmine tak dapat menahan diri lagi untuk menghadang langkah Conrad di parkiran.
Rambut wanita itu berkilauan indah bagaikan emas di bawah pantulan sinar matahari. Mata birunya membulat dengan sempurna disaat menatap Conrad dengan sengit. Jasmine berdiri dengan posisi tegang menanti jawaban pria yang sudah memporak-porandakan kehidupannya.
Conrad termangu sesaat menatap ke arah Jasmine sebelum akhirnya dia melangkah mendekati wanita itu tanpa memberikan jawaban. Conrad terus mendekat mengikis jarak di antara mereka, membuat Jasmine mundur perlahan.
Wanita berambut pirang dengan sepatu mewah berhak tingginya itu tampak semakin kesal dengan sikap Conrad, yang seakan tidak menghiraukan tatapan mata banyak orang. Dia melangkah terus mundur sementara Conrad tak juga berhenti mendekatinya, hingga ….
TIN! TIN! TIN!
Suara klakson mobil yang hendak parkir terdengar dengan keras membuat Jasmine terkejut, hingga membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan hampir saja jatuh. Tentu saja Conrad tak akan membiarkan Jasmine jatuh, karena secepat itu pula Conrad menarik lengan Jasmine sehingga tertarik ke depan dan jatuh dalam pelukan Conrad.
Bisa dirasakan oleh Conrad bagaimana dada wanita itu berdegup dengan kencang dan tangannya terasa dingin. Dibimbingnya Jasmine untuk menepi tanpa melepaskan pelukan. Conrad memanfaatkan keadaan disaat Jasmine masih terkejut untuk tetap melingkarkan tangannya di pinggang dan punggung Jasmine.
"Apa kau merasa nyaman dalam pelukanku?" gurauan Conrad membuat Jasmine terkejut.
Seketika wanita itu sadar dengan posisi dirinya saat ini dan tepukan tangan dari beberapa orang yang kebetulan melihat aksi 'superhero' Conrad menusuk telinganya. Jasmine merasa sangat malu sekaligus jengkel, dia berjalan pergi tanpa sepatah katapun.
Rasa malu dan jengkel semakin memuncak ketika sayup-sayup dia mendengar beberapa orang menggosipkan dirinya.
"Lihatlah Putri Direktur itu, sungguh beruntung sekali dia bisa dipeluk oleh dokter Conrad."
"Benar. Kenapa bukan aku saja yang hampir jatuh dan ditolong dokter tampan itu."
"Mimpi dirimu, lihat Nona Jasmine sangat cantik, pantas saja dokter Conrad terpikat."
"Tapi tetap saja sombong, masa sudah ditolong tidak juga mengucapkan terima kasih malah langsung pergi dengan tampang jutex."
"Ssst, dia di sini."
"Pagi, Nona Jasmine." sapa kedua perawat yang baru saja menggosipkan dirinya. Kedua perawat itu perlahan berjalan mundur dan memilih menggunakan tangga darurat daripada satu lift dengan Jasmine, mereka malu karena ketahuan bergosip.
__ADS_1
Conrad yang semenjak tadi berjalan dengan santai mengikuti Jasmine berdiri tepat di belakang wanita itu. Dia mencondongkan tubuhnya melewati bahu Jasmine dan berbisik di sisi rambut pirang yang mengeluarkan aroma harum.
"Senyum, jangan cemberut."
Jasmine tersentak kaget, wanita itu menoleh ke arah suara lirih yang terdengar di sisinya. Hidung mancung mereka nyaris bersentuhan dengan selisih jarak satu inchi, ketika saat itu juga Jasmine mundur ke belakang.
Belum hilang getaran di dada wanita itu dengan kejadian di parkiran, sekarang harus bertambah dengan hembusan napas Conrad yang beraroma mint menerpa dirinya. Telinga Jasmine memerah dengan cepat, aroma mint dan tatapan mata maskulin itu membuatnya salah tingkah.
"Mau kemana kau? Apa kau akan menaiki tangga sampai lantai dua puluh lima?" Conrad menahan tangan wanita itu yang kembali hendak menjauhinya.
"Conrad, lepaskan." bisik Jasmine tegas.
"Ayo, masuk." Conrad tak memperdulikan teguran Jasmine, tetapi menarik tangan perempuan itu masuk ke dalam lift.
Saat ini mereka berada dalam lift karyawan dikarenakan lift Executive sedang dalam perbaikan. Lift itu seketika penuh sesak dengan perawat dan karyawan yang hendak naik ke lantai atas, membuat Jasmine terdesak merapat di tubuh Conrad.
"Berdiri lah di belakangku." Conrad menarik Jasmine agar merapat ke dinding lift dengan dirinya berada di depan wanita itu, melindungi dari desakan tubuh orang lain.
Jasmine tak dapat melepaskan dirinya dari pandangan yang tertuju ke arah Conrad. Degup jantungnya masih berdetak dengan kencang di posisi mereka yang sangat rapat juga dikarenakan genggaman tangan Conrad yang terasa menenggelamkan tangannya.
"Kau akan tetap di sini?"
Jasmine terkejut saat mendapati Conrad sudah membalikkan tubuhnya dengan posisi yang sangat berdekatan dengan dirinya. Wanita itu kembali termangu dalam jerat aura kharismatiknya Conrad yang menghipnotis dirinya.
"Temani aku sarapan." Conrad kembali tanpa persetujuan menggandeng tangan Jasmine keluar dari dalam lift.
Jasmine berusaha sekuat tenaga mengendalikan diri dari sikap Conrad yang seakan memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya. Dia berupaya untuk menarik diri agar tidak terjatuh dalam pesona dokter kharismatik.
"Dokter Conrad!" Sepasang pria dan wanita datang ke arahnya.
Saat ini mereka berada di area restaurant lantai atas di mana biasa digunakan oleh kalangan tamu vip untuk beristirahat atau makan sesukatu.
__ADS_1
"Kami senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan Anda, dokter Conrad. Terima kasih atas bantuannya di operasi Daddy beberapa hari yang lalu. Sekarang daddy tampak lebih bugar." Wajah mereka tampak sangat berbinar penuh kebahagiaan.
"Sama-sama. Itu sudah kewajiban saya untuk menolong. Namun, tak bisa di pungkiri kesembuhan utama adalah karena semangat hidup Tuan Neil dan dukungan kalian keluarganya," sahut Conrad dengan rendah hati.
"Lihat, benar bukan kataku. Dia dokter yang luar biasa." Pria tersebut tampak membanggakan Conrad pada istrinya.
"Apakah Anda sudah menikah, Dokter?" Sang istri menatap ke arah Conrad dan Jasmine bergantian sambil melirik ke arah jemari mereka berdua.
"Segera. Ini calon istriku, cantik bukan?" Conrad melingkarkan tangannya di punggung Jasmine dan meremas bahu wanita tersebut.
Jasmine tidak dapat berbuat apapun selain tersenyum terpaksa dengan menatap kesal ke arah Conrad, tetapi tak dihiraukan pria itu.
"Dia wanita yang sangat cantik dan tampak sangat cerdas." Sang Suami memuji Jasmine.
"Baiklah, kami akan kembali ke kamar Daddy." Sebelum mereka pergi, sang istri tampak berbisik ke arah Conrad dan hanya di jawab dengan tawa oleh pria tersebut.
"Sampai ketemu nanti." Conrad menganggukan kepalanya dengan hormat.
"Apa yang mereka katakan?" Jasmine penasaran karena perempuan itu meliriknya sebelum pergi.
"Kau ingin tahu?"
"Jika bukan menyangkut diriku aku tidak peduli." sahut Jasmine acuh.
"Tentu saja menyangkut dirimu. Perempuan itu bilang jika aku berubah pikiran, dia ingin memperkenalkan diriku dengan adiknya yang cantik." Conrad melayangkan tatapan yang menggoda.
"Bukankah itu bagus?"
"Tidak bagus. Karena aku hanya ingin dirimu." Bisikan lembut Conrad membuat Jasmine bergetar.
"Dua moesli, sepiring danish dan dua gelas teh hangat." pinta Conrad pada pelayan yang mencatat pesanan mereka.
__ADS_1
"Jadi, kapan kita menikah?"
Jasmine kembali terbelalak dengan pertanyaan Conrad yang di lontarkan dengan keras.