
Dering handphone yang tiba-tiba berbunyi nyaring membuat Jasmine yang sedang gelisah terkejut. Hampir saja dia melemparkan ponsel tersebut untung berhasil ditangkapnya lagi.
"Lupitaaa, kau membuatku cemas. Di mana kalian, mana Sean?" Jasmine tak dapat menahan perasaannya untuk berteriak panik.
"Maaf, Nona. Sean ada di restaurant di lantai bawah." Jawaban Lupita di seberang sana membuat Jasmine bernapas lega.
"Kenapa tidak langsung kembali ke lantai atas? Makanan dari koki Arnold sudah tiba dari tadi."
"Sean tidak mau, Nona." Suara Lupita terdengar bingung. "Sebaiknya Nona turun ke bawah."
Jasmine mengernyitkan keningnya heran. "Apa yang membuat Sean tidak mau langsung menemuiku?"
"Di mana dia?" Michelle yang tidak mendengar pembicaraan Jasmine dan Lupita bertanya lebih jelas.
"Di restaurant lantai bawah."
"Ooo … di sana mereka menyediakan tempat bermain juga untuk anak-anak, sementara orang tua makan."
"Aku turun dulu, Mom. Apakah kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak." Michelle menoleh ke arah bekal makanan yang baru diantar dari rumahnya. "berikan satu untuk Mommy dan bawalah yang lain ke bawah."
Jasmine menurut, dia turun ke bawah dengan membawa bekal tersebut. Sesampainya di lantai bawah dia dengan segera menuju ke restoran yang dimaksud. Dari kejauhan dapat dia dengar teriakan gembira Sean, membuat Jasmine mempercepat langkah kakinya.
Apa yang dia lihat benar-benar di luar dugaannya. Sean asyik bermain perosotan bersama seorang pria yang benar-benar ingin dia lupakan.
"SEAN!" teriak Jasmine di dekat pagar pembatas area mainan anak.
"Mommy!" Sean menyapa balik tanpa berniat menghampiri Jasmine.
Bocah itu justru melompat dalam pelukan Conrad dan memintanya untuk meletakan dirinya ke rumah mainan paling tinggi.
"Sean! Awas jatuh!" teriak Jasmine ngeri
"Ini asyik, Mommy!" Sean meluncur dari perosotan paling atas dan segera ditangkap oleh Conrad saat tiba di bawah.
__ADS_1
Conrad tampak tersenyum ke arah Jasmine yang hanya berdiri kaku di pinggiran pagar. Pria itu tampak sengaja menyita perhatian Sean untuk dirinya sendiri dengan berlagak tak memperdulikan Jasmine.
Bekal makanan masih di tangan wanita itu,melupakan jika waktunya makan siang tiba, hingga Lupita menghampiri dirinya.
"Mereka terus bermain sedari tadi, Nona."
"Bagaimana mereka bisa bertemu kembali jika kau langsung membawanya ke lantai atas?" Jasmine berbisik tegas pada Lupita tanpa menoleh.
"Karena Dokter Conrad datang menjemput." Lupita menunjukan wajah bersalah ketika Jasmine menoleh padanya. "aku sudah menolak, tetapi Sean berlari masuk ke dalam mobilnya. Hubungan darah memang tak dapat dipisahkan begitu saja saat kedua belah pihak sudah terikat."
"Apa maksudmu Lupe?" Jasmine terkejut mendengar perkataan pengasuhnya itu.
Dia tidak pernah menceritakan mengenai dengan siapa dia melalui malam sehingga berbuah Sean. Jasmine menyimpan semua rahasia dan rasa sedihnya rapat-rapat.
"Kau tidak perlu merahasiakannya padaku, Nona. Aku yang membesarkan dirimu dari bayi dan aku pula yang mengasuh anakmu."
Lupita tersenyum tulus. "aku mengenal dirimu dengan baik, bagaimana kau memandang dokter itu."
"Lupee …." Jasmine mendesah.
"Aku tidak akan bertanya kenapa, karena hanya nona yang berhak tahu. Apapun asal kau bahagia, Nona." Lupita tersenyum tulus.
"Sean, ayo makan dulu." Jasmine melambaikan tangan pada anaknya saat bocah itu menatapnya dengan gembira.
"Sean sudah makan, Nona."
"Heh?!" Jasmine menoleh ke arah Lupita dengan heran.
"Dokter Conrad menyukainya dengan sabar. Sean makannya lahap sekali." Ucapan Lupita semakin membuat Jasmine merasa heran karena Sean sangat susah makan jika melihat arena bermain.
"Dokter berjanji akan bermain dengan Sean, jika menghabiskan makanan yang dipesan." Lupita menambahkan ketika melihat raut wajah heran Jasmine.
"Tapi, aku belum makan." Conrad tiba-tiba muncul di hadapan Jasmine. Pria itu mengangguk ke arah Lupita yang segera di mengerti oleh pengasuh itu.
Lupita melangkah masuk ke area permainan, sementara Conrad keluar dan segera menggandeng tangan Jasmine.
"Ayo, kita makan siang." Tanpa menanti jawaban Jasmine, Conrad menarik wanita itu untuk menuju ke meja yang sudah dia pesan.
__ADS_1
"Conrad! Lepaskan!" Jasmine merasa risih ketika semua orang mencuri pandang ke arah mereka.
"Iya, aku lepaskan." Conrad melepaskan pegangannya pada tangan Jasmine ketika mereka sudah tiba di meja makan.
"Aku tidak mau makan." Jasmine hendak pergi dari tempat itu, tetapi Conrad mencegahnya.
Pria itu menghadang langkah Jasmine dengan tatapan lembut. "Kau ingin mereka semakin memperhatikan kita atau duduk di sini bersamaku dan menikmati makan siang?" Conrad melangkah maju merapatkan tubuhnya pada Jasmine.
Wanita cantik itu tak dapat berbuat apapun untuk menghentikan tindakan Conrad. Dia membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam bangku di meja paling pojok belakang. Tentu saja Jasmine tidak akan membiarkan seantero rumah sakit menggosipkan dirinya bahkan berbalik tidak menyukainya karena bersikap kasar pada Conrad.
Dengan senyuman yang disembunyikan, Conrad mengikuti langkah Jasmine. "Geser!"
Jasmine melotot ke arah COnrad, namun pria itu tetap di posisinya, sehingga Jasmine terpaksa menggeser duduknya.
"Kenapa tidak duduk di depanku." gerutu Jasmine perlahan.
"Supaya kau tidak bisa kabur," jawab Conrad dengan santai. "mana bekalmu."
Conrad membuka bekal yang dibawa Jasmine dan meletakan di meja.
"Kau hanya makan salad saja? Ckckck pantas saja kurus sekali. Tambahkan protein dan sedikit karbohidrat. Pelayan." Conrad memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya dan Jasmine.
"Lain kali jika menjemput Sean tolong bicaralah dulu padaku."
"Maafkan aku." Pelayan datang menginterupsi percakapan mereka. "Terima kasih," ujar Conrad pada pelayan yang meletakan Jus semangka untuknya dan Jasmine.
"Lain kali aku akan meminta ijin terlebih padamu, meskipun kau tahu aku tidak menerima penolakan." Conrad mengangkat gelas jus dan mendekatkan sedotan ke bibir Jasmine.
Wanita itu hendak mengambil alih gelas dari tangan Conrad, tetapi pria itu menggelengkan kepalanya. Dengan terpaksa menyedot minuman tersebut meskipun dia enggan juga merasa risih.
"Segar, bukan?" Conrad tersenyum senang melihat Jasmine menyesap jus tersebut hingga seperempat gelas dan lagi-lagi Conrad menghisap jus dari sedotan yang sama.
Pelayan yang baru saja datang membawakan dua buah roti lapis turkey ( roti tortilla yang berisi selada, keju, mayonaise dan irisan tipis daging kalkun), tampak memandang mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kau tidak perlu terlalu dekat dengan Sean. Aku tidak suka anakku terlalu akrab dan tergantung pada orang lain apalagi yang baru dia kenal." tegur Jasmine dengan tegas setelah pelayan yang akan bergosip itu meninggalkan mereka.
"Tentu saja aku setuju jika itu untuk orang lain, tetapi tidak berlaku untukku." Conrad mengulang roti lapis itu kemudian menoleh ke arah Jasmine. "apa perlu aku suapin?"
__ADS_1
"Aku bisa sendiri." Jasmine segera mengambil roti lapis itu dan memakannya. "Kenapa tidak berlaku untukmu?" Tatapan mata Jasmine tajam tertuju pada Conrad.
"Karena aku bukan orang lain. Aku adalah Daddy Sean." Ucapan Conrad yang tegas membuat Jasmine kembali tak berkutik.