
"Dokter Conrad! Anda mau ke mana?" teriak seorang perawat ketika melihat dokter muda itu berjalan ke arah yang berlawanan dengan ruang operasi.
"Persiapkan ruang operasi, aku hanya perlu waktu lima menit saja."
"Tidak bisa Dokter! Anda harus berangkat sekarang juga, keluarga pasien hendak berbicara pada Anda sebelum operasi di mulai." Perawat tersebut menghadang langkah Conrad.
Pria gagah itu termangu untuk sesaat sebelum dengan terpaksa dia membalikkan tubuh mengikuti perawat yang sudah menantinya menuju ke ruang tunggu operasi.
Sementara Conrad harus menghadapi keluarga pasien di saat yang bersamaan, Jasmine hendak turun untuk pulang bersama Sean.
"Uncle tidak mengantar Sean pulang lagi, Mom?" Sean menatap Jasmine dengan penuh tanda tanya,
"Uncle Conrad? Dia adalah seorang dokter, Sayang, tentu saja penuh dengan kesibukan." Jasmine membelai rambut anaknya penuh kasih sayang.
"Mommy …. Daddy Sean ada di mana?" Pertanyaan bocah itu bagaikan hantaman palu di dada Jasmine.
Inilah yang dia takutkan ketika Sean mulai dekat dengan seorang pria, anaknya itu akan bergantung dan selalu mencari sosok daddy yang tak pernah dia miliki.
Seperti biasa, Sean tahu jika dia tidak akan mendapatkan jawaban dari Jasmine. Wanita itu hanya mengatakan jika daddy Sean sedang pergi jauh.
"Sean mau daddy seperti dokter Conrad."
Jleb! Dada Jasmine serasa tertusuk pedang.
"Kenapa seperti dokter Conrad bukankah kau juga mengenal Uncle Robert dan Uncle Mark?"
Sean menggelengkan kepalanya. "Uncle Robert dan Mark itu adalah teman. Kalau Daddy dan bestfriend, Sean mau uncle Conrad."
Jasmine tidak melanjutkan percakapan di antara mereka karena lift sudah terbuka dan tampak seorang perawat segera menghampiri mereka.
"Permisi, Nona Jasmine. Dia pasti Sean, bukan?" perawat itu tersenyum melihat yang Jasmine menatapnya heran. "Dokter Conrad meminta saya untuk menyampaikan pesan kepada Sean kalau dia tidak dapat mengantar Sean pulang karena harus menjalankan operasi."
Ucapan perawat itu membuat Sean berbinar senang. "Uncle tidak lupa dengan Sean. Lupe mana tas Sean." Bocah kecil itu mengacak isi tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang segera dia berikan pada perawat itu,
"Tolong berikan pada Dokter Conrad. Go! Be A Hero and save People." Sean mengacungkan kedua jempolnya dengan bangga.
Perawat itu tersenyum dan segera berpamitan kembali keempat di mana Conrad akan menjalankan operasi pemasangan ring jantung.
"Dokter, ini untuk anda dari Sean, katanya Jadilah Pahlawan dan selamatkan banyak orang."
__ADS_1
Conrad tersenyum melihat stiker batman yang baru saja dia terima. Dikecupnya stiker tersebut dan dia simpan dengan di dalam kantong celananya.
"Daddy akan menjadi Hero yang membanggakan dirimu, Anakku."
Dengan hati yang penuh kebahagiaan, Conrad seakan mendapatkan tenaga tambahan untuk melakukan operasi.
Beberapa jam setelah operasi selesai dan memantau keadaan pasien, Conrad akhirnya bisa menyelesaikan semua ketika jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Di perjalanan menuju ke parkiran, Conrad bertemu dengan Michael dan Michelle.
"Selamat malam Dokter Michael dan Direktur Michelle."
"Hai, Conrad. Mau pulang juga?" Michael menyapa Conrad dengan akrab.
"Iya. Kalau boleh saya hendak menemui Jasmine malam ini." Conrad menatap kedua orang tua Jasmine dengan hormat.
Michael dan Michelle saling berpandangan dan tatapan mata penuh arti.
"Tentu saja. Ayo, ikuti kami dari belakang." Michael masuk ke dalam mobil diikuti oleh Michelle.
Di dalam mobilnya Michelle tak dapat menahan diri untuk bergosip.
"Menurutmu, apakah Conrad menyukai Jasmine?"
"Aku rasa begitu." Michael menganggukkan kepalanya.
"Entahlah, hanya saja aku tidak ingin Andrew berpikiran jika kita sengaja menyodorkan Jasmine yang sudah beranak kepada Conrad si sulung." Michael memandang Michelle. "Bagaimana menurutmu?"
"Aku ikuti arus yang mereka ambil saja," Michelle menghela napas dengan berat.
Mereka tiba di kediaman keluarga Michael tiga puluh menit kemudian. Michelle mengajak Conrad masuk dan duduk dengan tenang di ruang keluarga, sementara dia bergegas mencari Jasmine di lantai atas.
Conrad duduk dengan tenang menanti Jasmine, matanya tak pernah bergeming dari tangga. Dia harus menunggu selama lima belas menit sebelum akhirnya Jasmine turun dengan menggunakan kimono untuk menutupi gaun tidurnya.
Wajah Jasmine yang terlihat kesal membuat Conrad tersenyum.
"Mau apa kamu malam-malam bertamu?"
"Aku lapar."
"Apa?"
__ADS_1
"Aku lapar."
"Kau malam-malam datang ke sini untuk minta makan? Apa istriku tidak memberimu makan, hah?" Jasmine dengan sinis melipat tangannya di hadapan Conrad.
Conrad hanya tertawa kecil mendengarkan sindiran Jasmine. "Sekarang, kita keluar makan atau kau akan memasak untukku?"
"Aku tidak bisa memasak. Pulanglah sana, minta istrimu memasak."
"Sejak kapan kau tidak bisa memasak?" Conrad terkekeh. "aku akan tetap diam di sini hingga kau menemaniku makan malam."
"Terserah. Aku akan tidur dengan Sean." Jasmine membalikkan tubuhnya dengan acuh.
"Baiklah." Conrad menepuk sofa dan mulai membaringkan tubuhnya.
"Conrad! Kau benar-benar menjengkelkan." Jasmine berbalik dengan kesal melihat pria itu sudah membaringkan tubuh di atas sofa dan menutup matanya.
"Jangan tidur di sini." Jasmine mengguncang tubuh Conrad. "Ayo bangun ikuti aku di dapur.'
Ingin sekali Conrad menarik tangan Jasmine yang mengguncang tubuhnya dan memeluk wanita yang sangat dia rindukan itu. Aroma wangi vanila yang menyeruak masuk ke dalam penciumannya membuat Conrad terbuai.
Namun, pada akhirnya dia bangun dari posisinya untuk mengikuti Jasmine dengan tersenyum tipis. Dengan tenang dia duduk di meja dapur, menanti Jasmine yang mengeluarkan steak dan memanggangnya.
"Makanlah." Jasmine menyodorkan steak ke hadapan Conrad.
"Harum sekali." Conrad mencium aroma harum dari steak yang dipanggang Jasmine dengan saus barbeque dan tumis sayuran. "ini sangat enak, seperti yang aku rindukan."
Conrad makan dengan lahap sambil sesekali menatap Jasmine dengan penuh arti.
"Jika sudah selesai, pulanglah. Keluargaku pasti sedang menunggu dan aku tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya." Jasmine berdiri dari duduknya bermaksud meninggalkan Conrad sendirian.
Namun, Pria itu dengan cepat menarik tangan Jasmine sehingga gadis itu berputar dan Conrad segera menangkap pinggang Jasmine untuk kemudian dia tarik duduk dipangkuannya.
Gerakan cepat itu membuat Jasmine terkejut. Dia saat ini sudah duduk dipangkuan Conrad dengan pandangan kesal menatap pria tampan itu. Jasmine hendak berdiri, tetapi Conrad menahan tubuhnya.
"Conrad! Lepaskan aku." Dada Jasmine bergemuruh kencang saat ini. Berada dalam posisi yang begitu dekat dan bersentuhan dengan pria ini membuatnya semakin sulit menguasai diri.
Aroma keharuman citrus yang maskulin menyeruak masuk ke dalam penciumannya, menjadikan jiwa Jasmine terbuai. Tatapan mata coklat nan jantan tersorot penuh arti menjadikan getaran yang menjalar di tubuh Jasmine semakin kuat.
Jari jemari hangat dan besar milik Conrad masih berlabuh di pinggang dan lengan Jasmine, membuatnya tanpa sadar mengingat bagaimana tangan kekar itu dahulu pernah menjelajahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Menikahlah denganku." Ucapan Conrad di saat dia masih berusaha untuk kembali ke alam sadar menjadikan Jasmine tercengang.
"Aapa?"