Hurt By Mr.Doctor

Hurt By Mr.Doctor
Bersediakah


__ADS_3

Gedung pernikahan terbesar dan termewah di kota Miami dipenuhi dengan alunan musik bertema cinta. Ribuan bunga berwarna-warna menghiasi setiap sudut ruangan yang memiliki ornamen modern classic. Simfoni musik mengalun dengan harmonis mengiringi penyanyi ternama yang melakukan duet.


Tawa riang menghiasi wajah setiap tamu ketika mereka berbincang dengan teman lain yang tak sengaja di pertemuan dalam pesta mewah ini.  Senyum ceria menghiasi setiap wajah para undangan, di mana hari ini mereka akan menjadi saksi sumpah pernikahan anak pertama seorang Raja Kapal Pesiar dan Pemilik Rumah sakit ternama. Pasangan luar biasa yang tidak pernah tersorot kamera.


Conrad merasa sangat bahagia dalam ruangan ganti khusus. Di sampingnya sahabatnya Doni dan beberapa teman lain tampak berkumpul. Tawa kebahagiaan terdengar dalam canda tawa mereka. 


"Selamat Conrad." Mark mengulurkan tangan dengan tulus. "aku yang menjaga, tetapi kamu yang menuainya." 


 "Terima kasih untuk itu, Mark." Conrad menatap Mark penuh persahabatan.


"Tak perlu sungkan. Aku tahu hati Jasmine hanya ada dirimu saja dan hanya kau satu-satunya pria yang pernah dan akan selalu bertahta di hatinya." Ucapan tulus Mark meyakinkan Conrad jika jalan yang ditempuhnya adalah benar.


"Aku tidak melakukan kesalahan, bukan?" 


"Kesalahanmu hanyalah lima tahun yang lalu." Mark meninjau bahu Conrad perlahan. 


"Kau benar. Saat ini dia akan selalu aku genggam dan tak akan kubiarkan terlepas, meskipun kadangkala bibirnya mengatakan hal yang sebaliknya." 


"Maksudmu?" Mark mengernyitkan keningnya tak paham dengan perkataan Conrad.


"Dia bilang membenciku karena membuat dirinya terpaksa menikahiku." Conrad tertawa hambar.


"Andai saja itu benar aku sudah merebut dirinya sejak dulu." 


"Jangan berani-berani." 


Tawa kedua pria itu meledak bersamaan. Mereka tahu di balik perkataan yang diucapkan tersirat kesungguhan hati, tetapi mereka juga tahu jika ada ketulusan hati untuk meredakan dari sorot mata Mark.


Doni datang membawa dua gelas champagne untuk Conrad dan Mark. 


"Tidak aku sangka, akhirnya kamu adalah yang pertama melepas masa bujangmu. Bahkan yang lebih mengejutkan adalah …." Dion mengecilkan suaranya. "sudah ada buntut."


"Tak ada yang menyangka pria pendiam dan kelihatan alim ternyata bejat juga." beberapa teman yang saling menggoda Conrad. Pria yang sedang dalam hati penuh kebahagiaan itu tak merasa tersinggung sedikit pun. Tawa selalu terdengar keluar dari mulutnya.


Di dalam ruang ganti wanita, Jasmine mematut dirinya di depan cermin. Dia termangu melihat perubahan dalam dirinya yang sangat luar biasa. Gaun putih berenda yang melekat ketat di tubuhnya dan terbuka di bagian bahu, membuat Jasmine tampak sangat anggun.


Sebuah kalung dan anting berlian pemberian dari Diana menghiasi lehernya begitu. Seluruh tubuh Jasmine dari atas kepala hingga ujung kaki dipenuhi dengan kilau berlian yang membuat dirinya tampak sangat mewah. Gadis itu tidak tahu harus bahagia atau sedih dalam pernikahan ini, karena jujur saja debaran itu ada. Kegembiraan dan harapan juga rasa haru itu begitu kuat melekat dalam dadanya.


 Jasmine tak pernah percaya dan berhenti berharap sejak lima tahun lalu,  jika hidupnya akan berdampingan dengan Conrad seperti saat ini. Mereka akan terikat akan sumpah hidup semati tanpa ada satu pun hukum manusia yang dapat memisahkan.


"A--Apakah aku melakukan hal yang benar?" gumamnya lirih.

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan, Kak Jasmine?" Anna yang semenjak tadi berada dalam ruangan yang sama mendekati pengantin tersebut.


"Ah, tidak Anna." Jasmine merasa gugup ketika menyadari jika mungkin saja Anna mendengar apa yang dikatakannya.


"Jangan khawatir, kau adalah pengantin tercantik yang pernah aku ketahui. Tapi hmmm … kak Francesca juga cantik, Anna lihat foto pengantin Mommy juga cantik."


"Kau ini, tentu saja semua pengantin wanita itu adalah cantik, begitu juga dengan dirimu kelak." Jasmine tersenyum lebar melihat adik iparnya ini tampak berusaha menghibur dirinya.


"Hahaha benar sekali. Tapi saat ini kau yang paling bersinar dengan banyaknya kemilau di wajahmu." 


"Kau pikir aku pohon Natal?" Jasmine dan Anna tertawa bersama dengan gurauan mereka.


Jika saja tidak ada Anna yang ceria menemani dirinya, Jasmine yakin butiran air mata akan jatuh mengenang, merusak jerih payah mereka yang sudah memoles wajahnya.


 "Apakah aku sudah mengatakan jika aku sangat bahagia karena dirimu yang menjadi kakak iparku?" Anna menggenggam kedua tangan Jasmine.


"Anna …." Jasmine tersenyum tipis. Kata-kata itu berulangkali Anna katakan pada dirinya.


"Aku bahagia. Aku bahagia akhirnya kakakku Conrad akan bahagia bersamamu." Anna memeluk Jasmine.


Jasmine memejamkan matanya berusaha meyakinkan diri jika keputusan yang diambilnya adalah tepat. Menepis kenyataan jika Conrad sudah mengancamnya akan menarik seluruh saham keluarga Knight dari rumah sakit yang dikelola keluarga Michael Miller.


Jasmine tidak bisa lari lagi dari tanggung jawab dan bakti sebagai seorang anak dari keluarga Miller. Dia harus membuang harga diri dan keegoisannya untuk menjauhi Conrad. Meskipun ada sebersit kebahagiaan yang tersembunyi dalam hatinya, tapi wanita itu tidak ingin terlena.


"Semua aku lakukan demi Sean dan keluargaku, Lupe. Aku tidak ingin membuka diri untuknya," sahut Jasmine dalam peperangan batinnya saat itu.


"Kau pasti bahagia, Nona. Kau harus melakukannya!"  


"Jasmine, sekarang waktunya, Nak." Panggilan Michelle menggugah lamunan wanita itu.


"Mommy …." Jasmine mendesah saat menghampiri kedua orang tuannya.


"Kami bahagia akhirnya kau menikah dengan Conrad. belajarlah untuk memiliki hubungan yang terbuka dengan suamimu. Bicarakan setiap masalah dengan baik, bukan hanya mengambil kesimpulan satu pihak saja. Ingat! pernikahan itu bukan uji coba." Nasihat Michael membuat Jasmine tersentuh.


"Seandainya dulu kau tidak lari begitu saja, Mommy yakin kalian sudah menikah dari awal. Sebenarnya, Mommy masih heran apa yang membuatmu meninggalkan Conrad dan menyembunyikan Sean darinya." Michelle menatap Jasmine dengan gemas.


"Sudahlah, Michelle. jika kita bahas terus, berarti kau menunda Jasmine menuju Altar." Michael meraih tangan anaknya untuk di gandeng.


Robert membuka pintu ruang ganti dan tersenyum menatap adiknya. "Wow, kau tampak luar biasa." Robert mendekatkan diri ke telinga Jasmine dan berbisik, "akhirnya kau bisa mendapatkan dia." 


"Kakak!" Jasmine menggeram kesal dengan sikap kakaknya. 

__ADS_1


"Dad lima menit lagi, jangan biarkan dia berubah pikiran." Robert terkekeh mengerlingkan mata ke arah Jasmine. Pria itu kemudian menggandeng Michelle, melewati pinggiran ruang upacara menuju posisi duduk paling depan.


Di perjalanan menuju tempat duduk paling depan, tanpa sengaja seorang anak kecil yang sedang berlari menabrak Robert dari belakang. Robert sempat terhuyung ke depan, tetapi beruntung dia tidak terjatuh ataupun menabrak Michelle. 


Penuh rasa kesal Robert menoleh, menatap tajam ke arah anak kecil yang memandangnya dengan takut. Anak itu terpaku dengan bibir yang gemetaran hendak mengucapkan kata maaf, tetapi tak kunjung meluncur dari bibir mungilnya.


"Jangan suka berlari, mengerti!" Ucapan tegas Robert disahuti dengan anggukan patuh anak itu. 


Robert melengos berlalu meninggalkan bocah itu sambil mengebaskan jas yang dia kenakan. Sungguh akan memalukan jika seorang dokter ternama seperti dirinya jatuh di depan banyak orang. Rasa kesalnya segera berganti dengan senyuman manis ketika tiba di sisi Michelle.


Alunan musik pengiring pengantin terdengar, Robert yang hendak melihat masuknya Jasmine dari arah pintu belakang, tanpa sadar matanya terpaku pada sosok wanita dengan eorang bocah. Wanita yang sangat dikenalnya di masa lalu.


  "Ruby? Heh! Ternyata tak butuh waktu lama bagi dirimu untuk mendapatkan penggantiku." Robert menatap sinis ke arah Ruby dan anak laki-laki di sisi wanita itu. 


"aku penasaran siapa pria penggantiku?" 


Sementara itu Michael sudah tiba di altar dan menyerahkan Jasmine kepada Conrad. Senyuman tipis mengembang di bibir Jasmine hingga, teriakan seorang anak kecil terdengar. 


"Ayaaahhh!" 


Jasmine terpaku melihat Conrad tersenyum ke arah seorang bocah kecil yang tampan, perpaduan Asia dan Amerika. Namun, yang membuat Jasmine lebih terhenyak adalah sosok wanita yang sangat dia kenal berdiri di samping bocah itu. 


    "Ruby?"


Dari arahnya berdiri, Jasmine bisa melihat mata Ruby yang berkaca-kaca. Buliran air mata itu menetes dengan memeluk bocah yang menggapaikan tangannya ke arah altar. Jantung Jasmine berdetak dengan kencang menatap ke arah Conrad yang tersenyum lembut mengacuhkan teriakan bocah tersebut. 


Conrad menuntun Jasmine untuk berlutut di depan seorang Pastor. Hati Jasmine diliputi dengan kegelisahan. Ingin sekali dirinya mencuri pandang ke arah Ruby, tetapi leher Jasmine terasa kaku. Serangkaian doa dan nasihat yang diucapkan tak dapat dicerna dengan baik oleh wanita cantik itu, hingga ….


"Nona Jasmine Miller, apakah Anda bersedia menerima Tuan Conrad Knight menjadi suamimu, dalam keadaan susah dan senang, sakit dan sehat, miskin dan kaya, hingga maut memisahkan?" 


Jasmine tercengang mendengarkan pertanyaan tersebut. Jawaban yang meluncur dari bibirnya akan terikat sebagai sumpah seumur hidup. Bibir Jasmine terasa kelu, hatinya merasa bimbang, ragu jika keputusan yang akan diambilnya adalah suatu kesalahan.


"Aku …." 


...TAMAT...


Sesuai janji seasons 1 saya dah tamatkan GRATIS di sini.


Seasson 2 tidak akan updated di sini, melainkan khusus di platform yang sudah saya katakan sebelumnya. Perkiraan updated bulan oktober, untuk pastinya kepoin ig author ya : taurusdi_author


Bagaimana reaksi Ruby dan Jasmine. Apakah Jasmine akan menjawab, "Ya saya bersedia?" ataukah, "tidak?"

__ADS_1


Bagaimana kisah hubungan Jasmine, Conrad, Ruby dan Robert? Apakah Kenzie adalah anak Robert, ataukah anak Ruby bersama pria lain?


Semua akan diceritakan di seasons2 ya.


__ADS_2